
Seorang perempuan muda terduduk di atas bangkar rumah sakit sambil terus menatap sebuah kertas putih panjang.
Air matanya sesekali menetes membasahi pipinya itu. Antara bahagia dan juga sedih, ia bahagia karena mengetahui jika dirinya telah hamil muda dan disisi lain dia sedih karena harus berpisah untuk selamanya dengan suaminya itu.
Ya Allah kenapa disaat seperti ini, aku mengetahui jika diriku hamil. Andaikan tidak terjadi kecelakaan itu, pasti bang Fay sangat bahagia mengetahui aku sudah hamil.
Sabiyah mengelus perutnya yang masih rata itu, dia tidak kuasa menahan kesedihannya dimana dirinya menyandang status janda dan akan menjadi ibu tunggal.
Seorang perempuan memakai jas almamater kebesarannya berhijab pink shoft terenyuh dan tersentuh hatinya melihat ketidakberdayaan yang dialami oleh Sabiyah.
Dia adalah dokter Aisyah Paramitha yang kemarin sore, tanpa sengaja melihat Sabiah jatuh pingsan di atas aspal. Rencana waktu itu, ia berencana untuk mengantar pulang kakeknya ke rumahnya, tapi di tengah jalan melihat seorang perempuan muda terkapar tak berdaya di aspal.
"Assalamualaikum, selamat pagi Sabi," sapanya Aisyah yang sudah berdiri di sampingnya Sabiyah.
Sabiyah yang sedari tadi menyadari kedatangan Aisyah segera menghapus jejak air matanya dan menetralkan perasaannya itu untuk menyembunyikan kedukaan hatinya.
Sabiyah mendongakkan wajahnya ke arah kedatangan dokter cantik itu yang sudah menjadi janda diusianya yang terbilang muda, karena divonis mandul oleh keluarga besar mantan suaminya.
"Waalaikum salam, selamat pagi juga Bu dokter cantik," balasnya Sabi.
Aisyah ikut duduk tepat di sampingnya Sabiyah," apa kamu sudah siap pulang bareng bersamaku?"
Sabiyah menganggukkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan dari perempuan yang sudah berjasa besar dalam hidupnya itu.
"Insya Allah saya sudah siap Bu dokter cantik," jawabnya Sabiyah.
Sabiyah berbicara sambil meraih handbag satu-satunya peninggalan dari suaminya kecuali kalung dan cincin hadiah pernikahan dari Fayyad yang dipertahankannya.
"Kalau gitu kamu ikut saya, dan mulai hari ini kamu akan menjadi adikku jadi statusmu bukanlah anak yatim-piatu. Kakek juga sudah mengurus administrasinya" jelas Aisyah.
__ADS_1
"Mak-sudnya a-pa Ibu dokter? Sa-ya ti-dak mengerti?" Tanyanya Sabiyah.
Sabiyah yang tidak paham dan tidak menduga jika dia diangkat menjadi cucu ketiga dari pria tua yang pernah ditolongnya.
Aisyah memegangi kedua pundaknya Sabia," mulai hari ini kamu adalah adikku sekaligus cucu ketiga pak Wiranata Kusuma,bukan gadis dari kampung lagi," imbuhnya Aisyah.
"Benar sekali apa yang dikatakan oleh kakakku, Mbak Aisyah kalau kamu adalah Sabiyah Laika Badiah Kusuma," sahut seorang pemuda yang baru saja bergabung dengan mereka di dalam kamar perawatan.
Air matanya Sabiyah semakin menetes membasahi pipinya itu. Ia tidak percaya jika di dunia ini ada orang yang menerimanya dengan tangan terbuka dalam keadaan hamil dan janda di umurnya yang baru delapan belas tahun.
"Farhan kakek dan nenek enggak ikut?" Tanyanya Aisyah yang melihat ke arah adik satu-satunya yang lebih tua dari Sabiyah.
"Nenek dan kakek rencananya ingin menjemput Sabi, tapi aku larang karena Kakek kondisinya masih lemah," jelas Farhan yang ikut duduk di sofa.
"Kalau gitu apalagi yang harus kita tunggu, saatnya balik ke rumah," ujarnya Aisyah yang berjalan lebih duluan ke arah pintu.
Aku hanya berharap kepada Allah SWT semoga Allah SWT selalu melindungimu suamiku. Dimanapun kamu berada dan hatiku ini selalu untukmu hingga maut menjemput ku.
