
Sabiyah sudah berada di atas bangkar rumah sakit dan sudah didorong oleh beberapa perawat. Sabiyah memegangi perutnya yang semakin sakit saja.
"Astaughfirullahaladzim, Nek kenapa perutku sakit banget, sa-ya tidak tahan lagi Nek," keluhnya Sabiyah yang rasa sakitnya semakin tak tertahankan.
Hal itu terlihat dari peluh keringat bercucuran membasahi pipinya hingga sekujur tubuhnya.
Bu Rima memegangi tangannya Sabiyah,"kau harus kuat Nak, nenek yakin kamu bisa melewatinya dengan baik, ingat ada dua orang calon bayimu harus kamu perjuangkan," nasehat Bu Rima.
Farhan ikut terenyuh melihat kesakitan yang semakin lama semakin tinggi intensitasnya yang dirasakan oleh Sabiyah. Semuanya berbicara sambil berjalan cepat mengikuti bangkar yang diatasnya ada Sabiyah.
"Apa yang dikatakan oleh Nenek benar adanya, kamu akan baik-baik saja kok. Mbak Aisyah akan secepatnya kesini untuk membantumu jadi kamu tidak perlu takut dan mencemaskan semuanya." Bujuknya Farhan yang tidak bisa menyembunyikan ketakutannya itu.
"Kamu harus tenang, apa yang dikatakan oleh nenek dan mas Farhan demi kebaikanmu dan juga bayimu. Kami ada bersamamu kok," sahutnya Ayesha yang kebetulan berada di rumahnya Pak Wiranata Kusumah ketika kejadian itu.
Pak Wira hanya memperbanyak berdoa kepada Allah SWT untuk kelancaran proses persalinannya Sabiah saja sehingga tanpa berbicara semuanya jelas terlihat dari mimik wajahnya, jika beliau juga ketakutan.
Semua orang berhenti ketika berada tepat di depan pintu masuk ruangan persalinan. Sabiyah sejak awal, sudah memutuskan untuk melahirkan secara normal, walau sempat ditentang oleh anggota keluarganya.
"Maaf kalian menunggu di luar saja, dan siapa diantara kalian yang suaminya?" Tanyanya seorang perawat sambil melihat satu persatu ke arah keluarganya Sabi.
Semua orang saling melempar pandangan mata, tatapan matanya perawat itu tertuju pada Farhan satu-satunya pria yang kemungkinannya adalah suaminya menurut anggapannya perawat itu.
"Apa Anda suaminya? Tolong selesaikan administrasinya secepatnya Pak," ucapnya perawat itu.
"Maaf suaminya sedang berada di luar kota, dia adalah kakaknya Sus," balasnya Ayesha karena Farhan sepertinya lidahnya keluh seketika menyebut suaminya Sabi.
Perawat itu hanya menatap intens ke arah Farhan, sedangkan Ayesha entah kenapa merasa ada yang aneh dengan sikap dari calon suaminya itu. Setelah pertemuan kedua orang tuanya dengan neneknya Farhan, sudah diputuskan jika sebulan dari hari ini mereka akan menikah.
"Baik Sus, saya akan segera mengurus segalanya," ucapnya Farhan yang berjalan tergesa-gesa ke arah ruangan administrasi.
Ya Allah kenapa aku berasa mas Farhan perhatiannya kepada Sabi terlalu berlebih-lebihan. Memang hal yang wajar sih kalau perhatiannya dicurahkan untuk saudaranya sendiri, tapi hatiku kenapa tidak tenang jika mas Farhan menatap Sabia.
Berselang beberapa menit kemudian, sudah sejam lebih Saniah berada di dalam ruangan bersalin, tetapi belum terdengar suara tangisan bayi. Sedangkan di luar ruangan, semua orang mondar-mandir di depan pintu dengan raut wajahnya yang panik, takut dan cemas berlebihan.
"Ayo Bu sedikit lagi, didorong yang kuat yah setelah aba-abaku kamu mengedan yang kuat. Tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan dengan kekuatan penuh yah Bu. Kasihan bayinya sudah kelihatan rambutnya loh yang lebat," ucapnya Dokter kandungan itu.
__ADS_1
Sabiyah yang mengikuti apapun yang dikatakan oleh dokter mulai mengikutinya hingga ia melihat suaminya seperti datang menghampirinya dan memegangi tangan kanannya Sabi.
"Kamu harus kuat, Abang disini bersamamu istriku. Kamu wanita yang kuat Abang yakin kamu pasti bisa melakukannya."
Sabiyah mulai menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup keras. Hingga dengan sekali dorongan bayi pertamanya pun lahir ke dunia ini.
Owek.. oek..
"Alhamdulillah bayinya sudah lahir. selamat Bu Sabi, Anda berhasil melahirkan bayi yang berjenis kelamin laki-laki telah lahir ke dunia ini,"dokter itu berucap.
Sabiyah tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari dokter dan menolehkan kepalanya ke arah suaminya berada. Tapi, apa yang dilihatnya hanya tembok bercat putih gading yang terlihat dipelupuk matanya itu.
