
Sepekan sudah, Digo dan Arumi pergi meninggalkan rumah utama. Padahal rasanya baru sekejap kedua kakak beradik itu akur karena permasalahan terdahulu yang pikir semua penghuni rumah amat sulit untuk di selesaikan. Sayangnya, baru sekejap kebahagiaan itu tercipta kembali hancur sudah karena orang yang sama. Tak lagi sama, rumah utama bagaikan neraka dunia bagi para pelayan dan penjaga di sana. Laluna kembali memegang kendali penuh menguasai rumah. Sedangkan tuan besar, sehari-hari kerjaannya hanya marah dan marah saja kepada para penjaga dan pelayan rumah. Sepertinya, dia amat stress memikirkan pekerjaan yang di tinggalkan Digo begitu saja dan belum lagi sang istri yang jatuh sakit ingin sekali bertemu dengan anak sulungnya.
"Jangan harap, anak sialan itu menginjakkan kaki di rumah ini lagi."
Kalimat itu terucap oleh tuan besar, setelah Laluna bercerita dengan berderai air mata alasan Digo dan Arumi meninggalkan rumah utama.
"Maafkan Luna, Pa. Luna gak bermaksud mukul Arumi, tapi Digo malah marah-marah dan mukul Luna sampai Luna masuk rumah sakit." Drama yang di ciptakan Luna, dan kebohongan yang ia katakan selalu berhasil membuat tuan besar percaya dan selalu menyalahkan Digo.
Masih ingat dalam benak Luna, dahulu sewaktu dirinya bercerai dengan Digo. Dia membuat alibi jika Digo melakukan KDRT dan Luna begitu kesepian sebab Digo yang tak pulang-pulang karena memiliki selingkuhan di luar negeri. Tak ayal, cerita menyedihkan Laluna membuat tuan Baskara murka dan langsung menyetujui hubungan Laluna dengan Steve.
"Itu balasan untuk suami tak bertanggungjawab." Kata Tuan Baskara sewaktu persidangan cerai Digo dan Laluna satu tahun silam. "Steve jauh lebih bertanggungjawab di bandingkan kamu. Dan Luna tifak pantas mendapatkan suami modelan seperti kamu."
Karena alasan itu pula mendasari Digo untuk pergi meninggalkan Indonesia dan menenangkan diri di kanada. Sayangnya, meskipun kini karir modeling Laluna menanjak naik dan dia begitu populer karena telah berhasil menikah dengan fotografer terkenal seperti Steven. Sayangnya, Digo tetaplah menjadi pewaris utama Uparengga Grup. Mengetahui hal itu, sebenarnya Laluna sedikit kesal dan menyesal karena bercerai dengan Digo. Tapi mau bagaimana pun, semua telah terjadi dan kini Laluna malah semakin menjadi. Tak mendapatkan kekuasaan Uparengga grup, dirinya malah bertekad menguasai rumah utama dan mengendalikan keluarga Uparengga termasuk Baskara.
"Pelayan! Pelayan mana, sih?" Teriak, Laluna dari lantai atas.
__ADS_1
Di kamar, nyonya besar yang sedang tertidur menjadi terbangun karena saking kerasnya suara teriakan Laluna. Dia memaksakan diri untuk bangkit, bangun dari tempat tidur untuk melihat apa yang terjadi dengan menantu kesayangan suaminya itu.
"Ada apa, Luna? Pagi-pagi seperti ini, kamu berteriak-teriak."
Nenek tua gak guna. Gumamnya dalam hati. Untuk apa, sih dia bangun. Padahal Laluna memanggil pelayan untuk mengelap sepatunya yang terkena makanan.
Dengan malas dan tidak sopannya, Laluna pun menjawab.
"Aduh, mama ngapain, sih? Keluar-keluar kamar. Kalau mama kenapa-kenapa aku juga yang kena marah sama Steve dan papa. Udah mending mama masuk lagi ke kamar. Ganggu." Setelah mengatakan itu, dengan seenaknya Laluna melengos pergi begitu saja masuk ke dalam kamarnya lagi dengan membanting pintu kamar.
Di dalam kamar, nyonya besar duduk di pinggir ranjang. Airmatanya jatuh menetes di pelupuk pipi. Sambil menghapus jejak airmata, matanya menengadah menatap jendela kaca terbuka kamarnya. Pikirannya melayang-layang mengingat kepada anak lelakinya yang jauh di sana entah bagaimana kabarnya.
"Mami kangen kamu, Digo."
Sementara itu, di kamar Laluna membanting pintu cukup keras. Dia mengeram kesal dengan kelakuan mertuanya yang selalu saja sukses membuatnya susah.
__ADS_1
"Aneh sama tuh mertua, kapan sih cepet di ambilnya. Bikin gua kesel mulu tiap hari. Kalau gini terus, gua mana bisa kerja. Di kurung di rumah suruh ngurusin mertua bau tanah." Mengepal kedua tangan erat sembari berjalan menuju balkon.
Kemarahan dan kekesalan Laluna semakin menjadi manakala dirinya mendengar ponsel miliknya berbunyi dan mendapati sebuah notifikasi sosial media, bahwa baru saja Arumi mengunggah foto baru di akun media sosialnya.
Tangan mungilnya langsung menggeser benda pipih itu, hendak melihat foto baru apa yang Arumi upload sejak terakhir kali dia upload sewaktu pernikahannya seminggu lalu.
"Dasar norak. Cewek alay. Laki di paksa foto alay kaya gini. Ih, dasar cewek murahan." Memaki tak jelas dengan foto yang baru saja dia lihat.
Kesalnya bertambah memuncah, di lempar begitu saja ponsel miliknya ke atas ranjang. Kemudian, Laluna berjalan dengan tergesa-gesa menuju balkon kamar. Di luar, wanita itu menghentak-hentakkan kaki keras. Sambil bergumam dan mengepal tangannya tinggi dan erat-erat.
"Ih nyebelin. Kenapa sih, keluarga ini cuma bisanya bikin hati gua dongkol doang? Gak mertua bau tanah itu, gak Arumi yang ngumbar kemesraan menjijikan sama Digo. Ih rasanya pengen banget gua jambak tug rambut cewek. Berani banget foto sedeket itu sama Digo. Ih... kesel, kesel, kesel."
...****************...
Hallo semuanya salam sehat dan waras. Maaf ya baru menyapa lagi hari ini. Kemarin saya gak bisa update karena sedang ada sebuah perihal penting dan juga jatuh sakit beberapa hari. Lalu baru hari ini bisa update. Mohon maaf untuk hari hanya update 1 bab, insya allah besok dan seterusnya di usahkan akan update rutin. Semoga senang dan mengobati rindu kalian. Tolong jangan naik darah baca ini dah ilfil ya 😄😄
__ADS_1