
Kalau bisa aku tidak ingin Mas Fay sembuh untuk memudahkan aku melancarkan rencanaku dan juga bertemu dengan kedua brondongku Jhordi dan Damar.
Daniah berjalan kembali ke arah kamar VVIP perawatan dimana Fayyad berada. Ia sebenarnya bahagia, karena apa yang dilakukannya itu selama ini tidak akan ketahuan.
Kalau suamiku cacat seumur hidupnya ini semakin mempermudah proses rencanaku yang sudah berjalan beberapa langkah. Bahkan sudah terbilang sukses, karena Sabiah sudah pergi ke luar daerah sesuai dengan perintahku.
Aku sudah jamin dan pastikan kalau Sabiyah tidak bakalan datang, karena aku sudah mewanti-wantinya dan mengancamnya untuk tidak muncul lagi di hadapan kami.
Dania berjalan kembali ke arah kamar perawatannya Fayyad setelah berkonsultasi dengan pihak dokter RS yang menangani kesehatannya Fayyad.
Fayyad hampir saja meremas dan menghancurkan kertas itu,tapi segera diurungkan niatnya karena tidak ingin Dania curiga padanya.
Baiklah karena kamu yang duluan memulainya akan aku ladenin permainan kamu sambil mencari bukti bahwa kamu itu wanita jahat.
Aku hanya tidak habis pikir kenapa bisa aku jatuh cinta padamu. Kepada perempuan yang tidak patut menyandang status istri.
Fayyad yang mendengar suara derap langkah sepatu segera merapikan kertas itu, untungnya dia sempat memfoto berkas-berkas itu sebagai tanda bukti.
Fayyad merebahkan tubuhnya walaupun kesulitan, mengingat kakinya satunya itu tidak bisa digerakkan. Fayyad pura-pura memejamkan matanya ketika orang itu sudah berada di depan ambang pintu.
Daniah berjalan mendahului dokter cantik berhijab itu karena ingin terlihat seperti istri yang benar-benar setia dan tulus menjaga dan merawat suaminya.
"Dokter tolong sembuhkan suamiku berapapun biayanya asalkan suamiku sembuh, aku akan bayar," pintanya Daniah dengan memperlihatkan wajah memelasnya.
Dania mengelus surau rambutnya Fayyad yang membuat Fayyad terpaksa membuka kelopak matanya yang sedari tadi hanya berpura-pura terlelap.
Kalau kamu cacat selamanya lebih bagus sih sebenarnya, itu salah satu cara agar aku bebas melakukan apapun yang kumau.
Dokter berhijab hijau toska itu mulai memeriksa kondisinya Fayyad dengan mengambil perlengkapan medisnya. Setelah berselang beberapa menit kemudian, dokter itu tersenyum tipis dan menyelesaikan prosedur pemeriksaannya.
"Bagaimana dengan kondisi suamiku Bu Dokter, apakah ada kemungkinan untuk sembuh?" Tanyanya Dania Najida.
__ADS_1
Dania sebenarnya berharap agar suaminya kalau bisa sesuai dengan harapannya dan keinginannya yaitu lumpuh saja untuk selamanya.
"Kami sudah memeriksanya secara detail dan menyeluruh, tapi sebenarnya masih ada kemungkinan untuk sembuh tapi sangat kecil asalkan tuan Fay mengikuti prosedur terapi dan berbagai pengobatan insha Allah dia akan sembuh," ungkapnya dokter yang disapa Dokter Aisyah Paramitha.
"Mak-sudnya hanya kecil kesempatannya untuk sembuh dokter?" Tanyanya Dania untuk memastikan apakah pendengarannya benar adanya.
Dokter Aisyah mengarahkan pandangannya ke arah Dania," kami sudah berbicara dengan Tuan Haris Chandra dan nyonya besar Widya menyarankan kepada mereka untuk membawa tuan muda Fayyad ke luar negeri, karena peralatan medisnya lebih canggih dan bagus dari pada disini," ungkapnya Dokter Aisyah.
Hahaha, ini berita yang sungguh luar biasa bagusnya. Aku sebaiknya menghubungi Jordi dan bertanya padanya obat apa yang paling bagus dikomsumsi oleh mas Fay agar selamanya menjadi orang cacat yang tidak berguna.
Dokter Aisyah adalah kerabat jauhnya Bu Widya, sehingga sapaan dan panggilan mereka seperti itu sudah mengenal keluarga besarnya Fayyad. Apalagi mengingat dokter Aisyah bisa seperti sekarang ini, karena jasa-jasa kedua orang tuanya Fayyad.
"Makasih banyak Dok," ucapnya Fayyad dengan aura dinginnya memperlihatkan raut wajahnya yang sulit untuk terbaca.
"Insha Allah, kamu pasti akan sembuh, karena aku sudah menyarankan untuk memesan langsung obat dari Inggris khusus untuk penyakitmu ini, kamu harus semangat dan optimis akan kesembuhanmu," imbuhnya Aisyah sebelum meninggalkan kamar perawatannya Fayyad.
