
"Itu informasi yang sangat bagus, kamu terus awasi pergerakan mereka. Jangan sampai kehilangan jejak kedua cucuku yang lain," perintah perempuan yang berbicara dengan seseorang dari seberang telpon.
"Siap Nyonya Besar. Insha Allah saya akan mempertemukan kalian dengan cucu-cucu penerus kelurga besar Tuan Haris Chandra Nyonya dan terutama menantu Anda yang juga dicari oleh Tuan Muda Fayyadh,"
"Aku ingin sebelum ulang tahun suamiku seminggu lagi, cucuku yang berada di luar sana dengan bundanya harus sudah tinggal di rumahku. Kalau perlu tanpa sepengetahuan dari putraku yang bego itu!" Tegasnya Bu Widiya yang sungguh bahagia setelah mengetahui memiliki dua cucu tambahan lagi.
"Siap Nyonya, perintah siap dilaksanakan," jawabnya Tejo.
Perbincangan kedua orang berbeda jenis kelamin itu segera mengakhiri percakapan mereka yang cukup penting.
Bu Widya malam itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk segera menyiapkan dua kamar sebagai tempat untuk cucunya ikhbar dan Orlin.
"Aku sungguh beruntung mendapatkan tiga cucu sekaligus. Alhamdulillah lengkap sudah kebahagiaanku di dunia ini. Selama aku shalat setiap hari dan umroh serta melaksanakan ibadah haji. Semuanya semakin berkah dan lebih bermakna."
Bu Widya meminta untuk menyiapkan pernikahan ulangan untuk Fayyad dan Sabiyah. Dia pun segera menemui suaminya untuk membicarakan rencananya yang sudah dipikirkannya matang-matang.
Pak Haris Chandra pun terkejut bukan main setelah mendengar berita gembira itu.
"Lakukan saja apa yang menurut istriku baik, suamimu ini akan membantumu agar rencanamu berhasil dengan sempurna." Balasnya Pak Haris.
"Untungnya perempuan ular itu melakukan rencana yang gemilang sehingga kita mendapatkan cucu tiga sekaligus," ucapnya Bu Widiya yang sudah menghubungi semua anak buahnya yang bisa bekerja sesuai dengan yang dia harapkan.
Pak Haris berdiri dari kursi kebesarannya itu dan berjalan menuju ke arah istrinya. Perempuan yang sudah menemani hidupnya lebih dari empat puluh tahun.
"Mungkin Allah SWT sudah menggariskan kepada putra kita bakal seperti ini kehidupannya. Makanya sejak awal aku tidak pernah melihat bibit bebet dan bobot semua calon pendamping hidupnya ketiga anak-anakku. Bagiku siapapun orangnya kebahagiaan mereka yang paling utama."
"Kita ini sudah tua Mas, sudah saatnya beristirahat dan hanya melihat tumbuh kembang cucu-cucu kita dan insha Allah hingga cicit kita lahir ke dunia ini,"
"Amin ya rabbal alamin," balas Pak Haris.
Kedua pasangan lansia itu saling berpelukan dan semakin mesra padahal usia mereka sudah tidak muda lagi.
Sedangkan di tempat lain, kedua anak kecil akan melancarkan rencananya.
Ikhbar dan Orlin sudah merencanakan dan menyusun rencana yang paling bagus untuk bertemu dengan papanya.
Lampu ruangan satu persatu telah padam, karena sudah pukul sebelas malam kurang lima belas menit. Ikhbar yang sedari tadi hanya berpura-pura tertidur pulas, membuka matanya ketika tidak ada lagi suara atau pergerakan yang terjadi dari temannya.
__ADS_1
"Aku harus segera menemui adikku, malam ini kami harus berbicara dengan papa Fay sebelum kami pulang ke rumah," cicitnya Ikhbar sambil menyingkap bedcover yang sedari tadi menutupi sebagian tubuhnya.
Ikhbar celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar sebelum turun dari ranjangnya. Ia memakai sendal jepit rumahannya sebelum meninggalkan kamarnya yang ada di perkemahan musim panas.
"Alhamdulillah sudah aman, aku harus secepatnya pergi dari sini."
Tapi, baru sepersekian detik kakinya melangkah, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berbicara.
"Stop! Kamu mau kemana?" Teriaknya salah satu dari teman kamarnya Ikhbar.
Ikhbar spontan menghentikan langkahnya kemudian segera menolehkan dengan raut wajahnya yang sudah mulai pucat, panik dan sekujur tubuhnya yang sudah nampak gemetaran.
"Kenapa si gendut belum tidur juga? Padahal tadi sudah ngorok dan ileran tapi malah kebangun lagi!" Umpatnya Ikhbar.
"Ayam goreng kamu jangan pergi, aku ingin makan ayam goreng," ucapnya Akbar anak yang paling besar tubuhnya dibandingkan dengan anak seusianya yang malah mirip gentong saja.
Ihkbar akhirnya bernafas lega ketika melihat dan mendengar dengan jelas jika teman sekamarnya itu ternyata hanya bermimpi saja.
