Terpaksa Menjadi Orang Ketiga

Terpaksa Menjadi Orang Ketiga
Bab. 19. Beda Orang Beda Aturannya


__ADS_3

Bi Nurmala menatap ke arah yang Sabi, kenapa pernikahan mereka diketahui oleh Nyonya Daniah, tetapi jika Tuan Muda Fayyadh berkunjung ke sini katanya harus dirahasiakan dari istri pertamanya Bu Dania. Apa yang terjadi sebenarnya? Tapi sudahlah kalau memikirkan itu semua kepalaku lama-lama bisa puyeng.


Setelah memasuki kamar masing-masing, Sabi kembali ke dapur untuk menyelesaikan proses memasaknya yang sempat tertunda hingga semua masakannya beres.


Bu Nurmala dan pak Hidayat datang memasuki area dapur dan tiba-tiba perut mereka berbunyi keroncongan ketika mencium wangi aroma bumbu masakan yang dimasak oleh Sabi.


"Humm wanginya masakannya Nyonya Sabi, ngomong-ngomong apa Nyonya sendiri yang masaknya?" Tanya Bi Nurmala yang baru saja muncul dari belakang punggungnya.


Sabi spontan mengarahkan pandangannya ke arah belakang dengan senyuman lebarnya.


"Saya hanya masak ala kadarnya Bi, hanya masakan rumahan biasa saja kok, tidak perlu dipuji seperti itu juga," ujarnya Sabi merendah.


"Saya yakin masakannya Nyonya Sabi tidak kalah enak dengan masakanmu bi Nur, Iya kan Nyonya," sahutnya pak Hidayat.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita mari makan bersama saja tidak perlu sungkan dan banyak memujiku bisa-bisa aku kegeeran lagi," timpalnya Sabi seraya mempersilahkan kedua artnya untuk makan bersama di dalam satu meja.


"Tidak perlu repot-repot Nyonya,kami bisa makan setelah Nyonya selesai makan," tolaknya secara halus bi Nurmala.


Bi Nurmala dan Pak Hidayat adalah pekerja yang selama beberapa tahun bekerja di rumah besar keluarga Haris Chandra. Tetapi, keduanya beberapa bulan yang lalu meminta berhenti dengan alasan ingin pulang ke kampung halamannya.


Tetapi, dipanggil kembali oleh Fayad untuk bekerja kembali bersamanya, awalnya keduanya menolak tetapi dengan bujukan dan iming-iming gaji tinggi, akhirnya pak Hidayat dan ibu Nurmala Sari mengiyakan permintaan dari Fayyad.


Selama dalam sejarah silsilah keluarga besarnya Fayad keduanya cukup loyal dan setia bekerja bersamanya dan paling bisa diandalkan dan dipercaya termasuk bibi Dian Astuty.


"Kami sudah terbiasa makan terpisah dengan majikannya kami Nyonya muda, jadi sebaiknya kami makan setelah Nyonya selesai saja," tolak Pak Hidayat.

__ADS_1


"Tapi,disini hanya ada saya dan hanya kita bertiga tidak ada orang lain, jadi penuhi permintaan ku kali ini saja, saya sudah sering kali makan seorang diri kalau di rumah, tapi kalau ditempat kerja selalu makan bareng dengan teman Bi Nur," bujuk Sabiah lagi.


Pak Hidayatullah dan bibi Nurmala akhirnya mengalah dan menuruti perintah dari Nyonya mudanya. Sekaligus menjadi untuk pertama kalinya makan semeja dengan majikannya. Keduanya terus menolak tapi,Sabi tak pantang mundur untuk membujuk keduanya.


"Saya kan bukan majikan kalian, tapi suamiku pak Fay. Jadi kalian menuruti perintahnya saja, mengenai makan terpisah kalau dengan saya tidak masalah dan kita harus makan bersama setiap hari apabila hanya ada saya saja, ini keputusanku tidak boleh diganggu gugat ataupun ditentang!" Tegasnya Sabiyah.


Ketiganya pun makan bersama, hingga kedatangan seseorang membuat Pak Hidayat dan Bi Nirmala spontan berdiri dari posisi duduknya itu.


"Nyo-nya Muda Daniah," beonya Pak Hidayat.


Sabiyah reflek memalingkan wajahnya ke arah kirinya dimana kedatangan kakak sepupunya itu. Ia bangkit dari posisi duduknya dengan senyuman sumringahnya menyambut kedatangan madunya itu yang tidak pernah dianggap madu atau saingan cintanya.


