The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 22


__ADS_3

“Sial! Mau apa lagi lelaki itu? Belum puas dia membuat wanitaku menangis!!!”


Andrew menggebrak meja kerjanya penuh emosi, hal ini terjadi setelah ia menerima panggilan dari orang kepercayaannya. Mereka mengatakan bahwa David sedang mencari tahu penyebab kecelakaan Sarah 5 tahun lalu. Ia tidak marah karena David mencari tahu tentang semuanya, tapi karena lelaki itu bergerak terlalu lambat.


Matanya mengedarkan pandangan dari salah satu gedung pencakar langit di Waikiki, Hawaii. Konsentrasi yang ia usahakan untuk fokus terpecah saat ini, tubuhnya memang berada di Hawaii tetapi pikiran dan jiwanya berada di Raunds. Memikirkan semua ucapan orang kepercayaannya membuat kepalanya sakit. Ia memilih memejamkan mata sesaat untuk meregangkan otaknya yang tegang. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena ponselnya kembali berdering.


Apalagi kali ini? Gumamnya saat meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kerja. Matanya melihat layar pemanggil, nomor tidak dikenal. Bagaimana bisa ada orang luar menghubunginya tanpa melalui asistennya. Dan kode negara itu bukan milik salah satu orang terdekatnya. Segera ia memeriksa kode negara tersebut.


“Damn! What he want from me???” umpatnya sebelum menjawab panggilan dari nomor itu.


“Hello, Mr. McCraven.”


“What you want from me, Mr. Schneider?”


“Wow... Amazing! You know me even we never talk before,” ucap David dengan nada sinisnya.


“I am not so stupid like you, Professor Schneider,” ucap Andrew tak kalah sinis.


“Haha... Jadi sekarang kau sudah bertunangan dengan kekasihku yang sedang lupa ingatan?”


“Dia bukan lagi kekasihmu lelaki biadab!” teriak Andrew, pasti suaranya yang menggelegar itu dapat terdengar hingga keluar ruangan. Karena ruang kerjanya di Waikiki tidak seperti di London atau New York.


“Aku tahu kenapa kau dan Luke selalu menghalangiku untuk bertemu Sarah sejak 5 tahun lalu. Dan ini semua salah paham.”


“Kenapa baru sekarang kau mencari tahu, bastard???”


“Aku hanya---“ kalimatnya terputus karena Andrew dengan emosi telah memotong sebelum David selesai berbicara.


“Hanya terlalu bodoh untuk tidak mencari tahu,” kali ini Andrew tidak berteriak melainkan kembali bernada sinis seperti sebelumnya.


“Kenapa kalian tidak bicara padaku sebelumnya?” David tetap berusaha untuk membela diri.


“Untuk apa? Memastikan apa yang aku dan Luke lihat itu salah? Sayangnya penglihatan kami terlalu baik untuk tetap percaya dengan apa yang kami lihat. Bahkan para ahli telah memastikan keaslian foto tersebut. Jadi berhentilah untuk mengejar TUNANGANKU!” ucap Andrew sinis penuh penekanan pada kata terakhirnya.


“Aku perlu menjelaskan sesuatu padanya,” ucapnya dengan sangat tenang.


“Aku tidak pernah semarah ini, Dave. Tapi aku tidak bisa membiarkan gadis yang kucintai tersakiti untuk kesekian kalinya. Dulu kita memang bersahabat, tapi tidak lagi ketika kau membuatnya terluka. Cukup tidak mengungkit masa lalu sangat baik untuknya.”


“Tidak bisakah kalian berbaik hati padaku? Aku akan meminta Luke untuk berbicara dengan Sarah.”


“Bodoh! Kau pikir Luke akan melakukannya? Aku yakin dia akan membunuhmu dengan tangannya sendiri. Bahkan saat melihatmu di pesta malam itu, dia dan sepupu Sarah lainnya sudah sangat ingin untuk membunuhmu. Cukup kau diam dan lihat saja apa dia akan mengingat dan memaafkanmu. Walau aku tidak yakin dengan semua itu,” Andrew langsung memutuskan sambungan.


Ia mencoba memejamkan matanya untuk berpikir sejenak, meredam semua luapan emosi saat mendengar suara David. Dulu Andrew, Luke, dan David bersahabat saat menempuh pendidikan di salah satu High School ternama di London. Namun selama persahabatan mereka, David tidak tahu jika Andrew adalah kekasih Sarah, sepupu Luke. Karena Andrew tertutup mengenai percintaan, Luke apalagi.

__ADS_1


Saat Andrew tahu jika Sarah memiliki kekasih baru, ia hanya pasrah dan berusaha menerima. Semua ia lakukan demi kebahagiaan gadis yang dicintainya, terlebih saat ia tahu bahwa lelaki beruntung itu adalah David Schneider sahabatnya dan Luke. Namun semua kepercayaannya hancur ketika Sarah mengalami kecelakaan, penghkianatan David mengakibatkan Sarah nyaris kehilangan nyawa.


