
Hubungan mereka malam itu sungguh membuat keduanya kewalahan dan kelelahan. Taulah pengantin baru gimana caranya membuat pasangan masing-masing bahagia.
Sedangkan di tempat lain, Dania yang terus menghubungi nomor ponsel suaminya sama sekali tidak digubris sedikitpun.
Fayyad menyetel ponselnya dalam mode diam sehingga dia tidak mengetahui siapapun yang menelponnya dan apakah telponnya berdering.
Fayyad dengan sengaja melakukan hal itu, karena tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk istri ataupun kedua orang tuanya.
"Sial!! Apa yang keduanya lakukan? Sudah sejam lebih aku menghubungi nomor ponselnya mas Fay, tapi sekalipun tidak digubris, bahkan sekarang sudah tidak aktif!" Umpatnya.
Dania mondar-mandir ke sana kemari di dalam kamarnya sambil terus menghubungi nomor ponsel Fayyad.
"Entah guna-guna apa yang diberikan oleh anak kecil itu kepada suamiku sehingga mampu berbuat seperti itu padaku? Tapi namaku bukan Daniah Najida jika aku tidak mengusir dari kehidupan kami!"
Dania melempar hpnya ke arah ranjangnya karena tidak bisa berbicara dengan suaminya itu.
"Argh!!!" Jeritnya Daniah.
Dania terduduk di atas tepi ranjangnya dengan mengusap wajahnya dengan gusar. Hingga ide gila menghampiri pikirannya itu.
"Kalau gini aku sepertinya butuh hiburan, bisa-bisa aku gila menuggu kepulangannya, kamu bersenang-senang dengan Sabi gadis kampung itu! Aku juga akan mencari kesenangan di luar sana.
Dania segera berjalan ke arah kamar mandi dan membersihkan wajahnya terlebih dahulu sebelum mengganti pakaiannya dan memakai make up yang cukup tebal malam itu.
Dania melenggang pergi meninggalkan rumahnya di tengah malam, karena pusing dan kesal dengan sikapnya Fayyad suaminya yang melewatkan malam bersama dengan Sabia.
"Aauhh geli bang, jangan seperti ini," jerit Sabi yang segera menutupi mulutnya karena tidak kuasa menahan kegelian akibat ulahnya Fayyad.
__ADS_1
"Kamu harus tahan Abang akan lakukan seperti ini hingga kamu merasakan kebahagiaan yang tidak pernah kamu dapatkan selama ini," ucapnya Fayyad dengan seringai liciknya terbit di sudut bibirnya itu.
Kedua pancaran sinar matanya yang sudah berkabut penuh gaa iii raah tak tertahankan lagi. Hingga tanpa ragu keduanya langsung melakukan pemanasan dan berbagai gaya untuk memenuhi ha*rat yang sedari tadi tertahan.
"Ja-ngan aahh! Cepat bang a-nu a-ku tidak sanggup lagi menahannya!" Sabiyah mencengkeram kuat rambutnya Fayyad akibat ulahnya sendiri Fayyad.
Keduanya pun menghabiskan malam yang begitu panas dengan sama-sama tersenyum puas penuh kebahagiaan.
Hanya suara deru nafas keduanya yang cukup panjang memenuhi setiap sudut penjuru ruangan itu. Sabi yang masih muda belia sanggup mengimbangi segala permainan suaminya itu. Inilah yang membuat Fayyad selalu betah bersamanya, bahkan selalu ingin cepat-cepat bertemu.
Sabia yang terkadang menentang keras perkataan dari suaminya itu, tetapi di atas ranjang selalu patuh dan penurut dengan apa yang dikatakan dan diinginkan oleh Fayyad di atas tubuhnya.
"Sabiyah Laika Badiah aku sungguh sangat mencintaimu," ucapnya Fayyad sebelum jatuh tumbang ke sampingnya Sabiyah.
Sabiyah tercengang mendengar perkataan dari suaminya itu, pria yang terpaut jauh usianya yang hampir dua belas tahun perbedaan usia keduanya.
"Abang Fayyad entah apakah yang kau katakan benar adanya ataukah hanya karena ingin mendapatkan keturunan. Aku sungguh tak percaya jika itu adalah perasaan yang kamu rasakan untukku yang hanya seorang gadis kampung."
