
Sabiyah hanya tersenyum simpul melihat pertengkaran kecil yang selalu terjadi antara kedua anak kembarnya.
Ya Allah andaikan Abang Fay melihat kalian berdua pasti dia akan sangat bahagia, karena akhirnya mendapatkan keturunan yang diinginkannya.
Orlin yang melihat bundanya kewalahan mengemasi beberapa barang bawaannya segera membantunya tanpa diminta terlebih dahulu.
"Bunda tidak akan kesepian kan kalau aku dengan abang Ihkbar akan nginap di summer camp selama seminggu?" Orlin menatap intens ke arah dalam bola matanya Sabiyah.
Sabiyah yang mendengar perkataan dari putri bungsunya itu segera tersenyum tipis.
"Kalau bunda ngomongnya tidak kesepian itu pasti bunda berbohong,tapi demi kebahagiaan putriku dan putraku yang cantik dan ganteng, bunda tidak masalah kok kesepian sementara waktu kan ada Tante Ayesha, nenek Rima dan kakek Wira juga yang temani bunda disini," imbuhnya Sabi.
Orlin spontan memeluk tubuhnya Sabi, Orlin janji akan pergi mencari ayah di Jakarta, setelah dari summer camp Orlin akan diam-diam pergi ke sana menemui ayah.
"Bunda jangan nangis yah, Insha Allah Orlin dengan abang akan aman dan tidak akan nakal kok. Jadi bunda selama kami pergi jangan nangis ataupun terus memikirkan kami," ucapnya Orlin yang melingkarkan tangannya ke punggungnya Sabi.
Orlin tersenyum penuh arti dan sudah bertekad akan berangkat ke Jakarta bersama kakaknya itu untuk menemui ayahnya yang sudah enam tahun berpisah dengan mereka. keduanya sudah matang-matang merencanakan segalanya untuk berangkat mencari papanya itu. Mereka sudah berniat untuk melancarkan rencananya itu, apalagi mereka sudah pernah melihat bagaimana wajah papa kandungnya.
Bu Rima yang tanpa sengaja melihat kedekatan ketiga orang itu ikut terharu melihat kebersamaannya.
Andaikan Sabi membuka hatinya untuk pria lain, pasti hidup mereka tidak akan kurang seperti saat ini.
Ayesha yang memperhatikan sedari tadi pun ikut berkomentar dalam hatinya.
Sabi, andaikan aku tau siapa suamimu dengan senang hati dan ikhlas aku akan membantumu mencarinya.
Karena selama kamu berada di sini dan tidak menikah selama itu pula kehidupan pernikahanku tidak harmonis.
Aku mendapatkan raga dan tubuhnya mas Farhan, tapi hati, jiwa dan pikirannya tertuju hanya padamu seorang. Bahkan cinta setitik saja untukku sulit mas Farhan berikan.
Orlin diam-diam mengambil foto yang ada di dalam dompetnya Sabi,dia segera memasuki kedalam koper kecilnya tanpa sepengetahuan dari Sabi dan orang lain.
__ADS_1
Bu Rima berjalan ke arah ketiga orang itu yang telah bersiap untuk berangkat," sopir yang akan mengantar kalian ke tempat perkemahan sudah siap. Apa semua keperluannya si kembar sudah selesai kamu cek?" Tanyanya Bu Rima.
Sabia mendongakkan kepalanya ke arah kedatangan nenek angkatnya itu,"alhamdulilah sudah beres Nek, Orlin dan Ikhbar juga sudah siap."
"Kalau gitu tunggu apalagi, apa kalian mau ke depan barengan dengan Tante gak?" Tanyanya Ayesha seraya mengayunkan tangannya ke arah kedua anaknya Sabia.
Orlin dan Ikhbar segera menyambut uluran tangan tantenya itu dengan senyuman lebarnya.
Memang suamiku mencintai bundamu, tapi hatiku entah kenapa sulit untuk membenci kalian termasuk bundamu.
Allah juga belum memberikan rezekinya kepadaku keturunan, padahal setiap saat aku selalu bermunajat kepada-Nya untuk meminta seorang anak pada Sang Maha Pencipta.
Orlin yang memakai outfit serba kuning itu terlihat sangat cantik diusianya yang baru berusia enam tahun dengan rambutnya yang diikat bak seperti ekor kuda. Sedangkan Ihkbar pecinta dan penyuka warna biru sehingga segala pakaian dan mainannya termasuk pernak pernik di kamarnya dominan biru juga.
Sabiyah memeluk nenek dan kakak iparnya terlebih dahulu sedangkan Aisyah semenjak menikah dengan seorang duda ditinggal mati ketika melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki itu, memilih menetap di Jakarta dan berkarir di Jakarta pula di rumah sakit yang dulu.
