
Siapapun yang berada di posisiku pasti akan ketakutan jika diancam akan dijebloskan kedalam penjara. Walaupun aku tidak melakukan kesalahan itu.
Sabiyah terus melangkahkan kakinya menuju ke arah parkiran mobil sambil sesekali melirik ke kanan kirinya. Ia tidak ingin Fayyad melihatnya yang akan berakibat kedua anaknya diambil oleh suaminya itu.
Bukan karena hanya alasan itu aku menghindar untuk bertemu dengan abang Fay,tapi aku tidak ingin kembali menjadi orang ketiga di dalam keluarganya.
Cukup di masa lalu aku bertindak bodoh dengan lugunya rela dijadikan mesin keturunan dari kakak sepupuku sendiri.
Sabiyah saking marah, takut, panik, cemas sampai-sampai melupakan jika dia sedang memegangi kedua tangan anaknya dengan cukup kuat.
"Bunda sakit!" Keluhnya Orlin yang sudah mengeluh kesakitan dibagian pergelangan tangannya itu.
"Bunda kenapa meski berjalan cepat sih? Tangan kami jadi sakit nih," protesnya Ikhbar.
Kedua anaknya sama-sama keheranan melihat perilaku dari bundanya yang tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Sabiyah masih tidak menggubris perkataannya dari kedua anak kembarnya saking seriusnya dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Aku tidak ingin kedua anakku direbut dariku, memang dia adalah papa kandungnya tapi, aku lah yang mengandung, melahirkannya dengan penuh perjuangan bertaruh nyawa hingga membesarkannya, hingga hari ini dia datang untuk mengambil anakku.
"Mbak Sabiyah!" Teriak seseorang dari arah belakang mereka.
Ketiganya spontan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan ketiganya dibuat terkejut dengan pemilik suara itu.
Orlin dan Ikhbar saling bertatapan satu sama lainnya dan tersenyum penuh arti sedangkan Sabiyah dibuat semakin gentar, ketakutan dan kepanikan yang terlihat jelas diraut wajahnya.
"Fatiah," cicitnya Sabiyah yang semakin mengeratkan pegangannya di pergelangan tangan kedua anaknya.
Fatiah saking bahagianya melihat kakak iparnya itu yang sudah terpisah hampir sepuluh tahun lamanya, mempercepat langkahnya menuju ke arah Sabiyah dan kedua keponakannya itu.
Sabiyah bergegas meninggalkan tempat itu menuju mobilnya dengan menarik keras tangannya Orlin dan Ikhbar.
"Kenapa meski Fatimah juga ada di sini, tadi abang Fay sekarang adiknya. Ini tidak boleh dibiarkan apabila kami bertemu pasti dia akan melaporkan aku kepada polisi dan merebut anak-anakku," gumam Sabi yang semakin melancarkan pergerakannya itu.
"Mbak kenapa kalian berlari! Tunggu ada yang ingin aku sampaikan!" Teriak Fatiah yang meninggal Gazzhal yang berdiri mematung melihat kepergian dari kekasihnya itu.
"Bunda! Stop!" Teriak keduanya secara bersamaan.
Orlin dan Ikhbar menghentikan langkahnya dan berusaha sekuat tenaga untuk menarik tangannya Sabi agar segera berhenti.
__ADS_1
Sabiyah pun reflek menghentikan laju larinya, nafasnya ngos-ngosan dan tersengal-sengal saking kuatnya berlarian. Sabi menautkan kedua alisnya melihat sikapnya kedua anaknya yang menghentikan larinya.
"Sayang ayo cepat kita pergi dari sini! Ke-na-pa kalian berhenti?" Tanyanya Sabiyah yang ngos-ngosan saking lelahnya berlari.
"Bunda! Aku ingin bertemu dengan Papa Fayyad!"
"Kami ingin berpamitan dengan papa sebelum kami pulang," ucapnya Ikhbar.
Perkataan kedua anaknya membuat Sabiyah tercengang dan melongok saking terkejutnya mendengar perkataan dari mereka.
Ya Allah dari mana mereka bisa tau kalau papanya bernama Fayyadh, apa jangan-jangan mereka sudah saling bertemu di belakangku tanpa aku ketahui?
"Pa-pa Fayyad," beonya Sabi yang keheranan.
"Iya kami ingin bertemu dengan Papa kami, dan dia adalah Aunty Fatiah adiknya Papa Fay," ucap Orlin seraya menunjuk ke arah Fatiah yang semakin mendekati mereka.
Sabi terdiam dan tidak tau apa yang terjadi sebenarnya,dia cukup penasaran dari mana mereka bisa mengetahui semua kebenaran itu.
Sabiyah menatap tajam ke arah kedua anaknya secara bergantian sambil memegangi pundaknya mereka.
"Siapa yang mengatakan pada kalian!? Kenapa kalian bisa mengatakan bahwa Fayyad adalah papa kandung kalian?!" Sabiyah meninggikan volume suaranya itu.
"Ayo jawab pertanyaan bunda!? Jangan hanya diam saja!?" Bentaknya Sabiah.
