The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 4


__ADS_3

“Hello, Mr. Edward Jacob,”


“Hello, Mr. Michael Schneider. Apakah waktunya telah tiba?” tanya lelaki diseberang telepon, yang tidak lain adalah Ayah dari Sarah.


“Yeah! He can’t control and waiting so long as before” Michael sangat mengkawatirkan David yang masih murung duduk di sisinya.


“Ok! Aku akan siapkan semuanya, dan semoga kali ini Sarah akan mengingatnya,” suara Edward penuh harap.


“Baiklah, Ed, aku harap semuanya akan semakin baik setelah ini. Bye!” Michael menepuk bahu David yang tengah metapnya penuh harap.


David adalah lelaki yang sangat mandiri dan dewasa, namun hati dan pikirannya selalu lemah ketika berhubungan dengan Sarah Dimitrov-Jacob. Cerita mereka bukan sekedar roman picisan anak muda pada umumnya, melainkan cerita sepasang manusia dewasa. Sarah kehilangan sebagian ingatannya setelah mengalami kecelakaan hebat di Skotlandia. Dan keseluruhan ingatan tentang David turut hilang bersamaan dengan kucuran darah yang keluar dari kepalanya. Mereka berdua merasa kosong dan sendiri, karena puzzle kehidupan keduanya masih berantakan hingga saat ini.


Sore harinya David tengah sibuk menjalani pemeriksaan x-ray sesaat sebelum menaiki pesawat jet pribadi milik keluarga Schneider. Orang tua dan kedua saudaranya turut mengantar lelaki tangguh namun rapuh itu ke Bandara Munich. Ia melambaikan tangan pada keluarga tercintanya di Jerman untuk menemui cintanya di London. Sesaat kemudian David telah duduk di dalam pesawat sebelum akhirnya pesawatnya lepas landas. Matanya menatap keluar jendela pesawat sembari memandangi titik-titik cahaya lampu Kota Munich yang mulai meredup, menghilang bersamaan dengan semakin tinggi pesawatnya mengudara.


Pikirannya melayang dan menerawang pada kejadian 5 tahun lalu, sebelum kejadian naas itu terjadi. Dan semenjak kecelakaan hebat menimpa Sarah, mimpi buruk itu selalu hadir di setiap malam-malamnya.


“Seharusnya aku tidak pernah mengizinkannya pergi saat itu,” nafasnya berat sebelum ia memejamkan matanya. Ia bahkan tidak tidur, melainkan hanya memutar kenangan-kenangan indah saat Sarah belum mengalami kecelakaan.


“Mr. Schneider, pesawat akan mendarat dalam 15 menit,” seorang awak pesawat menghampiri David yang sedang memutar kenangan indah tentang gadis cantik yang akan segera ia temui.


“Baiklah! Tolong persiapkan semuanya sebelum saya turun,” pintanya setelah tersadar dan menatap keluar jendela pesawat.

__ADS_1


“London and Sarah. Wait me just for while, I miss you so…” ucapnya dalam hati penuh keyakinan. David telah ditunggu oleh supir milik keluarganya yang memang bertugas di London. Sepanjang perjalanan menuju apartemen, David memilih untuk tidur tanpa menikmati suasana malam Kota London yang telah 4 tahun tidak ia kunjungi.


Kriiiiing… David segera mengambil ponsel dari dalam saku coat berwarna grey yang ia kenakan.


“Yes, David Schneider speaking,” suaranya serak karena baru bangun dari tidur singkatnya.


“Dave, ini Paman Edward,” suara dibalik sambungan menyebutkan dirinya, Edward Jacob meneleponnya untuk memastikan apakah ia telah sampai di London.


“Hi, Paman! Sekarang saya sedang dalam perjalanan menuju apartemen, maybe this evening I’ll come there,” David berusaha membenarkan posisi duduknya agar merasa nyaman saat sedang berbicara.


“Saya senang akhirnya kamu mau kembali kemari untuk Sarah, tapi sepertinya kita tidak bisa dinner bersama Sarah. Dia baru saja mengabari akan keluar bersama sahabatsahabatnya,” Edward memberi tahu jika tidak dapat melakukan dinner dengan Sarah malam ini di mansion Edward Jacob.


“Sarah pergi ke mana, Paman?” nada suaranya penuh penasaran ke mana gadis itu akan pergi.