"Makasih banyak dokter, saya akan menjaga suamiku untuk menjalani proses penyembuhannya apapun itu, asalkan ia sembuh berapapun biayanya kami akan membayarnya." Dania berucap sambil mengantar kepergian Dokter Aisyah.
"Makasih banyak dokter Aisyah," Fatiah berujar karena kebetulan ketika ingin masuk keduanya berpapasan di depan pintu.
Berselang beberapa menit kemudian, Dania segera memperlihatkan map berisi tentang surat cerai atas pernikahannya Sabiyah dengan Fayyad secara siri itu. Dania sengaja melakukannya di depan Fatiah langsung.
Fatiah yang melihat sebuah map berwarna cokelat itu terus dipegang oleh kakak iparnya segera bertanya.
"Maaf itu apa sih yang Mbak pegang sejak tadi?" Fatiah mengerutkan keningnya melihat sikapnya Daniah.
Fatiah berjalan ke arah Dania yang duduk di atas sofa, sedangkan Fayyad hanya melirik sekilas ke arah kedua perempuan itu karena sudah paham dan mengerti maksud dari sikapnya Dania.
Dania berpura-pura ingin menyembunyikan hal tersebut agar tidak terlalu kentara dengan tujuannya.
Dania menyembunyikan map itu ke belakang punggungnya," Ehh tidak apa-apa kok, ini hanya berkas tidak penting saja," elaknya Dania yang berakting tidak ingin memperlihatkan di depan orang lain.
__ADS_1
Fayyad hanya menatap nanar ke arah Dania, kamu memang artis yang bakatmu luar biasa, kamu pandai dan lihai bersilat lidah. Entah aku bisa terperdaya bisa mencintaimu dan satu hal penyesalan terbesar dalam hidupku adalah menikahimu.
"Kenapa meski disembunyikan segala sih! Apa jangan-jangan itu surat rekam medisnya kakakku?"tebaknya Fatiah.
Dania terusan menyembunyikan map itu agar Fatiah semakin penasaran,"Mbak bilang ini hanya rekam medisnya mas Fay suamiku, bukan apa-apa kok jadi kamu tidak perlu ngotot seperti ini juga," kilahnya Dania.
Fatiah yang mendapatkan kesempatan segera merampas map tersebut, karena cukup berani dan penasaran dengan apa yang tertuliskan di atas kertas itu. Sedangkan Fayyad hanya memperhatikan apa yang keduanya lakukan, tanpa berniat untuk mencegah atau melerai keduanya yang saling berebut map tersebut.
Fatiah akhirnya menang setelah sedikit mendorong tubuhnya Dania hingga terduduk di atas sofa itu. Fatimah tidak ingin membuang-buang waktu,dia segera membaca satu persatu kata,kalimat dan paragraf di atas kertas putih itu.
Hingga tulisan yang mengatakan jika Sabiyah Laika Badiah dengan sangat sadar dan tanpa tekanan paksaan menandatangani surat pernyataan cerai mereka.
"Cerai! Ini tidak mungkin!? Aku yakin ada kesalahpahaman di dalam sini. Ini pasti bukan kemauannya kakak iparku Sabi, Aku yakin kamu pasti yang merencanakan segala sesuatunya agar kakak ipar bercerai dengan kak Fay!" Geramnya Fatiah.
Fayyad tidak menduga, jika adik bungsunya itu setuju dan sependapat dengan apa dipikirkannya.
Aku harus meminta tolong pada Fadhel dan meminta bantuannya untuk mencari tau keberadaan Sabiyah dan menyewa detektif untuk membuntuti kemanapun perginya Dania dan megambil beberapa bukti secara real.
Fayyad segera bereaksi dengan memastikan agar Dania dan adiknya percaya dengan apa yang terjadi padanya.
"Fatiah!! Stop kalau memang dia yang meminta untuk bercerai denganku untuk apa dipermasalahkan! Sabiah itu perempuan hina, jahat dan matre yang melakukan apapun demi uang dan harta. Buktinya aku sudah seminggu di rumah sakit tapi sekalipun tidak datang membesukku!" Geram Fayyad.
Fayyad berakting total sehingga tidak ada yang mencurigai kebohongan besarnya itu.
"Tapi kak, aku yakin ada yang memanipulasi kejadian ini!" Tantang Fatiah yang mengarahkan pandangannya ke arah Dania.
"Fatiah! Percuma kamu belain wanita murahan seperti Sabiah. Jadi mulai detik ini aku dengan dia sudah berakhir. Dania sini aku tanda tangan di atas kertas itu!"
Daniah tanpa ragu dan banyak pikir segera menyerahkan map tersebut. Fatiah ingin maju untuk mencegah kakak sulungnya, tetapi Fayyadh menaikkan telapak tangannya.
"Kamu tidak perlu ikut campur. Ini urusan pribadiku dengan Sabiyah perempuan terkutuk itu!" Fayyad segera membubuhkan tanda tangannya ke atas materai.
__ADS_1
Dania tersenyum sumringah penuh kemenangan dan kelicikan karena ia menganggap bahwa rencananya telah berhasil sempurna.