The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 11


__ADS_3

Aku lelah dengan semua ini. Desah Sarah saat memikirkan bagaimana kacaunya dia saat ini. Melihat salju seharusnya menyenangkan menjadi sangat menyakitkan baginya. Bagaimana bisa seorang Sarah yang sangat mencintai salju menjadi sangat merasa tertekan ketika salju turun. Air matanya selalu tidak berhenti menetes.


“Kak Sarah...” Ia segera menghapus air mata yang sedari tadi mengalir di pipi, ketika mendengar pekikan suara Halsey di ambang pintu kamar. Ia berbalik setelah sejak tadi duduk menghadap jendela, melihat titik-titik salju turun.


“What happen Halsey? Can you be normal?” gerutunya menatap Halsey yang tengah duduk di tempat tidurnya.


“As always, Sister. I am normal,” Halsey menggedikkan bahunya cuek menanggapi perkataan sepupunya. Diluar mereka memang terlihat tidak akrab atau lebih tepatnya sering berdebat. Tetapi mereka adalah sepupu yang sangat dekat dan akrab. Sarah selalu memanjakan Halsey yang berusia terpaut cukup jauh darinya. Sehingga sering kali membuat gadis itu sangat manja dan berlaku semaunya.


“You ever meet a hot guy?”


“Hot? I just meet a bad and a cold guy,” jawab Sarah sekenanya melewati Halsey, berjalan menuju wolk in closet.


“Same to you, right?” Halsey mengeraskan suara agar Sarah dapat mendengarnya.


Who’re you? And what happen to you? Can I run away from you, Sarah? lirihnya dalam hati ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Rasanya ingin melarikan diri dan pergi jauh, karena merasa jengah. Dirinya yang selama 5 tahun terakhir menjadi orang lain.


“Hey... What are you doing here?”


“Wha---what?” Sarah tersadar dari lamunannya ketika Halsey menghampirinya ke wolk in closet.


“Kau terlihat sangat kacau, Kak,” Halsey mengelengkan kepala sembari berkacak pinggang. Sarah berjalan menuju sofa, duduk di sisi gadis berambut coklat yang tengah asik menonton TV dengan camilan di tangan.


“Can you be normal, Sister?” Halsey menarik jarak dari Sarah yang tengah memasukkan tangan kedalam camilan miliknya. Kelakuan kekanakan sepupunya bisa membuat Sarah terkekeh walau tertahan.


“You're really my lovely cousin.”


Mereka berpelukan seakan ini ialah pertemuan pertama setelah terpisah lama. Halsey sangat bahagia melihat Sarah dapat tertawa lagi seperti dulu, walau hanya sedikit.


Paman Paul bilang dia mengalami trauma yang mengakibatkan kehilangan sebagian memori dan beberapa perubahan dalam bersikap. Akhirnya aku bisa melihatnya tertawa lagi. Gumam Halsey dalam hati.


Halsey membelai lembut punggung sepupunya yang mulai berkaca-kaca. Sarah melepaskan pelukan Halsey yang terasa penuh luka, mencengkram bahunya lembut. “Why you cry, Halsey? I say something that hurt you?” tanya Sarah.


Gadis itu menggeleng menahan tangis yang membuat Sarah khawatir. Menghapus air mata yang telah membasahi pipi kemerahannnya. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas tidak ada tatapan dingin menginterfesnsi seperti yang biasa diberikan oleh Sarah.


“I'm okay, Sis...” suaranya terdengar lirih.


“You sure? I guess no, cause you still crying,” Sarah membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.

__ADS_1


“I just happy.”


“Happy??? Kau menangis, kenapa? Just be honest.”


“Aku serius, Kak. Aku bahagia karena akhirnya kau bisa bersikap normal,” ia menggenggam kedua tangan Sarah , sedangkan yang tangannya digenggam hanya menatapnya heran dan tidak menyela ucapan Halsey mengenai dirinya.


Normal? Apa selama ini aku sangat tidak normal? Sarah bergumam dalam hati saat mendengar ucapan Halsey tentang keadaannya.


“Biasanya kau hanya diam tanpa ekspresi, tapi tadi bisa tersenyum bahkan nyaris tertawa. Aku sangat bahagia dan seluruh keluarga pasti bahagia mendengarnya,” senyum merekah dari bibir tipis gadis cantik bernama Halsey.


Jadi itu yang membuatnya menangis dan merasa bahagia. Maaf, aku hanya tidak tahu bagaimana menyikapi diriku sendiri. Terlebih keadaanku.


“Jadi sekarang kau ingin apa?” tanya Sarah lantang ketika beranjak dari sisi Halsey yang sibuk dengan snacknya.


“Aku ingin mengajakmu bertemu Josephine Hill,” Halsey menoleh kearah Sarah yang kini tengah duduk bersandar di kepala ranjang.


"Untuk apa?" tanyanya heran.


“Ya untuk membuat dress lah, Kak. Memangnya apa lagi? Jualan? Dia kan designer langganan The Jacob,” Halsey sedikit ketus merespon kebingungan Sarah.


I know it. Gumam Sarah.


“Oh God!!!” Sarah mulai panik dan berlari kearah wolk in closet mencari-cari sesuatu.


“Aah ketemu...” ia menarik narik nafas lega seraya berjalan kearah lemari putih. Di dalam wolk in closet.


“Ada apa? Tidak perlu seheboh itu, seperti anak kecil saja. Ck,” Halsey berdecak kesal melihat Sarah panik mencari sesuatu.


“Kunci lemari, tadi masuk kedalam toilet.”


