
"Apa Uncle tidak mengenal kami?"
Orlin bertanya seperti itu untuk mengetahui apa benar papanya hanya pura-pura tidak mengenalinya ataukah memang sama sekali tidak tau siapa mereka.
Orlin menengadahkan kepalanya menatap papanya yang tinggi tubuh keduanya sungguh jauh berbeda.
Fayyad menautkan kedua alisnya mendengar perkataan dari anak perempuan tersebut yang sungguh cantik dan manis dimatanya itu.
"Saya tidak mengenal kamu,tapi jika kamu ingin menjadi putriku,"
Fayyad menjeda perkataannya itu sambil membungkuk untuk mengurai anak rambutnya Orlin yang berantakan terkena terpaan sinar matahari. Orlin yang mendapatkan perlakuan seperti itu untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupannya sungguh tersentuh hatinya. Hingga tanpa disadarinya air matanya luruh membasahi pipinya.
Fayyad kembali kebingungan melihat apa yang dilakukan oleh gadis kecil yang mengingatkan pada seseorang yang tidak diketahui siapa orangnya.
"Saya tidak masalah apabila kau mau menjadi putriku. Kebetulan saya tidak mempunyai anak cantik secantik kamu." Ujarnya Fayyad.
"Uncle, apakah hanya Orlin saja yang diminta menjadi putrinya Uncle? Sedangkan kami adalah anak kembar,"
Ikhbar yang sedari tadi terdiam memperhatikan perbincangan keduanya pun ikut menimpali percakapan mereka. Ikhbar menatap papanya dengan pandangan matanya penuh harap.
Fayyad menolehkan kepalanya ke arah anak kecil laki-laki berhoodie biru muda itu.
Fayyad menyentuh kedua puncak pundaknya Ikhbar dengan senyuman simpul dan tatapan matanya yang teduh.
"Kalau kamu juga mau kenapa tidak Nak, Uncle dengan senang hati menyambut kalian menjadi anak-anak kembarku."
Fayyad segera merentangkan kedua tangannya dengan posisi membungkuk untuk memudahkan dia memeluk kedua tubuh anaknya.
Orlin dan Ikhbar tanpa ragu segera berhamburan cepat ke arah dalam pelukan hangat Fayyad. Ketiganya saling berpelukan satu sama lainnya dengan senyuman penuh kebahagiaan yang terpancar dari dalam hati masing-masing.
Fayyad diam-diam menatap intens ke arah wajahnya Orlin. Ya Allah kenapa aku memeluk mereka seperti aku memeluk anakku sendiri. Apa yang terjadi padaku ini?
Mungkin seperti ini saja dulu yang terbaik untuk kami berdua. Aku akan pelan-pelan memberitahu papa, jika kami adalah anak-anaknya.
Alhamdulillah, aku sungguh bahagia dipeluk oleh papaku. Andaikan kami bisa seperti ini terus-menerus setiap hari, pasti bahagialah hatiku.
"Apa kalian ingin menemani Uncle tidur dalam sini?" Pintanya Fayyad.
__ADS_1
Orlin melirik sekilas ke arah kakaknya itu sebelum menganggukkan kepalanya itu.
"Kami mau pake banget Uncle Fay," ucapnya Orlin dengan penuh semangat.
"Iya Pah!" Orlin menutup mulutnya langsung ketika spontan menyebut Fayyad papanya. "Ehhh maksudnya Uncle Fay kami sangat bahagia bisa tidur bareng Uncle. Tapi gimana dengan putranya Uncle?
Fayyad hanya tersenyum tipis menanggapi perkataannya dari Orlin sebelum menimpali perkataannya Orlin.
"Kalau masalah putraku Nofal, dia tidak akan mempermasalahkannya karena dia sudah tidur," ucap Fayyad yang sudah menarik kedua tangan anaknya yang belum dikenalinya.
Orlin saling bertatapan satu sama lainnya dengan senyuman lebarnya. Orlin dan Ikhbar tersenyum lebar, ketika mereka membayangkan akan menghabiskan malam bersama dengan papa kandungnya.
Aku akan melewatkan malam ini bersama dengan papaku. Ini langkah dan awal yang sangat bagus. Semoga saja kedepannya akan lebih mudah untuk kami lebih dekat lagi.
"Kalian duduklah terlebih dahulu di sana, Uncle akan merapikan tempat tidur agar kita semua muat di atasnya," ujarnya Fayyad yang sudah berjalan ke arah tempat tidur.
Orlin dan Ikhbar menganggukkan kepalanya dengan patuh sedangkan Fayyad sudah memindahkan anak sulungnya Nofal ke bagian tengah.
Fayyad menepuk-nepuk ranjang kosong tepat di sampingnya Noval yang tertidur pulas tanpa terusik oleh kehadiran mereka.
