
Hahaha! Kamu sudah bukan maduku lagi. Kamu sudah menandatangani surat cerai atas pernikahanmu dengan suamiku secara siri.
Besok-besok kamu tidak akan bisa menuntut hakmu atas suamiku karena kamu dengan bodohnya telah menandatangani surat perceraian tanpa memeriksanya terlebih dahulu sebelum tanda tangan.
Kamu benar-benar tolol adik sepupuku. Aku tidak menyangka jika semuanya akan berjalan semudah ini.
Daniah berdiri di ambang pintu sebelum pergi meninggalkan kamar perawatannya Sabiyah.
"Aku akan mengunjungimu sembilan bulan lagi. Aku pastikan anak yang ada dalam kandunganmu akan menjadi milikku seutuhnya," tatapan matanya Dania berbinar binar saking bahagianya karena rencananya berhasil sukses.
Sabiyah berjalan ke arah kepergian kakak sepupunya itu karena ada hal penting yang ingin disampaikannya sebelum pergi.
"Mbak Daniah tunggu sebentar!" Teriak Sabiyah.
Dania menghentikan langkahnya itu kemudian menolehkan kepalanya ke arah kedatangan Sabia.
"Ada apa?" Ketusnya Dania.
Sabi menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya itu," Mbak apa saya bisa melihat pak Fayyad untuk terakhir kalinya! Saya hanya melihatnya dari jauh saja, saya mohon kabulkan keinginanku ini," mohonnya Sabiah seraya menyeka air matanya.
"Silahkan saja kamu ke sana lihat di ICU, tapi jangan salahkan Mbak apabila kamu dirangkap!" Ancamannya Dania.
Mana mungkin aku ijinkan kamu ke sana, bisa-bisa mas Fay akan mencegah kepergianmu dan rencanaku bakal hancur dan gagal total.
"Ta-pi sa-ya ti-dak bersalah Mbak,bukan saya yang mendorong pak Fayyad," sanggahnya Sabiyah yang masih berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sudahlah Sabi, kamu kubur dalam-dalam keinginanmu itu untuk bertemu dengan suamiku! Karena jika kamu berani akan menjadi terdakwa dan tersangka atas kasus percobaan pembunuh atas pewaris tunggal Pak Haris Chandra!" Bentaknya Dania.
Sabia pun tak sanggup berkata-kata lagi, dia tidak sanggup melawan apa yang sudah terjadi pada hidupnya. Air matanya semakin menetes membasahi pipinya itu, dia berdiri mematung dengan tanpa berkata-kata lagi.
Dania tersenyum penuh kemenangan saking bahagianya melihat wajah ketidakberdayaan yang diperlihatkannya.
Menangislah sampai air matamu kering dan habis karena ini adalah kebahagiaanku adik sepupu.
__ADS_1
Daniah melenggang pergi meninggalkan kamar perawatannya Sabiah. Dengan seringai liciknya.
Sabiyah segera berkemas-kemas dan berganti pakaian pasien dengan pakaian yang dipakai oleh Sabiah. Sesekali mengusap wajahnya yang terkena tetesan air matanya itu.
"Abang Fay maafkan aku disaat seperti ini harus meninggalkan kamu untuk selamanya. Aku tidak ingin hidup menjadi narapidana, tapi aku tak sanggup terpisah jauh darimu, walau aku tidak bersalah, tapi aku ini siapa pasti aku berkata jujur pun tidak akan ada yang bisa percaya dengan apa yang aku katakan," cicitnya Sabiyah.
Sabiyah berjalan cepat ke arah pintu keluar, agar tidak ada yang melihatnya. Sabiyah berjalan ke arah parkiran dimana taksi menunggu kedatangannya. Sabiyah berpapasan dengan Fadel dan Silvia tepat di parkiran, karena Silvia dan Fadel baru saja balik dari luar.
Fadhel hanya menatap intens kepergian Sabiyah," kenapa aku merasa aku pernah melihatnya. Tapi dimana?" Fadhel menghentikan langkahnya sejenak untuk memperhatikan kepergian Sabiyah.
Silvia yang melihat kekasih sekaligus rekan kerjanya itu keheranan melihat sikapnya Fadhel yang tiba-tiba terdiam seperti patung.
"Hey! Apa yang terjadi padamu kenapa kamu tiba-tiba diam saja?" Tanya Silvia dengan kedua alisnya saling berkerut.
