
Ketiganya segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke jalan XX di Bali Denpasar bagian pinggiran di sekitar Gianyar dimana letak rumahnya Pak Doni pria yang menjadi orang yang akan membantu prosesi pernikahan keduanya Fayyadh.
Aku akan tahan mental apapun yang terjadi kedepannya, aku tidak boleh lebay dan baperan demi keutuhan rumah tanggaku bersama suamiku.
Hari ini aku harus berbagi suami dengan perempuan lain yang tidak lain adalah adik sepupuku sendiri.
Daniah menyandarkan kepalanya ke pundaknya Fayyad, sedangkan Fayyad yang diperlakukan seperti itu melirik sekilas ke arah istrinya yang duduk tepat di sebelahnya.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu seperti galau, bimbang dan ragu. Kalau mau berubah pikiran masih bisa kok, jangan seperti ini kamu memaksakan dirimu demi keutuhan rumah tangga kita," ucapnya Fayyad.
Daniah memejamkan matanya itu sambil menggelengkan kepalanya," aku tidak apa-apa kok, hanya saja entah kenapa aku pengen bermanja-manja saja dengan suamiku sebelum kamu menikahi Sabi," tampiknya Daniah yang tidak mungkin berbicara terus terang kepada suaminya tentang kegundahan hatinya.
Sabiyah yang berada di belakang sudah mendengkur halus dengan tidurnya yang begitu lelap.
Fayyad melihat ke arah belakang dimana calon istri keduanya yang tertidur pulas.
"Lihatlah gadis bocah kecil yang kamu pilihkan untukku, sudah dikatakan padanya jangan tidur ehh mana ngorok lagi!" Sarkasnya Fayyad yang tersenyum penuh kelicikan ketika mengetahui di depan sana ada jalan yang berlobang.
Aku akan membangunkan kamu dengan cara yang paling cantik dan tepat. Aku tidak akan berikan kamu waktu keleluasaan untuk bertingkah.
Ya Allah kenapa juga Sabi enggak bisa begadang sebentar saja, padahal perjalanan baru sekitar sepuluh menit sudah molor.
Fayyad menambah kecepatan laju kendaraannya ketika melihat di depan sana kebetulan ada jalan yang berlobang.
"Sayang kenapa meski laju kendaraannya ditambah segala sih!" Kesalnya Daniah yang berpegangan pada seatbeltnya karena suaminya tanpa terduga mengendarai mobilnya itu dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Astauhfirullah aladzim Mas Fay, stop!" Teriaknya Daniah yang berpegangan erat.
Duk.. bruk!
Suara ban mobil yang masuk ke dalam lobang. Daniah baru kali ini mengalami kejadian yang seperti barusan terjadi padanya.
"Augh!" Keluhnya Sabi sambil berusaha untuk menahan tubuhnya terjatuh atau kepalanya terantuk ke jok kursi mobil.
__ADS_1
Untungnya tangannya cekatan bertumpu pada dinding jok sehingga Sabi tidak perlu terjatuh ke atas lantai mobil.
"Pak Fay tolong hati-hati! Aku takut kalau mobil kita tabrakan," jeritnya Sabi.
"Hahaha! Mobilku tidak akan tabrakan, kamu tidak perlu takut lagian aku bukan anak kemarin sore yang pintar kemudikan mobil!" Ucapnya sinis Fayyad.
Dania menepuk pundaknya Fayyadh ketika berbicara seperti itu di hadapan calon istrinya.
"Makanya kalau naik mobil jangan terlalu keseringan tertidur, sehingga kamu akan mengalami hal yang sama nantinya!" Dengusnya Fayyadh.
"Yah kalau ngantuk tidur lah Pak Fay, kenapa harus menyiksa diri sendiri! Hidup sudah susah jangan ditambah susah lagi dong Pak," gerutu Sabiah.
"Benar sekali apa yang kamu katakan, jika jika ngantuk yah tidur, jangan ditahan tapi lihat tempat dan situasi juga. Jangan asal molor dan ngorok saja. Gimana kalau lagi di kendaraan umum kau hanya seorang diri kan bisa berabe," nasehatnya Daniah Najida.
"Maafkan saya Mbak, saya tidak sanggup dan tidak kuat menahan rasa kantuk yang tiba-tiba datang setelah diterpa dinginnya angin pendingin acnya mobilnya Mbak," Sabiyah berucap.
