
Fayyad melirik sekilas ke arah sekitarnya mencari keberadaan dari istrinya itu, kenapa Sabi tidak ada disini? Bagaimana caraku untuk mencarinya dalam keadaan seperti ini. Disisi lain aku tidak ingin semuanya mengetahui rahasiaku.
Fadel menatap sedih tuan mudanya itu dengan tatapan sendunya," ya Allah kenapa nasibnya tuan muda begitu menyedihkan. Tapi ngomong-ngomong siapa perempuan yang berhijab itu katanya orang-orang yang diselamatkan tuan muda. Aku akan mencari tau siapa sebenarnya perempuan muda itu."
Fayyad menatap intens adik keduanya itu,"Fatimah, tolong segera panggil Papa dan Mama, aku tidak ingin di sini terus! Fayyad mengalihkan pandangannya ke arah istrinya. " Kamu tolong jangan pernah mendekatiku lagi! Aku tidak mau kamu sentuh dengan tanganmu itu!" Geramnya Fayyad.
Dania dan semua orang yang kebetulan ada di dalam sana terkejut mendengar perkataan dari Fayyad.
"Ke-na-pa? A-nu a-pa maksudnya Mas Fay, kenapa kamu melarangku untuk tidak menyentuhmu?" Tanyanya Daniah yang sedikit gagap karena apa yang dikatakan oleh suaminya cukup mengejutkannya.
Fayyad enggan menatap langsung ke arah istrinya itu," aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu! Nanti kita akan bicarakan setelah aku pulang ke rumah!" Tegasnya Fayyad.
Fayyad memukul-mukul kakinya yang tidak merasakan sakit sedikitpun. Ia tidak ingin terlihat lemah dan tidak berdaya di hadapan orang lain.
"Kenapa bisa kakiku tidak merasakan sakit! Aku tidak ingin lumpuh! Aku tidak ingin menjadi cacat!" Teriaknya Fayyad yang tak berhenti untuk memukuli kakinya.
Fatiah berlari cepat ke arah kakaknya untuk mencegah apa yang dilakukannya itu.
"Kakak stop! Jangan seperti ini. Aku mohon bersabarlah," cegah Fatiah yang semakin menitikkan air matanya saking sedihnya karena melihat ketidakberdayaan kakak sulungnya itu.
"Fatimah jangan hentikan apa yang aku lakukan, kamu bisa berkata sabar karena bukan kamu yang berada diposisiku!" Jerit Fayyad yang mendorong tubuh adiknya itu karena dalam keadaan lemah tanpa sengaja tubuhnya terjatuh ke atas lantai.
"Argh!!
Bruk…
"Mas Fay!"
"Kakak Fay!"
"Tuan Muda!"
__ADS_1
Semua orang bersamaan berteriak kencang melihat Fayyad yang terjatuh. Semuanya segera gegas berjalan ke arah Fayyad yang sudah terduduk telentang di atas lantai.
Fayyad mengayunkan tangannya ke arah semua orang," tolong jangan ada sekali-kali yang mendekat! Aku masih sanggup berdiri dan tidak butuh bantuan kalian!" Geramnya Fayyad.
Langkah orang-orang spontan berhenti, karena mendengar suara teriakannya Fayyad. Mereka tidak sanggup berkata-kata lagi, melihat kemarahan Fayyad. Fatiah hendak maju dan berbicara, tapi tangannya segera dicegah oleh calon suaminya Daniel.
"Jangan, kalau kamu menasehati Pak Fay sama saja menambah kemarahannya," ucapnya Daniel Aliuddin.
Semua yang terjadi di dalam sana dilihat langsung oleh kedua orang tuanya yaitu Bu Widya dan pak Haris Chandra.
"Putraku! Kenapa bisa terjadi seperti ini? Jelaskan kepada Mama!?" Tanyanya Bu Widya sambil berjalan ke arah putranya untuk membantunya.
Fayyad lagi-lagi tidak ingin dibantu sekalipun dengan mamanya sendiri," tidak perlu Mama membantuku, insha Allah aku masih sanggup,"
Bu Widya keheranan bukan melihat sikap keras kepala putranya yang sudah mendarah daging, melainkan perkataan dari putranya itu.
"Insha Allah," beonya Bu Widya.
Semua orang yang sudah mengenal lama Fayyad pun dibuat kaget. Tapi, Fatiah paham dengan apa yang terjadi pada kakaknya itu.
