The Billionaire'S Daughter

The Billionaire'S Daughter
Bab 40


__ADS_3

Sudah hampir satu tahun setelah kelahiran Niall, putra pertamanya dengan Andrew. Sarah masih menetap di Manhattan, New York dengan kedua putra Paul Jacob. Saat ini ia sangat merindukan London dan seseorang yang berada di sana. Lelaki yang telah mencuri hatinya serta memberinya malaikat kecil yang lucu. Ia tersenyum melihat Niall yang sedang belajar berjalan dibantu oleh Belle. Putranya mewarisi bentuk fisik Andrew, tapi sifatnya sedikit mirip dengan Sarah yang pendiam.


“Mum…” tangan gemuk Niall menepuk-nepuk paha Sarah yang tengah duduk di sofa ruang bermain.


“Ada apa, Sayang? Niall haus?” tanya Sarah mengangkat tubuh gemuk Niall ke dalam pangkuannya, mendaratkan kecupan di pipi bulat putranya.


Sementara Sarah sibuk menyusui putranya, Belle justru sibuk menonton saluran TV internasional yang menayangkan berita-berita dari Eropa. Kedua matanya membola ketika mendengar nama yang cukup sering didengarnya disela pembicaraan Luke, Anthony dan juga Sarah. Pernikahan David Schneider dengan Caroline Auermann menjadi berita panas di Eropa saat ini. Sayup-sayup Sarah dapat mendengar suara pembawa berita itu dan meminta Belle untuk mengeraskan volume TV.


“Belle tolong keraskan volumenya, aku ingin dengar,” pinta Sarah sembari menidurkan putranya yang akhir-akhir ini sedikit rewel.


“Akhirnya kau bahagia, Dave…” ucap Sarah lirih menatap layar TV yang menayangkan pernikahan dari anakanak pengusaha terkenal Jerman.


“Are you okay, Sarah?” tanya Belle yang telah duduk di sisinya.


“I am okay, and more than okay, Belle,” senyum manis merekah di bibirnya.


“Baiklah kalau begitu, aku akan membereskan sisa barang-barang kalian yang akan dibawa ke London,” ucap Belle beranjak dari duduknya.


“Kau sungguh tidak ingin ikut kami?”


“Tidak. Lagipula aku masih ada beberapa mata kuliah lagi,” jawab Belle sembari berlalu meninggalkan Sarah yang tersenyum hangat padanya.

__ADS_1


Hari ini Sarah memutuskan kembali ke London dengan putranya, menata hidupnya kembali setelah hampir 2 tahun ia pergi. Sepertinya ia harus menyiapkan banyak jawaban atas pertanyaan yang akan diutarakan oleh Andrew ketika pertama kali mereka bertemu.


“You’ll meet Daddy, Niall,” lirih Sarah menatap wajah putranya yang tengah menyusu.


Di ambang pintu ada tiga orang lelaki menatapnya sambil tersenyum, karena bisa kembali melihat wajah tenang dan tulus Sarah. Kehadiran Niall bagai cahaya baru bagi seorang Sarah Dimitrov-Jacob. Setidaknya ia sudah memiliki keseluruhan hatinya dan tahu ke mana harus melangkah. Keluarga Jacob bersyukur atas setiap perubahan cucu perempuan pertama dalam keluarga mereka. Bahkan Halsey sangat bahagia tiap kali mengunjungi Sarah dan keponakannya di Manhattan.


“Hey, milk monster,” Nick menjawil pipi gembil keponakannya yang masih menyusu pada Sarah.


Mata birunya melirik Nick yang menatapnya gemas, namun tatapan itu justru membuat bayi laki-laki itu melepaskan mulutnya. Menangis sekeras mungkin dengan air mata yang sudah mengalir di pipi gembilnya. Ia akan sangat cengeng jika melihat Nick Jacob yang memiliki wajah dan tatapan sedingin Luke Jacob.


“Ck. Kau selalu saja,” Luke berdecak kesal pada Nick yang meringis ngeri mendengar tangisan Niall.


“Melihat Niall menangis mengingatkanku akan wajah Andrew saat terkena tinjuku,” ucap Nick acuh pada tatapan membunuh Luke dan Anthony, karena Sarah sedang memandang ngeri ke arahnya.


“Hanya meninju wajah tampannya,” jawabnya acuh.


“Kenapa?”


