Terpaksa Menjadi Orang Ketiga

Terpaksa Menjadi Orang Ketiga
Bab. 17. Bertingkah Aneh


__ADS_3

Sabiyah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yaitu dengan menyiapkan segala keperluan pakaian kerjanya Fayyad, seperti yang kerap kali dulu ibunya lakukan jika ayahnya akan berangkat mengajar di sekolah tempat dia honor beberapa tahun sebelum beliau wafat.


Sabiah kadang bermimpi untuk menjadi seperti ibunya yang begitu perhatian pada suaminya dan anaknya, walau tanpa diminta ataupun diajarin caranya oleh orang lain terlebih dahulu.


Aku sudah terbang tinggi melayang ke atas langit tingkat tujuh, tau-taunya berujung dengan penghinaan lagi dan lagi.


"Padahal aku sudah menganggapnya berbeda dengan sebelumnya, tapi ternyata dia belum berubah masih seperti dulu!" Gerutunya Sabiyah yang menatap punggung lebar pria yang berstatus sebagai suaminya itu.


Berselang beberapa menit kemudian, Fayyadh sudah berpakaian lengkap untuk bergegas berangkat ke perusahaan milik kedua orang tuanya itu.


Sabi mengekor seperti anak ayam membuntuti kemanapun pergi induknya dengan tenang tanpa protes ataupun beradu argument seperti biasanya yang terjadi dari keduanya.


Hanya bibir mungilnya yang ngomel-ngomel tidak jelas, saking kesalnya diperlakukan seperti itu oleh pria yang baru saja mengambil haknya sebagai seorang suami.


Fayyadh berhenti sebelum memutar pintu kamarnya itu, kemudian berbalik badan dan hampir saja keduanya tabrakan untungnya Sabiah sigap menghindarinya.


"Ehh ada apa Pak! Kenapa berbalik badan secara tiba-tiba gitu, enggak mengatakan apa-apa sebelum berbalik!" Ketusnya Saniah.


"Apakah segala sesuatunya harus menginformasikan terlebih dahulu padamu! Pak Presiden saja tidak pernah aku infokan padanya jika aku berhenti berjalan, tetapi kenapa kamu sewot seperti ini!" Balasnya Fayad yang tidak ingin mengalah.


"Tidak masalah kok, kalau bapak Fayad yang terhormat ini melapor kepada pak presiden, emangnya masalah buat gue apa!" Ketusnya Sabiah.


Fayyad hendak maju ingin memberikan hukuman terhadap perkataannya itu, tapi terhenti ketika mendengar getaran ponselnya yang terletak di dalam saku celananya itu. Sabiah sudah mundur beberapa langkah kakinya untuk menghindar dari hadapan Fayyad untuk berjaga-jaga.


"Kali ini kamu selamat, tapi lain kali tidak akan lagi!" Gertaknya Fayyad yang segera mengangkat telponnya itu.


Sabiah bernafas lega saking bahagianya karena tidak jadi mendapatkan hukuman, hingga dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup pelan.

__ADS_1


"Selamat pagi sayang, ada apa?" Tanyanya Fayyad ketika sambungan teleponnya terhubung.


Fayyad menatap ke arah Sabiah dengan menyentuh bibirnya menggunakan jari telunjuknya agar Sabiyah diam. Sabi hanya menautkan kedua alisnya itu, ketika melihat kode yang diberikan oleh suaminya itu.


"Iya Mas sudah ada di jalan nih sayang mau ke kantor. Kenapa memangnya menelpon?" Tanyanya Fayyad yang berjalan mendekat ke arah Sabi seraya memainkan bibir mungilnya Sabiyah.


Sedangkan Sabi yang diminta untuk terdiam tanpa berbicara sepatah katapun lagi dari suaminya, sehingga ia hanya diam saja diperlakukan seperti itu walau ia merasakan kegelian.


"Tidak apa-apa kok, aku hanya baru bangun tapi melihat ranjangnya mas sudah kosong melompong jadi tak cariin gitu, apa mas sudah sarapan?" Tanya Dania dari seberang telpon.


Suaranya Dania cukup keras karena Fayyad entah kenapa sengaja mengeraskan volume suara panggilannya itu dengan menloudspeaker telponnya.


