Terpaksa Menjadi Orang Ketiga

Terpaksa Menjadi Orang Ketiga
Bab. 18. Perintah Fayyad Albiruni Haris


__ADS_3

Fayyad berjalan terburu-buru ke arah mobil yang terparkir di dalam bagasi rumahnya Sabi. Sedangkan Sabi sedari tadi mengekor membuntuti kemanapun perginya suaminya dengan patuh tanpa banyak bertanya,hanya dari pancaran sinar matanya memperlihatkan banyak pertanyaan dibaliknya.


Fayyad sebelum masuk ke dalam mobilnya dia menolehkan kepalanya ke arah Sabiah gadis belia yang berstatus Istri keduanya itu.


"Ingat nanti malam aku akan datang lagi, kamu harus bersiap menyambut kedatanganku, dan paling penting kau memakai pakaian yang aku belikan harus kamu pakai," ucapnya Fayyad yang mewanti-wanti Sabi untuk memenuhi semua persyaratan yang dikatakannya.


Sabi hanya berusaha untuk tersenyum patuh dan ada begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya mengenai kakak sepupunya itu. Fayyad kembali berpesan kepada Sabia sebelum masuk ke dalam mobilnya itu.


"Ingat! Jangan sekali-kali kedatanganku ke sini dan apa yang kita lakukan diketahui oleh Daniah. Kamu harus merahasiakannya dan kedua nanti siangan baru asisten pembantu rumah tangga yang aku pilihkan khusus untukmu dua orang akan datang," ucap Fayyad sebelum masuk ke dalam mobilnya.


"Ta-pi ke-na-pa harus dirahasiakan segala Pak Fay?" Protesnya Sabiyah.


Fayyad tidak mengatakan apapun atau menanggapinya karena dia terlalu terburu-buru mengingat ada jadwal meeting yang wajib dihadirinya sebelum jam sepuluh pagi. Ia hanya menatap tajam ke arah istri mudanya itu. Sabi yang ditatap seperti itu langsung paham dengan arti dari tatapan suaminya.


Sabiyah juga keheranan melihat garasi mobilnya yang terdapat sebuah sepeda motor dan satu mobil yang berwarna hitam. Sedangkan mobil satunya yang dipakai oleh Fayyad berwarna putih metalik.


Apakah seperti ini hidupnya seorang pria beristrikan dua yah? Harus serba rahasia segala dari istri pertama.


Sabi menghela nafasnya dengan cukup keras, ya Allah aku hanya berharap semoga pernikahan dan hubungan kami ini kedepannya membawa kebaikan dan keberkahan dalam hidup kami masing-masing.


Sabiah menutup garasi rumahnya itu dengan perlahan, dia masih terkadang keheranan dengan situasi yang terjadi dalam kehidupannya.


Hanya setahun paling lama aku tinggal di rumah ini dan selanjutnya akan kembali seperti Sabiah Laika Badiah Khaerudin kembali.


Sabi kemudian berjalan mengitari rumahnya itu, karena ingin melihat kondisi dari keseluruhan rumahnya.


Entah berapa tahun aku kumpulkan uang untuk bisa membeli rumah sebesar ini? Tapi ngomong-ngomong uangnya dari mana dulu. Kalau hanya dari kerja semrawutan sampai kapan aku akan bisa mengumpulkannya dan membeli rumah?

__ADS_1


Sabi terus berjalan ke arah dalam rumah itu hingga kakinya menapaki lantai keramik dapurnya. Ia melihat dengan jelas kulkas lemari pendingin yang cukup besar dan tinggi yang ukurannya sama tinggi dengan tubuhnya.


Subhanallah kulkasnya gede amat, kulkas dirumahku yang di Makassar dibandingkan dengan yang ini, sungguh sangat jauh berbeda.


Sabi mengangumi kulkas yang cukup besar itu ukurannya bahkan melebihi tinggi badannya. Dia meraba permukaan kulkas itu yang masih mengkilap.


Pasti sangat mahal harganya, berarti Pak Fay sungguh kaya dan dermawan karena membelikan aku kulkas sebagus ini.


Sabi pun penasaran dengan apa yang terdapat di dalamnya, ia kembali takjub dan terkagum-kagum karena isi dalam lemari pendingin itu sungguh lengkap.


Mulai dari jenis sayuran, makanan ringan, minuman botolan, minuman kaleng, buah kaleng, buah-buahan segar,daging, ikan, udang, sosis, bakso serta berbagai macam bumbu instan maupun bumbu dapur yang siap diolah.


"Masya Allah ini kulkas apa minimarket seperti indo April saja isinya super lengkap! Kalau gini aku bisa masak berbagai masakan. Hemph! Aku akan praktek memasak seperti yang sering kali ibu Haja Nurmi yang selalu diajarkannya padaku ketika aku bekerja di toko sembakonya dulu.


