The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 36


__ADS_3

Sudah lebih seminggu Sarah berada di Quebec, Kanada. Mengerjakan proyek dari Pierre Julien Roux, trillionaire asal Perancis. Saat ini ia tengah duduk di ruang kerja penthouse mewah yang diberikan Monsiur Roux, sebagai hadiah kesediaannya merenovasi mansion mendiang putranya.


Matanya fokus pada garis-garis yang membentuk struktur bangunan di layar laptopnya. Dia menyibukkan diri dengan pekerjaan ini, setidaknya bisa melupakan sedikit rasa sakitnya. Tentang rasa kecewanya atas cinta yang tak berjalan dengan semestinya.


“Kau belum tidur?” tanya Nick yang bersandar di pintu ruang kerja adiknya dengan kedua tangan menyilang di dada.


“Belum, sedikit lagi,” jawabnya tanpa memutus pandangannya dari layar laptop.


“Jangan terlalu diforsir, nanti kau sakit. Kalau kau sakit bukan tidak mungkin Kak Luke akan menghajarku,” Nick melangkahkan kakinya menuju sofa.


Melihat Sarah masih sibuk dengan pekerjaannya, membuat Nick menyerah. Akhirnya ia memilih untuk menyalakan laptopnya, memeriksa beberapa email dari Kejaksaan dan perusahaan miliknya. Karena ia sedang mengambil cuti dari Kejaksaan untuk menemani Sarah.


Sarah tidak ditemani oleh Mariana Dimitrov, karena wanita itu akan membuatnya semakin lemah dan cengeng. Berbeda dengan ketiga kakak sepupunya yang selalu terlihat memanjakannya dan Halsey, tapi dibalik itu semua mereka selalu bersikap tegas.


“Kak...” panggil Sarah pada Nick yang tengah sibuk mengetik sesuatu pada laptopnya.


“Yes,” Nick memalingkan wajahnya pada Sarah.


“Apa kau mendengar kabar tentang Andrew?”


“Dia kacau. Hanya itu yang ku tahu,” jawab Nick datar tapi Sarah tahu jika itu adalah kebenarannya.


“Sejahat itukah aku?” Sarah tertunduk lirih.


“Memang sedikit keterlaluan, tak seharunya kau melarangnya untuk menemuimu,” Nick selalu berkata jujur dan itu adalah hal yang tidak disukai oleh saudarasaudaranya, karena sering kali menyakitkan.


Sarah menghela nafas panjang dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Memikirkan apa yang keluarganya katakana, kalau ia memang sedikit keterlaluan pada Andrew. Tapi yang ia inginkan saat ini hanya sebuah ketenangan, memastikan jika perasaannya selama ini benar. Jika tidak ada sebuah penyesalan dalam hubungan ini.


Nick menatap adik sepupunya yang telah tertidur, melangkahkan kaki menuju meja kerja Sarah. Manik coklatnya menangkap jejak air mata yang telah mengering. Bahkan dalam tidur pun Sarah menangis, karena rasa sakit yang ia derita.


“Sebegitu menderitanya kau dengan kedua cinta itu,” gumam Nick saat membawa tubuh Sarah di gendongannya.


Dengan hati-hati membawa tubuh Sarah menuju kamar tidur. Nick meletakkan tubuh Sarah yang terlelap di atas tempat tidur berukuran queen size, menyelimutinya dengan selimut tebal agar tidak kedinginan. Ia segera melangkahkan kaki beranjak dari kamar tidur Sarah, namun langkahnya terhenti ketika melihat sebua foto di atas nakas. Senyum yang sangat ia kenal namun sepertinya sulit untuk saat ini.


“Kalian terlalu menyiksa diri...” lirihnya meletakkan kembali foto tersebut.

__ADS_1


Nick berjalan keluar dari kamar Sarah yang tengah terlelap. Karena ia tahu bagaimana perasaan Sarah saat ini. Sebagai seorang Jaksa tentu saja ia tahu bagaimana cara membaca kondisi psikologi orang lain.


***


“Kau sengaja menjauhkan Sarah dariku?” tanya seorang lelaki tampan pada lelaki tampan lainnya.


“Kau gila,” ucapnya datar tanpa memperhatikan raut wajah marah lelaki di depannya. Tangannya masih sibuk menandatangani beberapa kertas di atas meja kerja.


“Andrew!!!” sentaknya karena merasa diacuhkan.


“Tolong tinggalkan kantor saya, Mr. Schneider.”


“Sarah mengatakan akan memberiku kesempatan, dan sekarang dia pergi entah ke mana. Kau sengaja kan?”


“Kau gila!!! Bahkan dia juga meninggalkanku!” teriak Andrew sudah tidak tahan dengan sikap David.


“Jangan bohong!!!”


“Terserah kau, pintu keluarnya di sebelah sana,” ucap Andrew menunjuk pintu ruang kerjanya.


Sepeninggal David, lelaki yang sejak tadi jadi sasaran kegilaan David Schneider memilih untuk diam, memijat kepalanya yang mulai terasa sakit. Memikirkan tunangannya di Quebec, tapi melarang untuk menemuinya. Sungguh tidak habis pikir dengan Sarah.