"Ingat! Jangan ulangi lagi kamu itu perempuan bukan banci yang bisa aman bertindak apapun seperti ini," gerutu Fayyad.
Sabiah tertunduk malu, karena apa yang dilakukannya itu membuatnya malu. Ia tidak pernah seperti ini dikit-dikit dimarahi oleh orang lain.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan pagar rumah bercat biru itu milik pak Doni Kusuma pria yang sudah mempersiapkan segalanya demi kelancaran pernikahan majikannya yang kedua kalinya.
Pak Doni dan sang istri segera berjalan cepat ke arah mobil yang mesinnya mati baru saja. Kedua pasutri itu berjalan tergesa-gesa menyambut kedatangan kedua pasangan majikannya.
"Assalamualaikum Tuan Muda Fayyad dan Nyonya Muda Daniah Najida," sapanya pak Doni dan Bu Ratna secara bersamaan.
Keduanya membungkuk sedikit tubuhnya di hadapan keduanya dengan tersenyum penuh bahagia.
"Waalaikum salam Bu Ratna, Mamang Doni. Maafkanlah kami yang terpaksa datang terlambat karena keadaan jalan yang cukup lama kami tempuh," ujarnya Daniah.
"Tidak masalah nyonya muda yang paling penting Anda semua sudah sampai di rumah sederhana kami ini dengan selamat," imbuhnya Shaira pak Doni yang lebih sering disapa Mamang Doni pegawai yang menjaga rumahnya yang ada di pulau Dewata Bali.
"Maaf Nyonya Muda, dimana saja perempuan yang akan menikah dengan Tuan Muda?" Tanyanya Bu Ratna.
__ADS_1
Ucapannya barusan terhenti bersamaan dengan Sabiyah turun dari atas mobil yang ditumpangi olehnya.
"Maafkan saya agak lambat turun, maklumlah saya tidak pernah dan terbiasa memakai pakaian seperti ini," sesalnya Sabi yang berasa malu diperhatikan oleh orang-orang.
Kedua anaknya pak Doni saling berbisik di belakang kedua orang tuanya itu,"Calon istri keduanya tuan muda Fayyad sangat cantik yah." Pujinya Ana.
"Iya, tapi kalau aku perhatikan masih sangat muda bahkan sepertinya lebih muda dari kita berdua Kane," bisik Anna.
"Kalau menurut aku lagi nih, bahkan dia lebih cantik dari pada istrinya yang pertama Bu Daniah, Iya kan apa yang aku bilang?" Cicitnya Ani lagi.
Bu Ratna memperhatikan gerak gerik kedua putrinya itu dan menggelengkan kepalanya itu agar keduanya menghentikan kasat kusutnya yang membandingkan keduanya.
"Apa pak penghulunya sudah datang?" Tanyanya Daniah.
"Alhamdulillah dia sudah datang Nyonya Muda, kalau gitu sebaiknya kita segera masuk takutnya ada yang terus memperhatikan kita dan mengambil gambar kalian bertiga," imbuh Pak Doni.
Semuanya segera masuk ke dalam rumah itu. Sabiyah hanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.
Rumahnya kecil tapi, cukup nyaman dan asri. Pasti enak dan bahagia jika memiliki rumah yang seperti ini.
"Kamu duduk lah disana dan tunggu sampai mas Fayad mengikrarkan janji suci pernikahan kalian berdua," pintanya Daniah.
Sabiyah segera berjalan ke arah dalam kamar yang ditunjuk oleh Daniah, ia duduk dengan nyaman dan berusaha untuk tenang membuat dirinya senyaman mungkin. Walau dalam hatinya dia cukup panik, takut.
"Bagaimana Bu Dania apakah kamu bersedia dan ridho jika suamimu kembali menikah ulang untuk kedua kalinya bersama dengan perempuan lain yang bernama Sabiah?" Tanyanya Pak penghulu yang bernama Harun Nasution.
Dania yang ditatap oleh pak Harun dan semua tatapan mata terfokus padanya dan menunggu jawaban dari Daniah.
Ya Allah semoga saja istriku mengatakan keberatan, aku menikah dengan perempuan muda itu.
Aku sangat berharap besar istriku mengatakan hentikan semua ini,agar aku tidak menikahi wanita pilihannya.
Fayyad menatap ke arah istrinya yang tiba-tiba terdiam tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya itu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada nyonya Daniah, apa jangan-jangan dia keberatan dengan pernikahan ini yah?' cicitnya ibu Ratna.