"Ohh, Maafkan mas buru-buru pergi ke kantor soalnya kamu tau kan sudah tiga hari libur tak ke kantor, jadi banyak kerjaan yang seharusnya aku selesaikan pagi ini. Kamu ndak masalah kan sayang?" Tanyanya balik Daniah.


Ya Allah… astaughfirullahaladzim kenapa pak Fay meski berbohong pada Mbak Dania. Padahal aku yakin Mbak Daniah tidak bakalan marah kalau tau kami bertemu. Kan dia sendiri yang meminta kami untuk semakin dekat agar aku segera hamil.


"Tidak apa-apa kok mas, aku kira mas mampir ke rumahnya Sabi terlebih dahulu, tapi enggak ke sana padahal seharusnya mas kesana supaya Sabi segera hamil Mas. tetapi, aku paham dengan kesibukan mas kok. Kalau gitu lanjutkan perjalanannya mas. Hati-hati di jalan yah, i love you ummuaach," ucapnya Daniah dari seberang telpon.


"I love you to sayang, ummah," balasnya Fayyad kemudian buru-buru untuk menutup telponnya karena semakin dibuat mabuk kepayang dengan bibirnya Sabi khas orang Makasar yang seksi itu.


Fayyad tanpa ragu segera menarik tengkuk lehernya Sabi kemudian meee luuu maat bibirnya Sabi yang sedikit bengkak akibat dari perbuatannya sendiri.


Sabi mulai memejamkan matanya dan Fayyad tersenyum penuh kemenangan melihat Sabi yang mulai lihai dan mampu mengimbangi permainan lidahnya itu.


"Aahh, hemmph," suara lenguhan keduanya terdengar jelas dari dalam kamar kedua pengantin baru itu.


Pasokan udara yang ada di sekitarnya semakin menipis sehingga, mereka segera mengakhiri kegiatan keduanya di pagi itu.

__ADS_1


Fayyad menyeka sudut bibirnya Sabi yang terdapat sedikit air liurnya itu yang bercampur dengan milik istri kecilnya.


"Ingat nanti malam atau pagi-pagi sekali Abang akan datang mengunjungimu, tapi kamu harus memakai pakaian yang nanti malam akan Abang belikan untukmu khusus untuk istriku yang paling cantik ini," imbuhnya Fayyad kemudian mengecup jari jemarinya yang mengusap bekas salivanya Sabiah.


Sabi membulatkan matanya melihat apa yang dilakukan oleh suaminya yang menj*lati jari jemarinya yang terdapat sisa-sisa salivanya.


"Abang," beonya Sabi.


"Mulai detik ini jika kita hanya berdua saja kamu panggil aku a b a n g, apabila ada orang lain kamu panggil aku pak Fay seperti yang biasa kamu katakan padaku jika menyapaku," pintanya Fayyad.


Sabi hanya terdiam mendengarkan perkataannya dari suaminya itu tanpa berniat menyela ataupun menyanggah perkataannya itu. Fayad segera cabut dan angkat dari rumah keduanya itu, ia berjalan dengan langkah yang panjang dan lebar.


Sabi masih tak bergerak dan tak bergeming sedikitpun melihat kepergian suaminya itu. Dia juga tidak menyangka jika sifatnya Fayyad akan seperti itu Du depannya dan akan berbeda apabila berada di depannya Daniah.


Sedangkan di tempat lain, Daniah merasakan ada hal aneh dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


Kenapa aku merasa kalau pagi-pagi sekali mas Fayad mengunjungi rumahnya Sabi. Tapi, setelah aku menelpon suamiku katanya dia lagi di jalan mau ke kantor.


Aku tidak boleh berfikiran negatif dan aneh-aneh terhadap adik sepupuku sendiri.


Tapi, jika mereka semakin sering melakukannya semakin bagus supaya lebih cepat Sabi hamil dan segera menghilang dari kehidupan rumah tanggaku.


Daniah meraih figura foto yang di dalamnya terdapat foto pernikahannya itu. Ia mengelus fotonya Fayyad suaminya.


Mas entahlah kenapa aku merasa aku takut banget kehilanganmu, seolah kamu akan meninggalkan aku demi Sabi.


Air matanya kembali menetes tanpa aba-aba dan tak terkendali lagi. Hingga Daniah terisak dalam tangisannya itu di atas ranjangnya yang masih memakai selimutnya padahal sudah hampir jam sepuluh pagi tapi baru terbangun.

__ADS_1


__ADS_2