
Tiga hari kemudian…
Ketiganya segera balik ke Jakarta, Daniah dan Fayyad sudah menyiapkan rumah khusus untuk tempat tinggal Sabiyah selama di Jakarta. Mereka meninggalkan pulau Dewata Bali Denpasar dengan berbagai kenangan.
Sabiyah selama tiga hari itu, benar-benar tidak diberikan kebebasan oleh suaminya. Pengantin baru itu hanya keluar kamar ketika akan makan saja, sedangkan Sabi hanya dipesankan makanan saja,tak diijinkan untuk keluar kamar barang sejengkal kaki pun.
Sabi menatap ke arah luar jendela selama perjalanannya, ia tidak habis pikir jika suaminya sedikit hiper ****, begitu candu pada tubuhnya. Bahkan Sabi tidak diijinkan memakai pakaian yang tertutup, harus yang lebih seksi.
Hal itu hanya diketahui oleh Sabi dan Fayyad saja. Sabi harus tutup mulut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya dari Dania kakak sepupunya.
Ya Allah… entah kenapa aku merasa Pak Fay sungguh bertolak belakang perhatiannya terhadapku jika di hadapan Mbak Dania.
Dia akan bersikap jutek, kasar dan cuek terhadapku sedangkan selama kami di hotel perhatiannya sungguh membuatku terkadang tercengang dan diselimuti tanda tanya.
Apakah ini hanya alasan semata saja untuk membuatku secepatnya hamil ataukah apa Pak Fay ada rasa padaku?
Sabiah menggelengkan kepalanya ketika tersadar dengan apa yang dipikirkannya barusan.
Itu tidak mungkin, pasti itu tidak bakalan terjadi semuanya terjadi karena atas dasar anak itu saja tidak lebih dari alasan karena keturunan.
Dania menautkan kedua alisnya melihat sikapnya Sabiah yang menurutnya aneh sehingga ia tidak ragu untuk melayangkan pertanyaan kepada adik sepupunya itu.
Daniah mengelus lengannya Sabi," dek,kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Daniah yang menolehkan kepalanya ke arah belakang dimana Sabiah duduk seorang diri.
Sabi tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari madunya itu," saya tidak apa-apa kok Mbak, aku hanya sering tidak percaya jika saya pernah menginjakkan kaki di pulau Bali ini," kilahnya Sabiah.
Fayyad hanya melirik sekilas ke arah Sabi tanpa menimpali percakapan kedua istrinya.
__ADS_1
Fayyad sebenarnya enggan untuk melirik lebih-lebih menatap langsung wajahnya Sabi. Karena setiap kali melihat bibir mungilnya Sabi,ia akan tergoda dengan bibir ranum yang merah merona merekah bak kelopak bunga mawar merah itu tanpa perona bibir yang berlebih-lebihan.
Sial!! Kenapa aku selalu tidak bisa mengontrol diriku jika melihat bibirnya Sabi si gadis kecil ini!
Fayyad segera mengalihkan perhatiannya dari bibirnya Sabi ke arah lain. Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain.
Kenapa gadis licik itu mampu mengalihkan duniaku, padahal hanya melihat sepintas bibirnya sudah buat aku kelimpungan.
Danauh memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya yang seperti salah tingkah.
"Mas Fay apa yang terjadi padamu, kenapa kamu seperti?" Ucapannya Daniah terpotong karena mendengar dengkuran halus dari arah belakang.
Dania dan Fayyadh spontan mengalihkan perhatiannya ke arah belakang. Keduanya hanya bisa menganga melihat ke arah Sabiah yang sudah tertidur pulas.
"Dia ini seorang perempuan atau kebo sih! Dimana-mana asalkan dapat kesempatan untuk tertidur pasti akan tidur! Tapi bentuk tubuhnya masih kecil seperti tripleks," sarkasnya Fayyad.
"Mas Fay, gimanapun juga dia itu adalah istrimu juga, jangan diperlakukan seperti itu juga kasihan dengan Sabi yang masih sangat muda dan polos," sanggahnya Daniah.
Apakah karena aku yang membuatnya setiap malam begadang sehingga ia baru bisa menikmati tidurnya?
Kasihan juga Sabi, aku yakin mas Fay tidak memberi waktu yang cukup leluasa untuk beristirahat selama beberapa hari ini.