Ikhbar dan Orlin spontan berlari ke arah atas ranjangnya dan bersiap untuk tidur berempat di atas ranjang yang sama.
Ya Allah kenapa tingkah dan kebiasaan mereka mengingatkan aku pada Sabi. Dia selalu mengingatkan aku untuk berdoa sebelum melakukan apapun, termasuk tidur seperti sekarang.
"Uncle kok bukannya berdoa malah melamun? Apa Uncle baik-baik saja?"
Ikhbar menautkan kedua alisnya melihat sikapnya Fayyad papa kandungnya sendiri.
"Ehh maaf aku tidak apa-apa kok. Oiya katanya ingin memanggil saya dengan sebutan Papah, tapi kenapa sampai sekarang masih Uncle," ucap Fayyad yang mengalihkan perhatian kedua anak kecil yang sudah bersiap untuk tidur.
"Kalau gitu yuk kita tidur sudah larut malam soalnya," kilahnya Fayyad yang tidak ingin kedua anak itu mengetahui apa yang terjadi padanya.
Orlin dan Ikhbar tanpa terduga bersamaan mengecup kedua sisi pipinya Fayyadh. Membuat Fayyad menyentuh pipinya bekas ciuman kedua anak kecil yang ngotot ingin memanggilnya dengan sebutan papa.
Ternyata asyik juga punya banyak anak, andaikan mereka adalah anak-anakku pasti hidupku akan lebih berwarna.
Fayyad menyeka air matanya itu karena tidak ingin ketahuan oleh kedua bocah yang membuatnya bahagia dalam waktu sesingkat ini.
__ADS_1
Sabi, kamu dimana sayang apa yang terjadi padamu sekarang? Aku sangat merindukanmu. Tujuh tahun sudah berlalu, tapi kenapa keberadaanmu seperti bak ditelan bumi saja.
"Papa ayo peluk aku," pinta Orlin yang menunggu papanya untuk memeluknya.
Fayyad segera memeluk tubuhnya Orlin yang memang sulit untuk memejamkan matanya jika tidak ada yang dipeluknya, walau hanya sekedar bantal peluknya saja. Sedangkan Ikhbar sudah terlelap dalam tidurnya.
Fayyad menepuk-nepuk lengannya Orlin hingga kedua matanya terpejam. Fayyad melakukan hal tersebut dengan sepenuh hati. Dia sangat gembira melakukan hal yang tidak pernah diperbuatnya selama ini.
Beberapa menit kemudian, ia pun ikut tertidur di samping ketiga anak-anaknya. Fayyad dan lainnya seolah tersenyum dalam mimpi indah mereka.
Tiga hari kemudian…
Semua anak-anak peserta perkemahan summer camp bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Orlin dan Ikhbar menemui papanya sebelum pulang ke kota S.
"Dek apa kita akan menemui Papa," tanyanya Ikhbar seraya mengikat tali sepatunya.
Orlin yang memeriksa ulang tas ransel dan koper kecilnya itu segera menolehkan kepalanya ke arah abangnya.
"Harus menemui Papa sebelum kita pulang dan aku berencana untuk mengatakan yang sebenarnya jika kita adalah anak kandungnya," usulnya Orlin.
"Itu ide yang sangat bagus, ayo cepat sebelum bunda datang bersama dengan Paman Farhan," imbuh Ikhbar yang segera berjalan ke arah pintu sambil mendorong tas kopernya.
Orlin pun mengekor di belakang kakaknya yang sudah berjalan mendahului adiknya.
Sedangkan di tempat lain, masih di lokasi daerah perkemahan musim panas. Seorang perempuan segera membuka pintu mobilnya itu tepat di samping setir mobilnya.
"Semoga saja anak-anakku baik-baik saja, aku sudah sangat merindukan mereka padahal baru saja seminggu kami berpisah."
Sabiyah berjalan ke arah dalam area perkemahan tapi, tanpa sengaja melihat seseorang yang membuatnya sungguh terkejut.
"Ini tidak mungkin, kenapa meski bertemu di tempat ini? Bisa gawat apabila dia mengetahui jika kami memiliki dua orang anak." Cicitnya.
Sabiyah segera berjalan cepat ke kanan untungnya ada tembok kokoh yang bisa dijadikan tempat untuk berlindung. Dia melihat seorang pria dewasa berjalan bergandengan tangan dengan akrabnya.
Kami tidak boleh bertemu dan aku harus segera bersembunyi jika tidak dia akan melaporkan aku kepihak yang berwajib.
Tetapi, karena cukup penasaran sehingga ia diam-diam mengamati apa yang dilakukannya oleh anak dan bapak itu.
__ADS_1
"Apakah itu anaknya bersama dengan Mbak Dania Najida? Bukannya Mbak Dania mandul terus itu anaknya siapa, apa jangan-jangan dengan wanita lain? Wajah mereka seperti fotocopy saja."