The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 8


__ADS_3

Braaakkkkk…


Suara keras terdengar sesaat setelah ia menghantamkan tangannya pada setir mobil. Matanya tampak gelap penuh amarah dan rasa cemburu. Tatapannya tidak lepas dari pasangan yang sedang berjalan keluar dari gedung Sunroof Real Estate, menatap tajam pada pasangan yang terlihat sangat mesra tersebut.


“Verruckt!” teriak lelaki disebelahnya. Ia memalingkan wajah pada lelaki berambut coklat yang tengah menatap tajam kearahnya. Ia menelan salivanya, merasa bahwa dirinya sempat hilang kendali.


“Aku memang gila. Damn! He want to steal my girl?” Ia kembali memalingkan wajah dan tatapannya pada Porche Cayanne Turbo-S yang mulai berjalan.


“Dia tidak mencurinya, Dave,” ucap lelaki disebelahnya dengan tenang sembari mengencangkan seat belt. James mengenal karakter David, sahabat sekaligus bossnya. David sangat marah, cemburu, bahkan kecewa ketika melihat pemandangan barusan. Sarah dirangkul lelaki lain, dan dia tahu betul siapa lelaki itu. Andrew adalah sahabat sekaligus lelaki yang ia tahu sangat mencintai Sarah apapun keadaannya. Bahkan ia pernah melihat Andrew yang setia menemani Sarah saat dirawat di Philips Jacob’s Hospital.


“Bodoh! Aku tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut James,” Ia mengencangkan seat belt dan mulai menstarter Mercedes-Benz GL63 silver miliknnya. Membuntuti mobil Andrew walau dari kejauhan, perasaanya tidak tenang memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Apakah mereka sudah menjadi kekasih saat ini? Gumamnya dalam hati yang sepertinya terdengar oleh James.


“Tidak ada hubungan special diantara mereka,” James menatap tepi jalan yang mulai memutih karena salju turun sejak tadi pagi.


“Tidak usah sok tahu apa yang aku pikirkan!” umpat David pada James yang terkekeh melihat tingkahnya. Lelaki itu selalu bertingkah seolah apa yang dikatakan orang lain adalah salah, ia selalu tidak bisa menutupi perasaannya pada orang terdekatnya. Ia teringat akan telepon yang diterimanya pagi ini.


“Hello, Dave,” suara berat dibalik sambungan telepon.


“Hello. Maaf ini siapa?” matanya masih menatap keluar jendelanya saat ponselnya telah melekat ditelinga.


“Ini Paman Paul, Dave.” Dokter Paul Jacob yang menghubunginya pagi ini, dari namanya sudah jelas bahwa ia adalah salah satu anggota keluarga Jacob. Dokter syaraf yang merawat Sarah selama koma dan masa pemulihan di Philips Jacob’s Hospital ialah kakak tertua dari Edward Jacob.

__ADS_1


“Morning, Uncle. How are you?” suaranya terdengar bersemangat saat mengetahui siapa yang menghubungi.


“Morning, Dave. I’m fine as usual. Sepertinya sudah waktunya kau tahu sesuatu.” Wajah David yang awalnya terlihat bersemangat mulai tegang, serius dan jantungnya berdetak cepat. Lebih cepat dari biasanya setelah ia selesai melakukan gym.


“Apa itu, Paman?” David menelan salivanya sesaat sebelum merespon ucapan Paul.


“Ini tentang Sarah. Sebaiknnya kita bertemu, karena tidak baik membicarakan ini di telepon,” Paul terdengar sangat serius ketika mengatakan tujuanya menghubungi David.


“Baiklah, Paman. Dave akan ke sana siang ini,” benaknya mulai dipenuhi dengan tanya dan batinnya semakin gusar.


“Paman tunggu. Bye.”


“Bye,” ia meletakkan ponselnya kembali di atas nakas.


“Huuufffttttt…” ia menghela nafas panjang sebelum menepikan mobil di depan sebuah pertokoan. Telinganya mulai terasa panas mendengar omelan James yang penuh dengan kekesalan. Memang ia adalah asistennya di kantor, namun saat ini ia berperan sebagai sahabat David.


“Kau kalau bodoh jangan ajak aku!” teriaknya lagi ditelinga David.


“Maaf,” suaranya serak seraya memegang telinga kanannya yang jadi sasaran suara bariton James.


“Kalau kau memang bodoh dan mau mati, jangan ajak aku. Nyaris saja kita mati konyol karena kamu menyetir dalam keadaan melamun. Focus please!” ceracau James sebelum membuka pintu mobil dan turun untuk membuka pintu kemudi. Ia merunduk dengan tangan yang menepuknepuk bagian atas mobil berwarna silver tersebut.


“Turun kau, verruckt!”²** perintahnya pada David yang langsung dituruti tanpa penolakan.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan David hanya diam dan memilih untuk memejamkan matanya. Merenungi kebodohannya barusan, nyaris mati konyol di jalanan Negara orang.


Professor.


Pikirnya sebelum ia menyunggingkan senyuman sinis di bibirnya. Dia sinis pada dirinya sendiri, bergelar Professor dan tidak main-main untuk mendapatkan gelar tersebut. Namun dia ternyata bodoh dan amat sangat bodoh ketika berurusan Sarah atau perasaannya.


“Itu mobilnya bukan?” tanya James menunjuk mobil Porche Cayanne Turbo-S biru metalik yang memasuki kawasan Philips Jacob’s Hospital. David segera tersadar dan menegakkan tubuhnya, bahkan mencondongkannya kedepan untuk melihat lebih jelas.


“Ya,” suara baritonnya terdengar nyaris serak tertahan saat melihat mobil Andrew memasuki kawasan rumah sakit. Matanya tidak lepas sedikitpun dari mobil tersebut, jika memang ia mampu untuk tidak mengedipkan matanya pasti akan ia lakukan.


James telah memarkirkan mobil dan sedang mengawasi Andrew yang berjalan turun dari mobil kearah pintu penumpang. Dengan sigap Andrew membukakan pintu mobil untuk Sarah dan merengkuh tubuh sintal gadis berambut pirang sebahu itu. Mereka berjalan menyusuri koridor gedung parkir dan meninggalkan David dan James yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan.


“Are you okay?” suara James memecah tatapan tajam menusuk yang diarahkan David pada gadis itu.


“I am okay,” membenarkan posisi duduknya sebelum melepas seat belt.


Sarah ke Philips Jacob’s Hospital? Untuk apa? Bertemu dengan Paman Paul atau mungkin ia sakit? Pikirannya mulai menerawang apa yang sedang dilakukan Sarah di rumah sakit ini, tentunya kenapa harus dengan Andrew? Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran, dan terbaca jelas oleh James yang memecah keheningan.


“Bukankan kau ada janji dengan Dokter Paul?” David menoleh dan menatap wajah James yang tersenyum licik. Ia sangat hafal sekali dengan senyuman khas milik sahabatnya ini, pasti ada rencana bagus. David pun ikut tersenyum sesaat menyadari maksud senyum licik James. Ia harus melakukannnya jika tidak ingin menyesal, itu yang ia pikirkan saat ini.


¹** Du bist wirklich verruckt : Kau benar-benar gila


²** Verruckt : Gila

__ADS_1



__ADS_2