
"Syukurlah kalau kakeknya Bu dokter cantik sudah baikan, padahal tadi saya sangat khawatir loh Bu dokter," ucapnya Sabi yang tersenyum lebar.
Sabiyah melupakan, jika dia seharusnya sudah berangkat bersama mobil yang membawanya ke alamat yang diinginkan oleh Daniah.
"Aku sangat berterima kasih padamu, semoga saja Allah SWT membalas kebaikan Mbak yang sudah ikhlas menolong kakekku," ucapnya Bu dokter.
Keduanya berbincang-bincang sambil menjaga kakek tua renta itu yang masih tertidur siang hari itu.
"Ngomong-ngomong namamu siapa?" Tanya Dokter itu.
Sabiyah yang sedang memeriksa ponselnya yang sangat berharap agar suaminya menelponnya itu, spontan menolehkan kepalanya ke arah dokter cantik itu.
"Saya Sabiyah Laika Badiah dokter," jawabnya Sabi.
"Nama yang cantik seperti orangnya,kalau saya namaku Aisyah Paramitha, karena kamu sedari tadi menyapaku dengan panggilan ibui dokter cantik jadi aku langsung mengatakan kepada kamu saja langsung tanpa ditanya terlebih dahulu," imbuhnya Aisyah.
Sabiyah tersenyum simpul menanggapi pujiannya Aisyah. Ia melihat ponselnya dan cukup terkejut melihat begitu banyak chat yang dikirim oleh Daniah kakak sepupunya itu. Ia pun buru-buru berpamitan karena tidak ingin ketinggalan taksi.
"Kalau gitu saya pamit pulang dulu Bu Aisyah, saya pamit titip salam untuk kakek semoga saja segera lekas sembuh dan pulang ke rumah sepertinya sedia kala," ucapnya Sabia yang berpamitan kepada Aisyah.
"Kenapa kamu terburu-buru sekali, apa sebaiknya kau beristirahat saja sejenak, karena aku perhatikan wajahmu seperti pucat. Tidak baik bepergian dengan keadaan yang kurang fit," cegatnya Aisyah yang kasihan melihat orang yang telah membantu kakeknya itu.
"Insha Allah saya baik-baik saja kok Bu Aisyah, saya sudah ditungguin sejak tadi oleh supir taksinya, kasihan pak supirnya pasti harus mencari rezeki di tempat lainnya,kalau saya terus yang ditunggu bisa-bisa kekurangan job," ujarnya Sabiah yang segera bangkit dari posisi duduknya itu.
Aisyah segera mengambil sesuatu dari dalam saku almamaternya itu," ini kartu namaku. Kalau kamu butuh bantuan hubungi nomor telepon yang tertera disini atau kamu bisa langsung datang mencariku di alamat ini," tuturnya Aisyah yang menyerahkan kartu namanya itu.
Sabiyah mengambil kartu nama itu tanpa ragu, ia gegas pergi dari sana tanpa berniat menganggu kenyamanan Aisyah dan pasien lainnya.
"Assalamualaikum, selamat siang Mbak," ucap Sabiah sebelum meninggalkan area rumah sakit.
Sabiyah berjalan tergesa-gesa ke arah parkiran dimana mobil taksi yang menunggu kedatangannya. Tempat dimana kejadian seorang kakek dia temukan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Sabiyah mempercepat langkahnya menuju ke arah parkiran karena tidak ingin mendapatkan teror dari madu sekaligus kakak sepupunya itu. Tetapi, sesampainya di tempat area parkiran, dia tidak melihat ada mobil berwarna putih tersebut. Yang tersisa hanyalah berbagai merek dan tipe mobil pribadi yang ada.
__ADS_1
Sabiyah mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut dan berusaha mencari mobil yang katanya sudah lama menunggu kedatangannya itu.
"Astauhfirullah aladzim mobilnya kemana? Bukannya tadi masih disini. Gimana caraku bisa kembali ke Makassar tanpa barang-barang pentingku itu." Keluhnya Sabiyah yang tidak habis pikir kenapa mobilnya meninggalkannya begitu saja dan membawa kabur pergi pakaiannya.
Sabiyah segera berjalan ke sana kemari dan bertanya kepada orang-orang yang kebetulan melewati jalan tersebut seperti orang linglung saja. Tetapi, satu pun diantara mereka tidak ada yang melihat mobil yang dimaksudnya.
"Pak apa bapak melihat ada sebuah mobil taksi di sini?" Tanyanya Sabi ketika melihat seorang bapak-bapak yang kebetulan melewatinya.
"Maafkan saya Mbak saya tidak melihat adanya taksi yang seperti Mbak cari," jawab pria dewasa itu.
Ya Allah dimana lagi aku harus mencarinya? Pasti Mbak Dania akan marah besar padaku kalau dia mengetahuinya.
