Terpaksa Menjadi Orang Ketiga

Terpaksa Menjadi Orang Ketiga
Bab 41. Tak Terencana


__ADS_3

"Mas Gazzhal Hafizhan!" Cicitnya Fatiah.


Fathia tak berkedip melihat pria yang beberapa bulan terakhir ini menjadi teman lewat sosial medianya itu dan ini pertemuan keduanya selama berdagang lewat dunia maya.


Zhal hanya melirik sekilas ke arah perempuan yang sudah membuatnya jatuh cinta itu dengan senyuman tipisnya.


Sedangkan Orlin dan Nofal masih sama-sama saling berebut id card, padahal mereka bisa atur damai dan sudah dibujuk oleh petugas perkemahan.


Fatia buru-buru mengalihkan perhatiannya dengan membujuk keponakannya itu,"Sayang sudahlah, ngalah saja dengan adek cantik satu ini. Kan katanya Mbak ini masih banyak id card lainnya."


Tatapan menelisik dari Gazzhal tertuju pada Fatyah seorang. Jadi dia janda beranak satu, tapi kenapa selama ini katanya dia janda tidak mempunyai anak karena pernikahannya hanya seumuran jagung saja mereka resmi bercerai. Tapi buktinya hari ini semuanya berbanding terbalik.


Zhal sedikit kecewa dengan sangkaannya yang mengatakan apabila Fatiah selama ini telah membohonginya.


"Ini berikan kepada bocah itu!" Titahnya Zhal yang menyodorkan sebuah id card ke hadapannya Nofal.


Nofal menghentakkan tangannya Orlin sehingga keduanya tidak saling tarik menarik lagi. Orlin yang melihat Nofal terpaksa menerima id card dari panitia tersenyum penuh kemenangan.


"Dari tadi kek ngalahnya! Kan gak bakalan ribet dan panjang persoalannya!" Ketus Orlin yang segera melenggang pergi meninggalkan yang lainnya bersama dengan kakaknya.


"Awas yah! Aku bakal balas dendam dengan apa yang sudah kamu perbuat padaku!" Geramnya Nofal.


"Nof! Tidak baik membalas perkataan orang lain yang tidak baik dengan perkataan seperti itu pula, kalau gitu ucapkan makasih banyak pada bapak panitia kalau sudah kita segera masuk ke dalam perkemahan untuk mencari kamarmu," imbuhnya Fatiah yang ingin segera cabut dan kabur dari sana.


Fatiah yang merasa atmosfer dan suasana sudah tidak kondusif, segera ingin pergi dari sana. Tetapi, di cegah oleh Gazzhal dengan merentangkan kedua tangannya untuk mencegah kepergiannya Fatiah.


"Berhenti! Perkemahan ini hanya khusus untuk anak-anak berusia lima tahun hingga sepuluh tahun saja sedangkan Anda itu bukan anak-anak lagi melainkan sudah tua!" Cegat Gazzhal.


Fatiah segera merogoh handbagnya itu dan memperlihatkan sebuah surat yang menyatakan bahwa dia mendapatkan hak istimewa dan spesial serta pengecualian untuk menginap selama seminggu di summer camp.


Gazzhal yang tidak tau menahu masalah itu hanya menautkan kedua alisnya itu, karena maminya tidak berkata seperti itu sebelumnya. Gazzhal membaca satu persatu kata kalimat yang tertulis di atas kertas putih itu dengan seksama membuat Fatiah tersenyum penuh kegembiraan.

__ADS_1


"Anda boleh masuk dan bergabung dengan kami, tapi dengan satu catatan Anda tidak boleh menganggu kenyamanan anak-anak peserta perkemahan dan kedua Anda harus membantu para chef di dapur untuk masak!" Putusnya Gazzhal.


Fatia yang awalnya sudah tersenyum lebar segera redup senyumannya itu. Ia tidak menduga jika pria yang pedekate dengannya akan memberikan tugas kepadanya yang cukup berat.


Fatiah melototkan matanya saking terkejutnya mendengar perkataan dari Gazzhal.


"Apa!! Bagaimana caranya saya membantu mereka bapak Gazzhal yang terhormat! Menyentuh pisau dan panci saja kagak pernah apalagi masak!" Sanggah Fatia.


Aku sudah yakin kamu akan menentang dan menolak keputusanku ini. Karena aku sudah tau jika kamu tidak tau masak. Walaupun sebenarnya aku sangat bahagia, karena kamu ikut bergabung denganku.


Gazzhal tersenyum smirk menanggapi perkataannya dari Fatiah,"Whenever!"


Beberapa panitia pelaksana yang melihat pertengkaran mereka hanya mampu berbisik-bisik tetangga saja.


"Sepertinya mereka ada dendam pribadi! Lihat saja Pak Gazzhal yang irit bicara dan terkesan cuek itu malah meladeni perkataannya perempuan cantik itu."


