Terpaksa Menjadi Orang Ketiga

Terpaksa Menjadi Orang Ketiga
Bab. 31. Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Dania berbincang-bincang dengan pegawai lab bernama Jordy tentang keinginannya dan rencana besarnya itu. Keduanya akhirnya mencapai kesepakatan bersama.


Dania mendapatkan apa yang diinginkannya dan Jordy pun mendapat kenyamanan dan kepuasan batinnya.


"Aku sangat puas dengan pelayanmu nyonya cantik, aku akan melakukan segalanya apa yang kau inginkan, tapi kalau boleh setiap kali aku ingin mendapatkan kehangatan apakah aku boleh menghubungi nomor ponselmu?"


Jordy segera memakai seragam kerjanya seperti semula, sedangkan Dania pun sama dan memperbaiki make-upnya yang sedikit berantakan akibat ulahnya Jordi.


Dania tersenyum simpul menanggapi perkataannya Jordi," boleh saja asalkan kamu bisa menjalankan perintahku dengan baik, tetapi kamu harus tau jika aku sudah punya suami dan keluarga suamiku bukan lah orang biasa sehingga aku harus pintar-pintar mengatur waktu untuk bertemu denganmu."


Jordhi meraih punggung tangannya Dania kemudian mengecupnya dengan senyuman yang selalu merekah di bibirnya itu.


"Apapun akan aku lakukan asalkan kamu bahagia cintaku," balasnya Jordi pria single diusianya 30an itu.


"Kalau gitu aku pamit dulu, aku ingin melihat suamiku dan adik sepupuku," ucapnya Dania dan segera meninggalkan ruangan itu tapi sebelum pergi ia mencium lembut bibirnya Jordhi.


Jordy memegangi bibirnya yang masih basah itu," aku baru menemukan perempuan yang mampu membuatku mencapai puncak kenik*atan yang sungguh sangat tak terkira nikm*tnya."


Dania melenggang pergi meninggalkan tempat pertemuannya dengan pria yang mampu membuatnya berteriak kegirangan.


"Damar dan Jordy lah yang mampu membuatku bahagia sedangkan Mas Fay sejak Sabi hadir dalam hidup rumah tangga kami semuanya sudah berubah,"


Sedangkan di tempat lain..


Fadhel Muhammad yang rencananya ingin pulang ke kantor tanpa sengaja melihat ponselnya Fayyad yang tertinggal di dalam mobil tepat di kursi jok belakang.


"Astaughfirullahaladzim, tumbenan Pak Fayyad melupakan ponselnya,"cicitnya Fadel yang segera meraih ponsel itu.


Tetapi, baru sepersekian detik saja Fadel menyentuh ponsel itu tiba-tiba, bergetar dan berdering. Tanpa pikir panjang, Fadel segera mengangkat telponnya itu dan menekan tombol power hijau.


"Iya, apa! Itu tidak mungkin bisa terjadi" sanggahnya Fadhel yang sangat terkejut mendengar kabar bahwa Fayyad mengalami kecelakaan.

__ADS_1


Fadel segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit dan menghubungi nomor ponselnya Silvia kekasihnya agar segera menyusulnya ke rumah sakit.


"Untungnya tuan besar Haris dan nyonya besar Widya tidak ada, jika dia ada pasti akan berakibat fatal."


Berselang beberapa menit kemudian, Fadel sudah berada di depan pintu ruang operasi. Dia mondar mandir kesana kemari menunggu lampu operasi itu mati.


"Ya Allah semoga saja tuan muda baik-baik saja," hingga tepukan lembut dipundaknya membuatnya terjingkak saking kagetnya.


"Mas Fadel, apa yang terjadi pada tuan muda Fayyad?" Tanyanya Silvia.


"Ahh, tuan muda masih dalam ruang operasi," jawabnya Fadel.


Dania yang melihat kedua asisten pribadi dan sekretaris suaminya segera menampilkan wajah sedihnya dan berakting sedih agar lebih meyakinkan jika dia tidak bersalah dan mengetahui apa yang terjadi pada suaminya itu.


"Nyonya Muda Dania, apa yang terjadi pada tuan muda?" Tanyanya Fadhel yang tidak bisa menunggu kedatangan dokter.


Dengan lelehan air matanya itu yang mampu mengelabui siapapun yang melihatnya,"Suamiku mengalami kecelakaan ketika hendak menolongku yang hampir tertabrak," jawab Dania yang semakin mengeraskan suara isak tangisannya itu.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, semoga saja tuan muda tidak kenapa-kenapa," harapnya Silvia.


Dalam hati Dania bersorak gembira karena rencananya sudah berjalan tujuh puluh persen. Hanya menunggu rencana selanjutnya.


Hahaha! Kalian memang bego dan tolol mudah dikibuli. Kenapa tidak sejak awal saja aku melakukan semua ini.


Beberapa jam kemudian, Fayyad sudah dinyatakan lolos dari maut dan masa kritisnya. Tetapi belum sadar juga, kondisinya masih cukup memprihatinkan dengan beberapa luka di sekujur tubuhnya itu.


