
Fayyad bebas pergi dari rumahnya jika masih pagi buta, mengingat Danish sama sekali tidak pernah melaksanakan shalat subuh. Sehingga ia bebas berpergian di subuh itu. Dan ini yang pertama kalinya pergi, keluar rumah tanpa langsung ke kantornya.
Betapa terkejutnya Sabiyah gadis berusia delapan belas tahun itu terkejut bukan main melihat pria yang menikahinya secara siri empat hari yang lalu.
"Pak Fay, kenapa datang enggak bilang-bilang?" Tanyanya Sabiah yang tubuhnya beringsut ke arah belakang hingga kepalanya terantuk ke headboard ranjangnya.
"Kenapa! Apa ada masalah dengan kedatanganku, bukannya ini juga rumahku sehingga aku bebas datang, pergi sesuka hatiku, baik pagi hari ataupun malam hari!" Ketusnya Fayyad dengan seringai liciknya.
"Bu-kan be-gi-tu Pak Fay, hanya saja saya tidak mengetahui kedatangannya bapak. Setidaknya kan mengatakan terlebih dahulu padaku, apabila mau datang jadinya saya tidak terkejut seperti saat ini," sanggahannya Sabiah yang berusaha menenangkan dirinya setelah menyadari jika yang datang adalah suaminya.
Fayyad tersenyum penuh kemenangan mendengar perkataan dari istrinya itu,"berarti secara tidak langsung kamu mengharapkan kedatanganku yah,"
"Ten-tu saja Pak Fay andakan suamiku sekaligus pemilik rumah ini, jadi sewajarnya dan seenggaknya Anda mengabariku terlebih dahulu," tampik Sabiah.
Tanpa menunggu dan membuang waktu berlama-lama lagi, Fayyad segera menerkam tubuhnya Sabiah dan mengungkung serta mengunci rapat pergerakannya Sabiah.
"A-pa yang ingin bapak la-ku-kan? Sa-ya ti-dak…" ucapannya terhenti karena bibirnya sudah dibekap oleh Fayyad.
Hingga pagi itu hubungan suami istri kembali terjadi, padahal sesungguhnya Sabi masih enggan melakukannya kembali mengingat kondisi tubuhnya terutama bagian terbawahnya masih sedikit ngilu.
"Ahhh, Pak Fayyad Albiruni Haris!" Teriaknya Sabi ketika tubuhnya berhasil dimasuki oleh Fayyad junior.
"Ayo sayang ulangi lagi sebut namaku, aku suka kamu menyebut namaku seperti ini," titahnya Fayyad.
"Hemph, Fayyad Albiruni Haris!" Teriaknya Sabi.
__ADS_1
Saniah berulang-kali agar Fayad puas sedangkan dirinya terus melawan getaran yang terus muncul dari dalam hatinya dan sekujur tubuhnya yang mengejang dengan perlakuan dari suaminya itu hingga sesekali tubuhnya terangkat ke atas.
Fayyad barulah berasa puas dan lega ketika dia bisa menuntaskan keinginannya bersama istri barunya itu yang sejak semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak, dihantui oleh bayang-bayang kenangan bersama dengan Sabi di hotel ketika berada di Pulau Dewata Bali tepatnya di Denpasar.
Fayyad membelai rambutnya Sabi yang masih sedikit basah karena, pagi tadi mandi dan keramas sebelum melaksanakan shalat subuh. Tetapi, semakin basah ketika beraktivitas bersama dengan suaminya itu.
Entah kenapa aku sungguh dibuat mabuk kepayang jika bersentuhan dengan k*litnya Sabi. Aku tidak pernah bersikap seperti ini terhadap perempuan lain selain Daniah istriku.
Bahkan betapa banyaknya perempuan di luar sana yang merelakan t*buhnya padaku hanya demi uang dan kekayaan. Tetapi, satupun dari mereka yang membuatku tertarik,suka dan kesetiaanku goyah terhadap istriku Dania Najida.
Fayyad pun membingkai wajahnya Sabiah yang beberapa bulir keringat bercucuran membasahi pipi hingga sekujur tubuhnya itu.
