
Rose menggantikan Sarah mengemudikan mobil, mata indah Sarah tak hentinya mengeluarkan air mata kesedihan. Bersahabat cukup lama membuat Rose paham dengan karakter sahabatnya. Sarah bukan tipe orang yang bisa dengan mudah membuat orang lain memohon dan merendahkan diri seperti tadi. Berulang kali ia mencoba menenangkan Sarah, namun usahanya tidak berhasil. Saat ini mereka sudah tiba di depan Sunroof Building, namun Sarah belum ingin keluar dari mobil. Sampai Rose dengan sangat terpaksa menghubungi salah satu The Jacob.
“Hello… Ada apa, Rose?”
“Sarah menangis, sedangkan aku tidak berhasil menenangkannya,” ucap Rose sesekali melirik Sarah yang masih manangis dan mengabaikannya.
“Bagaimana bisa?”
“Tadi kami tidak sengaja bertemu Dave, dan pergi makan bersama tapi setelahnya di---“
“Brengsek!!! Apa lagi maunya?” teriak suara di seberang sana, membuat Rose menjauhkan ponsel dari telinganya. Telinganya pengang saat mendengar kata pertama yang diteriakkan di seberang sana.
“Tenanglah, Nick. Kau dengarkan dulu ceritaku,” Rose berusaha menenangkan Nick yang menyumpah serapah di seberang sana. Entah kata-kata kotor apa saja yang sudah kelar dari mulut seorang pengusaha dan Jaksa terkenal itu. Rose tahu jika seluruh sepupu Sarah tidak ada yang ingin mendengar nama David Schneider di telinga mereka.
“Di mana kalian saat ini? Aku akan menjemput adikku itu,” ucapnya setelah bisa mengendalikan diri.
“Kami di depan kantor, Sarah tidak ingin keluar dari mobil dan terus menangis. Ada baiknya kau bawa dia pulang, sebelum semuanya menjadi kacau,” tukas Rose khawatir dengan kondisi sahabatnya.
“Baiklah. Tunggu di sana, aku akan segera datang setelah menjemput Halsey.”
“Huh? Menjemput siapa? Halsey?” tanya Rose tercengang mendengar nama cucu bungsu Philips Jacob.
“Iya, Halsey. Gadis manja itu tadi minta jemput, katanya kembar brengsek tidak bisa menjemputnya,” keluh Nick di balik sambungan.
Nick dan Rose memang cukup dekat, karena dulu mereka sempat menjalin kasih sebelum akhirnya kandas karena Nick terlalu sibuk. Alasan klasik dari kandasnya sebuah hubungan lelaki pebisnis dengan wanita dewasa.
“Baiklah kalau begitu, aku tunggu di sini. Sebisa mungkin kau hubungi keluargamu yang lain, karena sepertinya saat ini dia sangat terpuruk. Aku tidak bisa menghubungi Andrew, rasanya tidak nyaman untuk mengungkapkan alasan Sarah drop.”
Tanpa menunggu balasan dari seberang sana, Rose memutus sambungan dan kembali masuk ke dalam mobil. Ia keluar hanya untuk menghindari keadaan Sarah yang mungkin akan semakin buruk ketika mendengar percakapannya dengan Nick. Yang ia tahu dari Nick saat mereka masih sepasang kekasih bahwa kondisi Sarah akan menjadi buruk ketika pikirannya mulai terbebani. Contohnya seperti yang terjadi saat ini, dia terlalu memaksakan diri menjadi orang lain saat ingatannya kembali. Alam bawahnya tidak bisa mengntrol dirinya seperti dulu lagi, ia terlalu bekerja keras mensugesti diri jika bisa melakukan hal seperti tadi.
***
Nick mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit dari Kejaksaan ke Universitas tempat Halsey. Matanya menyipit melihat adik kecilnya berdiri di depan gerbang kampus dengan pakaian casualnya. Nick keluar dari mobil dan menghampiri Halsey yang nampak bosan menunggunya. Kehadirannya saat ini menarik perhatian gadis-gadis yang sedang berada di area gerbang. Jas abu-abu membalut pas di tubuh, dipadukan dengan pantofel kulit hitam dan jam tangan hitam dengan aksen gold. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya semakin membuatnya terlihat tampan.
__ADS_1
“Kak Nick kenapa lama sekali?” protes Halsey sambil berlari kearahnya.
“Tadi seseorang menghubungi ketika mau berangkat, let’s go lil sissy,” ucap Nick mengacak rambut coklat Halsey, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya dengan lucu.
