Terpaksa Menjadi Orang Ketiga

Terpaksa Menjadi Orang Ketiga
Bab. 27. Kegiatan Pagi Hari


__ADS_3

Setelah berjuang memasak makanan ala kadarnya khusus untuk suaminya itu, Sabiyah segera memplating ayam goreng tepung dengan mie goreng seafood buatannya ke atas piring khusus.


"Alhamdulillah masakannya sudah jadi, saatnya ditaruh di atas meja," cicitnya Sabiyah.


Baru sepersekian detik saja Sabi menyimpan masakannya di atas meja makan, tiba-tiba tangan kekar seseorang melingkar di pinggang rampingnya Sabi.


Fayyad memeluk tubuhnya Sabiyah sambil menyandarkan dagunya di pundaknya Sabi yang kala itu tidak memakai hijabnya.


"Abang yakin masakannya pasti enak, dari wanginya saja sudah tercium kelezatannya," pujinya Fayyad yang bukannya menyentuh makanan tetapi malah menyentuh sebongkah batu empuk dan kenyal.


Sabiyah merasakan kegelian, karena ulahnya Fayyad. Dia tanpa sengaja melihat Bi Nurmala yang langsung memalingkan wajahnya ketika melihat adegan pengantin baru itu.


"Bang, ada bi Nurmala enggak enak dilihatnya," lirihnya Sabia.


"Biarkan saja bi Nurmala melihat kita, lagian kalau mau pasti akan mengajak pak Hidayat suaminya," balasnya Fayyad.


Bibi Nurmala bergegas cabut dan angkat kaki dari dalam area dapur," ya Allah gini nih jadinya kalau pengantin baru, dimanapun selalu dijadikan tempat untuk anu.." bi Nurmala tidak ingin berlama-lama melihat kemesraan kedua pasutri itu.


"Tapi,bang lihat jam sudah pukul delapan lewat, pakaiannya Abang juga sudah berganti pakaian kantor,masa gitu dengan pakaian seperti ini," tolaknya Sabiyah dengan halus.


Fayyad sama sekali tidak peduli dengan perkataannya Sabiyah, bahkan tangannya semakin nakal dan menjalar kemana-mana hingga menelusup kebagian terdalam pakaiannya Sabiah.


"Ahh! Hemph," lenguhannya Sabi yang segera menutup mulutnya saking malunya mengeluarkan perkataan seperti itu.


Fayyad mengangkat tubuhnya Sabiyah ke atas meja makan,ia segera mee luuu maaat bibir mungilnya Sabiah tanpa ampun dan jeda. Ia seperti orang yang kelaparan saja. Fayyadh tidak peduli dimana dia berada.


Mereka sama-sama merasakan kenik*atan yang tiada tara, walau hanya baru saja pemanasan yang mereka lakukan. Sabiyah melingkarkan kedua kakinya ke atas pinggangnya Fayyad hingga seperti dalam posisi yang digendong.


Tangannya melingkar dengan erat di lehernya Fayadh, sedangkan Fayyad semakin memperdalam ciumannya itu. Lidahnya saling membelit dan berbagi saliva. Hingga pasokan udara di sekitarnya seperti sudah kehabisan stok udara segar. Keduanya pun segera mengakhiri kegiatannya.

__ADS_1


Sabiyah menundukkan kepalanya ke arah bawah tepat ke dada bidangnya Fayyad suaminya. Fayyad yang melihat reaksinya Sabiah sungguh tersenyum simpul menanggapi sikapnya Sabi yang malu-malu.


Fayyad menangkupkan tangannya ke dagunya Sabi," entah kenapa Abang tidak bisa mengontrol diriku ini setiap kali melihatmu. Abang bingung dengan perasaanku sendiri. Pesonamu membuatku tergila-gila pada apa yang kamu miliki,"


Sabiah membelalakkan matanya saking terkejutnya mendengar perkataan dari suaminya itu.


"A-pa Abang Fay jatuh cinta padaku?" Tanyanya Sabi dengan polos.


Fayyad hendak menjawab pertanyaan dari Sabiyah, tapi ponselnya yang berada di saku celananya bergetar dan berdering. Fayyad megambil ponselnya itu dan melihat siapa orang yang telah berani menganggu kenyamanan dan kebahagiaannya.


Kenapa disaat seperti ini, dia nelpon?


Fayyad kesal dengan ulahnya Daniah yang sejak semalam selalu menelponnya tanpa henti.


Sabiyah menautkan kedua alisnya melihat sikapnya Fayyad yang bukannya mengangkat telponnya itu malahan menekan tombol power merah.