Sabiyah memindai setiap inci wajah suaminya itu dengan jari jemarinya yang lentik. Mulai dari bulu mata, alisnya yang tebal dan hitam legam. Hingga ke hidung mancungnya bak orang Eropa dan bibirnya yang seksi seperti bibir oppa Korea Selatan Jhi Chang Wook.
Hingga tak terasa, kedua kelopak matanya terpejam perlahan-lahan dan mengikuti jejaknya Fayyad yang sudah lebih duluan menuju alam buaian mimpi indahnya.
Sang Surya telah muncul dari peraduannya dan memancarkan cahaya sinar matahari di pagi hari itu. Ayam jantan berkokok lantang di setiap penjuru kota pertanda pagi telah menyambut kedatangannya.
Sabiyah menguap dan sesekali mengerjapkan kedua bola matanya itu,ia tersenyum bahagia melihat pria yang semalam mampu membuatnya berteriak kencang saking enaknya apa yang dirasakannya.
"Aku hanya berharap semoga kebahagiaan ini bukan semu, aku meminta padamu ya Allah semoga kelak jika kami berpisah tidak akan ada yang tersakiti," gumamnya Sabiyah yang segera menyibak selimutnya itu.
__ADS_1
Setelah mandi di pagi buta itu, dia segera melaksanakan shalat subuh seorang diri. Apa yang dilakukan oleh Sabiah diam-diam diperhatikan dengan seksama oleh Fayyadh suaminya.
Sabiyah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an kalam ilahi dengan begitu merdunya sampai-sampai membuat Fayyad begitu tenang dan damai.
Kamu memang sungguh berbeda dengan Dania, entah kenapa aku seperti baru mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya dan itu hanya bersamamu istri kecilku.
Fayyad mengangumi kecantikan paras dan akhlak dan hatinya Sabiah dan akhir-akhir ini sering kali memuji dan membandingkan kedua istrinya itu, walaupun itu tidak baik adanya.
Sabiyah segera membereskan perlengkapan shalatnya ke tempat rak susun seperti sedia kala. Fayyad yang melihat istrinya bangkit dari posisi duduknya, segera menutup matanya,agar apa yang dilakukannya tidak ketahuan oleh Sabiyah.
"Aku harus segera menyiapkan sarapan pagi untuk bang Fay, sudah hampir jam delapan pasti dia akan ke kantornya," cicitnya Sabiyah yang meninggalkan kamarnya menuju ke arah dapur dengan menuruni tangga terlebih dahulu.
Bibi Nurmala Sari yang sedang merapikan beberapa barang melihat kedatangan Nyonya Mudanya itu.
"Selamat pagi nyonya Sabi," sapanya Bi Nur.
"Selamat pagi juga Bibi Nur," balasnya Sabiah dengan senyuman lebarnya.
Sabi segera berjalan ke arah dapur tepatnya di depan lemari pendinginnya,ia melihat ada ayam segar dan beberapa sayuran hijau. Sabi yang melihat jam sudah pukul tujuh lewat,ia berniat masak makanan yang cepat saji saja.
"Ada kol, sawi hijau, kacang panjang,daun kemangi aku buat ayam goreng dengan mie rebus seperti yang kemarin aku lihat di facebook saja," lirihnya Saniah.
Sepeninggal Sabiah dari dalam kamar, Fayyad bergegas ke arah kamar mandi. Ia baru teringat jika hari ini banyak meeting yang harus dia ikuti.
Sabiyah mencuci bersih beberapa potong ayam, kemudian melumurinya dengan bumbu racik merk indo food yang berwarna kuning dan terakhir memecahkan dua butir telur kemudian menaburi terigu khusus bumbu kentucky.
"Aku diamkan beberapa menit terlebih dahulu ke dalam freezer selama beberapa menit, sambil buat sambel dan mienya,"
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Sabiah diperhatikan oleh bibi Nurmala. Ia tersenyum melihat Sabiah yang cekatan mengolah beberapa bumbu dapur itu menjadi masakan yang sungguh aromanya begitu wangi. Sampai-sampai membuat semua orang yang menghirup aromanya langsung tergugah ingin menyantapnya langsung.