
Daniah Najida dan Sabiah berjalan ke arah ruang tengah rumah Pak Doni dan Bu Ratna Ayu yang dijadikan rumah tempat saksi akad nikah sakral dan ijab kabul antara Fayyadh Al Biruni Haris dengan Sabiyah Laika Badiyah.
Sabiyah diapit oleh kakak sepupu sekaligus madunya itu, Sabiyah sesekali menundukkan kepalanya atau memalingkan wajahnya ke arah lain, karena ia cukup tidak percaya diri diperhatikan oleh orang-orang terutama pria yang baru dinikahinya itu.
"Pengantin perempuannya cantik banget yah, masih sangat muda lagi," ucapnya Anna anaknya pak Doni.
"Iya, tuan muda dapat brondong malah," celetuknya Ani.
"Hush, sudah bergosipnya nanti Bu Daniah denger kalian gosipin," cegahnya Bu Ratna Ayu.
Pak penghulu memerintahkan kepada Fayyad untuk mengecup keningnya Sabiah. Tetapi, Fayyadh seperti enggan untuk melaksanakannya.
"Tuan Fayyad sekarang prosesi sungkeman dengan istri barunya Tuan, silahkan dicium keningnya Nyonya Sabiyah," titahnya pak penghulu yang bernama Maulana Nasution.
Daniah yang baru saja membantu adik sepupunya itu duduk tepat di sampingnya Fayyad segera mengelus lengannya Fayyad. Sabiah sedikit salah tingkah karena uluran tangannya tidak disambut oleh Fayyad suaminya itu.
Ya Allah sampai segininya Pak Fay enggan banget melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak penghulu.
Andaikan bukan karena kebahagiaan Mbak Dania aku tidak mungkin sudi menerima permintaannya, dibayar berapapun biayanya.
"Apa susahnya melakukan hal seperti yang diinginkan oleh Pak penghulu! Padahal enggak ribet dan gratis malah! Kenapa meski menolak segala!" Gerutunya Sabiyah.
Fayyad yang jelas-jelas mendengar perkataan dari Sabiah hanya memutar bola matanya dengan jengah ke arah Sabiyah.
"Mas Fayyad," ucapnya Daniah yang sedikit menekan suaranya itu.
Fayyad segera menyambut uluran tangannya Sabi yang sebenarnya sudah diturunkannya yang sedari tadi mengantung itu.
Fayad melakukan hal itu dengan sangat terpaksa, karena tatapan mata semua orang terus menerus tertuju padanya.
"Kan gini lebih bagus, kenapa meski harus menunda lebih lama sih!" Ketus Sabiyah yang keheranan melihat sikapnya Fayyad padahal mereka berdua yang menginginkan hal ini terjadi.
__ADS_1
Setelah semuanya beres, mereka bergegas meninggalkan rumahnya pak Doni tempat yang dikemudian hari adalah tempat yang paling bersejarah dalam hidupnya Sabiyah.
Hatinya harus kuat karena semuanya sudah diputuskannya sendiri, sehingga mau tidak mau harus menjalani kehidupan selanjutnya.
"Kita langsung ke hotel," ucapnya Fayyad kemudian berjalan ke arah Sabiyah yang berjalan paling belakangan.
Fayyad menyeringai lebar ke arah Sabiah," kamu bersiaplah karena malam ini,kau harus memberikan hakku sebagai suamimu jadi jangan sekali-kali untuk menolak ataupun mundur dari apa yang sudah kamu pilih!" Tegasnya Fayyad.
Sabiyah membelalakkan matanya saking terkejutnya mendengar perkataan dari pria yang baru saja menikahinya itu. Ia kesusahan menelan air liurnya saking takutnya mengingat malam pertama yang bakal terjadi padanya dan wajib harus dilaluinya apapun yang terjadi.
Daniah mencubit perut suaminya itu," sayang jangan seperti itu! Kasihan Sabi tidak perlu menakuti Sabi dengan seperti itu," kesalnya Daniah yang terkadang heran dengan sikap dari suaminya itu.
"Augh! Sakit," keluh Fayyad yang mengelus perutnya itu.
"Apa Mas ingin apa yang sudah kita rencanakan matang-matang akan hancur begitu saja! Aku tidak ingin mas!" Daniah sedikit meninggikan suaranya itu Du depan suaminya sebelum masuk ke dalam mobil.
Daniah menarik tangannya Sabi untuk masuk ke dalam mobil tanpa menunggu balasan perkataan dari suaminya tersebut.