"Suster cepat bersihkan dan bawa bayinya ke papanya untuk segera diadzankan sebelum bayinya buang air!"perintahnya dokter perempuan itu.
Hanya berselang sekitar kurang lebih lima menit, perutnya Sabi kembali sakit.
"Ahhh dokter sakit!!" Teriak Sabi seraya meremas ujung pakaiannya yang dipakainya itu.
"Bersiap Nyonya bayi Anda akan lahir, yaitu bayi keduanya," ujarnya seorang bidan yang membantu dokter.
"Maaf siapa diantara kalian ayahnya? Tolong degree lantunkan adzan ditelinga bayi mungilnya." Titahnya suster itu.
Pak Wira segera melangkah maju dan meraih bayi mungil yang kulitnya kemerah-merahan. Dengan suara yang begitu merdu. Pak Wira dengan hikmatnya memperdengarkan dengan lantang suara adzan tersebut.
"Bayinya mungil dan ganteng banget yah Nek," pujinya Aresha.
Farhan memperhatikan dengan seksama wajahnya baby-nya Sabiyah, ya Allah kenapa aku melihat wajahnya putranya Sabi seperti aku mengenalnya. Tapi siapa?
Sabiyah pun kembali berhasil dengan selamat melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin perempuan. Aisyah yang baru saja datang segera berjalan cepat ke arah tempat dimana adik angkatnya berjuang keras sekuat tenaga melahirkan anaknya.
"Maaf aku terlambat, gara-gara hujan yang turun tiba-tiba. Padahal tadi siang cuacanya sangat panas," Aisyah berucap sambil mengibas-ngibaskan pakaian dan hijabnya itu.
Bu Rima mengelus punggung cucu sulungnya itu,"Nenek juga heran, tapi bersyukur karena sudah banyak daerah di tanah air yang dilanda kekeringan dengan hujan hari ini semoga bermanfaat dan membawa berkah untuk semua umat manusia di dunia ini,"imbuhnya Pak Wira.
"Betul sekali Nek," balasnya Ayesha.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Sabiyah, apa kedua bayinya sudah lahir?"
"Alhamdulillah semuanya sudah lahir dengan selamat dan kita mendapatkan dua ponakan sekaligus yaitu sepasang yaitu perempuan dan laki-laki." Sahutnya Farhan yang sangat antusias.
Sedangkan dibalik tembok tanpa sepengetahuan mereka, sedari tadi ada seseorang yang memakai topi hitam dan memakai masker telah memperhatikan apa yang semuanya lakukan.
"Ini kesempatan yang bagus, aku terpaksa melakukannya karena sejak suamimu menghancurkan karirku dan masa depanku, bahkan aku menjadi gelandangan, tapi kali ini aku akan membuktikan padamu jika aku akan membalas dendam atas penghinaan dan kehancuran yang aku alami!" Geramnya seorang pria yang memakai pakaian serba putih seperti seorang perawat pria.
Pria itu berjalan mengikuti kemanapun perginya dua orang bidan mendorong box bayi. Senyuman penuh kelicikan semakin terlihat dengan jelas. Apalagi ketika perawat meninggalkan bayinya Sabia tanpa pengamanan.
Pria itu celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar dan tersenyum smirk, sambil mengambil salah satu bayinya Sabia dan menukar bayinya dengan anak yang diculiknya terlebih dahulu.
"Hahaha! Anak ini akan kamu anggap putramu untuk selamanya. Anak yang tidak jelas asal usulnya!"
Pria itu secepatnya meninggalkan ruangan bayi sebelum ada orang yang datang dan melihat apa yang dilakukannya.
Hujan lebat tak menyurutkan pria itu untuk membawa kabur anaknya Sabi, hanya memakai jaket saja untuk menutupi tubuhnya sang bayi yang tidak terbangun saking lelapnya tertidur.
Karena pria itu berjalan tanpa hati-hati dari arah berlawanan, datanglah sebuah mobil sedan hitam melaju dengan kecepatan sedang hingga tubuh sang pria mau tidak mau tertabrak.
"Argh!!"
Teriakannya begitu keras tapi tertutupi oleh derasnya air hujan. Sang pengemudi mobil segera turun dari mobilnya saking takutnya telah menabrak tubuh seseorang.
"Apa yang terjadi?" Tanya seorang pria muda yang kira-kira berusia 30an.
"Putraku apa yang terjadi? Kenapa supirmu mengendarai mobilnya dengan tidak berhati-hati!" Ketusnya seorang wanita paruh baya.
Dengan takut supir pribadinya itu menjawab,"Tuan Muda, Nyonya Besar pria ini sudah meninggal dunia,"
"Innalilahi wa innailaihi rojiun,"
"Apa!?"
"Tapi, Nyonya ada seorang bayi dan kondisinya sepertinya kritis dan kedinginan,"
__ADS_1
Keduanya saling bertatapan satu sama lainnya dan tanpa ragu pria itu segera mengambil bayi tak berdosa itu.