
Kedatangan tamu tak diundang di dalam rumahnya Sabiyah bersama dengan Fayyad membuat keduanya keheranan melihat orang itu.
Ya Allah siapakah perempuan cantik ini, apa hubungannya dengan bang Fay. Apa dia keluarga atau temannya Mbak Dania?
Tubuhnya Sabiah mulai gemetaran karena takut jika perempuan cantik ini adalah orang yang akan melaporkan dirinya kepada pihak berwajib, mengenai dirinya yang telah menjadi istri simpanan.
Ya Allah bagaimana kalau orang ini datang sengaja untuk mematai-mataiku dan aku berakhir di dalam penjara.
Sabiyah semakin takut, tapi suaminya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada istri barunya itu.
Fayyad hanya melirik sekilas ke arah orang itu, sedangkan Sabiah mulai panik, ketakutan dan mencemaskan kedatangan orang itu.
"Dari mana kamu tau alamat kami dan apa tujuanmu ke sini?"
Fayyad menjeda perkataannya itu karena masih ingin menyendok makanannya itu dan tidak menyangka jika adiknya mengetahui rahasia besarnya.
"Apakah kamu membuntuti kemanapun pergiku ataukah sudah lama kamu mengetahui jika kami tinggal di sini?" Fayyad bertanya seperti itu kepada adik bungsunya yang sungguh diluar dugaannya.
"Si-lah-kan Bu, kami juga belum selesai makan," balasnya Sabiyah setelah mendengar permintaan dari perempuan itu.
Perempuan cantik berambut panjang yang hanya diikat satu saja itu tersenyum tipis menanggapi perkataannya dari Sabiyah.
"Tidak perlu memanggil namaku dengan ibu kakak ipar, karena aku belum setua itu dan juga belum menikah," tampiknya perempuan muda nan cantik kemayu.
"Kenapa kamu datang, dari mana kamu tau mas tinggal di sini?" Tanyanya Fayyad yang melayangkan banyak pertanyaan khusus untuk adik bungsunya itu.
Sabiyah menganga lebar mendengar perkataan dari perempuan itu yang menyapanya dengan sebutan kakak ipar.
"Hahaha, mas Fay bukannya memintaku untuk mencicipi masakannya kakak ipar terlebih dahulu malah memberondongku dengan banyak pertanyaan segala," ketusnya Fatiah.
__ADS_1
Benar sekali Fatiah yang datang bertandang ke rumahnya Sabiyah pagi itu tanpa diundang terlebih dahulu dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Aku sungguh takjub melihat tampang istri barunya mas Fay, ini nih berlian dari desa. Tidak sebanding dengan istri pertamanya yang dari kampung, tapi lagaknya seperti orang kaya dan tercantik di dunia saja padahal hasil operasi plastik di Singapura.
Fatiah segera membalik piring kemudian mulai mengisi piringnya dengan berbagai macam menu santapan pagi yang kebetulan masih banyak makanan yang tersaji di atas meja.
Cantik, padahal hanya gadis kecil dari kampung. Bahkan kalau dibandingkan dengan perempuan mandul itu adalah ini nih cantik alami bukan hasil oplas.
"Silahkan Mbak, tapi maaf yah hanya makanan rumahan apa adanya saja," ucapnya Sabiyah merendah diri.
"Ya Allah ini makanan yang sungguh sangat lezat, bukan makanan biasa loh. Aku saja masak nasi kagak bisa apalagi masakan semacam ini. Sedangkan kakak ipar yang masih sangat muda, tetapi sanggup memasak beberapa jenis masakan yang sungguh lezat," pujinya Fatiah yang mulai mencicipinya masakannya itu.
Sabiyah tersenyum sumringah mendengar segala pujian dari adik iparnya itu,"syukur alhamdulilah kalau Mbak menyukai masakanku, kalau suka sering-sering saja mampir ke sini," pinta Sabiyah.
"Kamu makan saja tidak perlu banyak omong kosong, Yang aku ke kantor dulu. Ingat nanti malam kalau enggak ada halangan Abang akan datang ke sini," imbuhnya Fayyad yang segera meraih jas dan tas kerjanya yang sedari tadi tersimpan di atas meja satunya.
Fatiah hanya terkekeh mendengar perkataan dari kakak sulungnya dan melanjutkan makannya tanpa peduli dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
Fatiah sempat berteriak kencang agar kakaknya mendengar perkataannya,"Mas ingat nanti malam harus berbicara kepada Mama dan papa tentang lamarannya mas Daniel!"
Fayyad hanya mengangkat sebelah tangannya dan memberikan kode kepada adiknya itu, apabila apa yang diinginkannya akan terpenuhi nanti malam.
