
Sabi hanya terus berdiri tanpa mengetahui apa yang seharusnya dilakukannya. Ada sedikit was-was, takut, grogi dan nerves karena untuk pertama kalinya berdua di dalam kamar dengan lawan jenisnya.
Ya Allah, aku tidak boleh grogi dan takut seperti ini. Pak Fay adalah suamiku, bukan orang lain.
Sabiyah berusaha untuk meyakinkan dirinya agar tidak terus dalam ketakutan. Karena cepat atau lambat akan terjadi seperti saat ini.
Sabi mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut, ia tersenyum melihat betapa indahnya kamar pengantinnya.
Apakah aku akan melewati malam pertama kami seperti pasangan pengantin baru lainnya yang penuh kebahagiaan.
Sabiyah berjalan perlahan menuju tempat tidur dan mengambil beberapa kuntum kelopak bunga mawar merah yang bertaburan di atas seprei berwarna merah itu.
"Cantiknya, ini seperti yang sering aku lihat di televisi kalau nonton film dengan sineteron di rumahnya Bu Mirna," cicitnya Sabiyah.
Sabiyah hendak melempar ke atas beberapa kelopak bunga mawar tersebut, tapi apa yang ingin dilakukannya terhenti. Ketika ada tangan kekarnya yang memeluknya dari arah belakang dan langsung membalik tubuhnya hingga menghadap ke arah orang tersebut.
"Agghh!" Teriak Sabi yang sangat terkejut dengan perlakuan dari pria yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
Fayyad kemudian mendorong tubuhnya Sabiah tanpa aba-aba sehingga Sabi kembali berteriak histeris.
Brukk!!
"Ahhh! Tidak!!" Jeritnya Sabi yang sudah terbaring di atas tempat tidur.
"Bersiaplah karena aku akan meminta hakku malam ini dan aku berharap cukup sekali aku melakukannya bersamamu dan kamu segera hamil. Harus secepatnya!" Ketus Fayyadh yang tubuhnya hanya terlilit handuk berwarna cokelat.
Tubuhnya Sabi mulai gemetaran karena ketakutan, ia tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Sa-ya belum siap Pak. Sa-ya mau ganti pakaian dulu," Sabi berkelik agar terhindar dari terkaman Fayad.
"Kamu tidak perlu ganti baju, karena untuk melakukannya tidak perlu memakai pakaian secantik dan sebagus apapun," ucapnya lagi Fayyad.
Tubuhnya Sabi beringsut ke arah belakang,ia tidak ingin melakukannya bersama dengan suaminya untuk saat ini karena tubuhnya cukup lelah dab belum membersihkan sekujur tubuh dan wajahnya dari make up-nya.
"Kenapa! Apa kamu takut ha!! Ini kan yang kamu inginkan yaitu membahagiakan kakak sepupumu dengan cara menikah denganku dan hamil anakku! Jadi kenapa meski takut seperti kelinci yang akan dimangsa harimau!"
Sabiyah semakin ketakutan,ia tidak mungkin melawan kehendak apa yang akan dilakukan oleh suaminya di atas tubuhnya.
__ADS_1
Aku harus kuat, ini adalah kemauan aku sendiri jadi aku harus kuat tidak boleh banyak mengeluh.
Sabiah tertidur dengan pasrah tanpa menghindari tangannya Fayyad yang sudah mulai membuka gaun pengantin berwarna putih itu yang dipakainya sejak beberapa jam yang lalu.
Sabi hanya terdiam dan memejamkan matanya tanpa melihat apapun yang dilakukan oleh suaminya.
"Kamu seharusnya sedari tadi seperti ini, harus menurut apapun yang aku akan lakukan," Fayyad berucap sambil terus membuka selembar demi selembar kain benang yang menutupi tubuh gadis polos dan lugu itu.
Tubuhnya Sabi semakin bergetar hebat, hingga dadanya bergemuruh ketakutan, semakin ia menutupi rasa takutnya semakin nampak jelas di depan matanya Fayyad.
Gaun pengantin ala modern itu terlempar ke sembarang arah hingga menutupi sebagian lantai keramik yang begitu mengkilap.
Fayyad naik ke atasnya Sabi, sedangkan Sabi yang melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya itu spontan menutup kedua pasang matanya.
Ya Allah ternyata versi besarnya sungguh aku tak sanggup bayangkan ternyata seperti itu aslinya.
Sabi menggelengkan kepalanya ketika tersadar jika telah berfikiran yang tidak-tidak dan menutup mulutnya karena takut suaminya mengetahui apa yang terjadi padanya.
Fayyad yang telah berhasil melepas satu persatu benang berwarna putih itu,ia terkejut melihat bentuk body goals milik Sabiyah.
