Terpaksa Menjadi Orang Ketiga

Terpaksa Menjadi Orang Ketiga
Bab. 25. Meyakinkan Sabiyah


__ADS_3

Seseorang yang sedari tadi menunggu dan mengikuti kemanapun perginya Fayyad, membelalakkan matanya saking terkejutnya melihat kemana perginya Fayyad.


"Astaga ternyata demi menemui perempuan itu, dia berani berbohong besar padaku! Aku akan memberinya pelajaran jika sampai dia berniat untuk merebut suamiku!" Kesalnya Daniah yang marah-marah di dalam mobilnya itu.


Dania tidak habis pikir, kenapa suaminya lebih memilih berbohong daripada berkata jujur padanya apabila dia akan mengunjungi istri barunya itu.


"Sial!! Jadi mas Fayyad sengaja berbohong padaku dan buru-buru mengusirku karena ingin cepat-cepat pulang dan menemui Sabiah. Kalau seperti ini jadinya bisa-bisa rencanaku bukannya berhasil malah gagal." Daniah memukuli setir mobilnya dengan sekuat-kuatnya.


Daniah sama sekali tidak menduga jika, suaminya sudah bersikap kasar padanya dan memintanya untuk segera meninggal ruangannya yang alasan awalnya adalah ingin melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk.


"Namaku bukan Dania Najida,kalau aku tidak mampu membuatmu pergi dari sini aku bakal akan ganti namaku ini!" Sumpahnya Dania.


Tetapi pada kenyataannya adalah bahwa pria yang disayanginya itu hanya beralasan dan berbohong untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.


"Aku akan melihat satu bulan kedepan,jika kamu tidak hamil maka aku akan segera menendangmu jauh-jauh dari kehidupanku dan kehidupan suamiku! Masih banyak toh diluar sana yang berani berbuat apapun demi uang," geramnya Daniah.


Sabiyah yang melihat suaminya baru saja datang dan terkejut melihat benda yang tadinya dilempar ke sembarang arah, tepat mengenai wajahnya Fayyad.


Fayyad spontan mengambil lingerie itu yang mengenai wajahnya, dan menatap intens ke arah Sabiyah.


"Ma-af sa-ya ti-dak sengaja," cicitnya Sabia itu penuh penyesalan.


Fayyad menjinjing benda itu kemudian berjalan ke arah Sabiyah," apa kamu tidak menyukai pakaian ini?" Tanyanya Fayyad.


"Sa-ya bukan tidak menyukainya Pak Fay, hanya saja ini pertama kalinya saya melihat pakaian seperti itu," ucapnya Sabiah seraya tertunduk malu.


Fayyad menyunggingkan senyumannya itu melihat sikap polosnya Sabiah. Ia kemudian berjalan mendekati istri kecilnya.


Fayyad mendekatkan bibirnya ke telinganya Sabiyah,"Kamu harus memakai pakaian ini, aku tunggu kamu sekarang juga! Tidak pakai lama!" Perintah Fayyad.


"Apa!" Teriaknya Sabiah yang cukup terkejut mendengar perintah dari suaminya itu.


"Kenapa kamu bereaksi seperti itu? Santai saja ini bukan baju yang dialiri listrik jadi kenapa kamu tidak setuju dan menolaknya untuk memakainya?" Ketusnya Fayyad.

__ADS_1


"Bu-kan be-gi-tu Pak Fay maksudku, hanya saja bagaimana caranya saya pakai ini Pak Fay? I-ni sa-ya ti-dak tau cara pakainya," cicitnya Sabiyah yang reflek menundukkan kepalanya ke arah bawah.


Fayyad yang melihat kelakuannya Sabiyah hanya terkekeh menanggapi sikapnya Sabiah tersebut.


"Aku akan bantu kamu memakainya!" Usulnya Fayyad.


"Ti-dak perlu pak Fay, Insya Allah saya masih bisa memakainya kok tanpa dibantu oleh pak Fay," tampiknya Sabiyah yang segera merebut lengeri itu dari dalam genggaman tangannya Fayyad.


"Aku ingin kau membahagiakanku malam ini, kamu ingin dapat pahala yang banyak kan?" Tanyanya Fayyad dengan seringai liciknya.


Sabiyah sumringah mendengar perkataan dari suaminya itu," saya mau sekali dapat pahala yang banyak Pak Fay. Tapi gimana caranya dapat pahala yang besar?" Sabi keheranan dan tidak paham arti dari perkataan suaminya itu.


"Kamu pakailah pakaian itu terlebih dahulu, lalu Abang akan menjelaskannya padamu," imbuhnya Fayyad.


Sabia yang mendengar perkataan dari suaminya itu berjalan cepat ke arah dalam kamar ganti. Dengan polosnya, Ia hanya berfikir berbuat kebaikan dan mendapatkan pahala.


