
Sabi melihat kepergian suaminya itu dengan kakak sepupu sekaligus madunya. Ia menatap kepergian mobil itu hingga tak terlihat lagi di pelupuk matanya.
Sabiyah mengangkat beberapa kunci dalam gantungan kunci tersebut tepat ke depan matanya. Ia juga mengedarkan pandangannya ke sekeliling tetangganya dan melihat jika, setiap rumah yang berada di samping kanan kirinya serta depannya semuanya sudah berpenghuni, hal itu dilihat dari beberapa lampu rumah tetangganya yang menyala.
"Entah sampai berapa lama aku bisa tinggal di rumah ini, apakah sebulan, sembilan bulan ataukah setahun saja seperti perjanjian kami atas pernikahan kontrak ini," cicitnya Sabiah yang sudah mendorong pagar besi bercat putih itu.
Sabi melangkahkan kakinya menuju ke dalam pekarangan rumah itu yang tidak besar, tapi juga tidak kecil. Rumah yang cukup dihuni oleh beberapa orang hingga enam atau tujuh. Sabiyah membaca doa-doa masuk ke dalam rumah yang baru diinjaknya dan berharap agar kehidupannya lebih baik dari sebelumnya.
"Bismillahirrahmanirrahim," Sabi memutar kenop pintu itu setelah kuncinya berhasil dimasukkan ke dalam lubang handle pintunya.
Sabi kembali takjub setelah melihat ke arah dalam rumahnya yang sudah lengkap dengan perabot furniture perabot rumah. Mulai dari kursi, lemari, ranjang setiap kamar yang terdiri dari sekitar empat kamar tidur itu.
Sabi berjalan ke arah lebih dalam rumahnya dan tak lupa mengunci rapat pintu itu. Baginya tidak masalah hanya tinggal seorang diri saja tanpa ada yang menemaninya. Karena ketika ia berada di Makassar sejak duduk di bangku sekolah menengah atas tepatnya kelas sembilan dia sudah menjadi yatim piatu sehingga hanya tinggal sebatang kara saja di kampung halamannya.
Sabi memegangi semua furniture rumahnya itu ketika melewatinya. Ia bersyukur karena sudah diberikan rumah yang bagus dan nyaman serta aman khusus untuknya.
Sepertinya ada orang yang datang ke rumah ini untuk membersihkannya sebelum aku datang. Karena sedikitpun tidak ada debu yang melengket di sini dan di sana.
Sabi terus berjalan ke arah dalam rumahnya dan melangkah menaiki undakan tangga satu persatu untuk menyimpan beberapa barang bawaannya itu.
Sedikit rasa sakit, ngilu yang masih sesekali dirasakannya itu ketika berjalan menaiki tangga. Apalagi mengangkat beban berat seperti koper dikedua tangannya.
Semoga saja dalam waktu dekat ini pak Fay tidak datang menuntut haknya atas diriku.
Aku masih sedikit trauma dan sakit dibagian sensitifku. Aku tidak ingin berdosa, karena menolak dan menentang keras keinginannya Pak Fay.
Tapi, rasa sakitnya masih ada ya Allah. Apalagi aku jika harus kembali teringat dengan apa yang kami lakukan, aku tidak habis pikir Pak Fay seperti itu ketika bersamaku seperti ia kehilangan kontrol dan kami hampir setiap jam melakukannya.
__ADS_1
Sabiah terus berjalan ke arah dalam kamarnya dan ingin segera menyimpan beberapa barang bawaannya itu.
Untungnya dia sudah makan malam bersama dengan Daniah dan Fayyadh sehingga malam ini, ia akan langsung tidur saja dan besok pagi ia barulah mengatur beberapa barang bawaannya yang masih baru.
Sabiah langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya tanpa bersih-bersih ataupun mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Hanya dalam waktu singkat dia sudah terlelap dalam tidurnya itu. Tanpa mau berpikir berat dan ia akan melewati semuanya dengan lapang dada, sabar dan tegar seperti jalannya arus air yang mengalir dari hilir ke hulu hingga bermuara di lautan lepas.
Daniah dan Fayyad segera berjalan ke arah dalam rumahnya, tapi keduanya cukup terkejut melihat siapa yang ada di dalam rumahnya.
"Enak yah baru pulang dari bulan madu di Bali, Denpasar. Semoga saja istrimu segera hamil calon bayi kalian berdua! Mama sudah bosan dengan istrimu yang mandul ini," sarkasnya Bu Widya Chandra.