"Kau sangat cantik, aku sangat puas dengan pelayanmu hari ini. Semoga saja kamu segera hamil calon penerus Haris Chandra tepatnya di sini," ucapnya Fayyad hingga jari jemarinya berhenti di sekitar perutnya Sabi yang masih datar itu.
Sabiyah tersenyum tipis mendengar perkataan dari suaminya itu, wajahnya merah merona saking malu-malunya dipuji seperti itu oleh pria yang sering kali membuatnya esmosi dan mengajaknya berdebat.
Apakah karena selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan hanya dengan Dania seorang saja?
Nafasnya Sabi ngos-ngosan dan tersengal-sengal, hingga deru nafasnya sanggup kedengaran hingga ke telinganya Fayyad.
"Mulai hari ini, kamu harus bersiap untuk menunggu kedatanganku dan melayaniku seperti hari ini. Sejujurnya aku melihat kamu sudah mulai lihai mengimbangi permainanku gadis kecilku, aku sungguh menyukai gayamu yang seperti ini." Pujinya Fayyad.
Sabiah segera menarik bedcover untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga ke batas leher jenjangnya itu.
"Nanti malam tunggu aku, karena aku akan datang dan kembali mengambil hakku atas dirimu," imbuhnya Fayyad dan segera berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Sabi kemudian memunguti semua pakaian yang tercecer di atas lantai keramik kamar pribadinya. Dia tidak banyak bicara ataupun melakukan gerakan berlebih mengingat tubuh bagian sensitifnya sungguh masih perih.
Katanya kemarin tubuhku ini kurus kerempeng, tetapi hari ini aku sungguh tidak menyangka jika pak Fay menyukai apa yang aku lakukan. Padahal semua yang aku lakukan hanya mengikuti naluriku sendiri atas perlakuannya sendiri.
Sabiyah berjalan ke arah lemari dengan sedikit tertatih dan sesekali meringis kesakitan,dia hendak membuka lemari. Karena sempat melihat ada beberapa potong pakaian laki-laki di dalam lemarinya itu. Yang sempat membuatnya cukup terheran-heran dengan asal usul baju itu.
Fayyad sengaja membawa pakaian ganti untuk berganti pakaian setelah dari sana untuk menghindari kecurigaan dari istri pertamanya.
Sabi menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu dengan mengambil sesuai dengan yang dia sukai tanpa bertanya kepada suaminya terlebih dahulu pakaian apa yang disukainya.
"Sepertinya ini pakaian yang cocok dengan Pak Fay, pasti akan kelihatan lebih muda dan keren," cicitnya Sabi.
Sabi meletakkan pakaian itu ke atas meja khusus di dalam kamar ganti, kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Dia hendak mengetuk pintu kamar mandi, tapi sungkan dan segan untuk melakukannya.
Hingga tangannya hanya menggantung di udara, karena lagi-lagi gagal melakukannya hingga pintu itu terbuka lebar dan terlihatlah sebagian tubuhnya Fayyad dengan menyembulkan kepalanya ke arah luar yang terlihatlah tetesan air dari ujung rambutnya yang masih basah.
Sabi menganga lebar melihat ketampanan paripurna dari pria dewasa yang lebih tua dari usianya itu yang terlihat segar dan fresh terkena air dingin pagi itu.
Fayyad tersenyum penuh arti melihat sikapnya dan tingkah lakunya Sabiyah hingga tangannya spontan menutup mulutnya Sabi yang menganga membentuk huruf o besar itu. Fayyad juga menoel hidungnya Sabi yang sedikit mancung dan bangirnya.
"Untungnya hidungku mancung jadi kelak anakku nanti tidak seperti hidung gadis Makassar yang pesek sepertimu," canda Fayyad yang segera berlalu dari hadapannya Sabi yang terdiam membeku mematung.
Perkataan Fayyad membuat Sabi semakin terperangah dan tidak percaya dengan apa yang barusan dan di dengarnya.
Fayyad terkejut melihat apa yang terdapat di atas meja ganti pakaiannya itu. Dia tidak menduga jika istri kecilnya itu menyediakan pakaian ganti khusus untuknya.
__ADS_1
Lumayan masih kecil dan muda tapi tau tanggung jawabnya.