Andrew memerintahkan orangnya menyelidiki semua bukti yang diterima Sarah sebelum kecelakaan terjadi, dan temuannya adalah tidak ada rekayasa. Bahwa benar David berada di tempat yang sama dengan foto tersebut. Hal itu membuat Andrew sangat marah dan menggila. Bahkan ia memutuskan persahabatan dengan David.


Tangannya bergerak meraih ponsel yang tadi diletakkan kembali di atas meja. Matanya menatap layar berwarna hitam itu, memutarnya sembari berpikir. Apakah lebih baik menangani sendiri atau menghubungi Luke. Lelaki itu pasti akan mengamuk jika tahu David sedang berusaha untuk kembali masuk dalam kehidupan Sarah. Dibalik sikap tenangnya Luke sebenarnya memiliki jiwa pemangsa yang sangat ganas. Andrew yang terkenal cukup bengis ketika menghabisi lawan, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Luke Jacob.


Andrew diam sejenak sebelum akhirnya membulatkan tekat dan mengambil keputusan. Jarinya mencari nama pada kontak, sebelum akhirnya berhenti dan mendial salah satu nomor dalam kontaknya.


Luke Jacob


“Hello. What happen, Drew?” suara bariton khas Luke terdengar di telinga Andrew yang telah memerah karena meredam emosi.


“Can I talk about something to you?” tanyanya berusaha agar terdengar tenang.


“Sarah? David?”


“How you know?” Andrew sedikit terkejut ketika Luke mengucapkan kedua nama tersebut. Namun seketika dia ingat siapa sahabatnya dan hal itu bukan hal sulit baginya untuk mencari tahu. Terutama mencari tahu apa yang musuhnya sedang rencanakan dan lakukan. Dan David Schneider telah menjadi salah satu musuhnya saat ini. Tidak perduli bagaimana persahabatan mereka dulu, hanya kebahagiaan adiknyalah yang terpenting baginya sebagai cucu tertua keluarga Jacob.


“Kau lupa siapa aku?” tanya Luke sinis.


“No. Tapi sebelumnya aku memang lupa,” ucap Andrew menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“He'll not find the women.”


“Why?” tanya Andrew penasaran.


“What???” teriak Andrew karena terkejut dengan apa yang dikatakan Luke. Lelaki dingin itu mengatakan telah membunuh seseorang dengan suara setenang itu.


“Aku membunuhnya, tentu bukan dengan tanganku,” masih terdengar datar seperti sebelumnya.


“Bagaimana bisa kau melakukannya, Luke? Isn't you and I knew it,” kata Andrew tidak percaya.


“David melakukannya dengan jalang itu. Dan jalang itu juga yang telah mengirimkan foto dan videonya pada Sarah.”


“Apa???” Andrew kembali berteriak dan kali ini Luke terdengar marah dengan tindakan sahabatnya.


“Bisa tidak usah teriak? Bodoh!” ungkapan kekesalah Luke setelah mendapat teriakan dari Andrew beberapa kali.


“Sorry. Tapi bagaimana bisa dia memiliki nomor Sarah?” tanya Andrew penasaran. Karena ia tahu betul bahwa Sarah tidak mungkin memberikan nomor ponselnya pada sembarang orang. Terlebih jika dia tidak mengenal siapa wanita itu.


“Itulah bodohnya David! Membiarkan dirinya menyentuh dan disentuh wanita lain. Abaikan saja jika bastard itu menghubungimu. Jika adikku ingin mengingat tentangnya, dia akan melakukannya. Tapi buktinya sampai saat ini adikku tidak menginginkannya.”


Perkataan Luke barusan membuat Andrew sendikit sadar dengan keadaan. Sarah memang sengaja melupakan semua kenangannya dengan David. Karena menurutnya semua kenangan itu menyakitkan. Dan sudah dipastikan The Jacob mengetahuinya.

__ADS_1


“Baiklah! Aku akan merelakannya kembali pada David jika itu memang keinginannya. Tapi aku tidak akan membiarkan David untuk mengambilnya kembali jika Sarah tidak menginginkannya,” kalimat tulus Andrew sampai ke hati Luke. Membuat lelaki dingin itu melunak walau sedikit.


“Calm down. Aku sangat yakin dia akan memilihmui, tidak perduli jika adikku kembali mengingat lelaki brengsek itu,” kata Luke penuh keyakinan.


“Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku di sini dan kembali ke London. Kita bicarakan tentang semua ini saat aku kembali dan tolong luangkan waktu, Luke. Aku butuh mendengar penjelasanmu.”


“Cepat selesaikan pekerjaanmu. Aku harap bisa bertemu denganmu segera, tapi sepertinya tidak bisa.”


“Kenapa?”