Dia kesulitan menelan air ludahnya sendiri saking terkejutnya melihat penampilan istri barunya itu. Hingga kedua matanya seperti melotot dan akan terlepas dari data kelopak matanya itu.
Sial!! Kenapa aku harus mengangumi bentuk bodynya yang aduhai yang selalu tersembunyi di balik pakaian longgar yang sering kali dipakainya dalam beraktivitas.
Sabi memalingkan wajah ke samping kanannya sehingga ia tidak menyadari, jika dia dikagumi oleh suaminya yang tidak mencintainya.
Fayyad segera membuang jauh-jauh pikirannya itu dan tanpa ragu lagi segera mee luuu maaat bibir mungilnya Sabi yang semakin memerah ditambah dengan perona bibir.
"Auhh," ucapnya Sabia sebelum bibirnya dibungkam oleh bibir seksinya Fayyad.
Kedua tangannya dipegang dengan sangatlah kuat sehingga ia tidak mampu untuk bergerak sedikitpun. Hanya kedua kakinya yang bergerak leluasa. Matanya membulat sempurna melotot saking kagetnya dengan serangan yang tiba-tiba dilakukan oleh suaminya.
Fayad melakukan apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang suami itu, ia melakukannya dengan membayangkan wajahnya Daniah Najida istrinya itu.
Tubuhnya sesekali mengejan, karena kegelian dengan apa yang dilakukan oleh suaminya di atas permukaan kulitnya.
"Hummph,"
__ADS_1
Hanya sesekali suara lenguhan kecil meluncur dari bibirnya Sabi menahan rasa yang baru kali ini dialaminya selama hidupnya yang usianya sudah delapan belas tahun itu.
Fayad kesulitan untuk melakukan percobaan pertamanya itu, tetapi Fayad tidak menyerah untuk terus lagi dan lagi berjuang untuk menerobos dan memasuki bagian terdalam.
"Kenapa se*pit banget punyamu, aku tidak bisa melakukannya," racaunya Fayyadh.
Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh kedua pasutri itu,Sabi hanya berusaha sekuat tenaga untuk menahannya rasa sakit yang terus datang dari tubuh bagian terbawahnya.
Di dalam kamar pengantin baru itu, hanya suara ngos-ngosan dan tersengal-sengal mewarnai kamar yang awalnya indah tetapi sekarang sudah berubah berantakan.
Fayad seperti tidak mau kalah dengan ketidakmampuannya saat itu,ia merasa tidak sanggup untuk melakukannya seperti yang sering kali dilakukannya pada istri pertamanya yang sangat dicintainya.
Sedangkan di kamar satunya tepat di sebelah kirinya kamar kedua pasutri itu. Seorang perempuan tengah membolak-balik tubuhnya karena, kedua matanya tidak sanggup untuk terpejam, padahal sudah hampir dua jam mencobanya.
Astaughfirullahaladzim kenapa aku tidak bisa tidur, Ya Allah apa karena aku memikirkan masalah malam pertamanya suamiku.
Daniah kembali terbangun dari posisi tengkurapnya itu dan menghela nafasnya dengan cukup keras saking jengkelnya karena kesusahan untuk tertidur.
Apa acnya tidak berfungsi atau rusak yah? Kenapa cuacanya sangat panas seperti sekarang ini.
Apa suamiku dengan Sabi sudah melakukannya seperti yang aku perintahkan. Aku coba cek ke sana, supaya aku bisa lebih bisa tenang dan tertidur lelap.
Daniah segera berjalan ke arah luar dan ke arah kamarnya Sabi dan Fayyadh. Ia berharap semoga saja apa yang ditakutkannya itu tidak menjadi kenyataan.
Semoga saja Mas Fayyad tidak jadi melakukan malam pertamanya malam ini. Aku sungguh tak rela yah Allah.
Dania sudah berdiri di depan pintu masuk kamarnya Sabi, tangannya sudah siap untuk mengetuk pintu itu. Tetapi, tiba-tiba ia segera tersadar dengan apa yang hendak diperbuatnya.
Dania mengangkat kedua tangannya itu dan menatap telapak tangannya dengan nanar
Astauhfirullah aladzim,apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bertindak bodoh seperti ini? Aku hampir saja menggagalkan rencanaku sendiri untuk menguasai mas Fayyad dan keluarganya.
Dania kembali berjalan ke arah dalam kamarnya dan tanpa sengaja mendengar suara rintihan dari Sabi.
"Ahh sakit!!" Jeritnya Sabi.
Sabi menjerit histeris seraya mencengkram kuat sprei berwarna putih itu ketika Fayyad dengan berbagai cara akhirnya sanggup juga untuk menembus tebalnya pertahanan dari Sabiah.
__ADS_1
Dania meremas ujung bajunya itu, ketika mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar kedua mempelai pengantin baru tersebut.