
Fatiah yang masih memegangi centong nasinya begitu terkejut mendengar perkataan dari Ihkbar.
"Apa yang kamu katakan barusan apakah kamu tidak berbohong ataukah aku yang salah dengar?" Tanyanya balik Fatiah yang ingin memastikan apakah pendengarannya salah atau memang benar adanya.
"Aunty Fatiah yang cantik nama bunda kami itu adalah…" ucapannya Orlin terpotong ketika tiba-tiba seseorang berteriak memanggil namanya Nofal.
"Noval putraku!" Teriak seorang pria yang berjas lengkap masuk ke dalam area makan peserta perkemahan.
Semua orang reflek mengarahkan pandangannya ke arah kedatangan pria itu, betapa terkejutnya Ikhbar dan Orlin ketika melihat dengan jelas wajah dari pria yang barusan datang.
"Ayah," cicitnya keduanya secara bersamaan.
Orlin segera mengambil selembar foto dalam tas selempang kecilnya yang selalu dipakainya kemanapun perginya. Ikhbar memperhatikan apa yang dilakukan oleh adiknya itu dengan seksama.
Orlin memperlihatkan selembar foto yang dicarinya sedari tadi," Abang itu benar ayah kita pak Fayyad Albiruni Haris."
Ikhbar spontan ingin bangkit dari posisi duduknya itu, setelah melihat dengan jelas dan membandingkan wajah asli dengan yang ada di dalam foto yang dipegang oleh Orlin adiknya.
Ikhbar langkahnya tertahan ketika ia hendak pergi, ia menolehkan kepalanya ke arah adiknya itu.
"Kenapa?" Tanyanya Ikhbar.
Orlin menarik tangan kakaknya itu agar segera duduk kembali seperti semula.
"Kita harus menyelidiki lebih baik sebelum kita menemui ayah. Ini bukan waktu yang tepat." Cicit Orlin tepat di telinga kakaknya.
Fatiah yang masih ingin mengintrogasi kedua anak kembar yang sejak kedatangannya membuatnya tertarik dengan sejuta daya tarik yang dimiliki oleh Orlin terutama.
"Papa!" Teriaknya Nofal yang segera berlari berhamburan kedalam pelukan pria jangkung yang disapa papa itu.
Orlin dan Ikhbar menatap keheranan dan kembali terkejut mendengar perkataan dari musuh bebuyutannya itu.
__ADS_1
"Dek, apa dia saudara kita?" Tunjuknya Ikhbar sambil melayangkan pertanyaan yang sungguh membuatnya keheranan.
"Ini tidak mungkin! Apa jangan-jangan ayah menikah lagi setelah berpisah dengan Bunda?" Orlin tidak bisa menyembunyikan raut wajah keterkejutannya itu.
Fayyad memeluk tubuh putranya itu dengan hangat dan erat, perasaannya yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya selama mengadopsi Nofal.
Tetapi, hari ini semuanya berbeda dia sungguh bahagia mendapatkan pelukan dari putranya itu seolah-olah wajah istrinya terbayang di pelupuk matanya saja.
"Papa, kenapa datang ke sini? Katanya Oma Widya, Papa masih di Seoul Korea Selatan, minggu depan baru balik ke Jakarta."
Noval masih memeluk tubuhnya papanya yang membungkuk sedikit untuk menyamakan posisi tingginya.
"Demi putranya Papa, balik secepatnya ke Indonesia dan setelah papa mengetahui kamu ada di sini papa segera ke sini untuk menengok putraku." Imbuhnya Fayyad.
Jadi kami adalah saudara sebapak, tapi kenapa bisa serba kebetulan seperti ini. Padahal dia adalah musuhku.
Apakah akan berubah alurnya musuh menjadi saudara seayah kah?
Ya Allah kalau ayah mengetahui keberadaan kami, apakah dia juga akan menyayangi kami?
Tapi, bagaimana dengan bunda? Kalau ayah sudah menikah lagi berarti pupus sudah harapan kami untuk menyatukan kembali kedua orang tua kami.
Keduanya tertunduk lesu saking sedih dan kecewanya mengetahui kebenaran yang terpampang jelas di depan matanya itu. Fatiah yang menolehkan kepalanya ke arah ke belakang, tanpa sengaja melihat mimik wajah kecewa dan sedihnya kedua anak kembar super jahil dan pintar itu.
"Kenapa kakak enggak ngomong kalau mau datang? Kan bisa kami sambut kedatangannya," gurauannya Fatiah.
Fayyad berdiri tegak sambil terkekeh mendengar perkataan dari adik bungsunya itu.
