
"Sabiyah lari!!" jeritan terakhirnya Fayyad Albiruni Haris.
Semua orang yang berada di sekitar pinggiran jalan terkejut melihat kecelakaan itu.
"Tidak!! Bang Fayyad!" Teriaknya Sabiah dan Daniah bersamaan.
Tubuhnya Sabiyah terselamatkan dari dorongan tangannya Fayyad. Sedangkan tubuhnya Fayyad terpelanting ke arah belakang saking kencangnya mobil yang dikendarai oleh Damar.
Sabiyah yang terduduk di atas aspal menutup mulutnya saking terkejutnya melihat kejadian naas di sore itu.
"Bang Fay!" Sabiyah segera bangkit dari posisi duduknya itu dan segera menolong Fayyad.
Dania diam-diam menaikkan jempolnya ke arah supir mobil sedan hitam yang menabrak Fayyad. Ia kembali ke mode berakting sedih dan penuh penyesalan.
Sabiyah mengangkat kepalanya Fayyad ke atas pangkuannya itu," bang Fay, bangun, sadarlah ini Sabiyah." Lirihnya Sabia sambil terus menerus menangis.
"Tolong telpon ambulans, suamiku mengalami kecelakaan!" Teriaknya Daniah yang meminta tolong kepada orang-orang yang kebetulan sudah berkerumum.
"Iya pak, ibu suamiku butuh pertolongan segera," ratapnya Sabiah yang penampilannya sudah nampak kacau.
Semua orang saling berpandangan satu sama lainnya mendengar perkataan keduanya yang mengatakan suami mereka berdua. Semua orang saling berbisik-bisik,tetapi Sabi tidak peduli yang paling utama adalah suaminya selamat.
Tangannya Sabiah yang tanpa sengaja memegangi kepalanya Fayyad sudah berlumuran darah segar yang mengalir dari kepalanya Fayyad.
"Astauhfirullah aladzim, Pak saya mohon tolong bantu kami!" Jeritnya Sabia yang menatap nanar ke semua orang dengan air matanya yang semakin menetes membasahi pipinya itu.
Sebagian pakaiannya sudah terkena cipratan dan tetesan darahnya Fayyad suaminya hingga semakin membuatnya sedih, takut, panik dan tubuhnya mulai gemetaran.
"Ya Allah tolonglah suamiku, saya tidak ingin terjadi sesuatu padanya," cicitnya Sabiyah.
"Iya cepat kasihan korbannya, kondisinya semakin parah!" Ucapnya seorang bapak-bapak.
"Ayo siapkan mobil secepatnya kasihan kalau harus menunggu mobil ambulance pasti datangnya akan lama dan butuh proses," timpalnya seorang perempuan paruh baya.
Semoga saja Mas Fay tidak terlalu parah banget,kalau tidak rencanaku bakal hancur berantakan.
Sabiyah mulai merasakan hal-hal yang aneh ketika melihat banyak genangan darah di atas aspal, kepalanya mulai pusing dan berdenyut. Ia reflek memegangi kepalanya itu bersamaan dengan tubuh suaminya sudah diangkat oleh beberapa orang ke dalam sebuah mobil yang tidak diketahui oleh siapa pemiliknya.
Sabiyah berjalan sempoyongan kedalam mobil itu, begitupun dengan Daniah yang masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka segera ke rumah sakit terdekat.
Sabiyah dari Dania terus berada di sampingnya Fayyad. Sedangkan Fayyad sudah tidak sadarkan diri saking kerasnya benturan keras di tubuhnya terutama bagian kepalanya itu. Sabiyah terus menerus memegangi tangannya Fayyad yang sudah nampak pucat.
__ADS_1
Ya Allah ampunilah segala dosa-dosaku dan berikanlah kesembuhan pada suamiku.
Sabiah sesekali memijit pelipisnya itu saking puyengnya kepalanya ketika melihat betapa parahnya kondisi dari Fayyad.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di sekitar area rumah sakit. Tubuhnya Fayyad segera dinaikkan ke atas bangkar rumah sakit. Dan secepatnya didorong langsung ke dalam ruang operasi tanpa terlebih dahulu masuk ke ruang ICU.
Sabi tidak lupa mengucapkan terima kasih banyak kepada beberapa warga masyarakat yang mampu menolongnya dengan Ikhlas.
"Makasih banyak atas bantuannya pak, ibu," Sabiah segera mengekor di belakang setelah mengucapkan perkataannya tersebut.
"Tidak apa-apa kok Bu, Anda tidak perlu repot-repot mengucapkannya, silahkan Anda pergi mengurus segala sesuatunya untuk keselamatan suaminya Anda." Balas bapak itu.
Dania dan Sabiyah mengikuti kemanapun perginya bangkar yang didorong oleh beberapa perawat. Nampak jelas dari keduanya kepanikan, ketakutan dan kecemasan yang berlebihan.
Tetapi, rasa itu sangat jelas berbeda. Daniah tidak ingin gara-gara kecelakaan maut itu mampu menghancurkan dan menggagalkan rencana briliannya yang sudah di depan mata.
Sedangkan Saniah mulai ketakutan, jika terjadi apa-apa pada pria yang sudah mulai dicintainya itu.
Sabi hendak masuk ke dalam ruang operasi, tapi segera dilarang dan dicegah oleh seorang suster.
"Maaf Bu! Anda tidak bisa masuk ke dalam. Anda menunggu di luar saja," cegah perawat itu.