Keesokan paginya, Dania yang sejak semalam pulang ke rumahnya belum datang juga padahal sudah siang. Hanya ada Silvia dan Fadel Muhammad yang menemaninya.


Fayyad pun sudah sadar, tetapi karena kondisinya sangat lemah sehingga untuk berbicara saja pun tidak sanggup dilakukannya. Hanya tatapan matanya yang mengitari seluruh kamar itu dan mencari keberadaan istri keduanya.


Dimana Sabiyah, kenapa aku tidak melihatnya. Moga saja istriku dalam keadaan yang baik-baik saja.

__ADS_1


Sedang di tempat lain, masih di dalam area lokasi rumah sakit yang sama. Sabiyah terduduk lesu di atas ranjangnya, air matanya tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya itu setelah mendengar perkataan dari kakak sepupunya itu.


"Mbak ke-na-pa mereka melaporkan saya ke polisi, padahal saya sama sekali tidak bersalah dan bukan gara-gara saya bang Fay kecelakaan?" Ratapnya Sabiah yang merengek meminta penjelasan kepada Dania.


"Jika kamu tidak percaya silahkan saja pulang ke rumahmu, karena sudah banyak polisi yang berjaga menunggu kepulanganmu. Aku tidak masalah sebenarnya jika kamu ingin ditangkap dan dipenjara atas dasar telah merencanakan percobaan pembunuhan terhadap pewaris tunggal tahta kerajaan perusahaan bisnisnya Haris Chandra," ucapnya Dania yang sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya Sabiyah yang ketakutan.


Dania yang sebenarnya tidak pulang ke rumahnya melainkan menjaga dan mengatur rencananya.


"Tapi, saya tidak bersalah bahkan saya tidak pernah berniat untuk melakukan kejahatan apapun itu. Saya masih sadar dan normal tidak mungkin berencana untuk melenyapkan nyawa seseorang, seekor semut saja saya tidak tega membunuhnya apalagi ini suamiku sendiri," tampiknya Sabia.


Dania memainkan gedjetnya dan berpura-pura untuk menghubungi pihak kepolisian.


"Baiklah jika kamu ngeyel dan ngotot ingin pulang ke rumah dan menjelaskan kepada suami kita kalau kamu tidak bersalah! Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan tak bakalan menolongmu apapun yang terjadi, aku ingin melihat kamu mendekam dan membusuk dalam penjara saja karena kamu tidak mau mendengarkan nasehatku!" Ketusnya Dania.


Sabiyah serba salah dan tidak menyangka jika nasibnya akan berakhir seperti ini. Air matanya semakin menetes membasahi pipinya itu dan kebingungan, panik dan takut serta mencemaskan kondisi dari suaminya itu.


"Bagaimana Sabiyah Laika Badiah apakah kamu ingin di penjara atau pergi dari sini? Tapi sebelum kamu pergi aku ingin kamu tanda tangan di atas kertas ini sebagai pernyataan bahwa kamu tidak bersalah," imbuhnya Dania.


Tangannya Sabi gemetaran mengambil pulpen itu, hatinya kacau balau dan berantakan tidak paham apa yang seharusnya dilakukannya itu. Disisi lain tidak ingin meninggalkan suaminya itu, tetapi enggan untuk masuk buih menjadi narapidana.


Sabiyah mengusap wajahnya dengan gusar dan tanpa berfikir panjang segera membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu. Ada dua lembar kertas yang satu bermaterai dan satunya tidak.


Daniah tersenyum penuh kemenangan melihat ketidakberdayaan yang dialami dan diperlihatkan oleh adik sepupunya itu. Dania segera memberikan sebuah amplop putih tebal ke hadapannya Sabiyah.


Dania melempar amplop itu tepat di sampingnya Sabi yang masih menangis,"Ini ada sedikit uang sebagai biaya untuk kamu, dan juga alamat rumah kota yang harus kamu datangi. Pergilah ke alamat ini untuk bersembunyi dan ingat jangan sekali-kali kamu menampilkan wajahmu di hadapanku dan di depannya mas Fayyad jika tidak kamu akan menjadi terdakwa di dalam penjara!" Gertaknya Daniah yang segera melenggang pergi meninggalkan Sabiyah yang terpuruk.


Dania juga memberikan dua koper pakaian,alamat rumah dan rumah itu kecil tapi lengkap dengan peralatan dapur dan perabot rumah. Dania sudah mempersiapkannya dengan matang dan sempurna.


"Sabiyah pergilah sekarang dan jangan biarkan ada orang yang melihatmu. Ada taksi di depan pintu pagar utama rumah sakit yang sudah menunggumu serta barang bawaan yang kelak kamu butuhkan, uang di dalam amplop itu sekitar lima puluh juta simpan lah untuk biaya hidupmu,"


Sabiyah hanya terduduk termenung merenungi nasibnya yang begitu malang. Hatinya tidak ingin pergi, tapi dia juga tidak ingin masuk penjara dan menjadi terdakwa di kursi pesakitan.

__ADS_1


__ADS_2