"Bersiaplah Fatiah, kamu akan segera bertemu dengan kakak iparmu Sabiyah yang sudah lama berpisah dengan kita," ucap Fayyad dengan penuh keyakinan.
Fatiah yang mendengar perkataan dari kakaknya itu begitu gembiranya sampai-sampai melupakan, apa yang sedari tadi ingin disampaikan mengenai kedua anak kembar yang mengatakan dirinya adalah anak kandungnya Sabi kakak iparnya.
__ADS_1
"Dimana kita bisa menemui Mbak Sabi?" Tanyanya Fatiah dengan antusias.
Noval yang mendengar perkataan dari papanya itu ikut menimpali pembicaraan papa dan Auntynya. Sedangkan anak-anak yang lainnya tertib kembali kedalam kamar peristirahatan mereka semua. Sedangkan Orlin dan Ikhbar bersembunyi di balik tembok kokoh yang menghubungkan dapur dengan ruang tempat makan. Keduanya sejak tadi, diam-diam memperhatikan apa yang mereka bicarakan.
"Apa! Mama Sabi ada dimana Pah?" Tanyanya Nofal yang tidak sabar menunggu jawaban papanya sehingga menggoyang-goyangkan tubuhnya Fayyad.
"Besok pagi kita akan menemuinya, karena sekarang sudah larut papa akan mencari hotel untuk menginap yang dekat dari perkemahan kalian," ujarnya Fayyadh.
"Kenapa meski harus repot-repot untuk mencari penginapan di luar sana? Jika disini tersedia tempat yang cukup nyaman untuk donatur tetap kita Tuan Muda Fayyad Albiruni," sahutnya seorang pria yang kira-kira usianya lebih muda dari Fayyad.
Fayyad dan keduanya menoleh ke arah sumber suara, Fatiah tersenyum simpul menyambut kedatangan kekasihnya itu yang baru mengatakan cinta sehari yang lalu.
"Betul sekali apa yang dikatakan pak Gazzhal benar sekali, Papa bisa tidur di kamarku saja," usulnya Nofal yang memang sudah merindukan kehadiran papanya itu.
"Nofal sayang, kalau di kamar kamu, enggak muat nak. Mau dikemanakan kelima temannya yang lain? Jadi pilihan yang terbaik adalah papa nginapnya di kamar sebelahnya Aunty, disana ada yang kebetulan masih kosong. Iya kan sayang?" Tanyanya Fatia seraya melingkarkan tangannya ke lengan kekarnya Zhal.
"Apa yang tidak mungkin untuk Tuan Muda Fayyad, pasti akan selalu tersedia kamar untuk Anda. Apalagi Anda adalah penyumbang dana terbesar di acara perkemahan musim panas tahunan yang diadakan oleh yayasanku," Gazzhal berujar.
"Abang benar sekali dugaan kita, kalau Nofal adalah saudara kita entah apa dia yang lebih muda ataukah kita yang tuaan dibanding dengan dia," ucapnya Orlin yang mengucapkan perkataannya dengan berbisik takut ada yang melihat jika dia sedang menguping.
"Berarti Tante Fatiah adiknya papa dek, alhamdulilah keluarga kita bertambah banyak kalau seperti ini," ucap Ikhbar dengan senang bukan main.
Orlin sedikit menarik tubuh kakaknya itu agar lebih berdekatan satu dengan yang lainnya.
"Aku ada ide untuk bertemu dengan Papa, malam ini kita harus menemui Papa dengan mengendap-endap ke kamarnya dan berbicara padanya tentang bunda Sabi. Aku yakin Papa akan terkejut dan bahagia setelah mengetahui jika kita juga anaknya," lirih Orlin.
"Tapi, dek aku takut gimana kalau papa memungkiri siapa kita sebenarnya ataukah tidak menginginkan kehadiran kita seperti yang ada di televisi di sinetron ikan terbang yang menganggap anak tiri adalah benalu dan pengganggu oleh mama sambung kita," balasnya Ikhbar yang mulai gelisah dan resah akan rencana adiknya itu.
"Kalau masalah itu urusan belakangan yang paling penting adalah kita bertemu dengan papa Fay terlebih dahulu masalah kita diterima atau ditolak itu urusan belakangan," Orlin segera mengikuti keempat orang itu yang sudah meninggalkan ruangan makan.
Tanpa sepengetahuan dari mereka semua, ternyata sejak lima hari yang lalu. Semua kegiatan dan aktifitas ketiga bocah itu terus diamati dan direkam dalam bentuk video maupun foto mereka yang langsung diambil.
__ADS_1
"Saya harus segera melaporkan segala sesuatunya yang terjadi disini. Saya yakin Nyonya Besar akan bahagia setelah mengetahui kebenaran ini."