Terpaksa Menjadi Orang Ketiga

Terpaksa Menjadi Orang Ketiga
Bab. 8. Status Baru


__ADS_3

Sabiyah menatap langit-langit plafon gypsum kamar tidur yang ditempatinya itu.


Apa aku salah jika aku berbuat baik kepada orang lain dengan cara menjadi istri kontrak dan melahirkan anak untuk mereka?


Aku hanya ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Aku tidak menuntut lebih,hanya ingin melihat senyuman dari orang-orang yang tak berdaya seperti Mbak Danish.


Mungkin orang-orang akan menganggapku sebagai terlalu lugu, munafik,polos dan dungu. Tetapi aku ingin sekali saja berguna untuk orang lain, sesudahnya itu aku akan egois dengan kehidupanku sendiri.


Demi masa depan yang sudah terpampang jelas di depan mata, setahun saja adalah waktu yang singkat. aku yakin aku sanggup melewatinya.


Sabiyah menitikkan air matanya ketika mendengar kata sah dikumandangkan di luar tepatnya di bagian tengah ruangan rumah itu.


Entah ini air mata sedih, bahagia atau apa? Aku terlalu sulit untuk mengartikan air mataku sendiri.


Sabi menyeka air matanya yang membasahi pipinya itu yang terpoleskan make up yang mampu membuat penampilannya terlihat sangat cantik.


Biarlah ini menjadi kenangan terdalam dalam hidupku, jika indah akan aku buat sejarah baru, apabila menyakitkan aku akan senyumin sejarah itu. Aku hanya ingin bahagia disisa usiaku yang entah kapan datang menjemputku.


Dania mengatur nafasnya dalam-dalam sebelum membuka pintu kamar dimana madunya berada. Perempuan yang sudah menjadi istri kedua suaminya itu.

__ADS_1


Hatinya hancur berkeping-keping, tapi jika dia mementingkan egonya. Maka semua harapan dan mimpinya selama ini akan hancur lebur.


Huh!!


Daniah membuang nafasnya dalam-dalam sebelum membuka pintu itu,agar hatinya lebih tenang dan nyaman. Ia tidak ingin ada orang yang mengetahui kehancurannya.


Jika ingin sukses dan berhasil harus berkorban terlebih dahulu sebelum menuai keberhasilan itu yang akan abadi sepanjang masa.


Oke, aku akan berbagi suami dengan adik sepupuku sendiri. Dia hanya anak kecil saja yang masih bau kencur. Aku yakin dia tidak akan sanggup mengambil hati dan mengambil alih perasaan suamiku.


Dania pun membuka pintu itu dan terlihatlah Sabiyah terduduk di atas ranjangnya dengan tatapan matanya terarah pada kedatangan kakak sepupunya itu.


Sabiah spontan menyunggingkan senyumnya itu menyambut kedatangan istri pertama suaminya itu.


Kenapa aku harus cemburu pada adik sepupuku yang masih bocah itu. Kalau dibandingkan dengan ku segala-galanya aku lebih baik dari Sabiyah Laika Badiah.


Ceklek pintu itu pun terbuka lebar dan masuklah Daniah Najida dengan melengkungkan senyumannya itu.


"Apa kamu sudah siap bertemu dengan suamimu?" Tanyanya Daniah.

__ADS_1


"Bukan suamiku Mbak, tapi suami kita berdua," tampik Sabiah.


Dania terkekeh mendengar perkataan dari madu barunya itu. Dania mengulurkan tangannya ke hadapan Sabia. Sedangkan Sabi menyambut uluran tangannya Dania.


"Mbak jika esok aku keliru maka maafkanlah aku dan jika aku salah tegurlah aku. Tidak perlu segan-segan untuk mengatakan apa yang seharusnya aku perbuat," imbuhnya Sabiah dengan berfikiran terbuka.


Gadis belia yang dipaksa dewasa belum pada waktunya dengan kehidupan yang sungguh keras yang beberapa tahun belakangan menempa dirinya dan membuatnya dewasa dan bijaksana belum pada waktunya.


Gadis belia berusia delapan belas tahun itu tersenyum lebar dan segera bangkit dari duduknya itu.


"Mbak akan menegur dan menasehatimu jika memang kamu salah dalam bertindak, kalau gitu yuk kita ke luar menemui mas Fayyadh sudah larut malam juga kita harus segera ke hotel untuk beristirahat dan kamu harus bersama dengan Mas Fay untuk melewati malam pertama kalian," imbuhnya Danish.


Sabiyah kesusahan menelan air liurnya sendiri mendengar kata malam pertama. Raut wajahnya berubah pucat pasi, panik dan ketakutan.


Ya Allah usiaku baru delapan belas tahun, bagaimana caranya aku melewati malam pertama kami.


Daniah yang melihat perubahan mimik wajahnya Sabi segera menepuk-nepuk pelan punggung tangan adiknya itu. Keduanya berjalan beriringan menuju ke arah ruang tengah.


"Tenanglah,kamu akan baik-baik saja kok. Malam pertama tak seseram dan sesuram kata-kata orang-orang di luar sana. Bahkan kamu akan memintanya lebih dan berulang-ulang kali kok. Jadi tenanglah dan buat senyaman mungkin perasaan dan pikiranmu," nasehatnya Dania.

__ADS_1


Sabiyah berusaha untuk tenang dan santai, dia tidak ingin ada yang melihat selain madunya itu.


Dania kembali tersenyum,"yah gini dong caranya. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan mengenai malam pertamanya, kalau perlu Mbak akan jelaskan dan ajari kamu supaya lebih cepat hamil."


__ADS_2