
Di tempat lain Sarah sedang panik mencari putra kecilnya yang entah berada di mana, tadi dia terakhir masuk karena harus memompa asi untuk Niall. Dan lagi ia belum siap untuk menunjukkan diri di depan publik, jadi ia memilih masuk melalui lift di basement hotel. Bukan hanya Sarah yang panik, tapi sepupu-sepupunya juga, bahkan Halsey menangis kebingungan, ia menyalahkan diri karena lalai menjaga keponakannya. Sedangkan keempat orang yang tadi dititipi Niall juga sedang mencari keberadaan bayi menggemaskan itu, bahkan sampai keluar hotel. Walau tidak ada yang tahu jati diri bayi itu, tapi kemungkinan penculikan terjadi akan tetap ada.
“Bagaimana bisa kalian lalai menjaga Niall?” Karl Jacob menggeram kesal pada anak kembarnya.
“Maaf, Dad. Kami akan mencarinya,” ucap Harry dan Henry bersamaan.
Luke dan Anthony juga membantu dengan lebih tenang, karena kalau mereka panik pasti akan sulit menemukan bayi itu. Apalagi Niall sedang aktif-aktifnya berjalan. Halsey memecah kerumunan orang, karena tamu yang hadir sangat banyak. Ia melangkah pasti ke depan ballroom, bukan tidak mungkin keponakannya berada dekat dengan keluarga McCraven. Apalagi Niall sejatinya adalah seorang McCraven, sama sepertinya Ayahnya. Halsey mematung tepat beberapa meter dari pemandangan yang menakjubkann baginya. Keponakan tampannya sedang bermain dalam pangkuan lelaki itu, lelaki yang membuat bayi itu terlahir ke dunia.
“Memang darah tidak pernah bohong!” serunya dengan mata berbinar. Ada kebahagiaan yang menjalar dalam hatinya melihat interaksi ayah dan anak itu, walau Andrew tak mengetahui kehadirannya. Awalnya Halsey ingin membiarkan pemandangan itu, namun ia teringat pada Sarah dan kakak-kakaknya yang lain sedang sibuk mencari Niall. Ia mengumpulkan keyakinan sebelum melangkah menuju meja perjamuan keluarga McCraven. Di sana Andrew, Aeleen, Arabela, Dacota McCraven dan keponakannya sedang bercengkrama. Dengan suara lantang ia memanggil keponakannnya yang memiliki nama yang sama dengan nama tengah Andrew.
“Niall...”
Keluarga McCraven menoleh ke arah suaranya diikuti oleh Niall kecil yang tampak senang melihatnya. Ia mengangkat kedua tangannya meminta untuk Halsey meraih tubuh gemuknya. Keempat McCraven itu saling pandang, melirik Andrew dan bayi itu bergantian. Halsey tidak ingin berlama-lama dan langsung meraih Niall ke dalam pelukannya, ia menghidari pertanyaan dari keluarga yang sedang menatapnya bingung.
“Ty... Dadda...” Niall memeluk Halsey sembari menunjuk Andrew dengan jari montoknya.
“Halsey bisa jelaskan ada apa ini?” suara dingin Andrew menusuk ditelinga Halsey, jantungnya berpacu cepat karena paham benar apa yang dimaksud lelaki itu. Namun belum sempat ia berbicara Niall sudah berpindah tangan pada wanita dengan gaun hitam berlengan yang menampilkan punggung indahnya. Mata semua orang tertuju pada wanita yang memeluk bayi gembul itu dengan sayang.
“Niall ke mana, Sayang? Mummy cari tapi tidak ketemu,” ia menghujani pipi merah putranya dengan kecupan. Mengabaikan empat orang yang menatapnya terkejut, seakan sedang melihat hantu.
__ADS_1
“Dad... Dadda... Dadda, Mum...” ucap Niall menepuknepuk wajah ibunya.
“Tadi Niall bertemu Daddy?” bayi itu tersenyum menunjukkan gigi susunya, membuat Dacota tersenyum melihat pemandangan di depannya. Akhirnya ia melihat dunia putranya kembali, tidak hanya sendiri melainkan berdua dengan seorang bayi lucu.
“Nanti kalau Mummy sudah siap Niall bisa selalu bertemu Daddy. Sekarang kita pulang ya, Sayang,” Sarah beranjak meninggalkan mereka yang masih mematung di tempatnya, hingga ia mendengar suara yang sangat ia rindukan. Sarah berbalik melihat kearah mereka yang sedang menatapnya dengan wajah berbinar.
“Sarah...”
“Mum... Dadda...” Niall menunjuk Andrew yang tak bergeming dari keterpakuannya.
“Halsey, tolong bawa Niall pada Mummyku,” Sarah menyerahkan Niall kedalam gendongan Halsey, namun baru selangkah Halsey meninggalkan posisinya. Niall sudah berpindah ke tangan Andrew yang dengan sigap mengangkat tubuh gembul itu. Andrew berbinar menatap mata biru bayi yang ternyata memiliki nama yang sama dengannya, ciri fisik yang sama dengannya. Hanya rambutnya saja yang mampak berbeda, rambut pirang seperti milik Sarah.
“Mum... Dadda,” Niall menenggelamkan wajah di dada Andrew. Pemandangan ini tidak luput dari ratusan pasang mata yang hadir di pesta ini, bukan karena pertemuan keduanya.
Melainkan bayi dalam gendongan Andrew, bahkan keluarga Jacob dan Ailbert James McCraven juga sudah berada di sana. Melihat kembalinya dunia Andrew dengan membawa cahaya matahari baru. Sarah tidak mampu membendung air mata dipelupuk matanya, bulir bening lolos membasahi pipi. Andrew mendekat kearah Sarah dan meraih tubuh yang bergetar karena tangis itu kedalam pelukannya.
“Maafkan aku, Sayang,” lirihnya saat mengecup puncak kepala Sarah.
“Jadi siapa dia?” tanya Andrew pada Sarah yang masih berada dalam pelukannya bersama dengan Niall.
__ADS_1
“Kau lihat saja wajahnya, bodoh!!!” hardik Nick tmelihat kebodohan Andrew yang tidak mengenali Niall.
“Tenanglah, Nick! Jangan membuat keributan di pesta orang lain,” sergah Anthony. Masih jelas sekali bagaimana gilanya Nick melayangkan tinju pada wajah tampan Andrew ketika Sarah pergi.
“Jadi dia putraku?” tanya Andrew mengabaikan Nick.
“Bukan!” jawab Sarah lantang, membuat semua mata yang ada di sana membola sempurna.
“Dia putraku,” lanjutnya.
“Maaf, Sweetheart. Niall putra kita?” Andrew mengecup puncak kepala Sarah sekali lagi. Sadar sedang menjadi tontonan, Sarah melepaskan diri dari pelukan Andrew dan meraih Niall kembali dalam pelukannya. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Andrew.
“Thanks for back to me, my world and thanks for give me a sun,” Andrew mendekatkan wajah pada wajah Sarah. Mencium bibirnya lembut, menyalurkan rasa rindu yang selama 2 tahun ini ia pendam. Mereka larut dalam suasana romantis yang mereka ciptakan ditengah suasana pesta yang mulai riuh.
“Niall McCraven,” Andrew mengecup puncak kepala Niall yang memamerkan gigi-gigi kecilnya.
“Niall Jacob McCraven,” ucap Sarah.
“Welcome home, Sunshine,” Andrew mengecup puncak kepala Sarah dan Niall bergantian.
__ADS_1