Sabiyah segera berjalan ke arah jalan raya, dan beranggapan jika mobil yang dicarinya berada di sekitar pinggiran jalan. Tapi, karena terlalu terburu-buru hingga dia hampir saja keserempet mobil yang kebetulan melaju melewatinya.
"Aghh!!" Jeritnya Sabiah yang bergerak cepat untuk menghindari dari tabrakan maut itu.
Prang!!!
"Hey!! Stop! berhenti jangan kabur begitu saja kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!" Pekik Sabiyah yang sia-sia saja berteriak kencang.
Ponsel yang baru sebulan dipakainya dengan harga yang sangat mahal itu menjadi korban tabrak lari. Dia sedih, karena kenangan bersama dengan suaminya harus hancur bersama hpnya tersebut.
"Ya Allah hpku, kenapa nasibmu seperti ini. Taksinya sudah pergi ehh sekarang hpku yang dapat masalah. Sungguh begitu malang nasibku ya Allah. Tolonglah aku ya Allah agar aku sabar menghadapi cobaanMu ini," ratapnya Sabi.
Sabiyah membungkuk sedikit tubuhnya untuk memunguti rangka ponselnya itu yang tidak bisa diperbaiki lagi.
Sabiah hendak mengejar pengemudi mobil sedan putih itu, tapi karena mengingat ponselnya lah yang menjadi korban tabrak lari, sehingga ia segera memunguti ponselnya yang sudah terbentuk seperti gedjet mahal lagi.
Hp itu berakhir menjadi barang bekas saja yang sudah semakin pipih bentuk dari ponsel itu. Air matanya membasahi pipinya itu hingga jatuh mengenai layar ponselnya tersebut.
Semua orang hanya menatapnya iba dan kasihan tanpa ada yang berniat menolongnya.
"Bang Fay semua kenangan kebersamaan kita ada di dalam sini. Maafkan aku yang tidak sanggup menjaganya dengan baik,"
__ADS_1
Sabiyah berjalan tak tentu arah, ia hanya berniat untuk pergi jauh dari kota Jakarta dan berencana untuk pulang ke kampung halamannya bagaimana pun caranya.
Sabiyah yang belum sempat makan seharian padahal sudah pukul tiga sore, terkena paparan sinar matahari langsung membuat kepalanya pusing. Penglihatannya mulai kabur dan berkunang-kunang. Hingga penglihatannya seperti melihat ada banyak orang-orang yang mengelilinginya itu.
Brukk!!
Tubuhmu Sabiah tidak sadarkan diri lagi dan tergelatak tepat di depan halte busway.
Satu minggu kemudian…
Fayyad yang sudah sadar diri, berteriak kencang dan histeris di dalam kamar perawatannya setelah mengetahui jika salah satu kakinya mengalami kelumpuhan.
"Tidak!! Dokter apa yang terjadi padaku dokter! Kenapa kakiku sebelah kanan tidak bisa aku gerakkan" teriak histeris dari Fayyad.
Sehingga kedua adiknya Fatimah dan Fatiah berusaha untuk menenangkan kakak sulungnya itu.
"Mas Fay tolong bersabarlah dan jangan seperti ini. Papa dan Mama sedang berbicara dengan dokter mengenai kondisinya Mas Fay," bujuk Fatiah yang tidak tega melihat kakaknya terpuruk.
Fadhel Muhammad dan Silvia tak bisa berbuat apa-apa hanya mampu memandangi satu persatu orang itu.
"Apa tenang!! Gimana caranya aku bisa tenang kalau seperti ini! Dimana istriku berada?" Tanyanya Fayyad yang menatap nyalang satu persatu orang yang berusaha untuk membujuknya agar tenang.
Daniah segera berjalan cepat ke arah dalam kamar itu karena tidak ingin membuat suaminya marah-marah karena tidak melihat keberadaannya.
"Mas Fay apa yang terjadi padamu, kenapa kamu sampai harus berteriak-teriak seperti ini?" Dania bersikap bak istri sholehah.
Fayyad kecewa melihat kedatangan Dania seorang diri saja dan tidak melihat keberadaan istri keduanya. Tapi,ia tidak berdaya untuk mengatakan bahwa Sabiyah perempuan yang sangat dibutuhkan dan dicarinya saat ini.
Kenapa Sabi tidak ada, dimana dia berada. Semoga saja Istri kecilku baik-baik saja.
Fayyad segera berusaha untuk mengontrol emosi dan kemarahannya agar rahasianya bersama kedua istrinya tidak terekspos keluar.
Kasihan banget dengan nasibnya pak Fayyadh harus mengalami kelumpuhan. Tapi, setelah aku telusuri di tempat kejadian kecelakaan. Katanya ada perempuan berhijab yang dilindungi oleh Tuan Muda sehingga dia yang menjadi korban kecelakaan tabrakan maut.
__ADS_1