"Iya betul pake banget apa yang kamu katakan, aku juga setuju kalau masalah itu," bisiknya yang satunya.


"Kalian bertiga bukan waktunya untuk bergosip! Kalian bubar dan kembali bekerja! Kalian disini digaji bukan untuk bergibah!" Sarkasnya Gazzhal yang langsung membuat semua orang bubar.


Fatiah tidak punya pilihan lain selain menyetujui persyaratan dari Gazzhal,ia hanya menghentakkan kakinya ke atas aspal saking jengkelnya dengan sikap dari sahabatnya itu.


Ya Allah kenapa meski aku harus bertemu dengannya! Pria keras kepala dan egois itu! Kenapa sifatnya bertolak belakang dengan ketika kami saling chating atau telponan?


Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya Fatiah sambil terus melangkahkan kakinya dengan mulutnya yang terus komat kamit bagaikan Mbah dukun yang baca mantra.


Nofal dan Ihbar yang melihat apa yang dilakukan Fatiah hanya tertawa terbahak-bahak melihat sikap dan tingkah lakunya perempuan dewasa yang lebih mirip anak usia tujuh tahun yang merajuk.


Sedangkan di tempat lain…


Fayyad yang baru saja menginjakkan kakinya di perusahaannya setelah melakukan perjalanan bisnis selama beberapa hari di luar negeri. Matanya melihat seorang perempuan dengan tatapan matanya yang mencemooh dan memandang rendah wanita yang dulu pernah menjadi teman dan partner pasangan hidupnya itu selama kurang lebih lima tahun.

__ADS_1


"Pak Robert kenapa bisa ada pengemis yang menginjakkan kakinya di depan perusahaanku!" Cibirnya Fayyad.


Pak Robert Downey yang mendengar teriakannya dari pemilik perusahaan segera bertindak cepat.


"Tolong Mas Fay, aku mohon kasihanilah aku. Aku tidak punya uang untuk makan sekali saja.. aku juga tidak punya tempat tinggal lagi," ratapnya Daniah perempuan yang berpenampilan lusuh layaknya tunawisma saja.


Fayyad menghempas tangannya Dania dari ujung jasnya itu kemudian segera mengambil hand sanitizer kemudian membersihkan seluruh tangannya itu dari bekas pegangan tangan Dania.


Bahkan Fayyad langsung menyemprot seluruh pakaiannya dengan semprotan pembersih seolah Fayyad takut tubuhnya terinfeksi virus yang dibawa oleh Daniah sang mantan istri.


"Bukannya aku memberikan kamu harta gono-gini yang banyak beserta rumah yang kamu minta? Kenapa bisa hidupmu melarat seperti saat ini!" Dengusnya Fayyad yang mundur beberapa langkah seolah Dania akan memindahkan kuman penyakit menular padanya.


Fayyad terlalu jijik melihat Daniah berada di depan matanya itu, sedangkan Pak Robert memegangi Dania agar tidak bertindak anarkis dan liar.


"Semua hartaku dibawa kabur oleh Damar hingga aku tidak memiliki sepeserpun uang untuk makan saja kagak ada, apalagi untuk menyewa kontrakan," balas Dania yang sudah menitikkan air matanya.


Semoga saja berhasil untuk membujuknya, aku tidak peduli dengan tatapan menghina dari orang-orang yang paling penting aku dapat uang itu saja sudah cukup.


Fayyad hanya tersenyum penuh arti mendengar perkataan dari Dania,"maafkan aku tidak bisa memberikan kamu uang. Kamu bebas dari jeratan hukum saja kamu sudah bersyukur dan beruntung." Fayyad melempar ke wajahnya Dania tissue bekasnya.


Semua orang tertawa mengejek melihat ketidakberdayaan yang dialami oleh Dania yang dulunya sangat songong, sombong dan angkuh itu.


"Aku berbelas kasih padamu tidak melaporkan kau ke pihak berwajib atas kejahatan yang kamu lakukan terhadapku dan kepada Sabiyah istriku! Itu sudah keberuntungan yang luar biasa kamu dapatkan! Jadi tolong jangan pernah muncul di hadapanku lagi jika tidak aku bisa berubah pikiran!" Ancamnya Fayyad Albiruni Haris.


Dania tubuhnya luruh ke atas lantai keramik saking terkejutnya mendengar perkataan dari Fayyad. Air matanya semakin beranak sungai membanjiri wajahnya tirusnya itu.


Sedangkan di area perkemahan musim panas…


Sabiyah yang baru saja selesai dari toilet berjalan ke arah ruangan khusus ketua yayasan summer camp itu. Tapi, langkah kakinya terhenti ketika mendengar seruan dari seseorang yang memanggilnya dengan sebutan Mama.


"Mamah!"

__ADS_1


Sabiyah menolehkan kepalanya ke arah anak kecil yang memakai baju kaos oblongnya berwarna hijau itu seperti warna kesukaannya.


__ADS_2