
Farhan diam-diam mencintai Sabiyah, walaupun sekalipun tidak pernah dia katakan secara langsung. Tapi, dari segala bentuk perhatian yang diberikannya sudah menunjukkan ketulusannya itu.
Aku akan bersabar sampai kamu mengatakan cinta padaku, Sabi hanya kamu wanita yang mampu menggetarkan hatiku dan mengusik ketenangan jiwa ku.
Aisyah melihat ke arah adiknya itu dan berasa ada yang janggal dari tatapan matanya Farhan.
"Farhan apa kamu bisa mengantar Sabi ke klinik dokter Widyawati untuk cek kesehatan dan si kembar sore ini?" Tanyanya Aisyah yang bernada permintaan itu.
Farhan yang mendengar seruan dari kakaknya itu segera menoleh ke arah kakaknya berada.
"Iya aku bisa kak, karena aku ngajar cuma sampai selesai ashar saja," balasnya Farhan yang berusaha menetralkan perasaannya agar tidak ketahuan oleh kakaknya karena telah memikirkan Sabia janda muda cantik.
"Sabi, tidak apa-apa kan kalau bukan Mbak yang antar kamu ke klinik untuk kali ini? Soalnya Mbak ada jadwal operasi hari ini." Aisyah berucap.
Sabiyah yang pikirannya melanglang buana memikirkan kondisi dari suaminya yang ada di Jakarta, terkesiap ketika mendengar seruan dari kakak angkatnya.
"Sa-ya ti-dak apa-apa kok Mbak kalau memang Mbak tidak sempat,saya saja yang pergi ke sana. Nggak enak ngerepotin mas Farhan apalagi setau saya mas Farhan ada janji dengan Mbak Ayesha," tolaknya Sabiah secara halus.
Sabiyah tanpa sengaja mendengar percakapan kedua orang tersebut melalui telpon kemarin malam, sehingga Sabi mengetahui hal tersebut.
Sabiyah akhir-akhir ini merasakan ada keanehan dalam perhatian yang diberikan oleh kakak angkatnya itu,maka dari itulah dia berusaha sekuat tenaga untuk menghindar tanpa membuat Farhan sakit hati, kecewa atau pun membencinya dengan penolakannya itu.
Aku tidak akan biarkan pria manapun untuk menggantikan posisi bang Fay di dalam hatiku, apalagi memanfaatkan ketulusan hatinya mas Farhan terhadapku dan kedua calon bayiku selama ini.
Aku menganggap mereka seperti saudara kandungku sendiri, jadi mana mungkin aku ingin melihat kesedihan mereka. Aku tidak ingin menghalang-halangi kebahagiaan mereka berdua.
"Ayesha, sepertinya panjang umur. Kalian baru saja omongin orangnya dia sudah ada di depan," ucapnya Bu Rima yang ikut bergabung dalam perbincangan mereka pagi itu.
Farhan menghela nafasnya dengan cukup berat ketika mengetahui jika perempuan yang selama beberapa bulan terakhir ini terus mengejarnya. Bahkan satupun orang yang ada di kota S yang mengetahui, apabila Sabiyah hanya cucu angkat saja, termasuk Ayesha.
Kenapa Ayesha harus datang disaat seperti saat ini sih? Aku kan sudah terang-terangan menjelaskan padanya jika aku sama sekali tidak mencintainya.
__ADS_1
Ayesha berjalan ke arah dalam dengan senyuman lebarnya,dia melihat satu persatu anggota keluarga yang ada di depan meja makan. Sedangkan Pak Wiranata Kusumah tersenyum hangat menyambut kedatangan perempuan berusia 25 tahun itu.
"Assalamualaikum, kakek, Nenek dan semuanya," sapanya Ayesha.
"Waalaikum salam, kamu panjang umur nak. Cucuku Sabi baru saja omongin kamu katanya kamu dengan Farhan ada janji siang ini?" Tanyanya Pak Wira sambil menyeruput kopi hitamnya terlebih dahulu.
Kopi hitam buatannya Sabi sangat disukai oleh kakeknya itu, sehingga setiap hari dialah yang menyeduh kopi dan teh untuk seluruh anggota keluarganya itu.
Ayesha tersenyum malu-malu mendengar perkataan dari kakek laki-laki yang dicintainya itu.
"Iya Kek dan rencananya malam ini papa dan mamaku ingin berkunjung ke sini. Katanya ada sesuatu hal yang ingin mereka bicarakan bersama dengan kakek dan nenek juga," imbuhnya Ayesha sembari menarik salah satu kursi meja dapur.
"Ohh silahkan saja suruh datang kedua orang tuamu ke sini dengan senang hati kami menyambut kedatangannya. Kapan pun jika mereka ingin datang terserah kapan saja waktunya,kami sekeluarga tidak keberatan mengenai hal itu." Bu Rima berkata menimpali percakapan mereka.
