
Sabiyah sudah dipindahkan ke dalam kamar perawatan. Kondisi tubuhnya dan kesehatan kedua bayinya berangsur normal. Sehingga bayinya sudah dipindahkan ke dalam kamarnya.
Semua anggota keluarganya tanpa terkecuali mengucapkan selamat atas kelahiran kedua buah hatinya Sabiyah dengan penuh suka cita.
"Selamat dek kamu sudah berhasil melahirkan putra putrimu dengan sempurna, aku sungguh terharu melihat kedua putra putrimu yang sungguh lucu dan menggemaskan," ucapnya Aisyah sambil menggendong salah satu bayi kembarnya Saniah.
"Alhamdulillah Mbak,saya tidak menduga jika diusiaku yang masih muda sudah memiliki anak," ucapnya Sabi seraya terkekeh mendengar perkataannya sendiri.
"Cicit-cicitku dua-duanya sungguh tampan dan cantik, iya kan Mas," ucapnya Bu Rima yang menggendong bayi mungil Sabi yang memakai bedong biru langit itu.
Pak Wira menoel pipinya bayinya Sabi," benar sekali apa yang kamu katakan istriku, entah kenapa aku terasa lebih muda dan akan panjang umur setelah kelahiran kedua cicit kita ini," pujinya Pak Wiranata Kusumah.
"Sabi ngomong-ngomong apa kamu sudah mendapatkan nama yang cantik untuk mereka?" Tanya Farhan yang bermain bersama dengan bayi perempuannya Sabi dalam gendongannya Aisya Paramitha.
Sabiyah yang duduk bersandar memperbaiki posisi duduknya itu," Alhamdulillah sudah ada kok Mas, karena kata author sudah dapat nama yang paling pas untuk keduanya." Balas Sabiah.
"Syukurlah kalau kamu sudah punya nama spesial untuk kedua cicitku, karena sesungguhnya memberikan nama itu adalah tugas seorang ayah, tapi karena ayahnya…" Pak Wira menjeda perkataannya itu sambil melirik sekilas ke arah Sabiyah dan Aresha serta Farhan.
Pak Wira yang sudah mengetahui kejadian apa yang mendasari kenapa bisa Sabi hidup seorang diri hingga detik ini dengan alasan khusus yang dimaklumi oleh mereka.
"Kakek aku sudah pernah berbicara bersama dengan ayahnya dulu dan pernah menyampaikan padaku, jika kami memiliki anak maka dia akan memberikan kepada anak kami dengan nama yang sungguh indah yaitu Ikhbar Shaqr Akhsan dan Alishba Suraiya Orlin." Jelasnya Sabi sambil mengelus puncak rambutnya Orlin.
"Wooo adik ipar itu nama yang sungguh sangat cantik dan cakep. Ikhbar dan Orlin, selamat datang di dunia ini Nak semoga kalian menjadi anak sholeha dan sholeh menjadi kebahagiaan dan kebanggaan kedua orang tua kalian," ucapnya Ayesha.
Farhan tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari calon istrinya itu, kamu sungguh wanita yang baik dan sholehah Ayesha, tapi entah kenapa aku sangat sulit untuk membuka hatiku untukmu Ayesha Hayfa.
__ADS_1
"Amin ya rabbal alamin," Jawab semuanya.
"Katanya dokter besok kalian bertiga sudah bisa balik ke rumah," Aisyah berucap sambil menidurkan bayi mungilnya Sabiyah ke dalam box bayinya itu.
"Alhamdulillah, saya doakan untuk Mbak Aisyah bisa menemukan jodoh terbaiknya dan melupakan pria yang sama sekali tidak menghargai Mbak. Untuk Mbak Ayesha semoga pernikahannya dilancarkan prosesnya dan menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah," ucapnya Sabi penuh harap setulus hatinya itu.
Satu bulan kemudian…
Farhan sudah resmi menyandang status sebagai suami dari Ayesha dan memutuskan untuk tetap tinggal bersama dengan kedua kakek neneknya. Awalnya keputusan itu ditentang keras oleh kedua orang tuanya Ayesha pak Gunawan dan Bu Santi. Tetapi, Farhan dan Ayesha berhasil meyakinkan dan membujuk kedua orang tuanya untuk menerima dan menghargai keputusan kedua pasutri itu.
