
Dentuman dan riuhnya suasana club tidak berpengaruh apapun pada seseorang di sudut club. Tepat di meja VIP tengah duduk seorang gadis berambut pirang. Ia mengenakan setelan kerja berwarna biru, rambut panjangnya dikepang agak sedikit berantakan. Kulit pucatnya sangat kontras dengan warna bibirnya yang semerah cerry.
Gadis itu nampak tidak tertarik sedikitpun dengan music yang sedang dimainkan DJ. Ia lebih memilih duduk sendiri dan memeriksa beberapa email pada ponselnya. Sebenarnya ia tidak datang seorang diri ke club ternama di London ini. Gadis berambut pirang itu datang dengan kedua sahabat masa kecilnya, Carol dan Aaron yang merupakan sepasang kekasih. Sarah Dimitrov-Jacob, seorang arsitek dan Direktur muda dari Sunroof Real Estate. Putri tunggal dari billionaire Real Estate ternama di Britania Raya.
“Di sini ramai, tapi hatiku kosong,” gumamnya.
Sarah lebih memilih untuk tidak meminum minuman beralkohol, karena pada dasarnya ia memang bukanlah seorang peminum. Lelah melihat layar ponselnya sedari tadi, gadis itu mengangkat wajahnya dan mencari-cari sosok sahabat-sahabatnya. Namun pencairan matanya tak membuahkan hasil, karena di bawah sana semua orang tengah asik menikmati musik dan menari. Bahkan minimnya cahaya di ruangan itu semakin mempersulit pencairannya. Sampai suara baritone yang lembut menginterupsi pencairannya.
“Kau sendirian?” Sarah memalingkan kepala ke arah datangnya suara dan menunjuk diri sendiri.
“Ya,” lelaki itu duduk di sisinya, membuat Sarah tidak nyaman. dan ia tidak mudah menerima orang baru.
“Seperti yang kau lihat, aku sendirian,” jawab Sarah sembari menggeser tubuhnya menjauh dari lelaki tampan itu.
“Mau aku temani? Aku bisa memuaskanmu, Nona,” bisiknya di telinga Sarah, membuatnya beringsut mundur.
Gigolo? Sial! Gumam Sarah dalam hati.
“Kau tidak perlu khawatir, karena banyak juga gadis muda sepertimu senang bermain denganku. Dan aku yakin kau akan sangat menyukai permainanku,” lelaki itu menyentuh punggung tangan Sarah, membuat gadis itu memberikan tatapan jijik. Ingin rasanya ia mencungkil kedua bola mata gigolo yang terus saja menelanjangi tubuhnya dengan kedua bola matanya.
Bukan tanpa alasan gigolo itu berani mendekati Sarah dan menawarkan diri, terlebih karena kecantikan gadis itu. Wajah cantiknya sering berada di majalah bisnis dan juga TV. Terlahir dari keluarga trillionaire Britania Raya membuat banyak pasang mata tertuju padanya, termasuk lelaki yang sedari tadi berusaha menyentuhnya.
__ADS_1
“Kau lancang sekali berani menyentuhku!” bentak Sarah pada gigolo yang terus saja melancarkan aksinya.
“Tak perlu malu, aku sangat berpengalaman dalam memuskan perempuan. Apalagi gadis muda sepertimu, Nona,” ucapnya sembari menyentuh lengan Sarah yang masih tertutup blazer berwarna biru navy.
Plak…
Tamparan keras Sarah mendarat tepat di pipi kiri gigolo itu, membuatnya meringis kesakitan sembari memegang pipi. Lelaki itu menarik tangan Sarah dengan kasar, karena emosi telah menguasai dirinya. Sarah meringis kesakitan merasakan cengkraman keras pada pergelangan tangannya.
“Shit!!! Aku cukup baik menawarkan diri pada gadis kesepian sepertimu. Tapi apa yang kau lakukan?” lelaki itu menggretakkan giginya Sarah.
“Aku tidak tertarik dengan sampah sepertimu, pergi dari hadapanku!” Sarah menyentakkan cengkraman tangan lelaki itu dengan kasar.
Lelaki itu terus mencoba untuk menghalangi Sarah yang ingin pergi. Sampai suara baritone yang lebih berat menginterupsi ketegangan diantara Sarah dan lelaki itu.
“Gigolo brengsek ini menggangguku,” Sarah beringsut di balik tubuh tegap lelaki itu, walau belum saling mengenal tapi ia yakin jika lelaki ini adalah orang baik.
“Ck. Perempuan kesepian yang sok jual mahal!” decak gigolo itu tidak terima.
