Terpaksa Menjadi Orang Ketiga

Terpaksa Menjadi Orang Ketiga
Bab. 29. Rencana Brilian


__ADS_3

Malam harinya, Fayyad untuk keduanya kalinya dalam seminggu ini tidak menginap di rumahnya Dania. Ia akan pulang pagi-pagi sekali setelah sarapan bersama dengan istri keduanya itu.


Sabiyah yang baru saja menyelesaikan membaca beberapa ayat Alquran yang dibawakan dengan suara yang sungguh sangat merdu. Kalam Allah SWT itu berkumandang di dalam setiap penjuru ruangan kamar pribadinya Sabiyah.


Sabiyah mengakhiri kegiatannya itu dengan berdzikir beberapa kali sebelum mencium kitab sucinya atau mushaf Al-Qur'an itu.


Tetapi, dia cukup terkejut melihat sebuah kalung yang sangat cantik telah melingkar di lehernya itu. Sebuah kalung emas dengan liontinnya yang berbentuk hati dan di tengahnya bisa terbuka dan terdapat foto kecil mereka.


Sabiyah spontan menolehkan kepalanya ke arah belakang hingga hidung mancung keduanya saling bergesekan saking dekat jarak keduanya.


Sabiyah memegangi kalungnya itu," ini apa Bang?" Tanyanya Sabiah.


Sabiyah melayangkan pertanyaan yang bertingkah polos, padahal ia sudah mengetahui segalanya dengan pasti benda apa yang dipakaikan oleh suaminya itu.


"Ini kalung khusus untuk istri kecilku yang sangat cantik dan baik hati," ucapnya Fayyad yang memeluk tubuhnya Sabiyah dari arah belakang.


"Masya Allah Bang ini kalungnya sungguh sangat cantik, pasti harganya sangat mahal," tebaknya Sabiah sembari mengangkat liontin kalung itu.


"Jangan pikirkan masalah harganya yang paling penting kamu menyukainya dan ini ucapan makasih banyak Abang padamu yang sudah setiap hari meluangkan waktu untuk memasak makanan yang sangat lezat," imbuhnya Fayyad yang masih memeluk dari arah belakang tubuhnya Sabi yang masih memakai mukenah berwarna pink itu.


"Ta-pi saya tidak pernah berharap mendapatkan balasan apapun dari suamiku, karena apa yang saya lakukan adalah sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang istri dan hanya berharap kepada Allah SWT pahala yang besar," Sabia berucap.


Fayyad kembali terheran-heran dengan perkataannya Sabiyah yang ucapannya dan sikapnya selalu berbeda dengan istri pertamanya.


"Hatimu sungguh mulia istriku, sayangnya aku terlambat mengenalmu, bukan terlambat bertemu melainkan kamu lambat lahir," Fayyad berbicara seraya menoel hidung mancungnya Sabiah.


Keduanya tersenyum bahagia sambil terus berpelukan satu sama lainnya hingga tanpa disadarinya semua pakaian yang mereka pakai sudah terlempar dan berhamburan ke atas lantai.


Keesokan harinya, Dania berencana melaksanakan rencananya bersama dengan Damar pria yang selama sebulan lebih ini berhubungan dengannya.


Ini kesempatan yang bagus, mas Fay ada di rumah. Aku harus membujuk mas Fay untuk pergi bersama denganku dan Sabiyah.


Dania berjalan beriringan dengan suaminya itu hingga ke mobilnya. Fayadh menautkan kedua alisnya itu melihat tingkah laku istrinya yang tidak biasa.

__ADS_1


"Apa uang belanjamu sudah habis?" Tanyanya Fayyad seraya memakai pakaian kerjanya.


Dania tersenyum tipis menanggapi perkataannya dari suaminya itu sebelum menimpalinya.


Dania membantu Fayyad memasang dasinya, "Bukan itu Mas, tapi aku ingin nanti sore mas, aku dan Sabi ke taman hiburan di Dufan."


Fayyad menatap intens perempuan yang sudah lebih lima tahun itu menemaninya dan mendampinginya.


Dania merapikan ikatan dasi yang sudah terpasang di lehernya Fayyad," aku kasihan dengan Sabi adik sepupuku itu, sudah lebih sebulan di kota Jakarta,tapi belum pernah jalan-jalan keliling kota Jakarta, jadi rencananya aku ingin mengajaknya ke Dufan saja.. aku yakin Sabi akan menyukainya dan tidak akan menolak."


Fayyad segera mengambil tas kerjanya itu dan segera bergegas ke arah pintu karena pagi ini ada pertemuan penting dengan klien perusahaannya dari Kuala Lumpur Malaysia.


"Aku akan pertimbangkan, semoga saja pertemuannya cepat selesai, kalau selesai aku akan kabari kalian berdua," imbuhnya Fayyad sebelum masuk ke dalam mobilnya yang di depan kursi kemudi sudah duduk Fadel Muhammad.