Orlin dan Ikbar malah semakin menutup rapat-rapat mulut mereka tanpa berniat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan dari wanita yang telah berjasa melahirkannya ke dunia ini.
"Mbak Sabi,kamu itu menyakiti mereka, kenapa meski membentak mereka? Seharusnya Mbak bertanya saja padaku," imbuhnya Fatiah yang sudah melepaskan tangannya Sabi dari pundaknya Ikhbar.
Sabia menatap jengah adik iparnya itu," kenapa meski kamu ikut campur dalam urusan keluargaku! Kau tidak berhak mengatur apa yang terbaik aku lakukan untuk mereka!" Ketusnya Sabi yang tubuhnya gemetaran ketakutan.
"Sabi stop!" Teriaknya seseorang yang baru saja muncul.
Perkataan dan kehadiran orang itu yang semakin membuat Sabi gelagapan dengan kedatangan orang itu.
Tubuhnya Sabi terhuyung ke belakang karena dia tidak percaya jika pria yang dicintainya sejak delapan tahun yang lalu muncul di hadapannya setelah berpisah sekian lama karena kesalahan kakak sepupunya.
Air matanya Sabi akhirnya tumpah ruah yang sejak tadi beranak sungai dipelupuk matanya itu.
"Mereka adalah anak-anakku jadi Fatiah adikku berhak atas mereka!" Tegasnya Fayyad Albiruni.
__ADS_1
Nofal kaget mendengar perkataan dari papanya itu dan dia reflek memandangi wajah kedua anak kembar yang selalu usil padanya selama diperkemahan musim panas ini.
"Dia bukan anak abang! Dia adalah anakku!" Jeritnya Sabi yang histeris ketakutan.
Orlin dan Ikbar memeluk tubuh bundanya itu yang semakin mengeraskan suara tangisannya tersebut di depan orang banyak.
"Bunda jangan nangis, maafin kami ini semua salah kami," ucapnya penuh sesal Orlin yang tidak tega melihat kondisi mamanya.
"Iya bunda maafkan kami yah,kami berdua tidak bermaksud untuk menyakiti hatinya bunda. Kami hanya ingin bertemu dengan papa kami seperti teman kami yang lain," lirih Ikhbar.
Sabi berdiri mematung dan tidak berdaya, keyakinannya akan anaknya direbut darinya semakin menguasai hati dan pikirannya itu. Dia memeluk erat tubuh keduanya sambil sesekali terdengar suara isakan tangisannya.
Fayyad sungguh terheran-heran melihat sikapnya Sabiah yang tidak biasa dimatanya.
Sabi mengayunkan tangannya ke arah Fayyad," stop jangan mendekat! Aku tidak bersalah sedikitpun padamu bang! Bukan aku yang menyebabkan kecelakaan maut itu!" Jerit histeris dari Sabiah yang tubuhnya semakin gemetar.
"Siapa yang akan merebut anakmu? Saya hanya ingin bertanya padamu apakah benar mereka adalah anakku? Hanya itu saja dan aku juga tidak akan melaporkan kamu ke kantor polisi. Lagian kenapa meski aku adukan kamu ke pihak berwajib sedangkan kamu tidak bersalah," jelas Fayyad yang langkah kakinya perlahan-lahan menuju ke arah Sabi.
Fatiah sudah memeluk kedua keponakannya itu dalam dekapan hangatnya karena cukup terguncang hebat melihat apa yang terjadi pada mamanya.
"Abang pasti datang ke sini untuk menangkap aku kan? Pasti bang Fay bersama dengan polisi?"
Fayyad sedih melihat kondisinya mentalnya Sabiah yang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Sabi, please! dengarkan Abang jangan seperti ini." Bujuk Fayyad yang sangat terpukul melihat istrinya itu.
Semua orang melihat apa yang terjadi, karena kebetulan mereka berada di sekitar parkiran sehingga orang-orang langsung menyaksikan apa yang mereka bicarakan.
Fayyad segera menarik tubuhnya Sabi kedalam pelukannya dan berniat untuk menenangkan diri istrinya itu. Fayyad mengelus puncak hijabnya Sabi yang berwarna merah bata itu.
"Sabiyah tolong dengarkan Abang sayang. aku mohon jangan seperti ini, Abang ke sini bukan untuk melaporkan kamu jws polisi lagian pelaku dari tabrakan itu sudah tertangkap," bujuknya Fayyad.
Sabiyah awalnya meronta dan ingin melepaskan pelukannya Fayyad," tolong lepaskan aku! Kita tidak boleh seperti ini bang! Aku ini bukan istrimu lagi!" Sabiyah semakin berjuang keras agar tidak dipeluk oleh Fayyad.
Tetapi, kekuatannya Sabiah kalah jauh dengan kekuatan pria dewasa yang postur tubuhnya lebih tinggi dan besar dari tubuh Sabiyah.
"Sabi tenanglah, lihatlah anak kita sudah ketakutan dan mencemaskan keadaannya kamu," Fayyad kembali berucap.
Sabi mengarahkan pandangannya ke arah Orlin dan Ikhbar yang tampak menangis tersedu-sedu dan takut jika terjadi sesuatu pada bundanya itu.
__ADS_1