“Karena dia memilih mengikuti kegilaanmu, untuk tidak mencarimu dan pasrah pada keadaan. Sungguh bodoh dan naif, sejujurnya kau juga sama dan aku tidak menyukai orang-orang yang terus menyiksa diri mereka sendiri dengan kenaifan tiada akhir. Seperti yang kalian bertiga lakukan,” Nick memasukkan kedua tangan kedalam saku celana dan membuang pandangan kearah gedung-gedung pencakar langit Kota Manhattan yang diselimuti kabut dingin.


“Tapi---“ kalimat Sarah terputus saat mendengar Anthony berbicara.

__ADS_1


“Yang Nick katakan benar, kalian bertiga terlalu menyiksa diri dengan menjadi naif seperti ini,” ucap Anthony membawa tubuh gemuk keponakannya untuk diberikan pada Belle.


Kebetulan tunangan Luke itu tengah berjalan menuju dapur, hanya saja Anthony memberi lirikan tajam. Seakan ia sedang memerintahkan gadis itu untuk mendekat dan mengambil Niall. Agar bayi laki-laki itu tidak mendengar pembicaraan orang dewasa yang tidak baik untuk perkembangannya. Karena memori otaknya sudah bekerja cukup baik, buktinya ia bisa mengenali ayahnya tiap kali melihat wajah Andrew di layar TV atau majalah.


“Belle, tolong jaga Niall sebentar,” pinta Luke membelai lembut puncak kepala keponakannya.


Belle tidak ingin bicara atau merespon ucapan Luke, karena sekali lagi suasana mencekam di balkon penthouse mewah ini. Lebih baik ia segera membawa Niall bermain dengannya, setidaknya tidak perlu melihat kemarahan atau kegilaan Luke karena membahas salah satu lelaki dalam hidup Sarah.


“Biarkan saja lelaki brengsek itu menyiksa diri,” Luke melirik Anthony dengan tatapan dingin menusuk.


Sungguh ia tidak suka melihat adiknya lemah dan bersimpati pada seorang David Schneider yang sudah merubah Sarah. Membuat Sarah mengalami kecelakaan hebat, koma, dan lupa ingatan. Sudah cukup bagi Sarah menderita dengan perasaan cinta atau apapun itu yang ia tidak percaya. Cinta itu hanya kebohongan dan sebuah permainan takdir yang diberikan Tuhan baginya. Dia tidak cocok bermain cinta seperti kedua sahabatnya yang terlibat cinta segitiga. Atau seperti Nick yang mencintai wanita yang telah menjadi istri orang lain.


“Setidaknya David sudah melangkah maju untuk belajar merelakan Sarah,” ucap Anthony menghapus air mata Sarah yang sudah menetes.


“Berhentilah menangis, kami semua sayang dan mencintaimu. Hari ini kita kembali ke London, tempat di mana kehidupan kita dimulai dan kau juga harus memulai hidup barumu di sana dengan Niall. Setidaknya jujurlah pada diri sendiri tentang bagaimana perasaanmu, jangan terus menghindar,” Luke berlutut dihadapan Sarah yang belum bangkit dari duduknya.


“Aku hanya belum siap saat itu, dan lagi Dave masih mengisi sedikit ruang hatiku. Aku juga merasakan terluka jika ia menatapku dengan tatapan terluka. Jujur aku tersiksa melihatnya berlutut saat itu, aku ingin memberinya kesempatan. Tapi Andrew telah memasuki hatiku terlalu dalam, dan aku tidak bisa memberikan kesempatan yang diminta Dave,” Sarah mengutarakan perasaannya dengan terus terisak, membuat Nick yang sedari mengepalkan tangan sedikit melunak. Bahkan ia membelai lembut punggung Sarah yang bergetar karena menangis.


Sekali lagi ketiga kakak beradik itu bersyukur karena kondisi Sarah telah jauh lebih baik, tidak ada lagi kejadian Ibu seorang putra itu pingsan karena serangan panik. Sedikit demi sedikit traumanya hilang, bahkan ia kembali mencintai salju seperti sebelum kecelakaan. Hatinya telah siap dan mantap untuk kembali, membawa cahaya matahari dalam hidupnya. Menemui lelaki yang telahh membuatnya memilih dan menetapkan hati.


“Andrew Niall McCraven.”

__ADS_1


Ketiga kakak beradik itu menatap Sarah yang menggumamkan nama ayah dari Niall Jacob. Sekarang ia paham apa alasan dibalik keinginan Sarah untuk segera pulang ke rumah, London yang penuh cinta dan cerita. Senyum pun mengembang di wajah ketiganya.


__ADS_2