"Abang, kenapa telponnya Mbak Dania nggak diangkat?" Tanya Sabiyah dengan keheranan.


Fayyad mengendong tubuhnya Sabiyah yang kecil itu tapi, cukup jangkung dan tinggi sehingga Fayyad jika ingin mengecup bibirnya Sabiah tidak perlu kesusahan berbeda dengan postur tubuhnya Daniah yang lebih pendek dari Sabiah.


Fayyad kemudian duduk di kursi setelah menurunkan tubuhnya Sabiyah. Sedangkan sang istri, masih tidak percaya jika kakak sepupunya itu mendapatkan perlakuan seperti itu dari suami mereka.


Kenapa Abang Fay tidak mengangkat telponnya Mbak Dania. Kalau seperti ini, aku berasa aku sengaja menghalangi hubungan mereka saja.


Sabiyah mengambil sebuah piring kemudian mengisi makanan ke atas piring itu, seperti nasi, ayam goreng serta sambal ke atas piring kecil khusus untuk wadah sambal bersama dengan sayuran lalapannya.


"Stop! Sudah banyak Yang," Fayadh menghentikan tangannya Sabiyah.


Sabiyah ikut duduk dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Fayyad makan dengan lahapnya untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Padahal biasanya pagi gini, hanya makan makanan ringan saja, tetapi hari ini semuanya jelas berbeda dengan kebiasaannya selama hidupnya.

__ADS_1


Fayyad menatap ke arah istrinya," apa kamu semua yang memasaknya?" Tanyanya Fayyad yang masih melanjutkan acara makannya dengan serius.


Sabiyah nampak mulai panik dan ketakutan,"Apa rasanya tidak enak yah Bang, apa kelebihan micin, garam atau terlalu kepedisan yah?" Tebaknya Sabiah dengan asal.


Fayyad hanya tersenyum sekilas kemudian melanjutkan kunyahan makanannya itu tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya. Sehingga membuat Sabiyah penuh dengan tanda tanya besar dalam benaknya.


Sabiyah enggan untuk memulai makannya karena dia mulai mencemaskan hingga menunggu jawaban dari suaminya itu. Jari jempolnya Fayyad naik tanpa berbicara karena mulutnya penuh dengan masakan.


Sabiyah yang mengerti dengan arti dari tanda yang diberikan oleh Fayyad tersenyum lebar.


"Alhamdulillah kalau Abang menyukai masakanku yang hanya menu sederhana saja," balasnya Sabiyah.


Fayyad menatap ke arah istrinya yang hanya memandangi wajah suaminya tanpa berniat makan.


"Mulai hari ini, jika Abang punya waktu luang dan berada di sini kamu yang harus masakin Abang bukan orang lain." Pintanya Fayyad yang kembali menuangkan nasi ke dalam piringnya.


"Seriusan Abang menyukai masakanku ini? Kalau Abang menyukainya saya akan masakin setiap kali abang kesini," ucapnya dengan sumringah Sabiah.


"Apa kamu enggak mau makan, hanya menatap Abang saja? Kamu harus makan banyak agar kamu sehat dan tubuhmu lebih berisi. Karena aku tidak ingin istriku terlalu kurus karena kamu sehat otomatis kamu juga akan segera hamil," imbuhnya Fayyad.


Sabiyah yang mendengar perkataan dari suaminya itu yang membahas masalah anak membuat hatinya mencelos saking sedihnya mendengar perkataan itu.


Ya Allah ternyata bang Fay sama sekali tidak mencintaiku. Pantesan saja dia sangat perhatian dan memanjakanku karena semata-mata demi keturunan bukan karena cinta.


Sabiyah diam-diam menghela nafasnya dengan cukup perlahan, agar embun dipelupuk matanya tidak menetes membasahi pipinya itu.


Sabiah segera memulai menyantap makanannya itu tanpa suara lagi. Dia sedikit kecewa karena sudah berharap besar jika suaminya telah mencintainya.


Keduanya sungguh menikmati sarapan pagi berdua dengan sesekali bersenda gurau bersama. Hingga kedatangan seseorang di dalam dapurnya membuat keduanya saling bertatapan satu sama lainnya dan tidak menyangka jika mereka akan kedatangan tamu pagi-pagi itu.

__ADS_1


"Wooo sepertinya kedatanganku tepat banget nih, apa aku bisa bergabung makan dengan pengantin barunya?" Tanyanya orang yang baru saja tiba.


Sabiyah mulai ketakutan, panik dan cemas melihat orang itu.


__ADS_2