Mobil segera melaju setelah Fayyadh melihat ke arah Fadel, Daniah tersenyum penuh kelicikan ketika suaminya akan mensukseskan rencananya.


Hari ini bersiaplah Sabiyah Laika Badiah, hari ini adalah hari terakhirmu bersama dengan suamiku! Dan kamu akan pergi selamanya dari hidup kami.


Dania menyentuhkan ujung benda pipih berbentuk persegi panjang itu di ujung dagunya dengan seringai liciknya.


"Apa yang aku lakukan untukmu hari ini adalah tidak gratis dan tidak percuma, ada imbalan besar yang kamu harus berikan kepadaku," ucap Damar dari seberang telpon.


Daniah mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari Damar pria yang terkadang menemaninya di club malam jika dia keluar clubing untuk membuang penat dan kemarahannya menghadapi kerasnya kehidupan pernikahannya.


"Maksudnya apa? Jangan bermain teka-teki misteri di depanku! To the poin saja," ketusnya Daniah.


Dania duduk di salah satu sofanya sembari mengeluarkan sebotol minuman beralkohol yang selama ini ia konsumsi secara diam-diam dari suaminya atau keluarganya yang lain.


Dania mengisi gelas itu dengan minuman berwarna merah menyala itu kemudian menenggaknya sedikit demi sedikit.


"Aku ingin…" ucapannya Damar terhenti dan hanya mengirimkan sebuah foto dan pesan chat singkat yang buru-buru diketiknya.


Dania segera membuka pesan singkat itu dengan kedua matanya terbelalak ketika membaca pesannya Damar.

__ADS_1


"Apa!? A-pa kamu sudah gila ha!! Kamu itu dikasih hati minta jantung! Aku heran dengan sikapmu ini!" Geram Daniah.


Damar pun memainkan botol minumannya itu sambil tersenyum penuh kelicikan ketika mendengar tanggapannya Daniah perempuan yang diam-diam mulai terobsesi dengannya.


"Itu hakmu mau menolak atau tidak! Yang jelasnya tidak bakalan aku membantumu untuk melakukan rencanamu ini," balasnya Damar.


"Baiklah aku akan ke sana, tunggu aku setengah jam dari sekarang," balas Daniah.


Dania meneguk habis hingga tandas minumannya tanpa bersisa sedikitpun. Ia segera memerintahkan kepada bi Ani untuk membereskan kamarnya sebelum berganti pakaian.


"Sial! Aku sangat menyesal melakukan transaksi dengan pria gila itu!" Daniah memoles wajahnya dengan cantik tampil beda seperti sebelumnya.


Dania segera mengirimkan pesan kepada Sabi dan mereka berjanji bertemu di Dufan dan memintanya kepada Pak Hidayat untuk mengantarnya hingga ke tempat wahana bermain itu. Damar menyiapkan segala sesuatunya sebelum Daniah berkunjung ke apartemen itu.


"Hari ini aku akan membuatmu akan selalu bertekuk lutut di hadapanku! Aku janji itu kamu harus menjadi bonekaku!"


Sore harinya, seperti yang sudah direncanakan oleh Daniah. Sabia sudah berada di depan Dufan sambil menunggu kedatangan Daniah dan suaminya.


Daniah sebenarnya sudah datang sejak tadi, sebelum Sabiah datang. Dania menghubungi nomor ponselnya Pak Hidayat untuk memerintahkannya pulang, dan mengatakan jika dia akan balik ke rumah bersama dengan Sabiah.


Sabiyah yang penurut tak banyak tanya langsung mengiyakan dan menurut saja apapun yang dikatakan oleh Daniah termasuk pak Hidayat.


"Oke, semuanya sudah beres sisanya hanya menunggu suamiku datang, ingat aku berikan aba-aba sebelum kamu melakukannya," Dania segera turun dari mobilnya Damar.


Sedangkan Damar melajukan mobilnya dan memakai masker dan kacamata hitamnya terlebih dahulu.


Dania berjalan ke arah Sabiah bersamaan dengan kedatangan suaminya itu. Karena Sabiyah yang hendak menyebrang menyambut kedatangan suaminya itu yang berjalan ke arahnya juga. Tetapi, dari arah berlawanan datanglah sebuah mobil sedan berwarna hitam melejit dengan kecepatan yang sangat tinggi ke arah Sabiyah.


Fayyad yang melihat kedatangan mobil yang sudah hampir menabrak tubuhnya Sabi segera berlari cepat ke arah Sabi dengan menarik tangannya Sabi.


"Sabiyah awas!!" Teriaknya Fayyad dengan kecepatan larinya yang sangat tinggi.


Bruk!!!

__ADS_1


Prang!!!


"Aghh tidak!!" Pekiknya.


__ADS_2