
Keesokan paginya Sabiah terbangun ketika mendengar suara lafadz adzan subuh berkumandang dari beberapa toa-toa masjid sekitar komplek perumahan elit tersebut.
Sabiah mengerjapkan kedua bola matanya itu, gegas bangun dari tidurnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.
"Alhamdulillah,masih dihidupkan hingga detik ini oleh Allah SWT," cicitnya Sabiyah yang merasa bahagia karena masih diberikan kesempatan untuk hidup hingga detik itu juga.
Sabi cukup terkejut melihat ruangan yang baru pertama kali ditempatinya itu, tetapi ia segera tersadar dari keterkejutannya itu.
"Astauhfirullah aladzim, ini rumah yang dihadiahkan oleh Pak Fay kepadaku bersama dengan Mbak Daniah, aku hampir melupakannya," lirihnya Sabiah yang segera menyibak selimutnya itu.
Sabiyah segera menyibak selimutnya dan bergegas menuju ke kamar mandi, karena ingin mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat subuh kewajibannya.
Dengan khusuk ia melaksanakan satu persatu rukun dan syarat shalat dengan teratur. Di setiap doanya dia meminta pengampunan kepada Allah SWT atas segala dosa dan khilafnya selama ini baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Dia juga meminta kepada Sang Maha Pencipta untuk kepanjangan usianya bersama dengan suaminya, serta kesehatan yang baik serta kesuksesan dalam berkarir.
Sabiah menyeka air matanya itu menggunakan jari jemarinya, yang terus menetes membasahi pipinya jika dia mendoakan untuk keselamatan dan ketenangan mendiang almarhum almarhumah bapaknya dan ibunya di akhirat.
Sabiyah menatap ke arah jam dinding yang jarum jamnya baru menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit. Sabia melipat alat shalatnya seperti mukenanya, sajadahnya dan alqurannya yang baru saja dipakainya itu.
Aku atur pakaianku terlebih dahulu ke dalam lemari sebelum ke lantai bawah membuat makanan untuk sarapan pagi.
Sabi mengambil kopernya dan membuka pakaiannya,ia cukup kaget melihat begitu banyak pakaian baru di dalam koper itu.
"Apakah semua ini baju baru untukku? Harganya pasti mahal-mahal. Alhamdulillah seumur hidupku ini pertama kalinya aku pakai baju mahal dan belinya di butik. Boro-boro beli baju di mall, di pasar saja terkadang hanya pada saat lebaran idul Fitri doang," Sabia mengangkat pakaian itu satu persatu.
__ADS_1
Sabiyah gembira, karena dia mendapatkan pakaian yang sungguh banyak, dengan kualitas dan model yang tentunya bagus-bagus.
Sabiyah menaruh pakaian itu sesuai dengan jenis kain dan modelnya hingga dari pakaian hari-harinya hingga baju pergi ke acara resmi. Tetapi,ia kembali tercengang dengan isi lemarinya itu, ternyata di dalamnya sudah banyak pakaian khusus wanita sesuai dengan ukurannya dengan model yang trendy dan terbaru keluaran tahun ini.
"Ya Allah apa ini semuanya dibeli oleh Mbak Daniah khusus untukku yah,nanti kalau ketemu atau aku telpon saja nantinya untuk mengucapkan terima kasih banyak atas segalanya,"
Sabiyah segera merapikan kamarnya dan membersihkannya serta sedikit mengubah tata letak benda-benda yang menghiasi kamar pribadinya itu.
"Alhamdulillah sudah beres semuanya, saatnya ke dapur mau siapkan makanan, semoga saja bahan-bahannya juga sudah tersedia," ucapnya Sabiyah yang segera berbalik badan ke arah pintu.
Sedangkan di tempat lain, seorang pria bangkit dari posisi baringnya dan mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding.
"Dia pasti sudah bangun, aku harus menemuinya pagi ini sebelum berangkat kantor. Aku sudah cukup bersabar semalaman dan kesulitan tidur gara-gara bayang-bayangnya istri itu kecilku," Fayyadh bergumam dan menyingkap bedcover yang dipakainya itu dengan sangat hati-hati.
Ia tidak ingin gerakannya membuat istri pertamanya terbangun dari tidurnya itu.
Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi padaku. Apakah karena ini pengalaman pertamaku bersamanya sehingga aku begitu tersiksa berjauhan dengannya.
Fayyad bergegas ke arah dalam kamar mandi karena ia tidak ingin jika Dania istrinya mengetahui kepergiannya terlebih Dania tau lagi tujuannya kemana akan pergi di pagi subuh itu.
Setelah berpakaian santai dan mengambil stelan baju kemejanya dan pakaian kerjanya, ia tidak lupa menulis memo pesan singkat seperti yang selalu dilakukannya jika pergi pagi-pagi sekali, sedangkan istrinya belum bangun. Itu sudah menjadi kebiasaannya.
Fayyad menandatangi asisten rumah tangganya bi Dian sebelum meninggalkan rumahnya itu. Ia juga mewanti-wanti agar Bibi Dian bisa menjaga rahasianya mereka berdua.
"Bi Dian jika Nyonya Daniah bangun, katakan saja padanya aku sudah berangkat ke kantor. Tapi, jika banyak tanya katakan saja padanya aku banyak pekerjaan yang mendesak aku harus kerjakan," titah Fayyadh.
__ADS_1
"Tapi…" ucapannya bibi Dian terpotong.
"Aku tidak ingin ada kata-kata tapi mulai detik ini dan kedepannya. Mulai hari ini kamu katakan dan lakukan seperti yang aku perintahkan jika tidak, kamu pasti paham kan dengan apa yang sanggup aku lakukan terhadapmu!" Ultimatum dari Fayyad sebelum berlalu dari hadapannya bi Dian.
Bu Dian hanya menatap nanar kepergian majikannya itu dengan penuh tanda tanya besar dalam benaknya yang sungguh banyak berseliweran di dalam sana.
"Apa yang terjadi dengan Tuan Muda Fayyad, tumben bersikap aneh seperti itu? Padahal selama ini tuan muda tidak pernah sekalipun membohongi istrinya. Apa jangan-jangan ada wanita lain di luar sana yah," tebaknya Bi Dian.
Bu Dian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda gara-gara kedatangan orang nomor satu di rumah itu.
"Ahh sudahlah tidak perlu banyak tanya dan ikut campur mereka sudah bahagia dan aku tidak gara-gara mulut emberku membuat hubungan suami istri tersebut ternganggu."
Fayyad mengambil kunci cadangan ruma satunya dengan senyuman yang terus tersampir di sudut bibirnya itu. Hanya butuh waktu beberapa menit saja,ia sudah sampai di dalam bagasi mobil rumahnya.
Fayyad hanya memakai kendaraan bermotor saja dengan memegangi pakaian jas kerjanya itu dan tersenyum simpul. Tanpa sepengetahuan dari kedua istrinya itu,Fayadh menyimpan sebuah mobil dan sepeda motor untuk dia pakai beraktifitas jika berada di dalam rumahnya Sabiah.
Rumah yang didatangi oleh Fayad secara diam-diam adalah rumah istri barunya itu yang masih bocah ini. Ia segera masuk ke dalam rumah tersebut, secara mengendap-endap dan diam-diam karena takut ketahuan oleh Sabi sang pemilik rumah.
Sedangkan di tempat lain yang masih di dalam area lokasi komplek perumahan elit yang sama. Tepatnya di dalam kediamannya Sabiah.
Sabiyah hari ini merasa gembira betapa beruntungnya, menurutnya karena mendapatkan pakaian-pakaian yang sungguh kualitas, model, warna dan kainnya yang bagus.
Tapi,ia kembali dikejutkan oleh kedatangan seorang laki-laki yang sudah berdiri tegap sejak tadi di belakangnya.
"Argh!!" Teriaknya Sabiah yang tubuhnya terjatuh tepat ke atas ranjangnya saking terkejutnya melihat siapa orang yang telah mengagetkannya.
__ADS_1
Sabiah yang posisi jatuhnya terlentang itu membuat orang tersebut tersenyum menyeringai. Dia melangkahkan kakinya menuju ke arah ranjang dimana Sabi tidak sanggup berkata-kata lagi dan hanya menatap intens ke arah pria itu.
"Pak Fayyad Albiruni Haris!" Teriak Sabiah.