Acara aqiqah Orlin dan Ikhbar telah dilaksanakan. Sabi terbantu dengan kehadiran kakak iparnya di rumah itu. Karena Ayesha memutuskan untuk resign dari perusahaan tempat ia bekerja, dan mengabdikan hidupnya menjadi istri sepenuh.
Enam tahun kemudian…
Seorang anak kecil berlarian di dalam rumah yang cukup besar dan megah itu. Ia berlari karena mogok untuk mengganti pakaian seragam sekolahnya itu.
"Oma aku sudah putuskan aku tidak akan ganti pakaian sebelum papa mengiyakan keinginanku untuk ikut perkemahan musim panas!" Tegasnya anak berusia enam tahun itu.
Bu Widya Chandra hanya menghela nafasnya dengan cukup berat karena dia tidak punya cara dan solusi lagi untuk membujuk cucunya itu.
"Tapi sayang cucunya Oma, Papa kamu itu masih ada di luar negeri. Dia baliknya minggu depan jadi mana mungkin kamu bisa ikut dengan teman-teman kamu ke kota S," tolaknya Bu Widya yang kepalanya pusing dan penat menghadapi ulah cucu kesayangannya itu.
"Aku yang akan menemani Nofal ke kota S, tanpa ada ijin dari kakak atau tidak!" Sahutnya seorang perempuan muda yang masih betah menjanda selama lima tahun terakhir ini.
"Hore Aunty Fatiah akan menemani Nofal ke perkemahan musim panas," ucapnya antusias penuh kegembiraan anak berusia enam tahun itu.
__ADS_1
"Fatiah bagaimana kalau Mas kamu marah dengan keputusanmu ini? Apa yang akan kamu katakan?" Tanyanya Bu Widya.
Ibu Widya yang sudah memangku tubuh cucunya itu yang sudah bersorak gembira kegirangan saking bahagianya karena akan pergi bersama dengan teman lainnya.
Fatiah menatap intens ke arah mamanya itu perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Kakak tidak akan marah, apabila melihat tawa senyuman dari putra tunggalnya Mah," balasnya Fatiah yang sudah mengandeng tangan mungil keponakannya itu.
Seorang asisten pembantu rumah tangga berusaha untuk mencegah kepergiannya Fatiah bersama cucu kesayangannya pemilik rumah megah itu.
"Tidak perlu, biarkan saja mereka berdua pergi. Kamu cukup awasi apapun yang mereka lakukan disana dan pastikan tidak terjadi sesuatu apapun dengan cucu dan putriku!" Perintahnya Bu Widya.
"Baik Nyonya Besar," balasnya perempuan itu.
Entah kemana perginya istrimu putraku hingga membuatmu seperti robot hidup saja. Hanya ada kerja-kerja dan kerja keras yang kamu lakukan.
Tapi, untungnya kehadiran Nofal mampu membuat warna dalam hidupmu, walaupun dia bukan darah dagingmu.
Kedua orang berbeda generasi itu segera bersiap untuk berangkat menuju ke kota S dari Jakarta. Keduanya sudah berada di dalam pesawat terbang yang akan membawa mereka ke kota S.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya kota S.
"Bunda apa barang bawaan kami sudah lengkap dan tidak ada yang terlupakan?" Tanyanya bocah kecil yang memakai topi berwarna hijau.
"Huh Abang kayak anak gadis saja cerewetnya minta ampun bahkan sudah mengalahkan cerewetnya Nenek Rima," ketusnya seorang anak berkuncir dua itu.
__ADS_1
Sabi tersenyum simpul menanggapi perdebatan kecil kedua anak kembarnya itu. Ikhbar menjulurkan lidahnya ke arah adiknya itu sedangkan Orlin hanya menatap tajam ke arah kakak tunggalnya itu dengan memutar bola matanya jengah.
"Orlin, apa yang Abang katakan itu hal wajar nak. Apa kamu ingin pas sampai dengan perkemahan ada barang milikmu yang terlupakan, terus benda itu kau mau pake?" Tanyanya Sabi seraya memeriksa kembali koper kecil kedua anak kembarnya itu.