Mulai hari itu, kehidupannya Sabi berubah drastis. Dia juga menjalani perkuliahannya seperti anak remaja lainnya untuk meraih impiannya. Walaupun keluarga kakek Wiranata Kusumah bukanlah orang sekaya Fayyad suaminya, tapi kehadirannya sangat dihargai. Bahkan kehamilannya membuat kebahagiaan di dalam keluarga besar itu.
Setelah Pak Wiranata pensiun dari polri, keluarga besar itu memilih untuk pindah ke kota S untuk melanjutkan kehidupan mereka selanjutnya,di tanah kelahirannya Pak Wiranata. Begitupun juga dengan Aisyah dan Farhan yang pindah bekerja di kota S juga.
Waktu terus berlalu hingga tak terasa usia kehamilannya Sabiah bulan sembilan. Tetapi, Sabiyah masih menjalani perkuliahannya.
Bu Rima yang melihat cucu angkatnya sedang mempersiapkan bekal makanannya untuk dibawa ke kampus segera berjalan ke arah dapur.
"Sabi, perutmu sudah semakin membesar kamu juga akan melahirkan bulan ini. Apa sebaiknya kamu cuti kuliah dulu Nak," ucap Bu Rima.
Bu Rima mempermalukan semua cucunya tanpa ada perbedaan satu sama lainnya antara cucu kandungnya sendiri dengan Sabiyah yang notabene cucu angkat saja.
__ADS_1
Sabi tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari neneknya itu," rencananya minggu depan baru cuti nek, Mbak mas Farhan sudah bantuin mengurus segala sesuatunya di kampus," balas Sabi yang melanjutkan pekerjaannya.
"Dia itu ngeyel Nek, aku sudah bilangin kepadanya untuk rehat dulu seraya menunggu kelahiran buah cintanya yang insya Allah akan lahir kembar," timpalnya Aisyah yang ikut nimbrung bersama keduanya.
Sabiyah dan Bu Rima bersamaan mengarahkan tatapannya ke arah Aisyah yang telah duduk di depan meja makan bersiap untuk sarapan pagi.
"Apa!? Benarkah saya akan melahirkan anak kembar Mbak?" Tanyanya Sabiyah yang tidak percaya dengan pendengarannya itu.
"Apa hasil laboratorium kesehatannya adikmu sudah keluar nak?" Tanya balik ibu Rima yang masih berdiri di sampingnya Sabiyah.
Aisya tersenyum sumringah sembari menganggukkan kepalanya itu," iya sudah, alhamdulilah ini dia hasilnya."
Aisyah menaikkan secarik kertas berada di dalam sebuah amplop putih bertuliskan nama rumah sakit tempat Aisyah bekerja.
"Syukur alhamdulilah,saya akan memiliki dua anak sekaligus," Sabiyah mengucapkan syukur atas nikmat dan karunia yang Sang Pencipta berikan padanya.
Aisyah berjalan ke arah adiknya itu kemudian memeluk tubuhnya Sabiyah yang sudah bergetar hebat dalam tangisnya itu.
"Aku juga sudah persiapkan semua kebutuhan kedua keponakan kembarku. Insya Allah hari ini kebutuhannya sudah memenuhi kamarnya mereka," sahutnya Farhan yang kembali ikut menimpali pembicaraan ketiganya.
*Hemph, kamu sibuk mengurusi semua kebutuhan persiapan kelahirannya cicit kembarku, tapi melupakan dirimu yang sudah tua tapi belum mau menikah juga," candanya Bu Rima sambil menepuk punggung cucu satu-satunya laki-laki itu.
Farhan melirik sekilas ke arah Sabiyah sedangkan Sabiyah tidak menyadari jika dia ditatap seperti itu oleh kakak angkatnya.
Aku tidak bisa menikah dengan gadis lain, jika gadis yang aku sukai berada di depanku.
Aku akan menunggumu hingga kamu bisa menerimaku sebagai suamimu dan ayah dari kedua anakmu kelak.
Aisyah tanpa sengaja melihat arti pandangan adiknya itu, ya Allah entah kenapa aku merasa jika Farhan menyukai Sabi. Ini bakal sulit menjadi kenyataan karena Sabi sudah berjanji dan bertekad bakalan akan hidup seorang diri selamanya dengan membesarkan kedua anaknya tanpa suami baru.
__ADS_1