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya mereka tiba di Jakarta dengan selamat. Ketiganya segera menuju rumah mewahnya di salah satu komplek perumahan elit yang ada di tengah-tengah ibu kota Jakarta.
Mobilnya yang dikendarai oleh Fayyad berbelok kiri terlebih dahulu sebelum menuju rumahnya mereka berdua yang terletak di bagian sebelah kanan.
"Jadi di sekitar sini Mas Fay membelikan rumah untuk Sabi?" Tanya Danish.
__ADS_1
"Iya, ini tidak terlalu jauh dari rumah agar lebih leluasa mengawasi dan menjaga gadis kampungan itu," balasnya Fayad yang selalu menyebut Sabi dengan gadis kampungan.
Sabiah yang mendengar percakapan mereka segera bangun dari tidurnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan yang dilaluinya itu.
"Masya Allah cantik-cantik benar yah rumahnya, pasti mahal satu unit rumah ini," celetuknya Sabiah.
"Kamu tidak akan bisa membeli rumah seperti ini, walau kamu bekerja seumur hidupmu!" Cibirnya Fayad.
Sabi memutar jengah matanya mendengar perkataan dari suaminya itu," siapa juga yang berniat untuk beli rumah mahal Pak Gaye. Saya sadar diri kok Pak saya dapat uangnya dari mana. Lagian kalaupun saya punya uang lebih baik saya beli rumah sederhana dan sisa uangnya saya tabung untuk masa depanku daripada bersifat boros seperti Horang kaya sana yang suka membuang-buang duit dengan nggak jelas," balas Sabi yang memang selalu membalas perkataan dari suaminya itu tanpa filter segala.
Sabiyah setiap kali berbicara dengan suaminya dan kakak sepupunya,ia akan berbicara formal memakai kata saya dan kau. Entah kenapa Fayyad jika berbicara dengan Sabiah bersikap kekanak-kanakan padahal mengingat usianya yang sudah cukup tua dan dewasa.
"Sudah mengocehnya,kamu turun sana, aku tidak ingin berlama-lama melihatmu dan mendengar ocehan tidak bermutumu itu," cibirnya Fayyad yang seperti tidak mau mengalah berdebat dengan Sabiah.
Sabiyah segera turun dari mobilnya itu dan tak lupa mengambil beberapa barang bawaannya seperti koper besar yang berisi beberapa pakaian yang dibelikan khusus untuk dirinya mengingat dia tidak memiliki pakaian selembar pun.
"Dek ini kunci rumahmu, ingat jaga rahasia diantara kita bertiga, jika tidak kamu akan dicap pelakor dan akan dijobloskan ke dalam penjara, camkanlah baik-baik perkataanku. Jadi kedepannya jangan terlalu sering dekat dengan orang lain, siapapun itu agar keamanan rahasia kita ini terjamin," imbuhnya Daniah yang mewanti-wanti sepupunya itu.
"Kamu harus berhati-hati, jangan sembarang menerima tamu. Apalagi kalau malam-malam terutama tamu pria. Tapi, kamu tidak perlu khawatir dengan keamanan di daerah sini. Daerah ini sangat aman dan nyaman jadi kamu tidak perlu takut walaupun kamu seorang diri saja malam ini, karena besok baru ada art yang aku pilihkan khusus untuk menemani kau," jelas Fayyad panjang lebar yang untuk pertama kalinya berbicara tanpa ada nada perdebatan dibaliknya.
"Tumben bapak Fayyad Albiruni Haris berbicara banyak kata, hemmph entah malam ini saya akan bermimpi apa," cicitnya Sabi sebelum berjalan ke arah pagar dan bergegas membuka pagar besi bercat putih itu.
Fayyad yang mendengar perkataan cibiran dari Sabi hendak membalasnya, tetapi segera dicegah oleh Daniah dengan menggeleng kepalanya itu.
Mobil kedua pasutri itu segera melaju meninggalkan rumah milik atas nama Sabiah Badia Laika khaerudin itu.
Apa yang dikatakan oleh Sabi benar sekali, tanpa secara langsung suamiku sudah perhatian terhadap nasibnya Sabi. Aku berharap semoga ini awal yang baik dan Sabi segera hamil.
__ADS_1
Bagi Like, gift iklan, gift poin dan koinnya Yah. jangan lupa untuk berikan masukannya juga ditunggu.
I lope lope luph you all..