Tibalah David di apartemen 2 kamar yang memang dimilikinya sebelum mengenal Sarah, 7 tahun lalu. Segera ia menuju kamar mandi setelah meletakkan pakaiannya pada lemari disudut kamar dengan pemandangan Kota London. Ia membenamkan kepalanya pada air hangat yang memenuhi bathtub untuk meregangkan syaraf-syarafnya yang tegang selama perjalanan dan memikirkan keputusannya. Keputusan untuk kembali datang ke London, kota seribu kenangan tentang kisah cintanya bersama Sarah. Ia segera mengangkat kepalanya kembali ke permukaan ketika mendengar bunyi pesan masuk di ponselnya. Ia mengeringkan tangan dengan handuk kecil di sisi bathtub dan meraih ponsel di nakas yang terletak tidak jauh dari posisinya saat ini.


“Sarah go to the Ministry of Sound with Carol and Aaron.” SMS dari Edward Jacob memberitahu David di mana keberadaan Sarah. Tanpa pikir panjang ia segera menyelesaikan acara santainya di kamar mandi dan berpakaian rapi untuk menemui gadis pujaannya. Sarah memang tidak seperti gadis kebanyakan, ia berbeda dan sangat pemilih untuk urusan percintaan.


Segera dipacunya mobil sport berwarna hitam dijalanan Kota London menuju Ministry of Sound yang terletak di stasiun bus tua South of Waterloo. Matanya menelusuri setiap sisi club yang penuh sesak dengan orang-orang yang sedang menari. Ia menyipitkan mata ketika menangkap sosok perempuan berambut pirang masih mengenakan office suit dengan seorang lelaki dan perempuan.


“Sarah…” David menarik napasnya panjang seraya menyusuri jalan diantara kerumunan orang.

__ADS_1


“Vodka please,” David memesan minuman untuk dirinya sendiri pada bartender yang tepat berdiri di depannnya. Kali ini dia hanya memilih duduk di kursi bar yang berhadapan langsung dengan posisi Sarah dan temantemannya. Pandangannya tidak lepas dari Sarah yang tengah duduk sendiri, karena saat itu teman-temannya sedang asik menikmati musik yang sedang dimainkan DJ.


“Your Vodka, Sir” ucap bartender saat menyodorkan sebotol Vodka dengan sloki pada David.


“Thanks!” langsung dituangkan pada sloki ditangan dan menelannya dengan sekali teguk.


“Aku benar-benar belum menyerah Sayang, dan aku berharap kau mengingatku kembali,” Gumamnya dalam hati sesaat sebelum kembali menenggak Vodka yang telah ia pesan.


Plak…


Suara itu cukup keras hingga terdengar sampai ke meja bar, karena posisinya memang tidak berjauhan dengan tempat duduk pengunjung. David pun turun tersentak sesaat setelah suara itu muncul, ia mencari dari mana asal suara yang jelas adalah bunyi tamparan keras.


“Sarah?” sesaat David pun terdiam dan membisu mendapati Sarah tengah adu mulut dengan lelaki muda di hadapannya.


“Sarah menampar lelaki itu? Ada apa? Dia tidak biasa melakukan hal itu,” pikirnya dalam hati karena ia sangat tahu bagaiman karakter perempuan cantik itu.


“Kalian diam saja?” tanyanya pada bartender yang sedang menyuguhkan minuman pada lelaki disampingnya.


“Sudah biasa terjadi, pasti seorang gigolo yang sedang menawarkan diri, namun perempuan itu tidak ingin,” jawaban bartender itu sungguh tidak memuaskan hati David, hingga akhirnya ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Sarah. Ia menatap wajah Sarah yang kesal, seketika itu ia sadar apa yang sedang terjadi. Namun ia tidak bisa melakukan banyak selain bersikap netral, karena ia sadar bahwa Sarah tidak mengenalinya dan hanya akan menimbulkan keributan lebih besar jika ia tersulut emosi.


Sarah berlari ke balik tubuhnya setelah mengatakan apa yang telah terjadi. David bisa merasakan jika tangan gadis itu bergetar hebat ketika memegang yang ia kenakan.

__ADS_1


“Aku akan mengurusnya, Sayang,” batinnya.


__ADS_2