"Ahh tidak apa-apa, aku baik-baik saja hanya saja aku merasa aku pernah melihat perempuan itu," tunjuknya Fadel sambil menunjuk ke arah kepergian Sabi.
"Mungkin kamu hanya salah lihat saja, ayo kita cepat masuk ke dalam karena Tuan Fayyad sudah sadar," ajaknya Silvia.
Fadel segera melangkahkan kakinya kembali yang sempat tertunda karena melihat Sabiah.
"To-long a-ku!" Teriaknya seseorang yang berasal dari arah samping kanannya.
Sabiyah segera mengarahkan penglihatannya mencari keberadaan suara orang yang meminta tolong itu. Hingga tatapan matanya tertuju pada sebuah pintu mobil yang terbuka lebar.
Sabiah tanpa banyak bicara dan berfikir panjang segera menolong pria tua yang sudah dalam keadaan yang tidak baik.
"Bapak apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seorang diri saja? Dimana anak dan cucumu?" Sabiyah memberondong berbagai macam pertanyaan sambil membantu Kakek tua renta itu.
"Kakek hanya," lirihnya pria tua itu sebelum pingsan.
"Kakek!" Jeritnya Sabiah.
Teriakannya Sabiah mampu membuat beberapa orang berkerumun mengelilingi Sabiah.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padamu Nak?" Tanyanya ibu-ibu.
"Kakek ini butuh bantuan, ayo cepat bawa ke dalam untuk segera diperiksa!" Pintanya Sabiyah.
Sabiyah sudah berusaha untuk menyadarkan kakek tua itu yang sudah pingsan tak sadarkan dengan menepuk-nepuk pipinya sang kakek.
"Pak Security tolong bantu kami!" Perintah bapak-bapak yang sudah membantu Sabi.
Security segera membantu mereka dan mengangkat tubuh kakek itu hingga ke dalam ruangan UGD untuk segera mendapatkan penanganan medis.
"Makasih banyak pak sudah membantu kakeknya," ucapnya Sabia.
"Besok-besok kamu tidak boleh mengijinkan kakekmu pergi begitu saja seorang diri, kalau seperti ini berbahaya dan bagaimana dengan nasibnya kalau kamu dan kami ini tidak tepat waktu menolongmu," ucapnya seorang perempuan yang mungkin seumuran dengan tetangganya di kampung halamannya yang selalu membantunya.
Sabi hanya tersenyum simpul membalas perkataannya dari ibu-ibu itu. Semua orang kembali beraktifitas seperti sedia kala sebelum peristiwa itu terjadi.
"Ya Allah selamatkanlah hidup kakek itu, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya," Sabi mondar-mandir di depan pintu UGD.
Hingga seorang dokter perempuan berhijab tersenyum simpul melihat reaksinya Sabiah.
"Apa kamu yang telah membantu Kakek Tua yang berkemeja biru itu?" Tanya dokter itu.
"Iya Bu dokter saya yang kebetulan melihatnya pingsan sehingga meminta tolong kepada orang-orang agar membawa secepatnya ke sini. Apa yang terjadi padanya dokter?" Tanyanya Sabi dengan penuh kekhwatiran yang tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya itu.
"Syukur alhamdulillah dia sudah selamat dari masa kritisnya," jelas Bu dokter yang belum diketahui namanya itu.
Sabiyah akhirnya bisa bernafas lega karena mendengar berita yang membuatnya bisa tersenyum lega sambil mengusap wajahnya dengan gusar. Dokter itu tersenyum tipis menanggapi sikapnya Sabiah.
Dokter itu memegangi tangannya Sabiyah dengan tatapan bersyukurnya,"aku sangat bersyukur karena kamu telah membantu Kakekku sehingga ia terselamatkan," imbuhnya Bu dokter.
Sabi yang mendengar perkataan dari dokter cantik itu membuatnya menganga lebar karena tidak menduga jika kakek yang ditolongnya adalah kakek dari seorang dokter cantik.
"Apa kakek itu adalah kakeknya Bu dokter cantik?" Tanyanya Sabi yang seakan-akan tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
__ADS_1
Dokter itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar." Benar sekali dia kakek keras kepalaku, aku sungguh berterima kasih kepadamu karena berkat kamu lah kakekku selamat, ngomong-ngomong namamu siapa?" Tanyanya dokter itu.
Keduanya berdiri di depan pintu masuk UGD sambil berbincang-bincang santai karena masa kritis kakek yang ditolongnya sudah membaik.