
Aku tidak mungkin muncul di hadapan Abang Fayyad, bisa-bisa aku dilaporkan ke pihak berwajib.
Sabi segera bersembunyi dibalik dinding tembok,dia tidak ingin bertemu dengan suaminya.
Sabi terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya bersama dengan anak kecil berusia seperti kedua anak kembarnya.
Anak kecil itu siapa? Apa itu putranya tapi, kalau dengan Mbak Dania itu tidak mungkin karena Mbak Dania sudah divonis tidak bisa hamil seumur hidupnya.
Sabi melupakan kedua anak kembarnya yang rencananya ingin dijemputnya karena cukup penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Fayyadh bersama seorang anak kecil.
Aku yakin itu putranya, dari wajahnya saja sudah sangat jelas apabila anak itu putranya. Berarti dia sudah menikah lagi dengan wanita lain setelah kami berpisah.
Air matanya tanpa sengaja menetes membasahi pipinya, ketika dia berfikir jika Fayyad telah menikah dengan perempuan lain lagi.
Kenapa aku sedih? Padahal dia sudah bahagia dengan orang lain. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus merelakan dia bahagia dengan orang lain.
Sabi meremas ujung hijabnya itu dengan sesegukan dalam tangisannya itu. Sabi memegangi ujung tembok dan berusaha untuk menahan kesedihannya.
Sabi menatap ke atas untuk mencegah air matanya yang terus menetes membasahi pipinya itu.
Ya Allah aku sangat sedih setelah mengetahui suamiku memiliki perempuan lain dan anak. Aku tidak ingin muncul dihadapan mereka dan bisa berakibat fatal nantinya.
Cukup dimasa lalu aku menjadi perusak rumah tangga kakak sepupuku sendiri dan untuk kali ini aku tidak akan ijinkan hal itu terjadi kembali lagi untuk kedua kalinya.
Sabiyah segera berjalan tertatih meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan yang sangat terluka dan kecewa.
Sedangkan Fayyad melihat ke arah tembok dimana Sabiah berada, tetapi sudah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Kenapa aku merasa ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan kami? Tapi, siapa dan apa tujuannya?
"Papa, mari kita pulang aku sudah kangen dengan Oma, Opa dengan Aunty Fatimah juga," ajaknya Nofal yang segera menarik tangannya Fayyad.
Fayyad menatap sepintas lalu ke arah putranya sebelum melangkahkan kakinya.
"Ehhh maafkan Papah, ayo kita pulang ke rumah." Balasnya Fayyad yang masih sering menolehkan kepalanya ke arah tembok.
__ADS_1
Berselang beberapa menit kemudian, Orlin dan Ikhbar berencana ingin menemui papanya sebelum balik ke rumah. Apa yang direncanakannya tidak menjadi kenyataan, karena Sabi sudah datang menjemput kedua anak kembarnya.
"Dek apa kita menemui papa terlebih dahulu sebelum pulang?" Tanyanya Ikhbar sambil memasang sepatunya.
"Kita bertemu dengan Papah dulu sebelum bunda datang," balas Orlin.
Ikhbar buru-buru memakai sepatunya itu dan segera bersiap untuk pergi. Orlin pun sudah berjalan ke arah pintu. Keduanya baru saja hendak membuka pintu kamarnya, tetapi hal itu tidak terjadi karena pintu tersebut terbuka lebar dari arah luar.
Orlin dan Ikhbar bahagia sekaligus kecewa melihat kedatangan bundanya. Keduanya segera menepis rasa kecewanya sebelum bundanya mengetahui apa yang keduanya rencanakan dan sudah diperbuatnya selama di perkemahan musim panas.
"Bunda!" Teriak keduanya yang segera berhamburan memeluk tubuhnya Sabia.
Sabiyah yang melihat kedua anak kembarnya segera merentangkan kedua tangannya ke arah samping saking bahagianya melihat kedua anaknya itu.
"Sayang ayo kita segera balik ke rumah sebelum terlalu sore," ucapnya Sabi yang tidak berbasa-basi langsung menarik tangan kedua anaknya.
Tetapi, Orlin dan Ikhbar sama sekali tidak bergeming sedikitpun di tempatnya, malahan dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tarikan tangannya itu.
"Bunda, apa kami diijinkan sebentar saja untuk bertemu dengan seseorang?" Tanyanya Orlin yang bernada permintaan itu.
Sabiyah tidak menjawab pertanyaan dari kedua anaknya dan segera meninggalkan kamar itu. Sedangkan kedua koper kecilnya dibawa oleh supir pribadinya Sabiyah. Ransel kecilnya sudah terpasang di punggung keduanya.
