The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 2


__ADS_3

“Sarah…”


Suara itu? Sepertinya Sarah mengenal suara baritone yang memanggil namanya. Perlahan Sarah membuka mata, mengerjap untuk menyesuaikan cahaya. Sebelum akhirnya terpaku pada sosok tampan di hadapannya, dan wajah yang tidak asing baginya.


“What are you doing here?” Sarah bangkit dari tidurnya dan duduk tepat di hadapan lelaki itu, mendorong pelan tubuh tegap itu menjauh dari tubuhnya.


“I am here for you,” senyum manis menghias bibir tipis merah mudanya.


Oh My God! He’s here? For me? Sure? Ini bukan mimpi kan? Aaw…


Sakit rasanya saat Sarah mencubit pergelangn tangannya, ia bergegas meraih handuk yang tergeletak tidak jauh dari tempat tidur. Menyambarnya secepat kilat dan berlari menuju kamar mandi di sisi kamarnya. Mungkin saja lelaki itu adalah anak relasi bisnis Ayahnya, tapi apa ia menceritakan tentang kejadian semalam? Terus saja pikiran itu yang ada dalam benaknya ketika percikan air hangat dari pancuran mulai membasahi seluruh tubuh indahnya.


Cup…


Sebuah kecupan lembut mendarat tepat di pipi kanan kemerahannya ketika baru saja membuka pintu kamar mandi. Membuat pipinya yang berwarna merah muda menjadi sangat merah karena malu, syukur ia telah mengenakan pakaian lengkap setelah mandi.


“Namamu siapa? Semalam aku belum sempat mengucapkan terima kasih,” Sarah merapikan pakaian yang ia kenakan dengan asal setelah mandi.


“I am D,” jawabnya singkat sembari menjabat tangan Sarah. Sesaat kemudia mata mereka bertemu dan saling tatap, semakin dalam dan dekat, bahkan saat ini Sarah bisa merasakan deru nafas hangat milik D menerpa wajahnya. Sampai ia merasakan benda kenyal dan lembab menyentuh bibir merah alaminya, membuatnya tertegun dan membeku untuk sesaat. Naluri gadis itu mengatakan bahwa ia perlua memejamkan matanya untuk menikmati momen langka dalam hidupnya, karena seingatnya ia belum bernah berciuman.


Tapi entahlah, karena sebagian ingatan tentang masa lalu hilang entah ke mana sejak kecelakan yang menimpanya di Skotlandia 5 tahun lalu. Kini Sarah benar-benar menikmati sapuan lembut bibir D pada bibir merah mudanya, esapan dan lumatan yang sangat lembut itu sungguh memabukkan baginya.


Ia sedikit mengerang ketika D menggigit bibir bawahnya, melesakkan lidahnya masuk kedalam rongga mulut. Membelit lidahnya dengan lembut, menari, menggeliat penuh nikmat di dalam sana. Sarah melenguh saat bibir D semakin liar melumat bibirnya, menimbulkan suara kecapan dari bibir keduanya penuh aura erotis memenuhi setiap sudut kamar.

__ADS_1


“Enough!” tangan Sarah mendorong pelan dada D menjauh dari tubuhnya, melepaskan pelukan dan rengkuhan tangan kokoh lelaki tampan penyelamatnya saat kejadian tidak mengenakkan semalam di club.


Dia mulai menatap tajam dan dalam manik mata Sarah, membuat pergolakan dalam hati gadis cantik berambut keemasan itu. “Benarkah semua ini? Haruskah aku menuruti kata hatiku yang juga menginginkannya?” Sarah meyakinkan hatinya sendiri sebelum akhirnya memberanikan diri mengecup bibir D dengan perantara kedua jari indahnya.


“I cannot feel it when you make a space with these finger,” D menyingkirkan jari tengah dan telunjuk Sarah dari bibirnya. Sejurus kemudian ia telah menyerbu bibir indah Sarah dengan ciuman panas dan liarnya. Ciuman yang sejak awal dimulai dengan panas dan liar kini telah turun menjalar ke dagu lancip milik gadis cantik itu. Seluruh kulit wajahnya mendapat kecupan lembut bibir lelaki asing yang secara tidak terduga berada di dalam kamar tidurnya. Tidak ada satu titik pun dari wajah cantiknya yang terlewat dari kecupan lembut dan memabukkan itu.


“Sssshhhhh…” suara lenguhan lolos dari bibir Sarah saat mendapati dirinya diperlakukan seperti saat ini. Lidah basah, hangat dan kasar milik D telah berhasil membuatnya bergelinjang geli ketika menyapu lembut daun telinganya. Menjilat bahkan tak jarang gigitan kecil dan gemas diterima Sarah pada daun telinganya. Sungguh ada perasaan tidak biasa ketika mendapati dirinya diperlakukan seperti saat ini, tubuhnya meremang dan terasa hangat. Sapuan nafas hangat D bahkan kini telah berhasil membuat darah Sarah berdesir hebat dan tak menentu, membuat dirinya semakin menggelinjang geli menikmatinya.


Secara tidak terduga gadis itu mendorong keras tubuh D hingga terjatuh ke atas tempat tidur, karena kali ini Sarah tidak ingin memimpin permainan yang bermula dari serangan mendadak D padanya. Sarah menatap lekat manik mata D sebelum akhirnya ia mendaratkan ciuman panas dan liarnya pada bibir D. Keduanya berpangutan cukup lama dan liar, dengan gejolak dalam diri masing-masing yang butuh pelepasan sedari tadi. Nafas keduanya semakin memburu seiring panasnya ciuman mereka, membuat tubuh Sarah berkeringat ketika merasakan aliran darah semakin bergerak cepat menuju satu titik di bawah sana. Ia bisa merasakan dengan jelas denyutan lembut pada inti tubuhnya.


