The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 42


__ADS_3

Keluarga Jacob berangkat bersama dari The Jacob’s Mansion menuju hotel berbintang tempat pesta berlangsung. Niall sudah berulang kali menangis karena Nick, Harry dan Henry terus mencubit pipinya gemas. Sampai membuat Sarah geram dengan tingkah ketiga sepupunya itu. Bayi gembul itu lebih dekat dengan Luke, Anthony dan Halsey. Karena sedari lahir mereka bertiga lah yang membantu Sarah untuk merawat Niall. Mobil-mobil The Jacob melaju kencang memecah keramaian jalan Kota London malam ini.


Di depan hotel banyak media yang meliput pesta ulang tahun trillionaire Inggris itu, kamera mereka siap membidik siapa saja yang datang tepat di depan lobby hotel. The Jacob yang baru tiba pun tidak luput dari bidikan kamera media, mereka melayangkan wawancara singkat kepada beberapa anggota keluarga Jacob. Hingga fokus mereka berpindah pada bayi laki-laki bermata biru dalam gendongan Luke Jacob. Ini pertama kalinya mereka melihat bayi laki-laki di tengah keluarga trillionaire itu. Apalagi belum ada seorang pun cucu Philips Jacob menikah, hanya Sarah DimitrovJacob yang diketahui sebagai tunangan Andrew Niall McCraven. Namun berita kandasnya hubungan keduanya sempat menjadi hot news selama beberapa pekan.


Luke Jacob menyadari ke mana arah kamera para pencari berita, blitz-nya terus menyergap wajah tampan keponakannya yang mengenakan toxedo hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu. Dengan tanggap Luke menutup wajah keponakannya dengan tangan besarnya, syukur Niall anak yang penurut dan tenang saat wajahnya ditutup oleh pamannya. Mereka semua memasuki lobby hotel dengan kamera yang masih mengarah pada Niall.


“Kali ini pun Sarah Jacob tidak ada!” seru salah seorang wartawan yang berada di kerumunan.


“Benar! Sepertinya tidak ada harapan mereka bersatu lagi,” yang lainnya menimpali.


“Tapi siapa bayi dalam pelukan Luke Jacob tadi? Tidakkah dia terlihat sangat menggemaskan?” komentar yang lainnya.


“Benar! Tapi di antara mereka belum ada yang menikah,” komentar yang lainnya.


Kasak kusuk itu terdengar jelas ditelinga anggota keluarga Jacob, namun mereka mengabaikannya. Halsey telah mengambil alih Niall dari pelukan Luke, karena lelaki itu sedang sibuk membahas bisnis dengan tamu lainnya. Niall sangat senang berada dalam gendongan Halsey sambil berkeliling ballroom, matanya berbinar menatap pantulan cahaya dari Kristal swarowski yang berjuntai di langit-langit ballroom hotel.


“Kak...” panggil Halsey pada Harry dan Henry yang sibuk mengobrol dengan Anthony dan Nick.


“Apa?” tanya mereka ketus bersamaan.


“Tolong jaga Niall sebentar, aku mau ke toilet menyusul Kak Sarah,” ucapnya sembari menyerahkan Niall ke pelukan Henry. Keempatnya mengangguk, karena bayi ini sungguh menggemaskan dan cengeng jika dicubit pipinya oleh Nick, Harry dan Henry.


Lelah menggendong Niall membuat Henry menurunkan bayi itu ke lantai, membiarkannya bermain dengan mainan yang dibawanya sedari tadi. Sampai Niall merasa bosan dan perlahan berjalan meninggalkan paman-pamannya yang tengah asik mengobrol. Dengan langkah pelan dan tertatihtatih karena bokongnya yang besar membuatnya terlihat lucu saat berjalan.


Andrew baru saja selesai berbincang dengan Mr. George Spencer karena dipaksa oleh Anaya, ia berjalan menyusuri ballroom seorang diri. Hingga langkahnya terhenti ketika melihat seorang bayi sedang duduk di karpet tebal ballroom. Bayi itu tertawa senang saat berhasil merobek tissue menjadi potongan-potongan kecil. Seketika itu juga perasaan Andrew menghangat, ada perasaan ingin mendekati bayi kecil itu. Andrew melangkahkan kaki kearah bayi dengan tuxedo hitam yang sudah terkena lelehan liurnya.

__ADS_1


“Hei, tampan... Di mana Ibumu?” ia meraih tissue untuk membersihkan dagu bayi itu dari liur.


Merasa dipanggil membuat Niall menoleh kearah suara orang yang sedang membersihkan liurnya. Manik birunya berbinar menatap wajah orang di depannnya. Senyumnya merekah, tangannya menarik-narik lengan toxedo yang dikenakan Andrew.


“Dadda... Dadda...” soraknya bertepuk tangan.


“Huh?” Andrew menaikkan sebelah alisnya mendengar kata-kata bayi lucu di depannya.