"Tidak ada acara pamitan dengan mereka, jika kalian bertemu dengan temanmu kamu bisa bertemu dengannya," ucapnya Sabi.
Orlin dan Ikhbar saling bertatapan satu sama lainnya dengan kedua alis mereka saling bertautan.
"Bertemu dengannya! Maksudnya bunda bertemu dengan siapa?" Tanyanya balik Orlin yang penasaran dengan maksud dari perkataan bundanya.
Kenapa aku berasa bunda menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting. Apa jangan-jangan bunda sudah mengetahui kalau Papa Fay ada disini lagi.
Ikhbar menatap intens ke arah dalam bola mata bundanya, kenapa bunda seperti dikejar oleh seseorang yang sangat berbahaya saja.
"Tidak boleh! Sekali Bunda katakan tidak boleh selamanya keputusannya Bunda tetap sama!" Sabi sedikit meninggikan volume suaranya itu agar kedua anak kembarnya mengerti dengan apa yang dilakukannya itu.
Aku tidak ingin bang Fay mengetahui jika dia memiliki anak kembar. Aku tidak ingin anakku direbut dariku, aku sudah berjuang keras selama ini. Demi kedua anak-anakku aku rela hidup sendiri sampai detik ini.
__ADS_1
Aku tidak ingin berpisah dengan kedua anakku, mereka adalah jiwaku, hidupku. Kalau bang Fay mengetahui keberadaan mereka, bisa-bisa keluarganya akan memisahkan kami.
"Bunda kenapa bunda membentak kami?" Ikhbar yang memang orangnya baik suka dikerasi langsung menangis.
Orlin melihat raut wajahnya Sabi yang seperti orang yang ketakutan,panik dan mencemaskan keadaannya.
Sabi terus beristighfar kepada Allah SWT atas kesalahannya yang barusan dilakukannya.
"Astauhfirullah aladzim, apa yang terjadi padaku kenapa aku harus membentak kedua anakku yang sama sekali tidak bersalah dan tidak paham dengan apa yang terjadi padaku," gumamnya Sabiyah.
Sabi memeluk tubuhnya Ikhbar seraya mengelus punggungnya Ikbar," maafin Bunda yah Nak. Bunda tidak bermaksud untuk menyakiti kalian berdua." Sesal Sabiah.
Ikhbar menyeka air matanya yang sudah membanjiri wajahnya itu," bunda kalau tidak ijinin kami tidak akan pergi kok,tapi jangan bentak kami."
Sabi membantu mengusap wajahnya Ikhbar yang masih ada sisa tetesan air matanya itu. Sabi membungkukkan sedikit tubuhnya agar ia bisa memeluk tubuh kedua anaknya itu.
"Kalau gitu kita balik ke rumah, apa kalian tidak ingin bertemu dengan Aunty Aysiah bersama dengan Alifah?" Tanyanya Sabi yang segera mengalihkan perhatian kedua anaknya itu.
"Apa benar Aunty Aisyah dan kakak Alifa sudah datang?" Tanyanya lagi Orlin untuk memastikan apakah benar adanya berita yang diinformasikan oleh bundanya itu.
"Iya Bunda apakah mereka sudah sampai di rumahnya Kakek Wira?" Timpalnya Ikhbar yang cukup antusias mendengar berita gembira itu.
Sabi hanya menganggukkan kepalanya itu sambil menarik kembali kedua tangannya Orlin dan Ikhbar.
Aku tidak akan biarkan kalian bertemu dengan papamu. aku tidak ingin kehilangan kalian berdua.
Sabi semakin mempercepat langkahnya menuju ke arah mobil hingga terkesan seperti sedang menculik anak kecil saja yang terus-menerus berjalan sambil sesekali celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya itu.
Kalian adalah hartaku, jiwaku dan penyemangat hidupku selama ini. Aku tidak ingin berpisah dengan kalian berdua apapun alasannya.
Mungkin aku sudah egois, tapi hanya cara ini yang bisa aku lakukan untuk saat ini.
"Bunda, pelan-pelan saja jalannya. Tanganku sakit bunda!" Teriaknya Orlin yang tidak paham dengan situasi yang terjadi saat itu.
"Iya Bunda, pergelangan tanganku juga perih karena kukunya bunda menusuk kulitku," keluhnya Ikhbar.
__ADS_1
Sabiyah yang seperti kalap tidak peduli dengan teriakan meminta tolong dari kedua anaknya itu.