The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 7


__ADS_3

“Shall we married?”


Sarah meletakkan pulpen dan draft design yang ia periksa, matanya menatap tajam sepasang mata biru di depannya. Lelaki dengan perawakan besar duduk di hadapan Sarah, mencondongkan tubuh ke arahnya. Menatap wajah tegang Sarah setelah mendengar ucapannya.


Menikah? Sudah gila rupanya dia. Gumam Sarah sebelum ia kembali fokus pada draft design di atas meja kerjanya. Lelaki tadi masih duduk tepat di depan meja kerja Sarah yang membelakangi pemandangan berkabut London. Ia meraih tangan Sarah yang kembali sibuk mencoret draft design. Sarah menatap tajam penuh perhatian, fokus pada lelaki dengan rambut tipis yang memenuhi rahang tegas itu. Yang terus menatapnya dengan tatapan lembut namun penuh dengan ambisi. Dan Sarah tahu akan hal itu.


“Can we not talk about it, Drew?” Sarah menarik tangannya dari genggaman lelaki itu. Drew? Dia adalah teman sejak kecil Sarah dan juga putra sahabat keluarganya. Adrew Niall McCraven, seorang CEO stasiun penyiaran swasta terkenal di Inggris dan seorang pengusaha property. Dia sangat mencintai Sarah, hanya saja ia terkadang terlalu posesif. Cerdas, tampan, kaya, sukses dan digilai banyak wanita adalah penjabaran singkat mengenai sosok Andrew. Hanya saja mata dan pikiran lelaki itu hanya tertuju pada satu gadis, Sarah Dimitrov-Jacob.


“Kita harus. Aku akan bicara pada Daddy untuk menjodohkan kita,” Andrew terdengar sangat serius.


Ia menggenggam tangan Sarah dan membelai lembut jari-jemarinya. Sarah tak bergeming, dan tidak sepatah kata pun meluncur dari bibir mungilnya yang dipoles lipstick merah. Andrew beranjak dari duduknya dan berjalan menuju Sarah, berdiri tepat di sisi tubuh gadis yang masih duduk di kursi kebesarannya. Bagi Sarah dinginnya udara di London hari ini tidak ada artinya setelah penyataan Andrew.

__ADS_1


“Are you crazy?” Sarah mulai bergeming saat Andrew menyentuh punggungnya.


“I am serious, look at my eyes and you’ll know how I feel,” lelaki bertubuh sexy itu kini berlutut di lantai dengan kepala menengadah menatap manik hijau Sarah. Karena ia tahu gadis ini begitu sulit untuk diluluhkan, bahkan setelah ia bicara jujur sekalipun.


“I can’t…” Sarah menghela nafas panjang sebelum beranjak meninggalkan Andrew dengan posisi berlutut.


Kaki jenjangnya melangkah menuju sofa kulit di sisi ruang kerjanya, yang menghadap tepat ke dinding kaca. Matanya menatap lirih keluar gedung yang seluruh dinding kacanya buram karena uap dingin, dan tanpa sadar air matanya meleleh di pipi pinknya. Karena kulitnya putih pucat, sehingga semburat urat merah atau bahkan biru keunguan nampak jelas pada kulitnya. Andrew mulai beranjak dari posisinya menyusul Sarah. Menatap gadis yang nampak kokoh dan kuat dari luar, namun sangat rapuh didalam.


“Sorry. Aku terlalu jahat ya?” kali ini Sarah mengangkat kepalanya, menatap pemilik manik biru yang tengah mendekapnya.


“Kau tidak jahat, hanya saja kau terlalu sakit dan lukamu belum sembuh,” Andrew merapikan anak rambut Sarah yang menutupi keningnya. Membelai lembut, sebelum ia mendaratkan kecupan hangat di kening Sarah.

__ADS_1


Sarah memejamkan matanya, pikirannya mencari-cari memori apa yang telah hilang darinya. Namun ia tidak menemukan apa-apa selain gelap yang ia rasakan. Ia kembali terisak karena merasa tersiksa dengan kegelapan itu, membuat Andrew panik mendengar isakannya. Ia mendekap tubuh rapuh gadis itu kedalam dekapan hangatnya. “Kau tidak perlu mengingatnya jika tidak ingin. Tidak perlu memaksakan sesuatu yang tidak ingin kau ingat,” bisiknya lirih ditelinga Sarah yang kali ini balas memeluknnya.


“I don’t know what should I do? Aku hanya tidak paham ingatan apa yang aku lupakan? Aku tersiksa. Rasanya aku bisa gila,” Sarah bergumam dalam pelukan hangat lelaki yang selalu ada untuknya. Bahkan saat kecelakaan itu terjadi dan dia harus dirawat selama 3 bulan di Philips Jacob’s Hospital ketika mengalami koma. Yang ia dengar bahwa Andrew selalu mengunjunginya setiap hari dan selalu ada untuk menunggunya bangun dari tidur panjang.


“Kau hanya perlu tenang dan mengabaikan semua perasaan gelisah itu. Atau kau mau aku menemanimu ke dokter?” Andrew melepaskan dekapannya ketika tautan tangan Sarah mulai melonggar. Ia sadar bahwa saat ini Sarah butuh untuk didengarkan. Sarah menatap tajam padanya, seakan ada perkataannya yang salah.


“Baiklah. Shall we visit Uncle Paul?” Sarah berdiri dan merapikan blousnya yang tidak rapi akibat pelukan erat mereka.


Andrew menyambar coatnya dan berjalan mengiringi Sarah yang beranjak meninggalkan ruang kerjanya. Sepanjang perjalan melewati staff-staff perusaan milik keluarga Jacob, Andrew tidak pernah lepas dari tatapan mata staff wanita Sunroof Real Estate. Diraihnya pinggul Sarah yang berjalan beriringan dengannya, tanpa ada tolakan tentunya.


Mereka keluar meninggalkan gedung pencakar langit modern milik Sunroof Real Estate dan berjalan menuju Porche Cayenne Turbo-S biru metalik yang terparkir di depan gedung. Sarah melepaskan tubuhnya dari tangan Andrew yang sedari tadi mendekapnya secara posesif. Kekasih? Bukan. Mereka hanya berteman walau Andrew sudah jelas memiliki perasaan lebih pada Sarah. Andrew membukakan pintu mobil dan mempersilahkan gadisnya masuk, sebelum akhirnya ia menutup pintu menyusulnya. Andrew mulai menstarter mobil dan meninggalkan kantor Sarah.

__ADS_1


__ADS_2