Siang harinya, Sabi yang sedang memasak makanan khusus untuk santap siangnya dikejutkan oleh dentingan bel di depan rumahnya yang cukup besar baginya yang saat ini hanya seorang diri saja.


"Siapa yah yang datang bertamu siang-siang gini, apa itu Mbak Dania ataukah Pak Fay yang sudah balik dari kantornya yah? Tapi katanya nanti malam baru datang berarti bukan pak Fay dong. Kalau gitu siapa?" Cicitnya Sabi yang mulai sedikit takut dan ragu dengan tamunya itu.


Dia berjalan tergesa-gesa karena tidak ingin membuat tamunya menunggu terlalu lama. Sabi bahkan tidak sempat memperbaiki letak hijabnya terlebih dahulu sebelum membuka pintu rumahnya.


"Tunggu! Sabar dikit kenapa!" Teriak Sabi dari balik pintu sebelum memutar kenop pintu rumahnya.


Ceklek.. suara pintu berdaun dua itu terbuka lebar.


Sabi menatap menelisik ke arah kedua orang yang berdiri di depan ambang pintu rumahnya.


"Selamat siang Nyonya Muda,kami adalah art yang diperintahkan khusus oleh Tuan Muda Fayyadh untuk menjadi art di rumah Anda," ucapnya seorang perempuan yang ditaksir usianya kira-kira berkisar empat puluhan memakai jilbab berwarna cokelat susu.

__ADS_1


"Kami berdua akan bekerja di rumah ini Nyonya muda dan perkenalkan nama saya Hidayatulah Nurmansyah, kalau Nyonya panggil saja saya dengan nama Pak Hidayat," ucapnya seorang pria yang berdiri di sebelah kanannya perempuan satunya.


Ya Allah muda banget istrin keduanya Pak Fayyad, ini namanya berondong abis. Masih daun muda, pantesan Pak Fayyad menugaskan khusus kepada kami berdua dan harus merahasiakannya dari siapapun.


"Ohh apakah kalian yang diperintahkan oleh Pak Fay untuk membantuku di rumah ini?" Tanyanya Sabiah.


Keduanya spontan menganggukkan kepalanya itu dengan tatapan matanya terus memperhatikan Sabiah.


Kalau ditelisik dari atas hingga bawah, lebih cantikan ini istri mudanya Pak Fayyad dibandingkan dengan Nyonya Daniah dan masih seger ini lah.


Orang kaya memang bertindak semaunya sendiri,kalau ada kekuasaan,harta dan kemewahan pasti mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Hanya menjentikkan jari jemarinya saja sudah tersedia.


Keduanya saling berperang dengan pemikiran masing-masing dalam benaknya setelah melihat dan bertemu dengan Sabiah.


Cantik sih, tapi hanya kurang dari penampilannya saja yang kelihatan jelas masih bocah.


Sedangkan Sabiah yang diperhatikan dengan seksama oleh keduanya merasa risih dan tidak enak hati.


"Maafkan kami jika kedatangannya kami berdua menganggu istirahat siang Anda, perkenalkan saya adalah bi Nurmala Sari sedangkan rekan saya adalah Pak Hidayat, mulai detik ini kami akan bekerja bersama Nyonya Muda," imbuhnya Bi Nurmala yang memperkenalkan diri dan teman kerjanya itu di hadapan Sabi.


Sabi pun menyambut uluran tangan keduanya secara bergantian," Sabiah Nafiah Laila Pak, Bu," ucapnya ramah.


"Apa kami boleh masuk Nya? Kasihan tanganku sudah pegal bawa tas kami." Candanya pak Hidayat.


Sabi terkesiap ketika mendengar perkataan dari Pak Hidayat," ehh maaf, silahkan masuk. Kamar kalian berdua ada di bagian paling belakang. Bapak sama ibu silahkan pilih kamar keduanya yang mana kalian sukai," Sabi berucap sambil tersenyum penuh keramahan.


"Makasih banyak Nyonya Muda, insha Allah kami akan bekerja sebaik-baiknya untuk melayani dan membantu Nyonya, jadi mulai hari ini Anda tidak akan memasak makanan lagi karena sudah ada saya," tuturnya bi Nurmala sambil berjalan di belakangnya Sabi.

__ADS_1


Ya Allah seperti ini rupanya punya art dan menjadi orang kaya. Segala-galanya ada yang bantuin tidak perlu harus repot-repot untuk bekerja sendiri memenuhi kebutuhanku.


Entah ini berkah dalam hidupku awal kebahagiaan ataukah malah sebaliknya.


__ADS_2