“HAH???” Halsey mencari air mineral yang ia letakkan di atas nakas, karena tersedak snack ketika mendengar alasan kepanikan Sarah.


Kunci? Yang benar saja? Dia panik hanya karena kunci lemari? Kalau tidak bisa dibuka langsung bongkar saja, tidak usah repot apalagi heboh seperti tadi. Halsey menggumam sembari meminum ai mineralnya.


“Bukan itu masalahnya, Sey. Kado yang ku siapkan untuk granny ada di dalam lemari.” Halsey heran mendapati sepupunya yang memiliki respon dan ingatan bagus, kini menjadi sangat kacau. Ia tahu kecelakaan yang menimpa Sarah berakibat fatal pada kondisi psikis dan otaknya.


“Apa dia akan datang kali ini?” Sarah terdengar ragu.

__ADS_1


“Tentu! Kak Luke selalu punya hati dan waktu untuk keluarga,” Sarah tersenyum mendengar jawaban penuh semangat dan percaya diri Halsey.


Luke Jacob, seorang billionaire muda yang terkenal sibuk bisa sangat khawatir saat mendengar keluargnya ditimpa masalah. Bahkan saat kecelakaan yang menimpa Sarah 5 tahun lalu ia segera datang ke Skotlandia dari Kanada. Luke adalah cucu tertua Philips Jacob, yang sangat menyayangi Sarah dan Halsey.


Sarah dan Halsey akhirnya pergi bersama menemui desainer andalan The Jacob. Josephine Hill sangat paham dengan selera The Jacob, sehingga menjadi desainer tetap keluarga trillionaire itu. Keduanya telah sampai di depan sebuah gedung 3 lantai dengan desain modern minimalis, lengkap dengan lampu-lampu kristal yang menghiasi lobby gedung dari balik pintu slide kaca.


“Finally we’re here...” teriak Halsey girangan saat keluar dari mobil Sarah yang memberanikan diri untuk menyetir setelah sekian lama tidak melakukannya. Trauma? Ya! Itulah penyebabnya Sarah tidak suka mengemudi, bahkan nyaris tidak pernah. “Santai...” ujarnya pada Halsey yang berjalan cepat memasuki workshop milik Josephine. Butik milik Josephine Hill memang sangat apik dan cozy, membuat setiap pelanggan betah berlama-lama di sini. Sekedar memilih beberapa desain atau konsultasi tentang trend mode yang pantas untuk mereka.


“Hello The Jacobs. Welcome to my boutique,” sambut Josephine hangat menghampiri Sarah dan Halsey. Mereka saling mencium pipi dan berpelukan kecil.


“Where your Mums, girls? Biasanya selalu datang bersama?” ia mempersilahkan The Jacob Girls duduk di sofa bludru violet yang disediakan butik Josephine Hill.


“She's busy as usual, and Halsey ask me for join her to make a new dress,” Sarah melirik Halsey sekilas ketika berbicara dengan Jospehine.


“Okay! We started!” ucap Josephine semangat mengambil pita ukur yang dilingkarkan pada leher jenjangnya. Segera ia mengukur tubuh indah milik Sarah dan Halsey. “Sarah kau memiliki bahu yang sangat sexy, jadi aku akan membuat gaun yang mengekspos bahumu. Tapi karena kau pribadi yang sederhana, jadi dress berlengan dengan rok pendek tampaknya akan bagus untukmu?”


“NO!!!” teriak Halsey mengagetkan kedua orang yang tengah sibuk melakukan pengukuran.


“Ada apa lagi cutest Halsey?” Sarah sedikit menahan emosinya ketika mendengar respon sepupunya.


“Andrew will upset if you show off,” ia menghela nafas, “to another mens...” lanjutnya.


Sarah menghela nafas sebentar sembari berpikir, ia lupa akan Andrew yang sangat posesif terhadapnya. Pernah sekali mereka hendak menghadiri suatu pesta, tetapi Andrew memintanya mengganti gaun.


“Baiklah. Jospehine, buat seanggun mungkin tanpa mengekspos bagian tubuhku yang sangat pribadi,” ucap Sarah pada Josephine yang sempat menghentikan aktifitas mengukur tubuh Sarah.


Tiba giliran Halsey melakukan pengukuran, tetapi Sarah tidak banyak komentar tentang saran Josephine pada dress sepupunya. Hingga akhirnya suara cempreng Josephine memecah keheningan.


“Jadi kalian benar-benar bersama?” tanyanya sedikit gugup. Sarah dan Halsey langsung menatapnya dengan tatapan bertanya, karena kedua orang ini tidak paham akan pertanyaan Josephine.


“Who?” tanya mereka bersamaan.


“Andrew Niall McCraven kan yang kalian maksud tadi?” Sarah mengernyitkan dahi pertanda ia tidak mengerti maksud Josephine.


“Aah... Mereka hanya berteman dan sangat dekat. Lagipula Sarah pasti masih—“ perkataan Halsey terputus dan membuat mata Sarah membola. Apa yang dimaksud Halsey sebenarnya, ia tidak mengerti.


“Masih apa?” tanyanya menginterfensi Halsey.

__ADS_1


“Ma-masih belum normal,” Halsey terkekeh walau sebelumnya terdengar sangat gugup.


Dia pikir aku gila. Oh God! Why I have her as my cousin? Sarah berdecak gemas melihat tingkah Halsey yang suka semaunya. Kekanakan dan manja, karena keluuarganya sangat memanjakan gadis itu. Akhirnya mereka selesai melakukan pengukuran dan berpamitan pergi.


__ADS_2