Fayyad mengemudikan mobilnya itu dengan tatapan matanya yang tajam menatap Sabi dengan penuh kekesalan. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya tanpa berucap sepatah katapun lagi. Selama dalam perjalanan Dania lebih banyak terdiam, sesekali ia membuang nafasnya dengan cukup keras.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di dalam lobi hotel yang dipilih untuk melaksanakan bulan madu mereka. Dania memperhatikan apa yang dilakukan oleh Sabi dengan memperhatikan seluruh hotel yang cukup mewah dan besar baginya.
"Hotelnya bagus, bersih, cantik dan mewah yah. Pasti bayaran sewaannya sangat mahal," ucapnya Sabi.
Sabi memuji hotel itu dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling hotel terbesar kedua yang ada di Denpasar pulau Dewata Bali.
Fayyad yang mendengar perkataan dari istrin mudanya itu dibuat malu, karena semua orang memperhatikan mereka bertiga dengan tatapan mencemooh.
Dania menepuk jidatnya mendengar perkataan dari Sabi, Ya Allah ini anak kampungan banget, apa segininya hidupmu dek sampai-sampai memuji hotel dengan berlebihan.
Sedangkan Fayyad segera berjalan cepat sambil menarik tangan Dania, karena ia cukup kesal dengan sikap kampungan dan kekanak-kanakan yang dimiliki oleh istri keduanya itu.
__ADS_1
"Astaga kenapa bisa aku menikahi perempuan bocah ini! Aku dibuat malu oleh sikapnya!" Geram Fayyadh.
Fayad mempercepat langkahnya menuju ke arah lift setelah menyabet sebuah kunci dari dalam tangannya resepsionis hotel dengan kasar tanpa menoleh ke arah belakang. Dia terus saja berjalan cepat ke arah lift yang tidak berhenti untuk marah-marah.
"Sial! Kenapa aku memutuskan untuk memenuhi keinginanmu untuk menikahi perempuan udik itu! Daniah aku sangat kesal dan jengkel menyikapi sikapnya yang tidak tau malu itu!" Omelnya Fayyad yang sudah tidak menyadari dan mengetahui siapa tangan yang ditariknya itu.
Dania terbelalak dan mulutnya menganga melihat kepergian suaminya dengan menarik kuat tangannya Sabi tanpa peduli dan mengetahui siapa orang yang ditariknya.
Dania hanya berdiri terpaku mematung melihat apa yang dilakukan oleh suaminya. Kepergian suaminya dengan memegangi tangannya Sabi sedikit membuatnya sedih dan kecewa.
Mas Fayyad saking marahnya dan buru-burunya sampai-sampai tidak menyadari siapa perempuan yang ditariknya.
Hatiku cukup sedih, melihat kepergian mereka. Tapi, aku harus kuat dan tahan banting serta sabar jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal.
Ini adalah pilihanku sendiri, jadi aku tidak boleh lebay dan mewek dengan apa yang dilakukan oleh suamiku.
"Ini semua gara-gara kamu, kesalahanmu yang memintaku menikahi gadis bocah cilik itu! Andaikan kamu mencari wanita lain yang lebih layak mungkin aku tidak akan kesal seperti ini!" Ketus Fayyad.
Dania berusaha tersenyum walau hatinya sedikit sedih dan malu dengan sikap polosnya Sabiah. Dia pun berjalan meninggalkan lobi hotel. Ia cukup tergesa-gesa agar tidak ketinggalan dengan kedua orang itu.
Sabiah hanya terdiam mendengarkan perkataannya dan amarahnya suaminya itu tanpa berniat untuk menimpalinya.
"Gadis itu sudah kampungan,miskin, jelek dan tidak berpendidikan! Gimana caranya nanti dia bisa hamil anak kita nantinya?"
Fayyad sepanjang jalan mengumpat dengan penuh kekesalan hatinya itu tanpa menolehkan kepalanya ke arah belakang.
Daniah baru saja hendak ingin masuk ke dalam bilik lift,tapi langkahnya kurang gesit dan cepat sehingga ia terlambat.
Fayyad yang melihat kedatangan Daniah melototkan matanya saking terkejutnya melihat istrinya yang masih di luar lift dan spontan menolehkan kepalanya ke arah kanannya dimana Sabi berada. Ia reflek menghempaskan tangannya Sabi dengan cukup kuat.
"Aghh!" Keluhnya Sabi yang tangannya terantuk ke dinding lift.
__ADS_1
"Baru segitu saja sudah mengeluh! Dasar lemah!" Cibirnya Fayyad.