
Daniah marah, kesal dan benci melihat begitu banyak barang-barang branded original yang dibelikan khusus untuk Sabia oleh suaminya itu.
"Aku sama sekali tidak menyangka jika mas Fayyadh ternyata memberikan semuanya dengan cuma-cuma seperti yang aku dapatkan selama ini." Dania beberapa memukul-mukul setir mobilnya itu.
Kemudi mobilnya menjadi sasaran empuk untuk melampiaskan kekesalannya kepada sikap suaminya yang baginya itu terlalu berlebih-lebihan dalam memperlakukan Sabiyah madunya.
"Seharusnya mas Fay membelikan barang yang tidak perlu semahal itu juga. Tapi, aku tidak akan tinggal diam, aku akan meminta penjelasan kepada mas Fay atas semua ini!" Geramnya Daniah yang segera melajukan mobilnya menuju ke perusahaan suaminya berada.
"Bagaimana dengan barang-barang yang aku belikan untukmu, apakah kamu menyukainya?" Tanya Fayyad yang sangat ingin mengetahui apa Sabi menyukai semua pemberiannya.
Fadel Muhammad yang menyetir mobil terheran-heran sekaligus penasaran dengan orang yang sedang ditelpon atasannya. Diam-diam Fadel memperhatikan apa yang dibicarakan oleh majikannya dengan tetap fokus mengendarai mobilnya itu.
Siapa sebenarnya wanita yang ditemani bicara oleh tuan muda Fayyad, bukannya kalau Nyonya muda Danish tidak akan pernah mengucapkan salam sebelum memulai percakapan keduanya.
Fadel tidak ingin rasa ingin tahunya itu ketahuan oleh bosnya sekaligus teman terbaiknya yang sungguh berjasa dalam karir masa depannya selama ini.
Kalau bukan nyonya Dania, siapa? Aku semakin kepo dengan kehidupan pribadi sahabatku ini. Apa jangan-jangan tuan muda sudah memiliki selir di luar sana, karena nyonya Dania tidak kunjung hamil juga.
Aku sepertinya akan menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi selama kepergian keduanya ke Pulau Dewata Bali beberapa hari lalu. Entah kenapa, aku merasa itu ada kaitannya dengan orang yang sedang diajaknya berbicara.
"Makasih banyak atas hadiahnya sungguh kalau boleh jujur, ini pertama kalinya aku kembali mendapat hadiah semenjak kedua orang tuaku meninggal dunia." Sabi menjeda perkataannya itu karena tiba-tiba ada embun dipelupuk matanya itu yang siap menetes menjadi air mata.
Fayyad mendengarkan perkataannya dari istri barunya dengan seksama dan menautkan kedua alisnya dan tidak menyangka jika nasibnya Sabi seperti ini.
"Sa-ya sa-ngat menyukainya Pak Fay, bahkan semua ini sungguh sangat banyak. Karena yang ada di dalam lemari pakaianku saja belum kepakai semua," ucapnya Sabi yang terbata dan tidak enak hati dengan pemberian suaminya itu.
__ADS_1
Sabiyah cukup terharu dengan perhatian yang diberikan oleh suaminya padanya. Bahkan masih terheran-heran karena, awalnya mereka bertemu sekitar empat hari lalu, sikapnya Fayyad sungguh jauh berbeda dengan hari ini.
Ya Allah apa yang terjadi pada pak Fay, tidak seperti biasanya yang berbicara ketus dan kasar padaku. Melainkan hari ini bagiku sungguh sangat berbeda dengan biasanya.
Sabiyah diam-diam menyeka air mata terharunya dengan perlakuan istimewa yang didapatkannya.
Ya Allah entah sampai kapan kebaikan dan perlakuan baik ini aku dapatkan. Aku merasa menjadi egois jika aku berharap selamanya dalam sisa hidupku mendapatkan kasih sayang dari pak Fay walaupun hanya sekedar alasannya agar mendapatkan calon keturunan dariku saja.
Ini anak terbaru juga dan sepertinya menangis tersedu-sedu gara-gara hadiah spesial yang aku berikan padanya.
Apakah ini seriusan ataukah hanya sekedar akting saja, agar aku semakin simpatik dan jatuh cinta pada pesonanya.
Sabiyah menutup mulutnya supaya Isak tangisannya tidak terdengar hingga ke telinga suaminya itu, ia tidak ingin mendapatkan perkataan kasar jika ketahuan menangis.