Ikhbar mengelus dadanya saking bahagianya karena akhirnya bisa pergi secepatnya dari sana tanpa ada yang melihatnya.
Sedang Orlin sudah mondar-mandir ke sana kemari dengan pakaian hangat terlihat dipakainya yaitu jaket hoodie berwarna kuning.
Orlin sesekali memperhatikan daerah sekitar tempat janjian bersama dengan adiknya. Dia semakin takut, jika kakaknya melupakan rencana mereka berdua yang sudah direncanakannya sore itu.
"Jaga dan lindungilah kakakku semoga saja dia baik-baik saja," cicitnya Orlin hingga bibirnya melengkung ke atas melihat kedatangan kakaknya itu.
Orlin segera berjalan ke arah kakaknya itu dengan senyuman lebarnya," Abang kenapa lama banget sih? Apa abang baik-baik saja?"
Segala macam pertanyaan yang diucapkan oleh Orlin saking prustasinya menunggu kedatangan kakaknya.
"Maaf, ini semua gara-gara Akbar y tidurnya lama banget tadi, sehingga membuat Abang baru bisa datang." Sesalnya Ikhbar.
"Oke, kalau gitu kita langsung ke TKP jangan menunda lebih lama lagi," Orlin berucap seperti orang dewasa saja yang segera berjalan mendahului kakaknya.
Keduanya pun berjalan mengendap-endap seperti bak maling jemuran cucian saja. Hingga keduanya sudah berada di depan sebuah ruangan yang diyakini sebagai kamar yang dipakai oleh papanya.
Ikhbar menganggukkan kepalanya itu ke arah adiknya untuk memberikan kode agar segera mengetuk-ngetuk pintu kamarnya Fayyad. Orlin pun secepat kilat ingin mengetuk pintu kamar tersebut, tapi suara kasat kusut dua orang terdengar begitu nyaring dari arah kamar yang biasa dipakai oleh ketua yayasan.
__ADS_1
"Bang apa kamu tidak mendengar suara dari sana?" Tanyanya Orlin.
Ikhbar hanya menunjuk ke arah kamar dimana suara itu berasal, Orlin pun mengangguk dan gegas berjalan ke arah kamar tidur itu. Ikhbar pun mengikuti kemanapun perginya Orlin.
Hingga Orlin menutup kedua mata kakaknya menggunakan telapak tangannya yang kecil, ketika melihat seorang perempuan yang sangat dikenalnya dan pria yang tidak lain adalah pak Gazzhal dan tantenya adik dari papanya saling berpangkuan di atas sofa dengan kedua bibir mereka saling menyatu.
"Astaughfirullahaladzim," cicit Orlin.
"Augh! Adek kenapa mataku ditutup sih? Abang kan juga pengen lihat apa yang kamu lihat juga," kesalnya Ikhbar.
"Hush! Jangan berisik entar kita ketahuan orang lain, Abang belum saatnya lihat yang gituan. Abang masih kecil belum dewasa soalnya," elak Orlin yang segera berjalan sambil menarik tangannya Orlin untuk pergi dari sana.
Ikhbar sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh adiknya itu. Padahal ia cukup penasaran dengan apa yang dilakukan oleh dua orang besar di dalam sana yang kelakuannya seperti anak kecil saja yang tidak tau aturan.
Keduanya pun mengetuk sebuah pintu kamar yang sejak awal menjadi tujuan mereka.
Tok… tokk..
Pemilik ruangan tersebut yang sedang memandangi wajah istrinya melalui foto figura waktu mereka menikah sekitar sembilan tahun yang lalu segera menyimpannya ke dalam tasnya.
Ceklek…
Pintu itu terbuka lebar dan menyembullah kepala seorang pria yang sungguh terkejut melihat kedatangan dua bocah kecil yang tujuan awal kedatangannya untuk bertemu dengan mamanya anak itu.
"Papa Fayyad!" Ucapnya Orlin.
"Ini kami anak kembarmu?" Ucap Ikhbar.
Fayyad memandangi kedua anaknya itu secara bergantian dengan penuh keheranan. Dia spontan memeluk tubuh keduanya dalam dekapan hangatnya.
"Anakku!" Fayyad berucap sambil melingkarkan kedua tangannya ke tubuh anak itu.
Tapi, sayangnya itu hanya sekedar angan-angan dan impian semata dari Orlin dan Ikhbar saja, Karena Fayyad sama tidak mengenali keduanya. Informasi yang disampaikan oleh detektif swasta yang diperintahkan oleh Fayyad sengaja merahasiakan hal tersebut sesuai dengan keinginan dan perintah dari Bu Widya mamanya Fayyad sendiri.
Ini semua akibat kerja sama Antara pak Tejo dengan Bu Widiya. Ada maksud dibalik semua itu sehingga Bu Widya menyembunyikan berita gembira itu.
"Maaf Nak kalian siapa?" Tanyanya Fayyad.
__ADS_1
Orlin dan Ikhbar raut wajahnya memperlihatkan kekecewaan, karena sedih tidak dikenali oleh papa kandungnya.