"Hahaha! Istri kecilku memang lugu dan polos banget. Inilah yang membuatku betah bersamamu dan selalu ingin cepat pulang menemuimu,"


Berselang beberapa menit kemudian, Sabiah selesai memakainya lingerie itu, walau awalnya dia sangat kesusahan dan sungguh nengalami kesulitan yang cukup berarti. Tapi, dengan semangat juang empat lima, akhirnya bisa memakainya juga.


Sabiah ragu untuk membuka pintu ruang ganti itu, dalam keadaan yang sungguh sangat seksi hingga dia seperti tanpa memakai sehelai benang kainpun yang menutupi seluruh bodynya itu.


"Ya Allah bagaimana ini, apa aku keluar saja yah dari sini. Tapi kalau Bang Fayyad melihatku seperti ini aku pasti akan sangat malu," gumamnya Sabiyah.


Fayyad sudah bersiap untuk melakukan rencananya kali ini. Bahkan ia memasukkan sesuatu ke dalam sebuah gelas yang nantinya diberikan kepada Sabiah.


"Aku ingin melihat jika istriku meminumnya, reaksinya akan seperti apa? Aku sudah tidak sabar menunggu hasilnya,"


Fayyad mengaduk air putih mineral yang sudah dicampur obat khusus untuk Sabi. Ia ingin melihat respon tubuh istri barunya itu jika mengkonsumsi obat yang pernah dan bahkan biasa diminum oleh Daniah, walaupun Fayyad sama sekali tidak pernah memintanya.


"Apa kamu masih lama?" Teriakannya Fayyad.


Sabiyah yang mendengar teriakannya Fayyad segera terburu-buru memperbaiki pakaiannya yang baru sebagian masuk ke dalam tubuhnya itu.

__ADS_1


"Kalau kamu belum selesai, Abang akan bantuin kamu!" Teriaknya Fayyad.


"Tidak perlu repot-repot Pak Fay, saya sudah selesai," balasnya Sabi.


Sabiyah segera menarik handel pintu dan berjalan ke arah suaminya itu tanpa memperdulikan penampilannya yang sungguh membuat Fayyad langsung kelimpungan melihat begitu indah tubuhnya Sabiyah gadis berusia delapan belas tahun itu.


Fayyad tersenyum penuh kegembiraan melihat penampilannya Sabiyah kali ini, dia tidak menyangka jika tubuhnya Sabiyah yang setiap harinya memakai pakaian yang longgar dan lebih besar dari ukuran size-nya membuatnya tampil berbeda.


Fayyad berjalan ke arah Sabi yang terdiam membisu seperti sebuah manekin hidup saja. Ia hanya tertunduk malu karena mengetahui suaminya menatapnya seolah dia adalah makanan yang lezat.


Fayyad membelai lembut pipinya Sabiyah," ini adalah cara kamu bisa mendapatkan pahala yang sungguh luar biasa banyaknya dengan cara membahagiakan suamimu," Fayyad berujar seraya menyodorkan sebuah gelas yang berisi minuman.


Sabiyah mendongakkan kepalanya ke arah Fayyad dan menautkan kedua alisnya melihat gelas itu.


"Saya akan selalu berpakaian seperti ini di depannya bang Fay kalau dengan memakai pakaian seksi kekurangan bahan seperti ini akan mendatangkan pahala untukku," ujarnya Sabi dengan memperlihatkan senyuman lebarnya.


"Tapi, kamu perlu ingat jika aku menginginkannya saja kamu baru boleh memakainya, tetapi di depan pria atau orang lain kamu tidak boleh berpenampilan seperti ini, apa kamu paham?" Fayyad memegangi dagunya Sabi.


Sabiyah spontan menganggukkan kepalanya itu dan tidak lupa tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari suaminya itu.


" Tapi gelas ini apa Pak Fay?" Tanyanya Sabi.


"Kamu tidak perlu banyak tanya, minum saja. Abang ingin melihatmu menghabiskan minumanmu,"


"Ini bukan racun kan Pak Fay?" Sabiyah mulai ketakutan dan khawatir jika itu minuman yang berbahaya.


"Aku sudah katakan jika hanya kita berdua panggil aku sebagai Abang bukan Pak," kesalnya Fay.


"Maafkan saya bang sudah jadi kebiasaan sapa seperti itu," sesalnya Sabi.


Fayyad tersenyum melihat tingkah lakunya Sabi yang sangat membuatnya terhibur.


"ini bukanlah racun mana mungkin aku memberikan racun kepada istriku yang mampu membahagiakanku," sanggah Fayyad.

__ADS_1


Sabi tanpa banyak bicara lagi langsung menghabisi minumannya itu dalam sekali tegukan saja, saking takutnya jika dia kembali melakukan kesalahan.


Fayyad mengelus puncak rambutnya Sabi," gadis penurut, aku suka dengan sikapmu ini. Aku ganti pakaian dulu kamu rebahan saja di sana, tunggu Abang di sana." Fayyad berjalan ke arah kamar mandi sedangkan Sabiah berjalan ke arah ranjang.


__ADS_2