"Mbak Dania,ayo makan bersama Mbak kebetulan saya barusan selesai masak konro bakar dengan sup konro," ucapnya Sabi yang berjalan ke arah Dania yang menatap tajam ke arah kedua art itu.


Dania menatap mencemooh ke arah kedua artnya Sabi.


"Apa yang kalian lakukan di sini ha!! Apa kalian berdua sudah melupakan posisi dan derajat kalian!?" Bentaknya Dania.


Pak Hidayat dan Bibi Nurmala terkesiap ketika mendengar bentakan keras dari Dania. Bukan hanya keduanya yang terkejut, tetapi Sabiyah pun terkejut melihat sikapnya Dania yang diluar dugaannya.


"Maafkan kami Nyonya Muda," ucapnya penuh sesal Bu Nurma.


"Mbak Dania, kenapa meski membentak mereka berdua? Mereka tidak salah apapun, saya lah yang memintanya dan memaksa mereka untuk makan bersamaku. Lagian kalau mereka salah, tidak perlu membentak keras dan berkata kasar kepadanya! Mereka itu lebih tua dari kita Mbak!" Tampiknya Sabia yang tidak menyukai sikapnya Dania yang sungguh kelewat kasar.


Dania memutar bola matanya dengan jengah serta membuang muka," kamu itu tidak tau apa-apa jadi tidak perlu ikut campur, lagian kamu itu juga harus ingat batasanmu dan siapa kamu sebenarnya di sini! Jangan mentang-mentang kamu dinikahi oleh Mas Fayyad sehingga berani menentang aturan lama di dalam keluarga besar suamiku!" Hardiknya Dania.

__ADS_1


"Saya sadar siapa saya Mbak, tapi apa salahnya kita berbicara baik-baik saja, tidak perlu pakai emosi dan bersuara keras dan lantang seperti ini!" Sabiyah tidak menyukai jika ada orang lain yang dikasari di depan matanya langsung.


Bi Nurmala memegangi tangannya Sabiyah untuk berhenti berdebat dengan nyonya muda Daniah dengan menggelengkan kepalanya itu.


"Maafkan kami Nyonya Dania, hal semacam ini tidak akan pernah terjadi lagi kedepannya." Sesalnya pak Hidayat seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.


Apa yang terjadi di dalam ruangan dapur dilihat langsung oleh Fayyad yang kebetulan baru saja menyelesaikan serangkaian rapat dan meetingnya. Dia memasang beberapa cctv kecil yang sangat rahasia dan tersembunyi di setiap sudut penjuru ruangan rumahnya termasuk kamar pribadinya Sabiah.


"Lumayan juga, dia berani menentang keputusan dan perkataan kakaknya. Istri kecilku memang berbeda dengan yang lainnya termasuk Dania. Entah kenapa aku mulai sering kali membandingkan keduanya." Cicitnya Fayyad.


Hingga ketukan pintu terdengar jelas dari balik pintu ruangan kerjanya itu.


"Masuk!" Teriak Fayyad.


Sekretarisnya segera masuk ke dalam ruangannya itu. Semua pekerja perempuan yang bekerja di bawah naungan perusahaannya semuanya memakai pakaian yang sopan dan tertutup. Mulai dari rok mini yang mereka pakai tidak boleh melewati di atas lutut, bahkan sejengkal di bawah lutut.


Dania yang mengetahui aturan itu sedikit lega karena tidak terlalu khawatir dengan calon bibit pelakor. Masuklah sekretarisnya yang bernama Silvia berjalan ke arah dalam dan berhenti agak jauh dari meja kerjanya Fayad.


Sedang Fayad sama sekali tidak mengalihkan pandangannya ke arah layar tab yang terhubung langsung dengan kamera cctv di rumah keduanya.


"Siang Pak, maaf menganggu aktifitasnya, hari ini ada sidak yang harus Bapak kerjakan di salah satu mall terbesar kita," jelas Silvia.


Fayad segera mematikan tabnya dan bergegas bersiap berangkat bersama dengan asisten pribadinya bernama Farhat Hanif.


"Apakah Farhat ada di ruangannya? Katakan padanya aku akan berangkat bersamanya ke mall tersebut," ucap Fayad tanpa menoleh ke arah Silvia.

__ADS_1


__ADS_2