Sebegitu terharunya dirimu kah dengan mendapat barang-barang yang sewajarnya kamu dapatkan sebagai Istriku.
"Baguslah kalau kamu menyukainya, kalau gitu aku tutup dulu telponnya, aku tidak ingin supirku terus mencuri dengar apa yang sedang kita bicarakan!" Sarkasnya Fayyad yang membuat Fadel salah tingkah dan terbatuk karena ketahuan menguping.
Berselang beberapa menit kemudian, Fayyad baru saja sampai di dalam kantornya. Fayyad baru saja hendak mendudukkan bokongnya ke atas kursi kebesarannya itu, bersamaan dengan kedatangan adiknya.
Fayyad menyambut kedatangan adiknya itu dengan tatapan matanya menelisik. Fayyad hendak memeriksa tabnya apa yang sedang dilakukan oleh istrinya setelah menelponnya.
"Selamat malam Bang Fay," sapanya Fatia.
Awalnya Fayyad cukup terkejut melihat kedatangan adik bungsunya itu di dalam kantornya. Tetapi, segera dienyahkan pikiran tidak baik itu.
__ADS_1
"Tumben sore gini kau mengunjungi kantorku," Fayyad segera mematikan layar tabnya dan tidak jadi melihat apa yang sedang dilakukan oleh istri kecilnya itu.
Fatia menghempaskan bokongnya ke atas kursi yang tepat berhadapan dengan meja kerja kakaknya itu.
"Aku hanya kemari…" ucapannya terpotong dengan melirik sekilas ke arah Fadel.
Sedangkan Fadel Muhammad yang ditatap seperti itu segera mengerti dengan arti tatapan dari Nona mudanya. Ia bergegas meninggalkan ruangan pribadi milik atasannya.
Setelah kepergian Fadel pintu itu kemudian tertutup rapat, Fayyad mengunci rapat pintu itu menggunakan remote control yang dipegangnya, karena melihat gerak geriknya Fatiah yang seperti ada sesuatu hal yang sangat penting ingin disampaikan oleh adiknya itu.
"Hemph, Bang Fayyad ke Makassar terus ke Bali itu sebenarnya…," ucapannya segera disela oleh Fayyad yang sudah paham betul apa yang ingin disampaikan oleh Fatiah.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan pada Abang! To the poin saja tidak perlu mengorek informasi dan ingin mencampuri urusannya Abang atau kamu akan tinggal selamanya di daerah tanpa uang sepeserpun dariku!" Ancamnya Fayyad yang sangat lihai menyimpan rasa gugupnya dan takutnya karena rahasianya telah ketahuan.
Fatiah spontan berdiri dari duduknya itu dan berjalan ke arah rak buku yang terdapat di sudut ruangan itu yang berdiri kokoh.
"Hahaha, Abang memang terbaik! Aku sebenarnya tanpa sengaja melihat Abang dengan wanita mandul itu berada di bandara dan aku mencari tau Abang dan Mbak Dania berangkat ke mana," Fatimah berhenti sesaat untuk berbicara seolah sedang membaca salah satu koleksi buku Fayyad.
"Aku menyogok pegawai di airport itu untuk mengetahui kakakku yang paling ganteng dan digandrungi banyak perempuan tapi, sayangnya cinta mati terhadap perempuan mandul itu dan akhirnya aku mendapatkan informasi kalau Abang ke Makassar kemudian berangkat ke Bali untuk melangsungkan…" perkataannya kembali terjeda karena ucapannya Fayyad.
"Stop! Abang sudah paham dengan arah pembicaraanmu, Abang hanya minta padamu rahasiakan apa yang kamu ketahui jika tidak Abang bisa bertindak disipilin padamu seperti yang terjadi pada Fatimah!" Gertaknya Fayyad yang tidak menduga jika adik bungsunya mengetahui rahasia besarnya itu.
"Aku tidak menginginkan uangnya Abang,tapi hanya meminta restu dari Abang untuk mengijinkan aku menikah dengan Mas Daniel saja dan kedua aku ingin berkenalan dan dekat dengan istri keduanya Abang itu saja," Fatiah tersenyum simpul sebelum kembali duduk di hadapan kakak sulungnya itu.
Fayad mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari adiknya itu yang tujuannya bukan karena uang hanya saja meminta ijin untuk menikah dan dekat dengan Sabi.
__ADS_1
"Apakah ini transaksi barter denganku yang kamu ajaukan?" Tanyanya Fayyad seraya memainkan tabnya.