"Tapi, dia suamiku saya sangat khawatir Suster," tampiknya Sabiyah.
Sabiyah pun mundur beberapa langkah karena tidak ingin menghalang-halangi orang-orang yang akan masuk ke dalam ruang operasi.
Tubuhnya semakin bergetar hebat dan kepalanya semakin pusing dan sakit saja, hingga tanpa disadari tubuhnya ambruk ke atas lantai keramik rumah sakit.
"Aghh!!" Pekik Sabiah.
Brukk!!
Dania awalnya terkejut melihat apa yang terjadi pada Sabiyah, tetapi tiba-tiba ide gila dan cemerlang datang kembali mengisi otaknya.
"Sus! Tolong segera bawa ke dalam UGD untuk melakukan pemeriksaan terhadap Mbak ini," titahnya Daniah.
Beberapa perawat membantu Sabiah dan segera diobati dengan secara intensif. Dania berbicara dengan beberapa tim dokter ahli spesialis kandungan yang menangani kesehatannya Sabiah.
Berselang beberapa menit kemudian, hasil tes laboratorium kesehatannya Sabiah sudah keluar. Daniah tersenyum sumringah membaca hasil tes laboratorium tersebut milik Sabiah.
"Selamat yah Ibu, adik Anda positif hamil," ucapnya Dokter yang sedari tadi menangani kesehatannya Sabiyah.
__ADS_1
Daniah mengetahui berita gembira itu akhirnya mengubah haluan rencananya kembali, yang awalnya akan mengusir dan mendepak posisinya Sabiyah.
Ini kesempatan yang paling bagus aku dapatkan, aku harus bekerja sama dengan dokter dan aku akan menyusun rencana yang lebih matang lagi dan ini tidak boleh gagal.
Daniah segera mengatur kamar perawatan Sabiyah secara rahasia dan diam-diam agar tidak ada yang mengetahui hal tersebut. Tapi, Dania melihat karakter dokter yang tidak mungkin bisa diajak kerjasama dan kompromi dan melihat pegawai laboratorium itu yang seorang pria.
"Suster tolong rahasiakan keberadaan dan berita kehamilan adikku ini dari siapapun karena nyawanya dalam bahaya dan terancam akan dibunuh jika ada yang mengetahui dirinya hamil di luar nikah," imbuhnya Dania.
Dania yang memperhatikan area sekitar lokasi ugd yang hanya mereka berdua saja sedangkan orang lain berada jauh di tempat lain. Sehingga pembicaraan mereka tidak akan ada yang melihat dan mendengarkannya langsung.
Dania memberikan sejumlah uang dengan tatapan mengibah nya diperlihatkannya agar perawat itu mau bekerjasama untuk membantunya.
"Ini apa Bu?" Tanyanya perawat itu lagi.
"Ini uang sebagai ucapan terimakasihku padamu sudah membantu adikku, tetapi aku mohon padamu rahasiakan ini semua karena nyawanya adikku yang malang dalam bahaya," ratap Daniah yang terpaksa berkata seperti agar rencananya berhasil.
"Baiklah Nyonya ini demi keselamatan adiknya Nyonya saya akan tutup mulut," ucap perawat itu.
Dania menegang punggung tangan perempuan itu dengan berpura-pura sedih,"Kamu yang aku tugaskan untuk menjaga adikku sampai sembuh jangan biarkan ada orang lain yang mengetahuinya," titahnya Dania yang meneteskan air matanya demi upayanya kali ini.
Daniah Najida berakting menangis agar aktingnya lebih meyakinkan perawat tersebut agar senang hati membantunya.
Perawat itu pun segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Dania, bahkan Dania menambahkan beberapa lembar uang untuk perawat perempuan itu yang telah dikibuli oleh Daniah.
Setelah semuanya beres, Dania pun mulai berjalan ke arah luar dan kembali melanjutkan rencana selanjutnya.
Dania pun berjalan ke arah pegawai lab itu karena berniat untuk berbicara berduaan dengan pegawai laboratorium itu. Dia mempercepat langkahnya agar tidak ketinggalan.
"Selamat sore Pak," sapanya Dania.
Pegawai lab itu segera berbalik badan dan menolehkan kepalanya itu dengan memperhatikan secara seksama Dania dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Dania yang diperhatikan seperti itu awalnya merasa risih, tetapi lambat laun tersenyum tipis dan mengerti dengan arti tatapan pria yang kira-kira berusia 30 an itu.
"Sore,ada yang bisa aku bantu Bu?" Tanyanya balik pria itu.
Dania celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar dan segera berjalan lebih mendekat ke arah pria itu. Ia mendekatkan wajahnya ke telinganya pria itu.
"Apakah kita boleh berbicara?" Dania menjeda perkataannya itu sambil mengelus lengan pria tersebut.
Sang pegawai lab yang bernama tag Jordy hanya tersenyum penuh maksud menanggapi sikapnya Daniah yang begitu mampu membuatnya merasakan gejolak dari dalam dadanya terutama bagian terbawahnya.
"Kamu tidak boleh menolaknya karena aku memiliki penawaran terbaik untukmu," bisiknya Daniah dengan nada penuh sensual.
__ADS_1
Pria itu pun tersenyum tipis dan tanpa banyak pikir langsung menarik pergelangan tangannya Daniah ke dalam ruangan kerjanya yang kebetulan hanya miliknya seorang saja.