"Mamah tidak akan lama lagi kami akan memberikan cucu penerus keluarga besar Haris Chandra. Mamah bersabarlah dan tidak perlu banyak pikiran," balasnya Daniah.
Sedangkan Fayyad seperti berada di dalam rumahnya, tapi pikirannya terus tertuju pada pesona gadis belia yang sudah menjadi istri sekaligus candunya itu.
Fayad terus memikirkan keberadaan dari istri barunya itu dan tidak fokus mendengarkan perbincangan Mama dan istrinya itu.
"Fayad, Mama tidak ingin menunggu terlalu lama.. Mama berikan waktu kepada kalian berdua sampai tahun depan jika tidak memiliki anak maka kamu harus segera menceraikan istrimu secepatnya ingat perkataannya Mama," ancamnya Bu Widya Chandra.
Beliau segera berlalu dari hadapan putra dan anak menantunya itu dengan mengerutkan keningnya, ketika berjalan melewati putranya yang tak bergeming sedikitpun menimpali perkataannya.
Bu Widya berhenti sejenak dan melirik sekilas ke arah putra tunggalnya itu, aku merasa ada yang aneh dengan keduanya terutama putraku. Aku akan mencari tau apa yang terjadi sebenarnya kepada putraku yang tidak seperti biasanya.
Kadang jika aku memaksanya untuk bercerai dan menuntut istrinya segera hamil, ia akan ngotot untuk menentang dan melawanku untuk membelanya. Tetapi hari ini,ada sedikit yang berbeda dengannya.
Lagian tadi aku melihat mobilnya menuju ke arah kiri kompleks entah apa yang dilakukan mereka disana,setau aku tidak ada kenalannya di blok itu.
__ADS_1
Dania menatap ke arah suaminya itu, ia menautkan kedua alisnya melihat sikapnya suaminya yang tiba-tiba terdiam.
Tumben banget suamiku ini tidak membelaku di hadapan mamanya yang sudah menghinaku.
Daniah melingkarkan tangannya ke lengannya Fayyadh," sayang apa yang terjadi padamu? Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Daniah yang berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya yang terdiam tidak seperti biasanya.
Fayyad tersentak terkejut mendengar perkataannya dari Daniah dan segera melepas pegangan tangannya itu.
"A-nu a-ku tidak apa-apa kok sayang, hanya saja aku cukup lelah saja. Kamu tau kan perjalanan kita dari Makassar, Bali Jakarta sungguh membuatku kelelahan," kilahnya Fayyad yang terpaksa berbohong untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan hubungan suami istri itu.
Fayad berjalan meninggalkan istrinya itu dan segera berjalan ke arah lantai atas rumahnya itu. Sedangkan Daniah hanya menatap nanar kepergian suaminya itu tanpa menunggunya terlebih dahulu.
"Benar sekali, aku pun sangat capek tiga hari perjalanan yang kami tempuh cukup melelahkan," cicitnya Daniah.
Daniah menatap ke arah bi Dian," Bu Dian apa mertuaku sudah lama datang?" Tanyanya Daniah.
"Sekitar lima belas menit yang lalu sebelum Tuan Muda Fayyad dengan Nyonya Muda datang dari Bali," jawabnya Bu Dian.
"Tapi, ngomong-ngomong kok dia mengetahui jika kami liburan ke Bali, siapa yang membocorkan rahasia kami ini?" Tanya Dania yang mulai cemas dengan rahasia besar mereka bertiga.
"Kalau masalah itu,saya juga kurang paham Nya. Tapi, kalau masalah info bagi Nyonya Besar itu bukan hal yang sulit ataupun mustahil baginya, hanya menjentikkan jari jemarinya saja apa yang diinginkannya akan terpenuhi," sahutnya Bibi Dian.
Dania terdiam sesaat sebelum berjalan ke arah tangga untuk menyusul kepergian suaminya itu.
"Maaf Nyonya Muda sini kopernya saya antar ke atas," pintanya salah satu asisten pembantu rumah tangganya itu.
"Silahkan, oiya bi besok-besok siapapun yang datang berkunjung ke rumahku ini aku minta kepadamu untuk segera menginformasikan padaku siapa yang datang terutama ibu mertuaku nyonya besar Widya, cepat telpon atau kirim pesan chat segera ke nomorku, ingat itu!" Perintahnya Dania sebelum meninggalkan bagian ruang tamunya itu.
__ADS_1