
Fayad bergegas menuju ke mall untuk melanjutkan pekerjaannya dengan sidak yang sudah mereka rencanakan sebelum-sebelumnya.
Fayad duduk di jok kursi belakang dan kemudian kembali mengambil tabnya untuk melihat apa yang selanjutnya terjadi di dalam rumahnya dengan kedua istrinya.
Farhat sesekali mengamati apa yang dilakukan oleh atasannya itu dari balik kaca spion mobilnya yang dikemudikannya.
Apa yang terjadi padanya? Tumbenan wajahnya tidak seserius biasanya akan terlihat kaku, dingin dan senyuman yang begitu langka dan mahal.
Tetapi hari ini, hanya melihat benda berbentuk seperti persegi empat itu, mampu membuat suasana hatinya berubah-ubah seperti orang yang sedang kasmaran saja.
Tidak mungkin kan dia puber kedua, tapi itu wajar terjadi mungkin kalau sudah punya istri. Berbeda dengan nasibku yang masih betah menjomblo. Andaikan Silvia menerima cintaku, hidupku tidak bakalan sesepi ini.
Perdebatan pun berakhir setelah Sabiah menatap ke arah bi Nurmala yang sedari tadi menggelengkan kepalanya itu untuk meminta Sabiah berhenti berdebat.
"Aku sepertinya salah memilih untuk datang berkunjung ke rumahmu, besok-besok jika aku kembali datang ke sini! Aku tidak ingin ada kejadian seperti ini terulang kembali seperti apa yang terjadi barusan!" Ancam Daniah.
Sabi masih tidak habis pikir dengan sikapnya kakak sepupunya yang sangat jauh berbeda dengan ketika mereka masih tinggal bersama di kampung halaman mereka di Makassar Sulawesi Selatan.
"Iya Nyonya Muda Daniah,kami berdua tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi," sesalnya pak Hidayat.
"Dan kamu Sabiyah Badiah Laika kamu itu istri siri dari mas Fayadh Albiruni Haris jadi tolong jaga sikap dan perilakumu. Berperilaku lah seperti layaknya Nyonya Muda bukan seperti pembantu saja!" Ketus Daniah sebelum meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
"Tapi, Mbak apa ruginya dan salahnya jika makan bersama dengan mereka? Bukannya mereka juga sama seperti kita semua dimatanya Allah SWT yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya adalah amal ibadahnya bukan karena jabatan, kedudukan ataupun harta kekayaan yang dimilikinya," Sabiah berucap menentang persepsi dari Daniah.
Sabiah hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari kakak sepupunya itu tanpa berniat untuk berdebat karena dilarang dan dicegah oleh bibi Nurmala Sari.
"Kenapa hanya masalah kecil dan sepele saja dibesar-besarkan Mbak, ini kan rumahku sendiri bukan rumahnya Mbak ataupun milik orang lain, jadi Mbak tidak perlu repot-repot membuang waktu dan tenaga untuk menghina dan memarahi pak Hidayat dan bi Nur!" Sanggah Sabiah.
Daniah cukup terkejut mendengar perkataan dari Sabiah yang berani menentang keputusannya dan ucapannya.
"Andaikan aku bisa hamil anak suamiku,mana mungkin aku menginginkanmu menjadi istri siri suamiku. Amit-amit dan tak sudi aku berbagi suami dengan perempuan lain! Apalagi dengan gadis kampungan dan tidak berpendidikan tinggi sepertimu jelas-jelas kita tidak selevel!" Cibirnya Daniah Najida yang menatap mencemooh ke arah Sabiyah.
Daniah segera melenggang pergi meninggalkan rumahnya Sabiah dengan amarah yang menggebu-gebu di dadanya itu.
Sabiyah tidak menduga jika kakak sepupunya yang sudah dianggap kakak kandungnya sendiri berkata kasar seperti itu.
Pak Hidayat dan bibi Nurmala sungguh tak menyangka jika menantu kelurga besar terpandang dan terhormat memiliki menantu yang tata krama dan kesopanannya yang dimiliki sungguh sangat rendah.
Mereka tidak pernah satu rumah dengan mereka, bahkan sejak Tuan Mudanya menikahi Daniah mereka tinggal terpisah dengan keluarga besar Haris Chandra.
"Maafin kami Nya, ini semua gara-gara kami sehingga Nyonya dihina dan dimarahi oleh nyonya Dania," bibi Nurmala sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi.
Sabiyah berusaha untuk tersenyum walau hatinya sangat risau dengan apa yang barusan terjadi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok Bi, bibi bersihkan meja dapurnya saya mau ke kamar dulu," tuturnya Sabiah.
Daniah menghentakkan kakinya menuju ke arah luar dengan tatapan matanya yang tajam terarah ke Sabiyah,"Sial!! Sabiyah anak ingusan itu sudah mulai berani menentang apapun yang aku putuskan. Kalau seperti ini aku akan lebih keras dan disiplin padanya karena aku tidak ingin semakin melunjak dan mengancam posisiku sebagai istri sahnya Mas Fayad."
Untungnya Fayyad memasang cctv kecil tanpa sepengetahuan dari siapapun sehingga mengetahui apa yang terjadi di dalam rumahnya tanpa ada yang mencurigai apa yang telah dilakukannya.
"Cukup menarik, Dania akhirnya mendapatkan saingan yang pantas,"
Berselang beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Fadel Muhammad bersama dengan Fayyad telah sampai di parkiran khusus pemilik dan petinggi mall.
Fayad berjalan menyusuri setiap lantai mall terbesar yang ada di ibu kota Jakarta. Dia mengamati setiap aktifitas dari orang-orang bekerja bersamanya dan pengunjung mall.
Hingga tatapan matanya tertuju pada sebuah toko pakaian yang menjual beberapa pakaian dinas perempuan. Ia awalnya ragu dan bimbang untuk masuk ke dalam, tapi ia cukup tertarik dengan sebuah stelan pakaian dinas malam berwarna merah.
Fadel Muhammad Alfikri yang terus mengekor kemanapun perginya atasannya itu hanya mengernyitkan dahinya melihat sikap pria yang berusia tiga puluh tahun yang tidak pernah dilakukannya selama hidupnya Fayyad.
"Tolong bungkuskan beberapa model dan warna yang berbeda-beda," titahnya Fayad.
Pegawai toko itu mengenali Fayad sehingga ia sedikit takut melayani permintaan dari Fayad di dalam toko pakaiannya.
"Apa semua warna Tuan Muda dan kalau boleh tau ukurannya apa?" tanyanya perempuan itu.
__ADS_1
Fayyad menatap perempuan itu terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan," seukuran dengan kamu saja dan ingat aku ingin semua model dan bahan terbaik yang kalian miliki dibungkus dengan rapi dan antar segera ke alamat ini," perintah Fayad sambil memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat rumah.
Fadhel terus menduga apa yang sebenarnya terjadi," apa semua ini untuk Nyonya Daniah Najida?"