Mereka telah duduk di dalam mobil dan Nick segera melajukan mobilnya kearah Sunroof, membuat Halsey bingung. Karena ia sangat hapal jalan menuju Firma Hukum milik ayahnya, Karl Jacob. Baru ingin bertanya tapi Nick tengah mencoba untuk menghubungi seseorang dari layar LCD yang ada di dasboard. Rose Scott, mantan kekasihnya beberapa tahun lalu. Membuat Halsey berpikir kalau Nick belum bisa berdamai dengan masa lalu dan melupakan cintanya pada gadis itu.
“Kau masih di sana Rose?” tanyanya membuat Halsey semakin menatapnya dengan kening berkerut. Nick menggerakkan bibirnya seakan berkata, “What happen?” ketika menyadari jika Halsey menatapnya bingung. Halsey hanya diam menunjuk layar LCD itu dengan dagunya. Belum sempat Nick memberi isyarat pada Halsey, Rose sudah mengatakan apa yang jadi pertanyaannya sedari tadi.
“Kau sudah menjemput Halsey? Sarah masih menangis, aku sungguh bingung. Sepertinya dia merasa sangat bersalah pada Dave,” perkataan Rose berhasil membuat Nick menggeram tertahan dan menghantamkan tangannya pada setir mobil. Membuat Halsey beringkut mundur menjauhi Nick yang siap meledak.
“Aku di sini, Kak Rose,” ucap Halsey terputus-putus karena takut dengan Nick.
“Ya Tuhan! Nick!!! Kau membuatnya takut dengan geraman dan apa tadi yang kau pukul?” suara omelan khas Rose terdengar memenuhi mobil Nick.
“Sarah membuatnya berlutut di depan restaurant favorite mereka saat bersama dulu, sepertinya Sarah mengatakan sesuatu yang menyakitkan pada Dave.”
“Apa? She did? Pasti ada sesuatu yang dikatakan Dave sampai bisa membuat Sarah melakukan hal seperti itu,” Nick terkejut mendengar apa yang dikatakan Rose, karena ia tahu benar jika adiknya tidak akan mampu untuk mengatakan sesuatu yang menyakitkan pada orang lain. Terlebih pada David yang semua orang tahu bahwa perasaannya masih ada untuk lelaki itu.
“Tapi dia melakukannya, walau aku tidak dengar apa yang mereka bicarakan sebelumnya karena berada di dalam mobil.”
“Ok! Just wait me there and I’ll try to call my family,” ucap Nick sebelum memutus sambungan.
“Kak…” suara Halsey masih sedikit bergetar karena takut dengan kemarahan Nick.
“Maaf Halsey, aku tidak bermaksud.”
“That’s ok. But please don’t call Luke, he’ll take a flight back to London if you did,” pinta Halsey karena ia sangat paham bagaimana kakak sepupu tertuanya. Saat Henry mengabari Luke bahwa Halsey mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu pun, Luke langsung mengambil penerbangan untuk pulang ke London. He’s a family men.
“Tolong kau hubungi Kak Anthony dan aku akan menghubungi Daddy serta Paman Edward untuk mengabari keadaan Sarah. Kita akan membawanya ke rumah sakit, dia butuh pennganan,” Halsey hanya mengangguk paham atas instruksi yang diberikan Nick. Segera ia mengambil ponsel di dalam tas, menghubungi Anthony. Walau beberapa kali tidak dijawab sampai akhirnya dijawab oleh dokter tampan itu, sebisa mungkin Halsey mengendalikan emosi agar tidak panik. Anthony masih bisa mengendalikan diri untuk tidak menyumpah serapah seperti yang dilakukan Nick barusan atau Luke atau kedua kakak kembarnya. The Jacob memanjakan dan memperlakukan Sarah serta Halsey sangat istimewa, bahkan cenderung posesif.
Sesampainya di Sunroof Building, Nick langsung memindahkan Sarah yang menangis dengan tatapan kosong kedalam mobilnya. Gadis ini entah kenapa terlihat begitu kacau, baru saja ingatannya kembali tapi kondisinya belum juga membaik. Nick memacu mobil dengan kecepatan sedang karena Sarah sedang terkena serangan panik yang dideritanya sejak kecelakaan itu terjadi. Halsey duduk di kursi penumpang menemani Sarah yang sudah mulai tenang ketika mendapat pelukan hangat adik sepupunya. Cara itulah yang paling ampuh untuk menenangkan Sarah dari serangan paniknya, The Jacob’s Hug.