"Alhamdulillah kalau kalian tidak keberatan dengan rencana mereka, insya Allah saya akan langsung sampaikan kepada mereka apa yang Nenek dan Kakek katakan," balasnya Ayesha.
Farhan hanya terdiam dan memperlihatkan mimik wajahnya yang tidak menyukai pembicaraan mereka semua. Sabiyah berharap semoga saja, kedatangan mereka akan membawa ide pernikahan untuk Farhan.
Seorang pria mengamuk di dalam kamarnya, setelah mendapatkan bukti yang konkret dan nyata tentang apa yang dilakukan oleh wanita yang sungguh sangat dicintainya.
"Argh!! Dania aku akan memberikan hukuman yang sesuai dengan apa yang kamu lakukan!"
Fayyadh meremas beberapa kertas bukti kesalahan dari istrinya sendiri. Urat-urat leher dan di tangannya terukir jelas saking murkanya dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya itu.
"Awalnya aku masih ragu jika keraguan yang aku ketahui hanyalah kesalahpahaman saja aku bahkan sering kali mengatakan jika aku terlalu berfikir negatif,tapi hari ini semuanya sudah terbukti!"
Fadel Muhammad dan Silvia Irianti yang berada di dalam kamar itu, hanya mampu memandangi kemarahan dari atasannya itu.
"Fadhel, ada dimana sekarang Dania?" Tanyanya Fayyad sambil menatap tajam ke arah Fadel sang asisten pribadi.
Fadhel berjalan beberapa langkah ke arah Fayyad," Nyonya Muda belum pulang Tuan,"
__ADS_1
Fayyad menyirangai ke arah Fadhel," jalankan rencana awal kita dan aku tidak ingin wanita lucknut dan terkutuk itu berada di sekitarku lagi. Berikan dia hukuman kepadanya bahkan kematian enggan untuk menjemputnya!" Tegasnya Fayyad.
"Baik Tuan Muda," balasnya Fadhel.
Fadhel segera berputar arah untuk keluar ruangan pribadi milik atasannya yang terduduk di atas kursi roda itu.
"Silvia urus dua selingkuhannya yang bernama Jordy dan Damar berikan ganjaran padanya karena telah bersekonkol untuk menutupi kenyataan atas kecelakaan maut yang aku alami bersama istriku Sabiyah!" Perintahnya Fayyad.
Silvia tanpa membalas perkataannya dari Fayyad hanya langsung menjalankan tugasnya saja. Sayangnya bukti dan informasi mengenai kehamilan Sabiah tidak diketahui oleh Fayyad. Daniah berhasil melenyapkan semua bukti mengenai kehamilannya Sabiyah.
Fayyad segera menekan tombol disudut kursi rodanya agar bisa bergerak secara otomatis. Ia segera ke arah meja kerjanya dan mengambil sebuah bingkai figura foto dimana di dalamnya terdapat fotonya bersama dengan Sabiyah sang istri sirinya.
"Aku berjanji padamu, istriku Sabi setelah Abang sembuh akan segera mencari mu. Abang mohon bersabarlah dan tetaplah mencintaiku seperti dahulu awal kita menikah. Sudah hampir sembilan bulan aku tidak melihatmu. Aku sangat merindukanmu istri kecilku," ratapnya Fayyad.
Satu minggu kemudian, Sabiyah yang hendak membuat susu formula khusus ibu hamil terhenti ketika tiba-tiba perutnya mules.
"Ahh sakit!" Teriaknya Sabiah sambil menjatuhkan kaleng susunya ke atas lantai.
Prang!!
Suara gaduh dan bising memekakkan telinga siapapun mendengarkannya segera berlari cepat ke arah sumber suara.
"Sabi apa yang terjadi padamu Nak?" Tanyanya Bu Rima yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat tersebut.
"Perutku Nek sangat sakit," balasnya Sabi yang sesekali meringis kesakitan sembari memegangi perutnya itu.
"Farhan! Aisyah adikmu Sabi sepertinya akan melahirkan!" Teriak Bu Rima.
Semua orang terburu-buru ke arah sumber suara dan tanpa aba-aba Farhan langsung menggendong tubuhnya Sabi yang sudah basah bagian bawahnya.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan lobi rumah sakit. Hingga tanpa disadari oleh mereka, sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan apa yang mereka lakukan.
__ADS_1
"Ternyata kamu ada di sini rupanya! Pantesan kamu tidak ada di rumah yang aku sediakan. Bahkan aku sudah mencarimu kemana-mana tapi rupanya kau ada di sini. Sepertinya Tuhan Yang Maha Kuasa berpihak padaku kali ini. Aku akan membalas dendam atas penghinaan dan perlakuan dari suamimu padaku!"