"Nenek Aunty Aisyah dengan Uncle Bramantyo kapan ke sini? Aku kangen banget sama mereka." Ucapnya Orlin sebelum masuk ke dalam mobil.
"Insha Allah Aunty Aisyah kalian janji setelah kalian balik dari summer camp,ia dengan Alifa akan ke sini nengokin Nenek dan kalian," balasnya Bu Rima sambil mengusap puncak surau cicitnya itu.
Orlin meraih satu persatu punggung tangan kelurganya itu kemudian mengecup punggung tangan mereka. Apa yang dilakukan oleh Orlin pun dilakoni juga oleh Ikhbar.
"Bye Nenek, Tante,"
"Sampai jumpa lagi, nenek ingat minum obatnya yah, Tante juga jangan selalu sedih insha Allah pasti Tante akan memiliki dede bayi suatu saat nanti," ujarnya Orlin yang seperti orang tua saja sembari melambaikan tangannya ke arah mereka berdiri di depan pagar.
"Assalamualaikum," ucapnya Sabi.
Sabiyah mengantar kedua anaknya hingga ke tempat perkemahan musim panas yang setiap tahunnya diadakan oleh sebuah yayasan anak. Tahun ini adalah tahun kedua Orlin dan Ikhbar mengikuti perkemahan tersebut yang dihadiri oleh anak-anak dari berbagai daerah dan kota sekitar.
Sabiyah meninggalkan kedua anaknya di sekitar pintu masuk, karena tiba-tiba ia ingin ke toilet umum.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, seorang anak kecil yang berusia tidak berbeda dengan kedua anaknya Sabi berjalan memasuki area perkemahan bersama dengan Aunty cantiknya.
Bocah itu mengarahkan pandangannya ke arah tantenya yang sibuk memainkan ponselnya sambil berjalan.
"Aunty apa benar akan tinggal di sini terus selama seminggu menemaniku?" Tanyanya Nofal yang sudah mengendong tas ranselnya di punggungnya itu berwarna hijau bergambar motif Hulk.
"Katanya Oma kamu, Aunty harus disini terus untuk jagain kamu jika tidak menetap bersama kamu ujung-ujungnya kau enggak dapat ijin dari Oma kamu," jawab Fatiah yang nampak cantik dengan penampilan terbarunya dengan berbalut hijab dikepalanya itu.
Nofal pun tidak banyak tanya lagi dan segera berlari cepat ke arah pintu masuk, karena sudah banyak anak seusianya yang mengantri mengambil id card di pintu masuk.
Fatiah yang menyadari apa yang dilakukan oleh keponakannya itu segera berusaha untuk mengejarnya.
"Hey! Stop jangan berlarian nanti kamu jatuh!" Teriak Fatiah yang ikutan berlari pula.
Nofal sudah sampai di depan panitia yang bertugas membagikan id card kartu pengenal untuk semua peserta perkemahan. Tetapi, tanpa disadari ketika Nofal ingin meraih id card itu, bertepatan dengan tangan seorang gadis berambut panjang menyambar secepat kilat id card itu.
Hingga keduanya pun saling berebut," Hay! Ini punyaku lepaskan!" Bentak Orlin.
"Aku duluan yang ngambil jadi ini punyaku!" Tampik Nofal.
Keduanya saling bertatapan dan melempar pandangan saling bermusuhan dengan tarik menarik tali id card itu.
"Dek Orlin dia yang lebih duluan sampai disini berarti dia yang berhak mengambilnya," bujuk Ikhbar yang tidak ingin adik kembarnya itu bertengkar dihari pertama kedatangannya.
Orlin memutar bola matanya jengah mendengar nasehat kakaknya," Abang lebih baik diam saja! Masalah ini menjadi urusanku!" Bentak Orlin yang memang terkenal galak dimanapun berada.
"Adek, sudah yah kalian harus mengalah jangan bertengkar seperti ini. Lagian masih banyak id cardnya kok," bujuknya seorang perempuan muda yang kebetulan berjaga di depan pintu masuk.
"Lebih dia yang mengalah, karena dalam kamus hidupku tidak ada kata mengalah!" Ketusnya Orlin yang masih bersikukuh memegang id card itu.
Hingga kedatangan seseorang laki-laki yang kira-kira berusia 32 tahun datang menengahi perdebatan kedua bocah kecil itu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi di sini!" Teriaknya seorang pria yang tidak lain adalah ketua yayasan pelaksana perkemahan tersebut.
Semua mengarahkan pandangannya ke arah pria itu, sedangkan Fatiah menatap takjub melihat kedatangan pria yang begitu berkharisma di matanya sampai-sampai Fatimah melototkan matanya saking terkejutnya melihat siapa yang datang.