Nick memarkirkan mobilnya sembarangan di depan lobby rumah sakit, tidak ada yang berani menegur. Karena Paul Jacob adalah Direktur Philips Jacob’s Hospital. Ia berteriak meminta perawat segera membawa brangkar untuk Sarah. Para perawat panik melihat Nick yang seperti ingin menelan mereka, sampai penyelamat datang untuk menenangkan singa sakit gigi itu.
__ADS_1
“Tenangkan dirimu, Nick. She’ll be ok.”
“Tenang Daddy bilang? Sarah menangis lebih sejam dan Daddy tahu kan itu tidak baik,” Paul terkejut saat mendengar penuturan Nick tentang kondisi keponakannya. Sarah tidak boleh sampai seperti itu, terakhir kali dia menangis lebih dari 1 jam membuatnya pingsan beberapa hari. Lebih tepatnya kembali koma seperti sebelumnya, karena trauma yang dialaminya.
“Paman Paul, Kak Sarah tidak akan koma lagi kan?” Halsey mulai terisak menyadari Sarah pingsan dalam pelukannya dengan air mata yang terus menetes.
“Kita berdoa saja semua akan baik-baik saja. Edward dan Mariana sebentar lagi sampai,” ucap Paul sebelum berlalu menyusul brangkar Sarah yang dibawa menuju ruang VVIP di lantai paling atas rumah sakit.
Beberapa anggota keluarga Jacob telah hadir di ruang rawat Sarah, mereka sengaja menutupi kondisi Sarah saat ini dari Luke dan Andrew. Mencegah hal buruk lainnya terjadi, karena seperti Sarah masih belum bisa berdamai dengan diri sendiri setelah ingatannya kembali. Itulah yang dikatakan Dokter Josephine saat memerika kondisi Sarah, karena dialah yang menangani Sarah sejak awal dan paska ingatannya kembali.
Tidak berapa lama Sarah sadar dari pingsannya, ia melihat sekeliling menatap wajah-wajah sedih yang juga sedang menatapnya. Air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya, Mariana menghampiri putrinya yang terlihat sangat tersiksa dan memberikan pelukan hangat pada Sarah.
“Mum… Sarah jahat ya?” tanyanya pada Mariana dengan masih terisak.
“Ssssttt… Sarah anak baik, putri Mum and Dad,” Mariana mengeratkan pelukannya, membelai lembut punggung putrinya.
“Tapi tadi Sarah membuat Dave berlutut dan mengatakan hal yang menyakitkan,” isaknya.
“Jadi apa yang akan putri cantik Mum lakukan padanya setelah ini?” tanya Mariana menenangkan Sarah. Sedangkan keluarga Jacob lainnya hanya melihat interaksi ibu dan anak itu, kecuali Luke dan Anthony yang tidak berada di sini.
“Dave meminta kesempatan dan Sarah memberi kesempatan itu karena tidak tega melihatnya memohon dan berlutut. Tapi---“
“Tapi apa?” Edward menghampiri putrinya, memberi belaian lembut di kepala Sarah.
“Sarah tidak menginginkannya kembali, terlalu menyakitkan. Dan aku sungguh tidak ingin kehilangan Andrew untuk kedua kalinya,” ucap Sarah penuh lirih.
“Maka tentukan pilihanmu, Nenek yakin kau tahu yang terbaik,” Katherine menghampiri cucunya, duduk di sisi Sarah.
Sarah mengangguk dalam dekapan sang nenek, karena ia sudah berpindah ke pelukan Katherine. Sebenarnya ia masih bimbang untuk menentukan pilihan ke mana hatinya berlabuh. Satu sisi ia masih mencintai David namun tidak ingin kembali terluka, dan di sisi lain ia sangat mencintai Andrew bahkan takut kehilangannya. Ia berterima kasih karena keluarga tidak menghubungi Luke atau Andrew, yang akan membuat suasana hatinya semakin kacau.
Hatinya benar-benar bimbang saat ini, ternyata benar jika ingatannya kembali disaat dirinya belum benar-benar siap. Termasuk saat David meminta kesempatan untuk masuk dalam kehidupannya sekali lagi. Sarah tidak siap dihadapkan dengan pilihan seperti ini, lebih baik tidak pernah ingat siapa David. Setidaknya sampai pernikahannya dan Andrew berlangsung, dan dipastikan setelah ini semuanya tidak akan sama lagi.
I am uncertain… Keluhnya dalam hati.
__ADS_1