Sabia segera berjalan mengekor di belakang punggung suaminya yang terlebih dahulu bercermin di kaca yang cukup tinggi yang ada di ruang tengah yang menghubungkan antara ruang tengah dengan dapur.
Sabiyah meraih tangan kanannya Fayyad sebelum masuk ke dalam mobilnya untuk dikecupnya terlebih dahulu.
"Abang hati-hati yah,kalau mau datang kabari saya yah Abang sebelumnya agar saya bisa bersiap sebelumnya," Sabi berucap.
"Kamu juga hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa kamu tidak perlu sungkan untuk menelponku," titahnya Fayyad kemudian mengecup lembut keningnya Sabi hingga turun ke bibirnya.
__ADS_1
Apa yang kedua pasangan suami istri itu lakukan dilihat langsung oleh seseorang yang sedari tadi menguntit dan mengamati apa yang mereka lakukan.
Daniah meremas dengan kuat botol mineral yang sempat digenggamnya sedari tadi. Awalnya hanya berencana untuk joging pagi itu, tetapi tanpa disadarinya ia melihat adik iparnya yaitu Fatiah mengendarai mobilnya menuju rumahnya Sabiyah.
Dan hal yang sangat tidak ingin dilihatnya adalah kemesraan dan kedekatan dari dua orang itu yang mampu membuat dadanya bergemuruh hebat. Nafasnya ngos-ngosan saking marahnya melihat suaminya yang mencium bibir mungilnya Sabiyah.
"Sial!! Kenapa mas Fay semakin hari semakin berubah segala-galanya berubah. Ini baru seminggu lebih pernikahan mereka gimana kalau sudah sebulan, enam bulan kemudian bisa-bisa aku yang akan ditendang oleh keluarga besar Haris Chandra. Apalagi melihat Fatiah yang sudah mengetahui jika Sabi isteri keduanya mas Fay."
Fayyad enggan sebenarnya untuk berangkat ke perusahaan kedua orang tuanya, tetapi mengingat tugas dan tanggung jawabnya sebagai wakil CEO yang masih dipegang oleh papanya Pak Haris Chandra Hamilton.
"Aku harus bertemu dengan Damar agar bisa membantuku untuk memisahkan mereka, aku akan mencari perempuan lain yang bisa aku ajak kerjasama dan tidak seperti Sabi yang menikamku dari belakang. Siapapun yang ingin menghalang-halangi rencanaku bakal seperti ini nasibnya!"
Daniah Najida segera berjalan ke arah rumahnya dan hendak bertemu dengan temannya yang baru beberapa hari yang lalu dikenalnya.
Sabiyah tersipu malu diperlakukan sangat istimewa oleh suaminya itu. Dia tidak menyangka jika akan mendapatkan kebahagiaan padahal pernikahan awalnya bertujuan hanya mendapatkan keturunan untuk suaminya itu.
Ya Allah aku sungguh sangat bahagia karena mendapatkan suami yang sungguh perhatian padaku dan menghargaiku, padahal pernikahan kami hanya dasar saling ketergantungan satu sama lainnya.
Hubungan yang kami bina adalah hubungan saling menguntungkan seperti simbiosis antara sama-sama untung.
Satu bulan kemudian, hubungan seperti itu berlangsung apa adanya. Fayyad semakin jarang pulang ke rumahnya dimana Dania berada. Dua hari kemudian akan segera dilaksanakan pernikahan antara Daniel dan kekasihnya yang tidak lain adalah adik bungsunya Fayyad bernama Fatiah Samara Haris. Kesibukan rencana pernikahan itu tidak mengusik ketenangan rumah tangganya Fayyad dan kedua istrinya.
"Aku harus membujuk Sabi untuk mengajak mas Fay pergi bersama kami bertiga dan disaat itulah aku akan melancarkan rencanaku yang sudah aku susun dengan matang bersama mas Damar."
Bu Ani yang samar-samar mendengar perkataan dari Nyonya mudanya itu ikut berkomentar.
"Maaf Nya, Anda barusan ngomong apa?"
Daniah menatap tajam ke arah asisten pembantu rumah tangganya itu.
__ADS_1
"Kamu semakin hari aku perhatikan semakin sok ingin mencampuri apapun yang aku lakukan! Ingat baik-baik kamu itu siapa, tolong jaga batasan kamu agar tidak melampaui batas statusmu!" Sarkasnya Daniah yang segera bangkit dari posisi duduknya di depan meja makan.
"Ya Allah apa yang terjadi pada Nyonya Dania, entah kenapa menurut saya dia semakin berubah banyak, tidak seperti dulu ketika aku baru bekerja di rumah ini," gumamnya Bibi Ani.