“Sampai minggu depan meeting di New Zealand dan setelahnya ke Qatar entah sampai kapan.”


“Baiklah. Baiklah. Aku hanya ingin bertemu Sarah dan memastikan ia baik-baik saja,” Andrew memutar bola mata malas mendengar penjabaran lelaki sibuk itu. Bahkan Luke jauh lebih sibuk darinya.


Andrew kembali meletakkan ponselnya setelah selesai berbicara dengan Luke. Dengan susah payah ia memejamkan mata, namun benar-benar sulit setelah mendengar pernyataan Luke tadi. Membunuh? Luke melakukan semua itu? Andrew memang tahu jika Luke selalu menjadi gila ketika berurusan dengan Sarah dan Halsey. Kedua adik sepupu perempuannya itu masuk dalam urutan pertama skala prioritasnya. Sesibuk apapun dia, jika kedua gadis itu yang memohon pasti akan dituruti. Tapi kalau sampai Luke membunuh seseorang karena menyakiti Sarah, ia baru mendengarnya.


Tubuhnya meremang ngeri membayangkan Luke melukai atau bahkan membunuhnya jika menyakiti Sarah. Walau hal itu sangat mustahil terjadi, mengingat ia sangat mencintai Sarah.


Bicara tentang Sarah, apa yang sedang dilakukan gadis itu saat ini?


***


Di tengah udara dingin, dua orang gadis sedang sibuk melihat-lihat sebuah bangunan sekolah tua. Bangunan itu masih berdiri kokoh dengan bentuk aslinya sejak pertama kali dibangun. Hanya saja pihak pemerintah setempat dan pengelola sekolah merasa bangunan itu perlu diperbaiki.


Sebelumnya memang banyak sekali yang menawarkan untuk jasa pemeliharaan bangunan tersebut, tapi harus merubah beberapa bagian bangunan. Hal itu adalah suatu hal yang sangat dihindari oleh pihak sekolah atau pemerintah setempat. Bangunan tersebut sangat tua dan memiliki nilai sejarah sendiri bagi masyarakan Raunds.


Seorang pria paruh baya menghampiri kedua gadis yang sibuk dengan coretan-coretan pada draft desain sekolah tersebut. “Miss Jacob dan Miss Scott...”


“Maaf Mr. Butland, kami terlalu asik membicarakan rencana pemugaran sekolah ini,” Sarah sudah menurunkan draft desainnya dan bebrbicara dengan Mr. Butland selaku pengelola sekolah.


“Sejauh ini kami telah mendapat banyak tawaran dari donatur untuk merenovasi beberapa bagian bangunan. Hanya saja kebanyakan dari mereka tidak bisa mempertahankan bentuk asli bangunan pasca renovasi,” ucap Mr. Butland dengan nada bicaranya yang sedih.


Sarah dan Rose yang mendengarnya pun penuh rasa simpati, karena mereka tahu benar bahwa diluar sana sangat banyak yang bisa melakukan perbaikan dengan perubahan. Namun tidak banyak yang bisa melakukan perbaikan dengan mempertahankan keasliannya. Karena semua ini bicara mengenai passion, Sarah dan Rose sejatinya adalah peminat bangunan tua. Ada tantangan tersendiri ketika mampu memperbaiki dengan mempertahankan keasliannya.


“Kami usahakan yang terbaik untuk tetap mempertahankan keaslian bentuk bangunannya, Sir,” Rose meyakinkan Mr. Butland dengan semangatnya.


Karena memang sejauh ini tidak ada masalah dengan pekerjaan kedua gadis itu. Mereka terus membicarakan tentang rencana renovasi itu dan kapan dimulainya. Saking asiknya mereka lupa bahwa hari sudah mulai sore. Akhinya mereka berdua memutuskan untuk pamit pada Mr. Butland yang sedang menunggu jemputannya.


Sepanjang perjalanan kembali ke home stay, Sarah lebih memilih tidur. Berbeda dengan Rose yang sibuk dengan sosial medianya.


“Sarah... Kita sudah sampai, istirahat di dalam saja,” Rose menepuk pundak Sarah membangunkannya.


Sarah menguap sembari meregangkan tubuhnya yang kaku karena tidur dengan posisi duduk. Ia mengerjapkan mata sesaat, sampai matanya menangkap sosok Rose yang tersenyum ke arahnya. Perlahan ia turun dari mobil, berjalan memasuki mansion. Walau langkahnya terasa berat karena masih merasa lelah. Semalam Sarah memang bergadang untuk mempelajari desain asli bangunan sekolah itu.

__ADS_1


Langkahnya terhenti tepat di depan pintu yang terbuka setelah Rose masuk. Sarah segera memalingkan kepalanya kearah suara yang memanggil namanya. Matanya terbelalak melihat sosok yang sedang berdiri beberapa meter dari tubuhnya.


Senyuman itu, aku merindukannya...


__ADS_2