“Sebaiknya kau pergi, sebelum aku memanggil pihak keamanan,” ancamnya pada gigolo itu.
“Sarah…” Aaron dan Carol menghampirinya. “What happen, dear? You okay?”, tanya Carol mencoba menenangkan Sarah yang masih nampah shock. Mata Aaron dan Carol tertuju pada lelaki tampan yang masih berdiri tepat di depan mereka.
__ADS_1
“Dia teman kalian?” tanyan lelaki itu pada Aaron dan Carol dan keduanya hanya mengangguk sembari mebereskan beberapa barang milik Sarah yang berserakan di lantai.
“Sebaiknya kau pergi dan jangan datang ke club jika tidak yakin bisa bersenang-senang,” ucapnya sebelum berlalu meninggalkan ketiga orang itu dalam rasa penasaran akan sosoknya.
“Kau sudah merasa lebih baik?” tanya Carol, sahabat kecilnya yang selalu mengerti dan paham akan kondisi Sarah.
“Sekarang kami akan mengantarkanmu pulang, ini sudah tidak aman dan menyenangkan lagi. Maafkan kami, Sarah,” Aaron merasa bersalah pada Sarah.
“Bagaimana bisa kau sebodoh ini? Bahkan kau masih tidak mengenaliku,” gumam lelaki yang sedari tadi memperhatikan pergerakan Sarah dan sahabat-sahabatnya.
Sepanjang jalan dari club menuju mansion, Sarah lebih banyak diam. Ia hanya sesekali bergumam atau mengangguk untuk merespon kedua sahabatnya. Aaron dan Carol sesekali melirik spion tengah, memastikan bahwa sahabat mereka baik-baik saja. Sarah menyandarkan kepala pada kaca jendela mobil, melihat gemerlapnya kota London pada malam hari. Sudah cukup lama ia tidak pergi ke club dan tempat-tempat umum untuk menghibur diri atau sekedar melepas penat. Hari-harinya penuh dengan pekerjaan dan masalah luka masa lalu. “I have not time to have fun when I am sick,” bisiknya pada diri sendiri dengan nada lirih.
Mrs. McAdam membuka pintu mansion besar milik Edward Jacob dan membantu Sarah membawa handbag hijau miliknya. Lambaian tangannya tepat didepan pintu besar saat mobil Aaron dan Carol meninggalkan gerbang utama mansion. Dalam hidup gadis itu tidak memiliki banyak teman, hanya ada beberapa karena ia memang cukup tertutup. Mr dan Mrs McAdam adalah pasangan suami istri yang bekerja di mansion orang tuanya, pengasuh Edward Jacob yang menjadi pengasuh Sarah sejak ia lahir.
Edward Jacob seorang pengusaha Real Estate terkenal di Inggris, putra kedua trillionaire asal Skotlandia dan Inggris. Ditengah kesibukanya sebagai seorang pemilik dari perusahaan real estate ternama di Inggris, Sunroof Real Estate, ia selalu memiliki waktu untuk keluarga. Sosok Ayah yang hangat dan baik untuk keluarga kecil mereka. Ibunya adalah Mariana Dimitrov ialah seorang wanita cerdas dan lembut untuk suami dan putri tunggalnya. Sebelum menikah dengan Edward Jacob, ia merupakan Profesor di Varna University of Managemet, Bulgaria.
Ya, Sarah adalah putri tunggal keluarga Dimitrov-Jacob berdarah Bulgaria-Inggris-Skotlandia. Menjadi cucu perempuan pertama Philips Jacob, trillionaire dari Britania Raya, menjadikannya pusat perhatian. Tetapi ia bukanlah sosok gadis manja seperti putri keluarga kaya pada umumnya, yang selalu mendapatkan perlakuan layaknya putri negeri dongeng. Karena sejak kecil ia sudah diajarkan untuk mandiri dan dermawan dari sang Kakek. Mendapatkan apa yang ia inginkan layaknya anak-anak pada umumnya dengan usaha sendiri.
“Where’s my Mum and Dad, Mrs. McAdam?” tanyanya saat menaiki udakan tangga menuju kamar di lantai 2 mansion bergaya arsitektur klasik Inggris.
“Tuan dan Nyonya sudah tidur, Nona Sarah,” jawab Mrs. McAdam.
__ADS_1
“Good night Mrs. McAdam…” ucapnya sambil berlalu masuk ke dalam kamar tidurnya yang besar dan gelap.
“Aah… Bad day and bad night,” Sarah bergumam dalam hati sebelum akhirnya tertidur tanpa mandi atau mengganti pakaian.