“Dadda... Dadda... Dadda...” Niall berdiri dan menghampiri Andrew dengan langkahnya yang belum seimbang. Andrew mengulurkan tangan ketika melihat bayi lucu itu kesulitan untuk berjalan kearahnya, membawa tubuh gemuk itu dalam gendongannya.


“Aku bukan Daddymu, tampan. Di mana Mummy mu?” tanya Andrew menatap gemas pipi gempilnya.


“Mum...” Niall mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ballroom, namun ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Matanya mulai berkaca-kaca ketika merasakan tidak ada kehadiran sang ibu, walau tadinya ia merasa senang berada dalam gendongan sang ayah.


“Jangan menangis. Nanti kita cari Mummymu,” ucap Andrew menghapus air mata yang membasahi pipi merahnya. Entah mengapa Niall yang biasanya akan menangis sejadi-jadinya kali ini hanya menangis tanpa suara. Mungkin dia tidak ingin membuat ayahnya panik untuk menenangkannya.


Andrew merasakan gelayar aneh dalam dirinya saat berdekatan dengan bayi yang dia tidak ketahui asal usulnya ini. Mungkin sekarang orang tua bayi ini sedang mencarinya, namun Andrew juga merasa heran karena sedari tadi bayi ini menyebutnya Dadda yang dia tahu artinya adalah Daddy. Dia melangkahkan kearah meja perjamuan keluarga McCraven, di sana ada Aeleen dan Arabela sedang berbincang-bincang.


“God... Anak siapa yang kau culik, Kak?” tanya Aeleen asal.


“He’s so cute and look like you,” ucap Arabela menimpali saat melihat Niall tersenyum hangat padanya.


“Jangan sembarang bicara. Anak ini tersesat, mungkin sedang dicari orang tuanya,” Andrew duduk di kursi kosong yang ada di sisi Aeleen. Nampaknya Aeleen sangat senang bermain dengan bayi gembul bermata biru itu, Arabela juga tidak kalah antusiasnya bermain dengan bayi yang duduk manja dalam pangkuan Andrew.


“Dad... Dadda...” bayi itu menepuk-nepuk rahang Andrew yang ditumbuhi rambut halus, mendengar apa yang diucapkan bayi itu membuat Aeleen dan Arabela heboh. Seorang bayi yang baru pertama kali mereka temui memanggil kakaknya dengan sebutan “Daddy”. Mereka curiga jika bayi itu adalah anak kakaknya, melihat kemiripan yang dimiliki keduanya.

__ADS_1


“Jangan melihatku seperti itu,” protes Andrew dengan tatapan tajamnya pada Aeleen dan Arabela.


“Niall...” Dacota menghampiri Andrew yang sedang mencubit gemas pipi merah bayi dalam pangkuannya. Bukan hanya Andrew yang memalingkan wajah, tapi bayi dalam pangkuannya juga memalingkan wajah ke arah suara. Sekali lagi kedua adik Andrew dibuat tercengang dengan apa yang mereka lihat.


“Niall...” panggil keduanya pada bayi yang bertepuk tangan mendengar namanya dipanggil.


“Apa-apaan kalian memanggil nama tengahku?” protes Andrew dengan tatapan dinginnya.


“Bukan, Kakak!” sanggah keduanya bersamaan.


Dacota menatap bingung dengan pemandangan di depannya saat ini, ia seakan melihat Andrew saat bayi. Mata biru yang berbinar menatap kearahnya, membuat hati Dacota hangat dan segera menghampirinya.


“Jadi kalau bukan aku siapa?”


“Anak ini namanya Niall,” ucap Arabela sok tahu.


“Jangan asal bicara!”


“Coba tanya Mum, pasti tadi juga lihat bayi ini menoleh,” Aeleen memberi saran pada Andrew yang sedang ditatap Ibunya bergantian dengan bayi yang ada dalam pangkuannya.


“Benar. Dia memalingkan wajahnya tadi,” kata Dacota masih menatap takjub bayi yang bersandar manja pada dada putranya. Andrew hanya menatap bingung pada Ibu dan kedua adiknya.


“Jadi bayi siapa ini? Kenapa wajahnya mirip denganmu?” tanya Dacota tidak dapat lagi menutupi rasa penasrannya.


“Entahlah. Mungkin salah satu tamu, karena tadi dia bermain sendirian,” jawab Andrew jujur.

__ADS_1


“Jadi namamu Niall?” tanya Arabela pada bayi yang sedang memainkan tissue di atas meja.


Merasa diajak bicara bayi itu menoleh dan tersenyum lebar menunjukkan keeempat gigi susunya. Bayi itu sungguh terlihat menggemaskan, sekarang ia menatap Andrew dan menepuk-nepuk pipi berambunya. Sepertinya dia sangat senang memainkan tangannya di sana.


__ADS_2