
Fatiah sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi demi cinta dan masa depannya sehingga ia terpaksa harus melakukannya.
Maafkan aku bang, aku tidak sanggup hidup tanpa cinta dan kasih sayangnya mas Daniel. Memang kita dengan Mas Daniel berbeda dia hanya karyawan biasa saja, tetapi kami saling menyayangi dan mencintai.
"Benar sekali apa yang Abang katakan, aku sungguh menginginkan hal ini terjadi. Sebenarnya semua ini terjadi begitu saja tanpa terencana sebelumnya," Fatiah berucap.
Fayadh tidak memiliki pilihan yang terbaik dari menyetujui permintaan dari adiknya itu.
"Baiklah Abang yang akan bicara dengan papa, mama dan nenek semoga mereka setuju dengan permintaanku," imbuhnya Fayyad.
"Abang harus melakukannya jika tidak rencana kakak dengan kakak ipar baruku akan terekspos ke luar dan juga pernikahan kakak dengan perempuan mandul itu akan menjadi taruhannya!" Tegasnya Fatiah yang memainkan figura foto yang terdapat di atas meja kerjanya Fayadh.
Fayyadh ingin menimpali perkataan dari adik bungsunya, tetapi belum sempat mengeluarkan sepatah katapun ucapannya terhenti ketika ketukan pintu terdengar dari arah luar.
Fayyad melihat ke arah layar komputernya yang memperlihatkan wajah seseorang mengetuk pintu. Fayyad memasang cctv di sekitar pintunya untuk mengontrol siapa yang berhak memasuki ruangannya itu.
"Siapa bang?" Tanyanya Fatiah yang berusaha mendongakkan kepalanya ke arah layar komputer milik kakaknya.
Fayyad tidak membalas pertanyaannya adiknya hanya membuka pintu itu dengan menekan tombol power hijau saja untuk membuka pintu itu.
"Kenapa meski dikunci sih pintunya bukannya kalau aku datang mas Fay langsung membuka pintunya? Ini malah aku sudah lama menunggu tapi belum dibuka juga. Tapi ngomong-ngomong siapa yang berada di dalam sana?"
Dania misruh-misruh di depan pintu ruangan kerja suaminya itu, ia tidak terima jika diperlakukan seperti ini. Silvia yang melihat apa yang dilakukan oleh istri dari atasannya hanya menautkan kedua alisnya itu.
"Apa Bu Daniah sudah tidak waras sehingga melakukan hal semacam ini!" Cicitnya Silvia.
Fadel yang kebetulan berada tidak jauh dari tempatnya duduk Silvia tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan itu.
__ADS_1
Daniah yang melihat apa yang dilakukan oleh kedua asisten dan sekretarisnya Fayyad segera berjalan mendekati ke arah keduanya.
"Apa yang kalian tertawakan ha!! Apa aku ini seperti badut sehingga kalian tertawa seperti monyet!" Geramnya Dania.
Fadel Muhammad dan Silvia segera reflek menghentikan tawa keduanya. Mereka tidak menyangka jika Dania mendengar perkataannya padahal volume suara mereka sangat lirih.
Dania mengangkat jari tangannya itu tepat ke wajahnya Fadel secara bergantian dengan Silvia.
"Ingat posisi kalian di sini! Apa kalian lupa jika kalian itu hanya pesuruh suamiku ha! Jadi apa hak kalian menertawakanku!" Sarkasnya Daniah.
"Maafin kami Bu Daniah, kami tertawa bukan karena ibu Dania, tetapi ada yang menurut kami sangat lucu," kilahnya Fadel.
Fayyad dan Fatiah yang melihat istri dan kakak iparnya bertingkah seperti orang yang tidak berpendidikan segera menimpali percakapan mereka.
Fatiah tertawa terpingkal-pingkal melihat wajahnya Fadel dan Silvia yang ketakutan dan terlihat panik.
"Hahaha! Bukan tawa mereka yang seperti monyet Mbak, tetapi memang tingkahnya mbak Daniah yang mondar-mandir ke sana kemari yang lebih mirip simpanse kakaknya monyet!" Cibirnya Fatiah.
Dania berjalan ke arah Fayyad dengan melingkarkan tangannya ke lengannya Fayyad,"Mas Fay, kok sedari tadi aku ketuk pintunya tapi tidak dibuka? Padahal aku sedari tadi mengetuknya," ucapnya memelas dari Dania.
