Terpaksa Menjadi Orang Ketiga

Terpaksa Menjadi Orang Ketiga
Bab. 10. Perdebatan Kecil


__ADS_3

Rasa kecewa terlihat jelas dari raut wajahnya Daniah melihat kepergian dari suaminya dengan madunya itu. Tetapi, dia tidak sanggup untuk berbuat banyak hanya menatap nanar kepergian suaminya itu dengan adik sepupunya.


Sedangkan Dy dalam lift perdebatan kembali terjadi antara Fayyad dengan istri barunya itu.


"Sakit Pak, pasti saya akan mengeluh kesakitan kalau memang sakit! Masa aku tersenyum kegirangan jika tanganku nyeri sakit?" Balasnya Sabiyah.


Fayyadh hanya tersenyum sinis mendengar perkataan balasan dari istri barunya itu.


"Sungguh bocah! Pasti ngeyel walaupun salah!" Sarkas Fayyadh.


"Saya bukan bocah! Kalau saya masih anak-anak, tidak mungkin saya bisa menikah dengan Pak Fay," Sabi seolah tak mau kalah dengan perkataannya dari Fayyad.


Fayyad tidak bisa melanjutkan pertengkarannya itu karena bertengkar tidak ada gunanya hanya buang-buang waktu saja.


Hingga bunyi lift terdengar pertanda pintunya sudah terbuka lebar. Fayyad segera berjalan ke arah luar, tanpa berucap apapun ataupun melihat ke arah istri bocahnya.


Sabiah hanya terkekeh melihat kepergian Fayyad," Anda lebih tua dari saya, tapi sikap Anda lebih menunjukkan siapa bocah diantara kita berdua," cibirnya Sabiyah.


Fayyad berhenti sejenak karena masih sanggup mendengar perkataan dari istri sirinya itu. Ia menatap tajam ke arah Sabiyah sedangkan yang ditatap seperti itu hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi itu.

__ADS_1


Fayad memajukan wajahnya ke arah Saniah,"Awas malam ini aku akan buktikan padamu siapa orang yang kamu anggap orang tua ini!" Ancamnya Fayyad yang melanjutkan perjalanannya ke arah kamar hotelnya.


Sabiah langsung bergidik ngeri mendengar ancaman dari suaminya itu,ia mulai gemetaran ketakutan jika memikirkan bakal apa yang terjadi selanjutnya dalam kehidupannya.


Ya Allah apa yang terjadi apabila kami hanya berdua saja di dalam kamar?


Ya Allah selamatkan lah aku dan semoga tidak terjadi sesuatu hal-hal yang tidak baik, kuatkan hatiku dan jiwaku ini menghadapi pernikahan yang sudah menjadi pilihanku sendiri.


Sabi berjalan mengikuti kemana perginya Fayyad Ia tidak banyak bicara lagi. Ia hanya berjalan dengan langkah gontai, tubuhnya sedikit gemetaran dan tubuhnya sesekali merinding karena takut membayangkan apa yang akan terjadi malam ini juga.


Fayad tidak peduli dengan apa yang terjadi pada istrinya itu,ia hanya berjalan ke arah dalam kamar itu. Tanpa melihat ke arah Sabi yang baru saja menginjakkan kakinya di dalam kamar pengantinnya.


Sabi segera menutup rapat-rapat pintu itu dan melihat sekilas ke datangan Daniah yang berdiri di balik pintu. Sabi hanya tersenyum sebelum pintu itu tertutup.


Daniah hanya terdiam membeku di tempatnya tanpa berniat untuk mencegah apa yang dilakukan oleh Sabi.


Aku tidak mungkin mencegah malam pertama kalian, aku harus memberikan waktu kepada mereka berdua untuk melewati malam ini.


Ya Allah semoga saja Sabi secepatnya hamil calon anak kami sehingga pernikahan mereka segera berakhir.

__ADS_1


Dania berjalan gontai menuju ke arah kamarnya yang disewanya itu, ia menghela nafasnya dengan cukup gusar. Dania tanpa mengunci rapat terlebih dahulu kamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya.


Dengan posisi tengkurap ia berusaha keras untuk tertidur dan memejamkan matanya tanpa bersih-bersih terlebih dahulu ataupun membuka sepatu high heelsnya.


Sedangkan di kamar sebelah tepatnya di dalam kamar pengantin baru. Sabi tetap berdiri di depan ambang pintu tanpa mengetahui apa yang seharusnya dilakukannya itu. Ia hanya menatap intens apa yang dilakukan oleh Fayyad.


Fayyad melepas pakaiannya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar mandi dan meraih sebuah handuk putih dari dalam lemari terlebih dahulu. Dia tidak peduli dengan kehadiran Sabiah yang terus mengamati pemandangan yang terpampang jelas di depan matanya.


Saking seriusnya menatap ke arah suaminya itu sampai-sampai ia tidak berkedip sedikitpun melihat bentuk tubuhnya Fayyad yang sixpack dan berotot tanpa berlebihan.


Ya Allah nikmat mana yang aku dustakan, sungguh mataku ini tidak sanggup melihat keindahan yang Engkau ciptakan.


Sabiyah memuji bentuk tubuh pria yang sering membuatnya mengelus dadanya itu untuk terus bersabar.


Fayyad yang melihat apa yang dilakukan oleh Sabia menghentikan langkahnya menuju kamar mandi, kemudian menoleh ke arah Sabiah.


"Apa kau belum puas memandangi tubuhku ini? Aku tau aku ini tampang dan macho jadi kamu tidak perlu seperti itu juga kali memandangiku dengan tatapan seperti orang yang kelaparan saja!" Cibirnya Fayyad sebelum masuk ke dalam bilik kamar mandi.


"Sia-pa yang mengagumimu! sa-ya hanya menatap ke arah pintu kamar mandi yang cukup unik yang ada Dy belakang bapak Fay yang terhormat," elaknya Sabiah yang tidak mungkin mengatakan kepada suaminya itu yang sejujurnya.

__ADS_1


__ADS_2