“Aku tidak mengerti apa maumu, Sayang. Tapi duniaku terasa runtuh, pijakanku hilang arah. Kau pergi dan melarangku menemuimu,” lirih Andrew menutup wajah dengan telapak tangan.


Sejak menerima email Sarah beberapa minggu lalu, Andrew menjadi kacau sampai tidak konsentrasi bekerja. Bahkan tak jarang ia membatalkan beberapa rencana perjalanan bisnisnya. Sarah adalah dunianya dan sekarang dunianya pergi meninggalkannya sendiri dalam perasaan yang menggantung.


Tidak cukupkah semua pengorbanannya selama ini? Dia yang selalu mengalah demi melihat senyum terbit di wajah wanita itu. Bahkan ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk melepaskan Sarah jika ia ingin David kembali. Semuanya hanya untuk Sarah.


Belum lama setelah kepergian David, pintu ruang kerja Andrew kembali terbuka. Sosok lelaki tampan dengan aura dingin menyeruak berjalan cepat kearah Andrew yang baru akan bangkit dari duduknya. Belum sempat Andrew menyapa, pukulan keras telah mendarat di wajah tampannya.


Buuuggghhh…


Tinju keras melayang dari tangan seorang Nick Jacob, pengusaha sekaligus Jaksa terkenal di Inggris. Salah satu dari The Jacob melayangkan tinju ke Andrew Niall McCraven, sungguh sebuah skandal besar. Terlebih setelah berita kandasnya hubungan Andrew dan Sarah yang jadi hot news selama beberapa minggu terakhir.


Sudah lebih sebulan Nick menahan dirinya untuk tidak melayangkan tinju ke wajah tampan Andrew. Bahkan kedua kakaknya telah berusaha untuk meredam emosinya yang meledak-ledak melebihi Luke ketika marah. Sungguh ia membenci David dan juga Andrew saat ini. Kedua lelaki itu begitu mengacaukan kehidupan Sarah, adik sepupunya. Dan bagaimana Sarah yang kuat dan tegar bisa menjadi serapuh sekarang hanya karena cinta kedua lelaki yang dulunya adalah sahabat ini.

__ADS_1


“Kau kenapa, Nick?” tanya Andrew memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


“Tanya pada dirimu sendiri,” ucap Nick sinis sembari meregangkan otot-otot tangannya.


“Apa salahku sampai kau memukulku?” tanya Andrew masih dengan wajah tidak tahunya.


Karena ia sungguh tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, hingga seorang Nick Jacob bisa lepas kendali dan memukulnya. Ia tahu bahwa adik bungsu Luke ini adalah seorang yang tempramen, tapi ia juga cukup paham jika Nick tidak akan memukul seseorang tanpa alasan. Terlebih lagi mereka berdua cukup dekat dan terlihat baik-baik saja.


“Kau salah karena terlalu bodoh untuk tidak mengejar cintamu!” teriak Nick penuh kemarahan.


“Sarah?” Andrew memicingkan matanya kearah Nick yang masih marah.


“Kalau kau mencintainya, seharusnya kau kejar dia. Cari dia. Jemput dia untuk kembali pulang bersamamu. Bukannya diam saja seperti orang bodoh yang menunggu cinta itu akan datang dengan sendirinya tanpa sebuah usaha,” Nick menekan kalimatnya.


“Aku sangat mencintainya dan kalian semua tahu itu!” jawab Andrew menaikkan suaranya.


“Kenapa kau diam saja saat dia memutuskan untuk pergi dan melarang mencarinya?”


“Itu keinginannya dan aku akan melakukan apapun untuk membuatnya merasa bahagia. Jika dia memintaku melompat ke Thames River di musim dingin, aku akan melakukannya. Asal dia merasa bahagia dengan semua itu,” lirih Andrew menahan bulir bening yang nyaris lolos dari pelupuk matanya.


“Kau terlalu naif, Drew…” ucap Nick memijat keningnya karena merasa pening memikirkan cinta segi tiga ketiga orang naif itu.


“Aku hanya ingin duniaku merasa bahagia. Dia cahaya matahariku, Nick. Dan kau tahu itu.”


“Tapi kau membiarkannya pergi begitu saja tanpa memperjuangkannya.”


“Tanpa memperjuangkannya kau bilang?” tanya Andrew kembali meninggikan suaranya, membuat Nick sedikit kaget. Karena belum pernah melihat ekspresi kemarahan Andrew seperti saat ini.


“Setidaknya kau berusaha membuatnya bertahan di sisimu.”


“Kalaupun aku berusaha membuatnya bertahan di sini, apa Sarah mau? Aku sangat mengenalnya, Nick. Apa yang dia suka dan tidak sukai, jadi kau tidak perlu mengajariku tetang hal itu. Karena selama ini pun aku selalu bertahan dan berjuang untuk cintanya.”


“Jangan sampai kau lengah dan membuat adikku kembali pada lelaki brengsek yang baru saja keluar dari kantormu ini.” ucap Nick berjalan keluar meninggalkan ruang kerja Andrew dan sang pemilik yang masih memegangi pipinya yang memar.


“Apa benar yang Nick katakan? Aku kurang memperjuangkanmu,” lirihnya sambil memandangi foto Sarah di atas meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2