Fayyad segera melerai pelukannya Daniah dari tangannya itu," tolong stop bersikap seperti ini di depan umum, mas tidak menyukainya!" Ketusnya Fayyad yang membuat keempat orang yang berada di sana cukup terkejut.
Perkataan dari Fayyad mampu mengejutkan semua orang yang baru kali ini mendengar perkataan semacam itu. Daniah membelalakkan matanya saking terkejutnya mendengar perkataan dari suaminya itu.
"Mas Fay, ke-na-pa ngomong seperti itu? Ini kan wajar aku lakukan kan kita suami istri," sanggahnya Dania.
Fayyad hanya berbalik badan dan berjalan menuju ke arah dalam ruangan pribadinya itu, sedangkan Fatiah sebelum berpamitan dan cabut dari tempat itu, Fatiah menyempatkan waktu untuk berbicara dengan kakak iparnya ketika melihat pintu ruangan kerjanya Fayyad tertutup rapat.
__ADS_1
Fatiah melirik sekilas kepergian kakaknya itu sambil berjalan perlahan menuju ke arah Dania yang hendak meraih gagang pintu.
"Hey perempuan mandul bersiaplah posisimu tidak lama lagi akan tergeser dan digusur oleh perempuan yang bisa memberikan keturunan untuk kakakku," lirihnya Fatiah kemudian melenggang pergi dengan seringai liciknya terbit di sudut bibirnya itu.
Dania yang mendengar dengan jelas perkataan adik iparnya kaget mendengar perkataannya itu.
"Kenapa bisa dia berkata seperti itu? Apa jangan-jangan rahasia kami sudah diketahuinya! Ini bisa gawat jika ada yang sudah mengetahui rencanaku,"
Fadel Muhammad dan Silvia segera kembali ke kursi kerja masing-masing tanpa berbicara sepatah kata pun lagi. Daniah segera masuk ke dalam kantor suaminya itu.
Aku harus bermain cantik dan berhati-hati agar tidak semakin banyak yang mengetahui apa yang sudah kami lakukan bersama dengan Sabi. Apabila Mama Widya mengetahuinya bisa-bisa aku di tendang dan diceraikan oleh mas Fay tanpa sepeserpun harta kekayaannya.
Ia ingin bertanya mengenai hadiah yang sungguh banyak diterima oleh Sabiah yang memang sedari awal niat kedatangannya hanya untuk menanyakan hal tersebut dan meminta penjelasan sebelum melabrak Sabiah.
Daniah berjalan ke arah meja kerjanya Fayyad dan hendak ingin naik ke atas pangkuan suaminya itu. Tetapi, usahanya segera dicegah oleh Fayyad.
"Tolong jangan seperti ini lagi kedepannya! Mas kurang nyaman jika kamu bertingkah seperti anak-anak!" Ketus Fayyad.
Dania kembali tercengang mendengar perkataannya dari suaminya yang tidak pernah berkata kasar padanya apapun yang dilakukannya. Tetapi, hari ini semuanya terasa berbeda.
"Mas apa yang terjadi padamu!? Kenapa kamu perlakukan aku seperti orang asing saja!?" Tanyanya Dania yang meninggikan suara teriakannya.
Fayyad hanya menatap sekilas ke arah Dania yang marah dan tidak terima dengan ucapannya barusan.
"Sedari tadi aku sudah dibuat kesal dengan ulahnya Sabiyah yang begitu banyak hadiah yang mas berikan khusus untuknya, Fatiah dan kedua asistennya mas dan sekarang suamiku sendiri!?" Teriak Daniah yang mulai emosinya terpancing dengan situasi dan kondisi yang terjadi.
"Kamu selalu seperti itu! Perkataan candaan saja kamu masukkan ke hati dan membuatmu marah-marah hingga menghina orang lain. Aku minta padamu jangan terlalu baperan. Mengenai hadiah yang aku berikan kepada Sabiah itu sangat wajar aku lakukan karena dia juga istriku. Kalian berdua posisinya sama Du dalam hidupku! Lagian bukannya ini yang kau inginkan dari aku kan!?" Tanyanya balik Fayyad.
__ADS_1
"Tapi, Mas mereka sudah kelewat batas sehingga aku membalas perkataannya mereka berdua. apa aku salah membalas hinaan mereka? masalah Sabi, tidak salah sih tapi, kenapa meski barang-barang mahal segala kan banyak tuh pakaian yang dijual di pasar yang sesuai dengan statusnya Sabiyah!" cemooh Daniah.
Fayyad hanya memutar matanya dengan jengah mendengar perkataan dari istrinya itu yang sungguh tidak bisa ditolerir lagi.