Dengan tidak tahu malunya seorang Sarah yang terkenal dingin kini menjadi sangat panas dan liar. Ia menjelajah setiap inci tubuh seksi D dengan tanggannya, membuat gerakan melingkar tepat di dada bidang itu. Bahkan gerakan tangannya semakin turun hingga menyentuh bagian perut dengan susunan otot berbentuk kotak-kotak roti. Sampai pergerakan tangannya berhenti tepat pada benda dibalik celana jeans yang lelaki yang sedang terlentang di bawah tubuhnya. D hanya bisa meringis tertahan ketika merasakan sentuhan tangan sarah tepat di area paling priibadi miliknya, apalagi birahinya telah berada di puncak dan membutuhkan pelepasan.


Kembali Sarah menatap lekat manik mata D yang sudah menggelap akibat dipenuhi oleh kabut gairah. Seakan-akan kabut itu ingin menelan tubuh Sarah masuk ke dalamnya, menyeretnya pada pusaran kenikmatan. Ketika kedua mata mereka saling mengunci dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, D telah berhasil meloloskan dress bertali spageti berwarna navy lolos dari kedua tangan Sarah.


“Shall we, Sarah?” tatapan matanya menggoda.


Sarah memejamkan kedua matanya sebagai jawaban, bahwa ia telah siap untuk sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman. Karena tidak bisa dipungkiri jika ia menginginkan hal yang sama. Dirinya mendamba di bawah sana, ingin sentuhan lebih dan intens. D membuka celana jeansnya, menyisakan boxer yang tidak dapat menampung miliknya yang telah mengeras di dalam sana. Sarah mengerjapkan matanya berulang kali karena tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, lelaki tampan dengan tubuh indahnya yang hanya berbalut boxer dan terlihat sangat menggoda.


Dengan tidak sabar D mulai menurunkan lace hitam yang sejak tadi menutupi bagian pribadi milik Sarah, satusatunya benar yang menempel di tubuh indah gadis itu. Dengan sekali hentakkan ia berhasil meloloskan celana dalam itu melewati bokong dan juga kedua kaki jenjangnya. Sehingga saat ini tubuh mulus Sarah benar-benar polos tanpa sehelai benang pun, bahkan kini D sudah melepaskan satusatunya pakaian dari tubuh atletisnya. Menampakkan miliknya yang telah menegang sempurna dan sedikit mengkilat di bagian puncaknya. Dengan sangat hati-hati D memposisikan dirinya diantara kedua paha Sarah yang terbuka. Merunduk secara perlahan dan menopang pada sebelah tangan dan kedua lututnya.


Pekikan Sarah tak tertahankan saat D mulai memasuki inti tubuhnya, dengan kedua kaki membelit di pinggang lelaki itu. Rasa perih dan nyeri terasa menyayat dirinya di bawah sana, membuat Sarah tanpa sadar mengeluarkan sedikit cairan bening di sudut matanya.


Kriiiiing…

__ADS_1


“Damn! Siapa yang menelepon saat seperti ini?” Sarah menggerutu saat mengambil ponsel di atas nakas.


“Carol?” matanya menyipit membaca nama pada layar panggilan di ponselnya.


“Hey, Sweetheart! Are you okay and how your sleep? Nyenyak tidak?” suara Carol terdengar masih sangat mengkhawatirkan Sarah.


“Damn! Aku baik-baik saja sesaat sebelum kau meneleponku!” Sarah nampak tidak senang dan terdengar jelas dari suaranya.


“Why? Aku berbuat salah apa? Aku khawatir setelah kejadian semalam,” suara Carol terdengar kecewa atas respon yang Sarah berikan.


“Salah! Kau telah memutus mimpiku tentang lelaki itu!” ia berusaha mengikat rambut pirangnya yang berantakan.


“Oh My Gosh! What you did Sarah? You dreaming of someone that you don’t know?” Carol benar-benar terkejut dengannya, terlebih lagi hal itu benar-benar aneh dan asing baginya. Mimpi bercinta dengan orang yang baru pertama kali ditemui? Dan bahkan namanya saja mereka tidak tahu.


“Okay! I’ll be there so soon! Cepat kau mandi setelahnya kita jalan-jalan, hari ini cuacanya,” sambung Carol sebelum menutup telepon.


“Mimpi gila!!!” Sarah berteriak sembari berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiapsiap sebelum Carol datang menjemputnya.


Hari minggu ini untuk pertama kalinya Sarah menghirup udara Kota London setelah terlalu sibuk dengan pekerjaan. Dia menceritakaan kejadian apa yang terjadi dalam mimpinya pada Carol. Namun mereka masih tidak memahami arti nama “D” dalam mimpi Sarah tersebut.


“D is your destiny…” goda Carol pada Sarah yang sedang menghabiskan latte kesukaannya di salah satu coffee shop Kota London.


Di sudut lain Kota London ada seorang tengah menatap kosong jendela kamar apartement yang tepat menghadap ke Sungai Thames. “Kenapa kau tidak mengingatku Sarah?” lirihnya sebelum menghabiskan secangkir latte di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2