Fayyad berusaha untuk bangkit,tapi lagi-lagi gagal karena tidak kemampuannya berdiri.
"Sial!! Kenapa bisa aku seperti ini! Aku sudah jadi orang cacat!" Ketusnya Fayyad.
Gawat, apa jangan-jangan mas Fay sudah mengetahui apa yang sebenarnya aku lakukan dibelakangnya. Tapi, aku sudah bermain cantik dan aman. Ini pasti aku saja yang terlalu cemas berlebihan saja.
Bu Widya dan pak Haris membantu putranya agar segera berdiri dan naik ke atas ranjangnya. Fayyad hanya mengalah dan menurut apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya.
Fayyad menatap tajam ke arah Daniah, aku akan mencari waktu yang tepat untuk memperhitungkan apa yang telah kamu lakukan padaku.
Fayyad berbaring nyaman di atas ranjangnya dan semua orang berangsur satu persatu pulang. Dan tinggallah Dania seorang diri di dalam kamar perawatan Fayyad.
__ADS_1
Fayyad berjuang keras untuk menahan amarahnya yang sudah meletup-letup Du dalam dadanya hingga dadanya seolah seperti bergemuruh hebat.
Aku harus bermain cantik untuk membongkar kebusukannya, jika tidak aku tidak bisa menendangnya pergi jauh-jauh dari hidupku tanpa bukti.
Aku memang sudah melihatnya kebusukan apa yang dilakukannya,tetapi tanpa bukti tidak akan ada yang percaya padaku.
"Mas apa kamu butuh sesuatu?" Tanyanya Daniah yang melihat apa yang terjadi pada suaminya yang lebih banyak diam dan melamun.
Fayyad menatap intens ke arah istrinya itu, aku tidak boleh bertanya apapun tentang Sabiah padanya. Jika tidak dia akan melakukan tindakan lagi untuk mencelakai Sabiyah Istriku.
Aku tidak boleh mengatakan apapun tentang Sabi l, kalau perlu aku akan berpura-pura membenci Sabiyah di hadapannya, sambil mencari cara untuk mengetahui keberadaan istriku. Demi keselamatannya aku akan melakukan apapun walau aku sudah cacat.
Dania menyentuh lengan suaminya itu," Mas Fay apa kamu baik-baik saja atau kau perlu aku panggilkan dokter?" Tanyanya Daniah.
Fayyad segera mengakhiri lamunannya itu,"Iya kakiku sepertinya kram, atau apa aku perlu meminta mama untuk mencari rumah sakit yang lebih bagus dari ini, karena aku tidak percaya dengan cara dokter menyembuhkan kakiku," keluhnya Fayyad yang memperlihatkan wajah kesakitannya.
Dania segera menyimpan berkas penting yang sedari tadi dipegangnya dan ingin memperlihatkan pada suaminya itu.
"Baiklah mas aku akan mencari dokter," balasnya Daniah.
Dania berjalan terburu-buru ke arah ruangan jaga dokter. Sedangkan Fayyad segera meraih dan secepatnya menyambar kertas itu.
Dia membaca satu persatu dari kertas itu dan menutup mulutnya saking terkejutnya membaca kertas itu.
"Astauhfirullah aladzim apa yang terjadi, ini tidak mungkin!? Tapi aku yakin ini pasti gara-gara perempuan ular berbisa berkepala dua itu yang sudah merencanakan ini semua!"
Fayyad mengepalkan tangannya saking marahnya membaca surat gugatan cerai dari istri sirinya yang sudah ditandatangani oleh istrinya itu.
Ini pasti akal-akalannya Dania untuk mengusir Sabi dari hidupku. Tapi, aku harus berakting mengikuti alur cerita yang diciptakan oleh Dania. Perempuan yang sudah aku salah mencintai dan memberikan kepercayaan padanya.
Fayyad untuk pertama kalinya meneteskan air matanya itu saking sedihnya memikirkan segala sesuatu kondisinya Sabiyah.
__ADS_1
Ya Allah untuk pertama kalinya aku memohon padaMu. Aku memang manusia yang tidak pantas untuk memohon padaMu, tapi aku hanya meminta padamu tolong Jaga dan lindungilah istriku dimanapun berada. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya.
"Aku harus memainkan peran istri yang baik di hadapan suamiku dan menjatuhkan martabat dan menjelekkan Sabiyah di depannya dan memperlihatkan surat cerai itu sehingga dia percaya jika memang semua ini terjadi atas kehendak Sabiah sendiri."